Sabtu, 30 Juli 2016

[CERPEN] Masih Mencintaimu

MASIH MENCINTAIMU

Oleh :

DANKIN
Pinky Devi K.
Seftia Winda S.

       Angin embun pagi menyentuh rambut panjangnya. Wendy tertegun dan teringat kecelakaan perih yang sudah mengambil penglihatannya. Melumpuhkan sarafnya, dan kini, ia hanya bisa menangis melihat dirinya yang tidak bisa apa-apa.

"Apa kau sudah makan?" tanya lelaki yang selalu datang ke rumah Wendy dengan wajah sumringahnya, Kai.

"Kau tidak usah repot-repot membawakan makanan untukku," jawab Wendy sembari menengok ke berbagai arah mencari dimana keberadaan namja itu.

"Jangan seperti itu. Aku sangat peduli padamu," lirih Kai.

       Wendy kembali menangis terbayang kecelakaan satu tahun lalu saat dia bersama teman-temannya menghadiri pesta kelulusan. Sambil meminum wine, Wendy dan teman-temannya yang mengendarai mobil tidak menaati peraturan. Mobil mereka terpelanting jauh dan menabrak tiang listrik. Dua temannya meninggal, sisanya luka parah. Kembali air mata Wendy jatuh di depan kekasihnya yang sedang duduk dihadapannya.

"Carilah wanita yang lebih sempurna dariku," setetes air mata meluncur tanpa Wendy sadari setelah mengucapkan kalimat tersebut.

"Kupikir, aku tidak memiliki alasan untuk bisa meninggalkanmu. Jadi, aku akan tetap disampingmu apapun yang terjadi," kata Kai sambil mengusap air mata dari wajah Wendy.

"Apa kau gila? Aku ini buta!!! Sedang kau sempurna. Kau pantas mendapatkan wanita yang sempurna juga,"balas Wendy lalu menghempaskan tangan Kai dari wajahnya.

"Apa kau pikir kondisi fisik yang sempurna adalah sesuatu yang sangat penting dari seseorang? Itu tidak benar. Jika sejak awal aku mencintaimu hanya karena memandang fisikmu, mungkin sekarang aku sudah meninggalkanmu. Tetapi kenyataannya apa? Aku masih disini menemanimu. Aku benar-benar mencintaimu. Cinta itu memang buta, tak peduli apapun alasannya, aku akan tetap mencintaimu karena yang aku butuhkan adalah perasaan hatimu yang tulus dan bukan karena kondisi fisikmu," jelas Kai.

"Aku tahu kau mencintaiku, tetapi aku akan menjadi beban dalam hidupmu."

"Kau tidak akan menjadi beban dalam hidupku. Dengan kondisimu yang sekarang ini, aku pasti akan selalu berada disampingmu. Dan kau juga akan selalu disampingku. Aku tidak akan pernah menyesal, percayalah," jawab Kai lalu memeluk erat tubuh Wendy dan mengecup keningnya.

"Apa aku bisa percaya padamu?" ucap Wendy.

"Ya, kau bisa mempercayaiku. Kau adalah cinta pertamaku. Sejak dulu, aku tidak pernah tahu apa itu cinta. Saat bertemu denganmu, baru aku mulai merasakan apa itu cinta," jawab Kai tersenyum lebar.

"Kenapa kau sangat baik padaku? Apa karena aku buta? Atau kau kasihan dengan kondisiku?"

"Aku bukan bermaksud mengasihanimu, Wendy. Aku benar-benar tidak ingin meninggalkanmu. Sampai kapan pun, aku akan ada untukmu. Kau harus percaya padaku," jelas Kai lagi.

"Aku rasa kau gila," ketus Wendy, menggelengkan kepala.

"Aku memang sudah gila karenamu.  Aku tak mampu melepasmu. Aku tak bisa hidup tanpamu. Tolonglah percaya padaku," Kai berusaha membuat Wendy percaya.

"Ya, aku mempercayaimu," ucap Wendy, menyandarkan kepala di bahu Kai.

"Aku sampai lupa. Ayo kau makan makanannya. Aku tidak ingin melihatmu sakit, biar aku yang menyuapimu,".
Kai mengambil makanan dan mencoba menyuapi tetapi Wendy menolak.

"Aku tidak nafsu makan. Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Wendy.

"Kalau kau tidak mau makan tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Sampai kapan aku buta? Apa aku tidak bisa melihat lagi?" kata Wendy kemudian menegakkan duduknya.

"Hmmm...apa kau mau jalan-jalan denganku?" ucap Kai mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Apa aku akan buta selamanya?" Wendy tetap bersikeras menanyakan hal itu.
Kai menghela napas panjang, berpikir keras.

"Sejujurnya, aku tidak tahu pasti apa kau akan buta selamanya atau tidak. Tetapi aku yakin, suatu saat kau akan mendapatkan donor mata dari seseorang" jawab Kai mencoba meyakinkan.

"Sampai kapan!" ketus Wendy.

"Kau tidak usah terlalu banyak pikiran tentang kondisimu. Aku disini akan selalu menemanimu, akan selalu menjagamu."

Kai menyentuh bibir Wendy dan membentuk sebuah senyuman yang manis. Dalam hati, Wendy hanya memaksakan senyuman tersebut.

"Benarkah? Tapi aku juga ingin melihat wajah tampanmu saat ini."

"Kau bisa sentuh wajahku jika ingin tahu," jawab Kai dan membimbing tangan Wendy untuk menyentuh wajahnya.

"Kau berubah?" ucap Wendy tersenyum.

"Aku tidak pernah berubah. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" tanya Kai.

"Baiklah," jawab Wendy mencari tangan Kai.

"Ayo, aku akan menuntunmu masuk ke mobil."

"Kita akan kemana?" Wendy kembali bertanya sambil berjalan mengikuti arahan Kai.

"Kau pasti tahu, itu tempat saat aku menyatakan perasaan padamu. Tempat yang menjadi saksi awal perjalanan cinta kita" jawab Kai.

Mereka pun sampai di mobil dan masuk. Mobil pun perjalan meninggalkan tempat itu.

"Apa kita sudah sampai?"

"Kita masih dalam perjalanan, bersabarlah," jawab Kai saat menyetir, kemudian mengacak-acak rambut Wendy.

"Jangan mengacak rambutku," ucap Wendy menyibirkan bibir.

"Kamu semakin cantik kalau cemberut seperti itu," goda Kai.

       Lima belas menit perjalan ditempuh, mereka pun sampai. Sepanjang perjalanan tadi, Kai terus menggoda Wendy demi menghibur hatinya.

"Kita sudah sampai. Aku bantu jalan."

Kai membuka pintu mobil dan menuntun Wendy berjalan.

"Tapi aku tidak bisa melihat, bagaimana aku bisa menikmati tempat ini?" gerutu Wendy.

"Kita sudah berada di taman. Tempat ini sangat bermakna bagi kita. Walaupun kau tak bisa melihat, setidaknya kau bisa merasakannya. Kita duduk di bangku saja," ucap Kai kemudian menuntun Wendy duduk di bangku.

"Aku dapat merasakannya. Aku masih ingat saat kau mengatakan cinta padaku di tempat ini," ucap Wendy dengan senyuman manis.

"Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum. Aku senang kau tersenyum seperti itu," Kai tak bisa membohongi hatinya yang senang melihat kekasihnya tersenyum.

"Benarkah? Aku sendiri bahkan lupa kapan terakhir kali tersenyum." 

"Aku jadi berpikir sesuatu. Seandainya saat pesta kelulusanmu selesai dan kau tidak menolak ajakkan pulang bersamaku, mungkin kau masih bisa melihat. Dan aku bisa terus melihat senyum indahmu," kata-kata itu seakan membuat Kai menyesal karena gagal menjaga Wendy.


"Aku juga menyesalinya."
Kurang lebih dua jam mereka menghabiskan waktu di taman itu, akhirnya mereka pulang.

       Seminggu berlalu, Kai datang menjenguk Wendy di kamarnya seperti biasa. Sudah menjadi kebiasaan Kai yang selalu menemui Wendy hampir tiap hari.

"Apa kau sudah tidak sedih lagi? Kuharap kau bahagia dan melupakan semua hal burukmu," sapa Kai dengan senyum hangatnya.

"Ahhh...akhirnya kau datang. Aku sangat merindukanmu. Kenapa lama sekali tidak menjengukku?" gerutu Wendy.

"Maafkan aku. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Aku ada kabar baik untukmu," jawab Kai jujur.

"Kabar baik? Untukku? Apa itu?" Wendy bertanya-tanya.

"Aku mendapat kabar dari dari rumah sakit, bahwa ada pasien yang sudah meninggal dan keluarganya bersedia mendonorkan mata untukmu. Dan bagusnya lagi, matanya sangat cocok denganmu. Hari ini kau bisa menjalani operasi itu," ucap Kai terlihat sangat gembira.

"Benarkah? Apa itu artinya aku dapat melihat lagi?" Wendy meneteskan air mata.

"Dokter bilang, kau mempunyai kesempatan besar untuk bisa melihat kembali. Apa kau senang mendengarnya?" jelas Kai.

"Ya, aku senang tetapi juga takut," wajah Wendy menjadi muram.

"Kau takut kenapa?" tanya Kai penasaran.

"Takut jika operasi gagal," jawab Wendy seadanya.

"Aku yakin pasti berhasil. Ayo kita ke rumah sakit. Aku akan menggendongmu ke mobil agar cepat."

Kai menggendong Wendy di punggungnya ke dalam mobil.

"Kenapa aku jadi gelisah begini," ucap Wendy tiba-tiba.

"Tenanglah. Aku ada disisimu," jawab Kai lalu membawa mobil ke rumah sakit.

       Tak lama, mereka sampai di rumah sakit. Terlihat jelas ekspresi wajah keduanya berubah. Begitu berdebar perasaan keduanya.

"Kita sudah sampai. Akan kutuntun kau berjalan," Kai membantu Wendy berjalan.

"Bagaimana kalau kita tunda saja. Perasaanku tidak enak," elak Wendy.

"Kenapa harus ditunda? Lebih cepat itu lebih baik. Aku ingin kau bisa melihat kembali seperti dulu," cegah Kai dengan kata menghibur.

Keduanya memasuki rumah sakit. Mereka sudah berada di ruang operasi sesuai jadwal. Seorang dokter muncul dengan siapnya bersama beberapa asistennya. Detik-detik operasi akan dimulai.

"Sekarang waktunya kau akan dioperasi. Aku tidak bisa mendampingimu, tetapi aku akan selalu mendoakanmu. Dihatimu ada aku, semangat!!!" ucap Kai memberi semangat.

"Terima kasih. Aku mencintaimu," ucap Wendy menggenggam tangan Kai.

"Aku juga mencintaimu," balas Kai.

Dalam hati, Wendy terus merasa khawatir. Tiba-tiba ia menangis.

"Kenapa kau menangis. Kau jangan khawatir, operasinya akan berjalan baik. Dokter bilang 90% kemungkinan kau akan bisa melihat lagi," ucap Kai sembari mengusap air mata Wendy.

"Aku menangis karena aku bahagia. Sebentar lagi aku bisa melihat wajah tampanmu," Wendy tersenyum.

"Aku juga bahagia," Kai pun sama-sama meneteskan air mata.

       Operasi pun dimulai. Dokter beserta asistennya sudah siap di ruang operasi.

"Aku yakin, kau akan bisa melihat kembali," dalam hati Kai sangat berharap Wendy bisa melihat kembali.

Lima jam operasi berlangsung dramatis. Operasi berjalan sukses. Dengan senyum bahagia, dokter beserta asistennya bangga atas keberhasilan operasinya. Kai pun diizinkan masuk. Ia melihat kalau mata Wendy masih diperban.

"Apa kau baik-baik saja?" sapa Kai.

"Kai, apa itu kau?" Wendy memanggil dengan suara lirihnya.

"Ya, ini aku. Aku disini, disampingmu," ucap Kai kemudian langsung memeluk tubuh Wendy.

"Apa aku akan bisa melihat lagi?"

"Tentu saja. Itu pasti," jawab Kai singkat sembari berpelukan.

       Setiap harinya, Kai selalu menjenguk Wendy di rumah sakit. Hingga satu minggu lamanya, ia terus menjenguknya.

"Apa kau sudah tidur?" ucap Kai setelah membuka pintu.

"Kau sudah datang. Hari ini perbanku akan dibuka dokter," senyum bahagia terpancar dari wajah Wendy.

"Aku senang mendengarnya."

Tak lama, dokter datang menghampiri untuk memberitahukan kalau perban akan dilepas. Perban pun mulai dilepas perlahan.

"Semoga di detik-detik akhir ini aku bisa melihatmu," ucap Wendy dalam hati.

Perban sudah terlepas semua. Wendy mulai membuka mata pelan-pelan. Pada awalnya terlihat remang-remang. Namun akhirnya, ia bisa melihat dengan jelas.

"Bagaimana, apa kau sudah bisa melihat?" tanya Kai gugup.

"Kai, apa itu kau?" Wendy menyipitkan mata.

"Ini aku, Kai."

"Kau sangat tampan. Kau lebih tampan dari yang dulu," Wendy langsung memeluk tubuh Kai.

"Aku sangat senang kau bisa melihat lagi. Hari-hari kita akan kembali seperti dulu lagi. Kuharap kau tidak mengulangi kejadian tahun lalu," ucap Kai senang.

"Aku tidak akan mengulanginya lagi," Wendy pun juga senang.

"Kata dokter, kau boleh pulang hari ini. Ayo bersiap-siap."

"Tunggu. Aku ingin keluar sebentar."

Wendy keluar menemui dokter tanpa sepengetahuan Kai. Kai masih tetap menunggu. Wendy pun kembali. Raut wajahnya terlihat berubah. Seperti terjadi sesuatu.

"Ayo, kita pulang," ajak Wendy.

Mereka pun pulang. Kai berpikir kalau ada yang aneh dengan kekasihnya ini, tetapi ia hanya menghiraukan karena mungkin hanya perasaannya saja yang aneh.

       Tiga bulan telah berlalu, Kai datang menjemput Wendy ke tempat favorit mereka. Ya, di sebuah taman di atas bukit.

"Apa kau sudah siap?" sapa Kai.

"Aku sudah siap," jawab Wendy singkat.

"Setelah tiga bulan, tubuhku semakin melemah. Kuharap kau tidak menyadarinya, Kai," ungkap Wendy dalam hati.

Kai langsung menarik tangan Wendy menuju mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan tempat itu.

       Tidak butuh waktu lama, mereka sampai. Seperti biasa, aura kebahagian terpancar pada keduanya saat sampai di taman ini.

"Kita sudah sampai. Di tempat favorit kita sejak dulu."

Wendy menunduk sesaat, ia berharap tidak terjadi apa-apa.

"Jika suatu saat aku meninggalkanmu bagaimana?" tanya Wendy tiba-tiba.

"Ahhh...kau ini bicara apa. Jangan berpikir yang aneh-aneh."

Mereka duduk berdua. Wendy menyandarkan kepala ke bahu Kai.

"Sepertinya aku lelah, biarkan aku bersandar dulu," Wendy memejamkan mata menggenggam tangan Kai.

"Kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat?".
Tiba-tiba Wendy terjatuh pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah. Kai terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit

        Setibanya di rumah sakit, ia langsung menggendong tubuh Wendy ke ruang darurat. Dokter menyuruhnya untuk menunggu.

"Kuharap kau baik-baik saja. Sejak awal aku curiga padamu, sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku. Entahlah, hanya kau dan Tuhan yang tahu."

Tak lama, dokter menghampiri Kai yang sedang duduk menunggu.

"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkata lain," ucap dokter tersebut.

"Maksudmu? Apa Wendy sudah tidak ada? Apa yang terjadi?" bentak Kai.

"Dia sudah tiada," jawab singkat dokter.

Kai merasa sangat terkejut dan langsung lari ke ruang dimana Wendy terbaring. Dokter kembali menghampiri.

"Kau ingat tiga bulan yang lalu saat operasi mata berlangsung. Aku secara tidak sengaja memeriksa seluruh tubuhnya dan ternyata dia mengidap kanker darah yang sudah sangat akut. Saat kutanya, dia tidak mau membahasnya dan menyuruhku untuk merahasiakannya darimu," dokter itu menjelaskan.

"Pantas saja aku sering melihatmu pucat seperti orang sakit. Ternyata, kau menyembunyikan penyakit itu dariku," ucap Kai pada Wendy yang sudah tiada.

Dokter pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan Kai menangisi kepergian kekasihnya, Wendy.

"Walaupun kau sudah tiada, tetapi aku masih mencintaimu, Wendy."

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Selasa, 29 Maret 2016

[CERPEN] Merindukanmu

MERINDUKANMU

Oleh :

DANKIN

       Pagi yang indah ini, kutelusuri setiap jalanan kota untuk menuju ke sekolah. Namaku Daniel. Aku adalah lelaki yang tak suka dengan keramaian dan cenderung tertutup pada orang lain. Tak memakan waktu lama, sampailah aku tepat di depan gerbang sekolahku. Hari ini adalah awal masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas. Dan sekarang, aku sudah menginjak kelas 9. Sungguh tak terasa, begitu cepat rasanya berada di sekolah ini meski sudah dua tahun belajar.

       Hari pertama sekolah tentu ada sebuah Masa Orientasi Sekolah bagi siswa baru. Berhubung aku adalah anggota OSIS, aku bisa terlibat langsung dengan siswa baru yang akan menjadi adik kelasku. Aku bertugas di salah satu kelas 7. Diawal pertemuan, aku senang karena para siswa tidak terlalu berisik, berbeda dengan kelas 7 yang lain.

       Selama tiga hari, aku dan teman-teman anggota OSIS mengajar di kelas 7. Selesai sudah tugas kami meski terasa sebentar. Mungkin karena nyaman bersosialisasi dengan adik kelas atau karena tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar. Setiap anggota pasti punya alasan yang berbeda-beda.

       Seiring berjalannya waktu, aku merasa ada yang aneh dengan siswa kelas 7. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadapku. Apa ada yang salah atau bagaimana, aku merasa ada yang aneh. Pada suatu waktu, ada salah satu siswa dari kelas 7 yang menyapaku melalui sosial media. Siswa itu bernama Cessa.

"Test," mulanya.

"Ya, ada apa?" balasku.

"Tidak apa-apa, hanya ingin mengecek," katanya.

"Begitu," jawabku.

Hanya itu saja sebuah pesan singkat di sosial media yang ia lontarkan. Setelah itu, ia mulai mematikan akunnya, begitu pula diriku.

       Semakin hari, ia sering sekali mengirimku sebuah pesan di sosial media, dan tentu saja aku selalu membalas pesan orang lain meski aku tidak mengenal orangnya secara pribadi.

"Kak Daniel?" sapanya.

"Ya, ada apa?" balasku.

"Kak, coba bicara."

"Maksudnya bagaimana?"

"Bicara apa saja terserah kakak, hehehe..."

"Memangnya kenapa?" tanyaku.

"Tidak apa-apa, hanya ingin mendengar kakak bicara padaku."

Entah sampai berapa lama kami saling mengirimkan pesan yang mungkin orang lain berpikir bahwa itu tidak penting. Memang kelihatannya tidak penting, namun ada sebuah makna dibalik pesan-pesan yang ia kirim. Aku melihat ada sebuah perasaan darinya terhadapku.

       Lambat laun, dia sangat akrab denganku meski hanya saling mengobrol di sosial media. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, mengapa tidak berbicara langsung saja. Entah ada perasaan malu atau mungkin karena aku termasuk orang yang pendiam dan tertutup. Secara pribadi, aku ingin berbicara langsung, tetapi yang selalu memulai pembicaraan di sosial media adalah dia. Jadi, aku hanya sekadar membalas pesannya tanpa ada alasan yang lain. Setiap waktu, bahkan hampir setiap hari, dia selalu mengajakku untuk saling mengirim pesan. Terlihat jelas bahwa dia tertarik padaku. Berhubung aku juga memiliki analisis yang cukup baik dalam menilai seseorang.

"Kak, sedang apa?" tanyanya.

"Sedang duduk santai," jawabku.

"Begitu."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa, hanya bertanya."

Percakapan terus berlanjut cukup lama seakan tak terasa bahwa waktu terus berjalan dengan sendirinya.

      Ketika akhir semester pertama selesai, para anggota OSIS masih memiliki serangkaian kegiatan sekaligus melatih para anggota OSIS baru dari kelas 7 dalam kepemimpinan dan salah satu anggota barunya adalah Cessa. Saat itu libur semester tiba, aku tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut karena harus berkunjung ke rumah saudara di luar kota.

"Kak, kenapa kemarin tidak hadir?" tanyanya melalui pesan.

"Liburan di luar kota. Jadi, tidak bisa ikut kegiatannya," jelasku.

"Kukira terjadi apa-apa," katanya.

"Hmmm..."

"Kak, aku boleh bicara sesuatu?"

"Tentu saja boleh, silakan," jawabku.

"Kak, sebenarnya aku ******** kakak."

"Apa maksudmu. Hmmm, aku tahu artinya. Tetapi kubiarkan saja kau yang menyelesaikan kode itu."

"Kakak tahu?" tanyanya penasaran.

"Ya. Apa harus kujawav?" jawabku.

"Terserah kakak."

"Bagaimana aku menjawab kalau kau belum menyelesaikan kata-katanya."

"Kakak bilang sudah tahu maknanya."

Begitu panjang percakapan kami hingga beberapa jam lamanya. Dia sudah mulai mengatakan apa yang dirasakannya, tetapi tidak akan menjawab. Dalam hatiku hanya menganggap dia seperti adik kandung. Dia cantik, mungil, menggemaskan tetapi bukan berarti aku menyukainya.

       Hari demi hari berjalan dengan sendirinya, dia selalu berusaha mengungkapkan perasaannya padaku namun aku tidak pernah menanggapinya dengan jelas. Bagaimana tidak, dia sendiri tidak berani mengungkapkannya secara langsung, jadi aku bisa menjelaskan padanya kalau aku hanya menganggapnya sebagai adik. Suatu ketika, dia memposting sebuah ungkapan yang mengatakan kalau dia sudah tidak memiliki perasaan lagi pada seseorang, dan aku tahu siapa yang ia maksud. Saat itu pula aku membuat sebuah postingan yang bermaksud mengucapkan padanya namun secara tersirat seperti sebuah sindirian. Dari situ terjadi pertikaian antara kami berdua. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia begitu marah padaku. Padahal yang memulai semuanya adalah dia. Aku sendiri hanya diam tak peduli apa yang ia ucapkan dalam postingannya yang mulai sedikit kasar padaku.

       Hingga waktu berjalan cukup lama, aku merasa ada yang hilang dalam hari-hariku. Tidak biasanya aku seperti ini. Aku mulai sadar, ternyata yang hilang selama ini adalah obrolanku dengan Cessa. Padahal dia bukanlah orang istimewa. Namun, hati berkata lain dari apa yang kupikirkan. Hidupku terasa dipenuhi pikiran yang begitu kosong seperti cangkang telur yang terbuang. Aku mulai merasa sangat merindukannya.

"Apa yang harus aku lakukan? Mengapa perasaan ini begitu resah. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Daniel?" gumamku.

       Esoknya, kuberanikan diri untuk menemuinya saat pulang sekolah. Aku langsung menarik tangannya dan mengajaknya ke tempat yang tidak banyak orang.

"Kenapa, kak?" ucapnya.

"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya. Kenapa kau sepertinya membenciku. Apa salahku?" kataku.

"Tidak perlu dipikirkan, kak. Aku sudah melupakan semuanya," sahutnya.

"Kau bilang sudah melupakanku. Aku sendiri yang sejak awal tidak pernah memikirkanmu kini mulai memikirkanmu. Yang jelas aku sangat merindukanmu," jelasku.

"Maksud kakak apa?" tanyanya.

"Aku sangat merindukanmu. Ini bukanlah perasaan cinta, tetapi seperti kerinduan seorang kakak terhadap adiknya yang sudah lama tidak bertemu," jelasku lagi.

"Begitukah?"

"Maaf, aku hanya menganggapmu sebagai adik. Itu lebih baik. Kita tidak perlu lagi saling membenci," terangku.

"Betul juga, kak. Maafkan aku jika selama ini aku salah. Walaupun aku hanya dianggap sebagai adik, setidaknya kita tidak saling bermusuhan," katanya.

Setelah kejadian itu, hubunganku dengan Cessa sangat dekat walaupun hanya sebatas hubungan antara kakak dengan adik yang sangat dekat.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Minggu, 27 Maret 2016

[CERPEN] Cincin Kenangan

CINCIN KENANGAN

Oleh :

DANKIN

       Bunga-bunga indah dan beberapa tumbuhan yang segar serta pemandangan kupu-kupu yang cantik menghiasi taman tersebut. Seorang wanita terlihat duduk di kursi taman itu seperti sedang menunggu seseorang. Benar saja, tak lama muncul seorang pria yang menghampiri dan duduk di sebelahnya.

"Ada perlu apa kau mengajakku kemari?" tanya Dean ketika baru sampai.

"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Tetapi sebelumnya aku minta maaf," jawab Yona.

"Kenapa harus minta maaf, memangnya kau bersalah padaku?".

"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku menderita kanker otak dan umurku tidak panjang," ucap Yona.

"Kau serius?" tanya Dean heran.

"Aku serius. Aku juga tidak ingin menyakiti perasaan Rivai, oleh karena itu aku tidak akan menceritakan ini padanya. Aku juga ingin mengakhiri hubunganku dengannya. Kau bisa bantu aku?" jelas Yona.

"Kau akan mengakhiri hubungan dengan Rivai? Yang benar saja. Kau jangan berpikir bodoh," ketus Dean.

"Dean, kau sahabatku. Aku mohon, bantu aku mengakhiri hubungan ini dan jangan katakan tentang penyakitku pada Rivai dan yang lainnya," pinta Yona.

"Kau sahabatku, tapi Rivai juga sahabatku sejak kecil," ucap Dean kemudian menghela napas.

"Baiklah, aku akan membantumu. Besok, kita bertemu dengan Rivai di tempat biasa untuk menyelesaikan hubungan kalian," lanjut Dean.

"Baik. Terima kasih, Dean," jawab Yona.

      Esok harinya, Yona dan Dean sudah menunggu di pinggir pantai untuk menunggu Rivai. Pantai tersebut memang sudah menjadi tempat favorit persahabatan mereka. Sekitar sepuluh menit, Rivai pun tiba.

"Hai, kalian sudah lama menunggu?" tanya Rivai dari belakang.

"Tidak juga," jawab Dean singkat.

"Ada perlu apa kau mengundangku dengan Yona kesini. Sepertinya serius sekali, sampai-sampai Anton dan Riza tidak diajak," tanya Rivai lagi.

"Ada yang ingin Yona katakan padamu. Kemarin, dia menemuiku untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu," jawab Dean.

"Begitukah, Yona?" tanya Rivai pada Yona.

"Ya. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Rivai," jawab Yona.

"Mengapa harus ada Dean?"

"Aku sempat berpikir, kalau masalah ini tidak bisa kuselesaikan sendiri denganmu. Jadi, aku meminta Dean untuk menjadi penengah masalah ini," jelas Yona.

"Masalah? Apa hubungan kita sedang bermasalah? Kurasa baik-baik saja," balas Rivai.

"Memang hubungan kita baik-baik saja, tetapi aku minta maaf kalau hubungan kita sebaiknya berakhir sampai disini," terang Yona.

"Apa yang kau katakan? Hubungan kita berakhir. Apa semua ini ada hubungannya dengan Dean. Kalian berdua menghianatiku!" ketus Rivai.

"Tidak, Rivai. Dean tidak ada hubungannya dengan masalah ini," sahut Yona.

"Sudahlah jangan mengelak. Aku tahu..."

"Cukup, Rivai. Kau salah paham. Aku dan Yona tidak ada hubungan apa-apa. Percayalah, kita sudah bersahabat sejak kecil," potong Dean.

"Diam kau. Aku tidak percaya lagi pada kalian," ketus Rivai kemudian pergi meninggalkan Yona dan Dean.

Yona mendadak menangis tersendu. Ia merasa bersalah dengan keputusannya tadi. Lalu memeluk Dean dengan erat.

"Sudahlah, Yona. Kau jangan menangis. Ini semua salah paham. Kita bisa menyelesaikannya baik-baik. Lebih baik aku mengantarmu pulang," ucap Dean kemudian mengantar Yona pulang.

       Pagi ini tak seperti biasanya, Rivai terlihat murung di kamar. Ia masih mengingat peristiwa kemarin. Ia merasa sudah dikhianati oleh dua orang sekaligus, kekasih dan sahabatnya sendiri. Rivai memegang ponselnya dan mulai menelepon seseorang.

"Ada apa kau meneleponku?" tanya Anton.

"Anton, sore ini temui aku di rumah. Kita akan bersenang-senang di pantai seperti biasa. Jangan lupa ajak Riza," jawab Rivai.

"Baik, aku akan ke sana dengan Riza," ucap Anton menyetujui.

       Sore harinya, Anton dan Riza sudah sampai di rumah Rivai yang sudah menunggu.

"Ayo, naik ke mobilku," perintah Rivai.

"Ya," jawab Anton dan Riza serentak.

Mobil melaju meninggalkan rumah Rivai untuk menuju pantai. Bagian atap mobil Rivai sengaja terbuka agar bisa merasakan angin sejuk sore hari. Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di pantai. Mereka duduk di pinggir pantai sambil membawa beberapa camilan sebagai pelengkap.

"Tidak biasanya kita hanya bertiga seperti ini. Kemana Dean dan Yona?" ucap Riza.

"Tidak usah kau pikirkan. Kita nikmati saja sore ini bertiga saja," jawab Rivai seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

"Apa kau ada masalah dengan mereka?" tanya Riza.

"Kau bermasalah dengan kekasihmu, Yona, atau dengan sahabat kecilmu, Dean?" lanjut Anton.

"Lupakan saja, aku hanya ingin bersama kalian saat ini. Memangnya kenapa?" ucap Rivai.

"Ya, terserah kau saja," sahut Anton.

Mereka pun membicarakan hal lain, sekadar bercanda atau bercerita untuk menghibur bersama sampai kurang lebih dua jam lamanya.

"Sudah terlalu sore, ayokita pulang," ucap Rivai.

"Betul juga, kita pulang saja," sahut Riza.

Akhirnya mereka memutuskan pulang setelah menikmati sore hari bersama di pantai.

       Sesaat setelah mobil ketiganya berjalan, mereka berpapasan dengan mobil Dean yang sedang menyetir bersama Yona disampingnya. Mobil Rivai menghadang mobil Dean. Rivai langsung keluar untuk menemui Dean.

"Keluar kau, Dean!!!" teriak Rivai memaksa Dean keluar.

"Apa yang kalian berdua lakukan. Ternyata benar dugaanku kalau kalian memiliki hubungan istimewa dibelakangku!!!" amuk Rivai.

"Ini semua tidak seperti apa yang kau pikirkan, Rivai!" ketus Dean.

Adu mulut terjadi pada mereka hingga perkelahian pun tak bisa dihindari. Anton dan Riza keluar dari mobil untuk memisahkan perkelahian itu.

"Sudahlah, jangan berkelahi disini," ucap Anton.

"Kalau kalian ada masalah, bisa diselesaikan secara baik-baik. Perkelahian bukan solusi yang benar. Kalian ini seperti binatang saja," lanjut Riza.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Yona.

"Kau tidak usah berpura-pura mempedulikanku. Pikirkan saja Dean!" ketus Rivai.

"Apanya yang pura-pura, aku sungguh khawatir dengan kalian berdua," teriak Yona.

"Sudah-sudah, jangan bertengkar!" sahut Dean.

"Rivai, lebih baik kita pulang saja. Masalah ini bisa kita selesaikan lain waktu," ucap Anton.

"Baiklah, ayo kita pergi!" perintah Rivai.

"Dean, Yona, kami pulang dulu. Lebih baik kita selesaikan masalah ini disaat yang tepat saja. Sampai jumpa," kata Riza.

Rivai, Anton dan Riza pergi meninggalkan Dean dan Yona di tempat.

"Kau tidak apa-apa, Dean?" ucap Yona mengkhawatirkan Dean.

"Tidak. Aku tidak apa-apa, tenang saja," jawab Dean.

"Ini semua salahku, kau jadi seperti ini," ucap Yona merasa bersalah.

"Bukan salahmu, Yona. Aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa olehnya. Karena sebenarnya aku menyukaimu lebih dari sahabat," jelas Dean.

"Apa kau bilang?" tanya Yona bingung.

"Ah...tidak. Kau tidak perlu memikirkan tadi. Ayo kita pulang saja," jawab Dean gugup kemudian masuk ke dalam mobil.

Tiba-tiba Yona terjatuh pingsan. Dean yang baru saja duduk, langsung keluar untuk mengangkat tubuh Yona. Ia sangat khawatir dengan kondisi Yona. Ia tahu kalau penyakit Yona kambuh. Akhirnya, ia membawa Yona ke rumah sakit.

       Tubuh Yona terbaring di tempat tidur rumah sakit. Yona mulai terbangun setelah dua hari tak sadarkan diri.

"Aku...ada...dimana?" ucap Yona terbata-bata.

"Tenang saja. Sekarang kau ada di rumah sakit. Sudah dua hari kau tidak sadar, akhirnya kau siuman," kata Dean disampingnya.

"Kalian juga disini," ucap Yona. 

"Tentu saja, Dean yang memberitahu kami dan sudah menjelaskan semuanya," jawab Anton.

"Kau tidak perlu cemas. Kami masih setia menjagamu disini," lanjut Riza.

"Dimana Rivai?" tanya Yona.

"Kalau masalah itu... Dia masih sulit untuk ditemui. Sulit sekali untuk menjelaskannya," jawab Dean.

"Kami juga sudah berusaha berbicara, tapi dia selalu memotong ucapan kami," sahut Riza.

"Mungkin ini sudah menjadi takdirku," ucap Yona.

"Dokter bilang, kau harus dioperasi besok. Aku dan lainnya sepakat dengan operasi itu. Orangtuamu juga setuju. Kau harus menjalaninya, Yona," kata Dean.

"Kalau itu lebih baik, aku setuju," jawab Yona setuju.

"Sekarang kau istirahat saja," perintah Dean.

       Hari yang ditunggu-tunggu tiba, hari dimana Yona akan menjalani operasi pengangkatan kanker otaknya. Tetapi, Yona ingin ada Rivai disampingnya. Anton yang sangat dekat dengan Rivai mencoba menghubunginya.

"Mau apa kau meneleponku?" teriak Rivai dari balik telepon.

"Rivai, aku mohon kau ke rumah sakit. Yona menginginkanmu ada disampingnya sebelum menjalani operasi," ucap Anton dengan cepat.

"Operasi? Apa maksudmu?" tanya Rivai bingung.

"Ceritanya sangat panjang, yang jelas dia sangat membutuhkanmu. Sekarang juga kau kemari!" perintah Anton kemudian menutup telepon sebelum Rivai menjawab.

Tiba-tiba, dokter menyarankan untuk segera dioperasi sekarang juga. Namun, Yona masih berusaha menolak.

"Yona, dengarkan aku. Lebih baik kau jalani dulu operasinya. Rivai akan segera kemari. Percayalah," ucap Dean menghibur.

"Tapi..."

"Percayalah padaku," potong Dean.

"Baiklah, tapi sebelumnya aku menitipkan ini," ucap Yona sambil memberikan sebuah cincin.

"Cicin?"

"Jika saja nyawaku tidak terselamatkan, tolong berikan cincin yang penuh kenangan ini pada Rivai. Katakan padanya, kalau aku sangat mencintainya. Bahkan sampai diujung nyawaku sekarang, aku akan tetap mencintainya," jelas Yona.

Akhirnya, Yona mau untuk segera menjalani operasi. Dean, Anton dan Riza hanya bisa berdoa yang terbaik agar Yona bisa sembuh dan selamat.

       Sudah dua jam operasi berlangsung, tetapi masih belum selesai. Rivai juga masih belum terlihat di rumah sakit.

"Apa Rivai akan datang?" tanya Dean.

"Aku yakin dia akan datang," jawab Anton.

"Mungkin saja dia sedang macet di jalan," lanjut Riza.

       Di jalan raya, mobil yang dikendarai Rivai terjebak macet. Padahal, ia sangat ingin untuk menemui Yona. Tapi kemacetan jalan raya sulit dihindari. Ia pun memutuskan untuk berlari dan meninggalkan mobilnya di pinggir jalan. Dari raut wajahnya, terlihat sekali kalau Rivai ingin menemui Yona untuk meminta maaf atas kesalahpahaman mereka.

"Aku akan segera menemuimu, Yona," ucap Rivai dalam hati sembari sedang berlari kencang.

       Setelah tiga puluh menit berlari, Rivai pun sampai di rumah sakit dan menuju tempat Yona dioperasi. Akhirnya, ia bertemu Dean, Anton dan Riza. Wajah mereka terlihat sedih.

"Bagaimana dengan keadaan Yona. Apa dia sudah selesai dioperasi?" tanya Rivai dengan napas yang sesak.

"Yona... sudah... meninggal," jawab Riza sedih.

"Apa kau bilang? Yona meninggal?" sahut Rivai.

Ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi sangat sedih, air mata mulai mengguyur wajahnya.

"Seandainya aku mendengarkan penjelasan kalian sejak dulu. Mungkin aku bisa melihat senyum Yona yang terakhir kalinya," ucap Rivai merasa menyesal.

"Sudahlah, Rivai. Mungkin ini sudah menjadi takdir yang harus kau hadapi," sahut Dean.

"Maafkan aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak."

"Lupakan saja masalah itu. Sebelum Yona dioperasi dan akhirnya meninggal, ia sempat menitipkan cincin padaku. Dia menyuruhku memberikannya padamu. Dia bilang, kalau dia sangat mencintaimu sampai akhir hayatnya. Baginya, cincin ini penuh dengan kenangan bersamamu yang sangat indah," jelas Dean sambil memberikan cincin tersebut.

"Cincin? Cincin ini, cincin yang kuberikan dua tahun yang lalu. Ternyata dia masih menyimpannya. Aku sempat berpikir kalau dia sudah melupakan cincin pemberianku. Aku sangat menyesal atas perbuatanku," ucap Rivai merasa menyesal.

Rivai pun duduk terdiam meratapi kesedihannya. Perasaannya begitu hancur. Ia sangat menyesal. Merasa bersalah. Air mata yang mengguyur wajahnya terus mengalir.

"Maafkan aku...,Yona."

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Senin, 29 Februari 2016

[CERPEN] Pesawat Kertas

PESAWAT KERTAS

Oleh :

DANKIN

       Lipatan demi lipatan terus dilakukan Nathan hingga membentuk sebuah pesawat kertas berwarna merah muda yang melambangkan cinta. Tak lupa, ia menulis sesuatu pada pesawat kertas tersebut dengan sebuah kata yang penuh makna. Sesaat kemudian, ia menerbangkan pesawat kertas tersebut pada pagi hari yang sejuk ini dengan penuh perasaan senang.

"Pesawat kertasku. Semoga setelah aku menerbangkanmu, aku bisa menemukan wanita yang tepat untukku," ungkapnya setelah menerbangkan pesawat kertasnya.

       Selanjutnya, ia seperti biasa melakukan kegiatan rutinnya pada hari minggu yaitu jogging. Kegiatan ini sudah menjadi kewajiban ketika hari minggu untuk membuat tubuh tetap sehat dan bugar. Sebelum lari pagi, yang dilakukannya selalu membuat pesawat kertas yang diberi kata-kata kemudian diterbangkan dengan harapan agar cepat bertemu wanita yang tepat. Ia sangat yakin jika setiap minggu pagi menerbangkan pesawat kertas berwarna merah muda,  maka suatu saat nanti harapannya untuk bertemu wanita yang tepat akan terkabul.

       Sudah tiga puluh menit ia berlari, kini waktunya istirahat untuk sekadar minum air mineral atau duduk santai dengan mendengarkan lagu. Ketika sedang asyiknya santai, ia melihat seorang wanita cantik yang sedang berlari sendirian. Sorot matanya tertuju pada wanita itu. Saat wanita tersebut sedang duduk untuk beristirahat, dengan beraninya Nathan menghampiri wanita itu untuk berkenalan.

"Hai, apa kau hanya sendirian?" sapa Nathan sambil tersenyum.

"Seperti yang kau lihat sekarang, aku sendirian saja," jawabnya lembut.

"Boleh kutemani?" tanya Nathan.

"Tentu saja boleh," balas wanita itu.

Mendengar jawabannya, Nathan langsung duduk disamping wanita itu tanpa ada rasa malu.

"Siapa namamu?" tanya Nathan tiba-tiba.

"Namaku Hanna. Lalu, namamu siapa?" jawab wanita yang ternyata bernama Hanna dan bertanya balik.

"Aku Nathan. Senang berkenalan denganmu," jawab Nathan yang dibalas senyum manis Hanna.

"Kalau boleh tahu, kau tinggal dimana?" Nathan kembali bertanya.

"Aku tinggal tidak jauh dari sini," jawab Hanna.

"Benarkah? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?" ucap Nathan bingung.

"Jelas kau tidak pernah melihatku. Aku baru dua hari pindah ke kota ini," jelas Hanna.

"Artinya, kau belum banyak mengenal orang disini. Bagaimana kalau kita berteman?" tawar Nathan.

"Baiklah," jawab Hanna singkat.

Selesai dengan obrolan mereka, Nathan pun memutuskan untuk mengantar Hanna ke rumahnya.

"Ternyata rumahmu tak jauh dari rumahku," ucap Nathan begitu sampai di rumah Hanna.

"Benarkah? Berarti kita memang ditakdirkan untuk berteman," sahut Hanna.

"Lain waktu aku akan menemuimu. Apa kau tidak keberatan?" tanya Nathan.

"Tentu saja tidak," jawab Hanna sebelum akhirnya masuk ke rumahnya dan Nathan pun pulang dengan perasaan senang.

       Sore hari, Nathan menghubungi Hanna melalui nomor telepon yang diberikan sesaat sebelum Hanna masuk ke rumahnya untuk mengajaknya ke suatu tempat.

"Bisakah kita jalan berdua?" kata Nathan.

"Sepertinya bisa. Sekarang saja kau temui aku," balas Hanna.

"Tiga puluh menit lagi aku ke sana. Cepatlah kau bersiap-siap," kata Nathan.

"Baik," balas Hanna singkat.

       Nathan menepati janjinya. Tepat tiga puluh menit setelah percakapan selesai, ia sudah sampai di rumah Hanna dengan pakaian yang sangat rapi.

"Kau sudah datang ternyata," ucap Hanna begitu keluar.

"Sesuai seperti ucapanku sebelumnya," sahut Nathan.

"Mau kemana kita pergi?" tanya Hanna penasaran.

"Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat yang sangat berkesan bagiku," jawab Nathan.

"Kelihatannya menarik," ucap Hanna.

Mereka pun pergi mengendarai mobil milik Nathan ke sebuah tempat yang belum diketahui oleh Hanna.

       Tak kurang dari tiga puluh menit, mereka sampai di sebuah bukit yang penuh dengan bunga-bunga cantik dan pepohonan yang rindang. Tempat ini begitu sejuk, indah dan sunyi.

"Inikah tempat yang kau maksud?" tanya Hanna begitu melihat bukit dengan pemandangan yang sangat indah.

"Inilah tempat favoritku. Ketika ada waktu luang seperti sekarang, aku selalu ke tempat ini hanya untuk bersantai sambil menghilangkan rasa bosan. Tempat ini memang jarang dilewati orang-orang, sehingga aku bisa merasakan kesunyian yang sulit dirasakan ketika berada di perkotaan," jelas Nathan.

"Kau benar, aku juga merasa nyaman berada di tempat ini," ucap Hanna.

"Baguslah kalau kau suka. Aku ikut merasa senang," ucap Nathan sedikit bercanda.

"Maksudmu?" tanya Hanna tiba-tiba.

"Tidak apa-apa, aku hanya bercanda tadi," jawab Nathan tersenyum.

Perbincangan mereka tentang tempat tersebut cukup lama sambil menikmati keindahannya. Mereka seperti sudah lama saling mengenal walau sebenarnya belum 24 jam mengenal. Ketika hari sudah petang, keduanya pun pulang. Nathan mengantarkan Hanna tepat di depan rumahnya.

"Sampai jumpa. Kapan-kapan ajak aku ke tempat itu lagi," ucap Hanna sambil melambaikan tangan.

"Baiklah. Aku janji jika ada waktu luang, aku akan mengajakmu lagi," balas Nathan kemudian mobilnya melaju meninggalkan Hanna.

       Nathan dan Hanna semakin dekat hingga mereka menjadi sahabat karena sudah saling mempercayai satu sama lain. Karena hubungan yang sangat dekat itu, Nathan merasa nyaman dengan Hanna dan mulai menaruh hati padanya. Terhitung persahabatan mereka sudah berjalan tiga minggu. Mereka juga sering ke bukit yang sudah menjadi tempat favorit keduanya. Nathan yang mulai menyukai Hanna semakin yakin ingin cepat-cepat menyatakannya, tetapi belum mendapat waktu yang tepat. 

       Pagi ini pun ia terus memikirkan tentang perasaannya pada Hanna yang kemudian dituliskan dalam sebuah pesawat kertasnya dengan sebuah ungkapan "Aku mencintaimu, Hanna" di sampingnya, kemudian ia menerbangkannya.

       Perasaan Nathan yang sangat yakin ini mendorongnya untuk menyatakan perasaannya sore ini. Ia pun menghungi Hanna untuk mengajak ke tempat favorit mereka.

"Apa kau ada waktu untuk menemaniku ke tempat favorit kita?" tanya Nathan.

"Kapan kau mau menemuiku? Apa seperti biasa pada sore hari?" balas Hanna.

"Tepat sekali, kalau begitu aku akan ke sana sore ini,".

"Kutunggu kedatanganmu," balas Hanna.

Respon Hanna membuat perasaan Nathan semakin senang. Ia yakin sekali kalau Hanna adalah seorang wanita yang ada dalam harapannya selama ini.

       Hingga sore hari, sesuai janji, Nathan menjemput Hanna. Tanpa menunggu lama-lama mereka pun langsung jalan. Di dalam mobil Hanna terlihat bingung dengan penampilan Nathan yang tidak seperti biasanya. Kali ini Nathan terlihat berbeda sekali. Gaya rambutnya lebih rapi, pakaiannya pun sangat rapi.

"Baru kali ini aku melihatmu seperti ini," ucap Hanna.

"Memangnya kenapa? Apa aku terlihat berbeda?" tanya Nathan.

"Ya, kau sangat berbeda. Kau bahkan lebih tampan dari biasanya," jawab Hanna yang dibalas senyuman Nathan.

       Bagitu sampai di tempat favorit mereka. Mereka seperti biasa mengobrol untuk melepas kepenatan. Tiba-tiba, Nathan ingin mengatakan sesuatu dengan serius.

"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Hanna penasaran.

"Kau tahu, sejujurnya aku sangat mencintaimu dengan setulus hatiku. Selama tiga minggu lebih aku mengenalmu, aku merasa kau adalah wanita yang akan menjadi kekasihku. Kau wanita yang ada dalam harapanku di pesawat kertas yang selalu aku terbangkan setiap Hari Minggu pagi," jelas Nathan dengan jujur.

"Pesawat kertas? Tunggu dulu, apa warnanya merah muda dan ada sebuah tulisan" tanya Hanna kebingungan.

"Benar sekali. Kenapa kau bisa tahu?" tanya Nathan terkejut.

Hanna pun membuka tas kecilnya dan mengambil sebuah benda yang ternyata adalah pesawat kertas berwarna merah muda milik Nathan.

"Apa ini pesawat kertas yang kau maksud?" tanya Hanna sambil menodongkan pesawat kertas di tangannya.

"Ya, ini milikku. Kapan dan dimana kau mendapatkannya?" tanya Nathan semakin penasaran.

"Aku mendapatkannya di jalan ketika sedang lari pagi sesaat sebelum aku mengenalmu," jelas Hanna.

"Ternyata benar, kau adalah wanita harapanku. Itu terbukti dengan pesawat kertas yang aku terbangkan yang sekarang telah berada di tanganmu," sahut Nathan.

"Sejujurnya aku juga merasa nyaman bersamamu. Kau begitu baik padaku. Aku juga mencintaimu," ucap Hanna.

"Kau juga mencintaiku?".

Hanna langsung memeluk Nathan dengan eratnya. Nathan pun membalas pelukan itu dengan erat. Keduanya seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih. Sesaat kemudian, Nathan menuliskan kata "Forever Love, Nathan and Hanna" pada pesawat kertas tadi dan akhirnya diterbangkan dengan harapan cinta mereka bisa abadi selamanya.

"Terbanglah yang tinggi pesawat kertasku. Semoga cinta kami akan abadi selamanya. Walaupun harapanku sudah terkabul, aku akan terus menerbangkan pesawat kertas sepertimu dengan harapan yang lain," ucap Nathan setelah menerbangkan pesawat kertasnya.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Senin, 22 Februari 2016

[CERPEN] Romeo Terakhir

ROMEO TERAKHIR

Oleh :

DANKIN

       Bel sekolah berbunyi, tanda akan dimulainya kegiatan belajar mengajar. Di suatu kelas, tampak para siswa yang sangat ramai dengan apa yang mereka lakukan hingga terdiam seketika saat seorang guru datang. Sorot mata seluruh isi kelas tertuju pada seseorang di depan kelas. Namun, bukan pada guru mereka, melainkan seseorang yang berada di sebelahnya.

"Selamat pagi anak-anak. Sebelum kita mulai pelajaran, perkenalkan dulu siswa baru yang akan menjadi teman kelas kalian. Silahkan kau memperkenalkan diri di depan teman-temanmu," ucap guru mereka di depan.

"Hai teman-teman, perkenalkan namaku Nabila Oktavia. Panggil saja Nabila, terima kasih," ucapnya.

"Nabila, sekarang kau bisa duduk di sebelah Resti," perintah guru sambil menunjuk bangku yang kosong.

"Hai, aku Resti," ucap Resti sambil mengulurkan tangannya yang dibalas dengan uluran tangan Nabila.

"Aku Kevin dan ini Nino, kami berdua bersahabat dengan Resti. Salam kenal," ucap seseorang bernama Kevin yang duduk tepat di belakang bangku Nabila dan Resti.

"Salam kenal juga," balas Nabila.

"Kalian jangan menggodanya, terutama kau Kevin, si mata keranjang," ketus Resti yang membuat Nabila tersenyum heran.

"Kami hanya berkenalan," kata Kevin.

"Begitulah," jawab Nino singkat.

"Mulai sekarang, Nabila menjadi teman kita. Jadi, ada teman perempuan untukku," ucap Resti menyeringai.

"Memangnya kau mau, Nabila?" tanya Kevin.

"Tentu saja mau. Aku percaya kalian anak-anak yang baik," jawab Nabila setuju.

"Kalian sedang apa? Kalau mau bicara, silakan maju ke depan!" bentak guru yang sedang mengajar.

Keempatnya menjadi diam dan mengikuti pelajaran dengan serius.

       Waktu istirahat tiba, Nabila, Resti, Kevin dan Nino mulai mengobrol satu sama lain. Mereka terlihat merencanakan sesuatu.

"Bagaimana kalau siang ini kita rayakan persahabatan kita di cafe dekat sekolah," ucap Kevin memberi saran.

"Aku setuju," sahut Nabila.

"Kalau Nabila setuju, aku juga ikut setuju," lanjut Resti.

"Kau bagaimana, Nino?" tanya Kevin.

"Aku juga setuju," jawabnya tenang.

Keempat sahabat tersebut memiliki kepribadian yang sedikit berbeda. Nabila seseorang yang sangat feminim, cerdas dan sangat disiplin pada peraturan. Berbeda dengan Nabila, Resti seorang wanita yang sedikit tomboi meski sebenarnya cantik. Kevin seseorang yang sangat ceria, aktif dan berjiwa pemimpin, ia juga banyak disukai para siswi. Sedangkan Nino seseorang yang sangat pendiam dan jarang bergaul, ia juga sangat jenius sehingga banyak siswi yang menyukainya, sama seperti Kevin. Meski keempatnya terlihat berbeda, mereka bisa saling melengkapi persahabatan.

       Setelah pulang sekolah, mereka langsung menuju cafe yang jaraknya tidak jauh dari sekolah untuk merayakan persahabatan baru mereka dengan kehadiran Nabila didalamnya. Setelah memesan makanan dan minuman, keempatnya mulai bersulang sebelum memulai.

"Mari kita bersulang!" ucap Kevin sambil mengangkat gelasnya.

Nabila, Resti dan Nino mengikuti dan mengangkat gelas mereka sebagai tanda persahabatan mereka.

"Teman-teman, aku mau ke toilet sebentar," ucap Nabila kemudian pergi menuju toilet.

Pandangan Kevin tak pernah lepas memperhatikan Nabila.

"Kau kenapa? Apa kau menyukainya?" tanya Resti mengagetkan Kevin.

"Benarkah itu?" lanjut Nino.

"Apa maksud kalian?" sahut Kevin.

"Kau tak perlu mengelak, sedari tadi kau terus memperhatikan Nabila. Jangan-jangan kau menyukainya," kata Resti.

"Aku juga tidak tahu dengan perasaanku ini. Padahal baru mengenalnya, tetapi aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku padanya," jelas Kevin.

"Kenapa tidak kau ungkapkan saja perasaanmu itu. Aku yakin dia akan menerimamu, kau kan banyak disukai siswi di sekolah," jelas Nino.

"Kau sendiri. Bukankah kau juga banyak disukai siswi di sekolah kita?" balas Kevin.

"Kalian berdua memang idola di sekolah kita, tetapi jangan berdebat disini. Mengerti!" ketus Resti yang merasa terganggu.

"Diam kau, Resti!" balas Kevin.

"Walaupun kita sama-sama idola di sekolah, tetapi aku tidak sepertimu yang sangat aktif dalam pergaulan," jelas Nino.

"Kau ini, seseorang yang sangat pendiam tetapi sekalinya bicara sangat panjang," sahut Kevin.

Tak lama, Nabila kembali dan kebingungan sedari tadi saat melihat Kevin dan Nino bicara.

"Kalian berdua sedang membicarakan apa? Sepertinya serius sekali," tanya Nabila ketika baru sampai.

"Tidak apa-apa, kami hanya sekedar bercanda saja, tidak lebih," jawab Kevin.

Mereka melanjutkan makan hingga selesai dan pulang setelahnya. Hari pertama Nabila begitu menyenangkan. Bagaimana tidak, dia langsung mendapat sahabat yang baik.

       Persahabatan Nabila, Resti, Kevin dan Nino sudah terjalin hampir dua bulan ini. Kevin yang sejak awal menyukai Nabila, akhirnya merencanakan sesuatu bersama Nino dan Resti. Ia berencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Nabila. Siang ini, ia telah menyiapkan kejutan spesial di sebuah taman. Ketika Kevin dan Nabila sampai di taman,  Nabila terkejut melihatnya. Banyak lukisan bergambar hati di taman itu dan ada sebuah poster bertuliskan "I LOVE YOU, NABILA".

"Sejujurnya, aku menyukaimu sejak awal kita bertemu, tetapi baru sekarang aku berani mengungkapkannya. Maukah kau menjadi Julietteku?" ungkap Kevin dengan seriusnya.

Belum sempat Nabila menjawab, Resti dan Nino muncul di hadapan mereka.

"Nabila, terimalah dia," ucap Resti.

"Kau tidak akan menyesal, percayalah," lanjut Nino.

"Aku menerimamu. Aku percaya kau akan membuatku bahagia. Aku akan menjadi Juliettemu dan kau menjadi Romeoku," ucap Nabila sambil memeluk Kevin.

Resti dan Nino yang melihatnya ikut merasa senang, kedua sahabat mereka bisa menjadi kekasih. Mereka pun bersenang-senang hingga sore hari.

       Seminggu kemudian, Nabila terlihat baru saja keluar dari rumah sakit bersama ibunya. Nino yang juga berada di rumah sakit (saat mengantar ibunya periksa) melihatnya, tetapi tidak menyapanya. Ia merasa bingung, kenapa Nabila terlihat sedih padahal ibunya tidak terlihat sakit. Apa Nabila baru saja memeriksa kesehatannya. Begitulah yang dipikirkan Nino.

       Esoknya setelah pulang sekolah, Nino mencegat Nabila yang sedang berjalan dan mengajaknya untuk duduk di taman. Dia akan mempertanyakan masalah kemarin. Ini karena Nino sangat penasaran dengan Nabila.

"Apa yang akan kau bicarakan?" tanya Nabila kebingungan.

"Baiklah aku mulai bicara. Apa kau bisa jujur padaku?" tanya Nino.

"Jujur? Memangnya aku harus jujur seperti apa?" jawab Nabila.

"Kemarin aku melihatmu di rumah sakit, dan kau terlihat sedih. Apa benar kau yang sakit atau ibumu yang sakit?" tanya Nino mengagetkan Nabila.

"Kau melihatku?" tanya Nabila.

"Ya, aku melihatmu," jawab Nino singkat.

Tiba-tiba Nabila meneteskan air matanya yang membuat Nino kebingungan.

"Kenapa kau menangis? Apa aku salah? Kalau begitu maafkan aku," ucap Nino.

"Kau tidak bersalah," ucap Nabila masih dalam ekspresi sedih.

"Lalu, kenapa kau menangis?" tanya Nino lebih dalam.

"Jujur saja, aku sebenarnya mengidap penyakit serius," jawab Nabila.

"Penyakit serius? Kau sakit apa?" Nino kembali bertanya.

"Aku mengidap kanker otak stadium akhir. Dokter bilang, usiaku tidak lama lagi. Aku tidak akan bertahan sampai satu bulan," jelas Nabila kemudian memeluk tubuh Nino.

"Percayalah, kau pasti bisa menghadapi penyakitmu itu. Aku yakin kau bisa sembuh. Kau jangan putus asa," ucap Nino mencoba menenangkan.

Tak lama muncul seseorang di belakang mereka.

"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian mencoba bermain di belakangku?" ucap Kevin mengagetkan keduanya yang kemudian melepaskan pelukannya.

"Kau jangan salah paham terlebih dahulu. Aku dan Nabila hanya..."

"Tidak perlu banyak alasan. Dan kau Nabila, kenapa kau tega menyakiti perasaanku?" potong Kevin.

"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku sangat..."

"Diam kau! Aku tidak mau lagi menemui kalian berdua," ketus Kevin kemudian meninggalkan keduanya di tempat tersebut.

Tiba-tiba Nabila merasakan kesakitan pada kepalanya dan akhirnya pingsan. Nino yang kebingungan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.

       Sampai di rumah sakit, Nabila langsung dibawa ke ruang perawatan untuk diperiksa. Ternyata benar kalau Nabila mengidap kanker otak stadium akhir. Nino merasa kasihan padanya. Dokter menyarankan agar Nabila menjalani terapi untuk menyembuhkan penyakitnya. Nino yang kebingungan akhirnya menghubungi orangtua Nabila dan orangtua Nabila menyetujui saran dokter tersebut demi kesembuhan Nabila.

       Hingga tiga hari pasca Nabila menjalani terapi di rumah sakit, Kevin masih belum mau menemuinya. Bahkan, Nino dan Resti yang mencoba membujuknya malah mereka diusir oleh Kevin.

"Maafkan kami, Nabila. Kami tidak bisa membujuk Kevin. Padahal dia tidak tahu apa yang terjadi padamu. Sudah tiga hari ini dia tidak berangkat ke sekolah," jelas Resti.

"Aku juga minta maaf," lanjut Nino.

"Tidak apa-apa, kalian sudah berusaha membujuknya. Walaupun dia tidak mau mendengarkan kalian," kata Nabila.

Keduanya pun mengajak Nabila ke taman di rumah sakit tersebut dengan menaiki kursi roda.

"Andai saja aku sehat seperti kalian. Pasti aku akan lebih leluasa dalam menjalani hidup ini," ucap Nabila tiba-tiba.

"Kau jangan bicara seperti itu. Kami percaya kau akan sembuh dan kita akan menjadi sahabat untuk selamanya," sahut Resti mencoba menghibur.

"Terima kasih kalian sudah mau menjadi sahabatku," kata Nabila.

       Esoknya, Kevin pun berangkat ke sekolah namun tidak duduk disamping Nino. Melainkan menjauhi Nino dan Resti. Kevin tak peduli meski Nino dan Resti memperhatikannya.

"Kevin, ada apa dengan..." 

"Diam! Kau tidak perlu bicara denganku," ketus Kevin sebelum Nino menyelesaikan ucapannya.

"Baiklah kalau itu yang kau mau. Aku tidak akan mengganggumu," balas Nino.

       Sepulang sekolah, Nino dan Resti seperti biasa menjenguk Nabila di rumah sakit. Saat sampai di ruang tempat Nabila berbaring. Keduanya kaget melihat Nabila yang sangat aneh seperti sedang kesakitan.

"Nabila, kau kenapa?" tanya Nino kaget.

"Aku mohon, tolong pertemukan aku dengan Kevin untuk terakhir kalinya," jawab Nabila dengan napas yang terengah-engah.

"Kau bicara apa? Apa yang terjadi padamu?" ucap Resti.

"Aku mohon!!!" ucap Nabila memohon kemudian ia pingsan.

Nino dan Resti langsung memanggil dokter untuk memeriksanya.

"Lebih baik kau temui Kevin. Bawa dia kemari. Biar aku yang menghubungi orangtua Nabila," perintah Resti pada Nino.

"Baiklah, secepatnya aku akan kembali" jawab Nino kemudian pergi untuk menemui Kevin.

       Sampai di rumah Kevin, ia mengetuk pintu dan Kevin membuka pintunya. Nino terlihat kelelahan karena sangat terburu-buru untuk menemui Kevin.

"Kau lagi, mau apa kau kemari?" tanya Kevin.

"Kevin, tolong dengarkan aku. Nabila sedang kritis di rumah sakit, dia ingin sekali bertemu denganmu," jelas Nino.

"Apa benar ucapanmu tersebut?" tanya Kevin kaget.

"Aku berani bersumpah, tolonglah percaya padaku. Aku dan Nabila tidak ada hubungan istimewa. Waktu itu, dia hanya menceritakan tentang penyakitnya," jelas Nino.

"Baiklah, kali ini aku percaya padamu. Sekarang ayo kita ke sana," ucap Kevin akhirnya percaya.

Keduanya pun bergegas menuju rumah sakit dengan gugup. Tidak peduli apa yang ada dihadapan mereka. Waktu yang mereka miliki sangat sedikit.

       Sesampainya di sana, mereka dikejutkan dengan pernyataan Resti kalau Nabila sudah meninggal. Kevin dan Nino pun bersedih. Kevin yang merasa bersalah menangis disamping tubuh Nabila dengan sepenuh hati.

"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi kekasih yang baik untukmu. Seandainya aku mempercayaimu waktu itu, pasti aku bisa melihat senyummu untuk terakhir kalinya," ucap Kevin sambil menangisi Nabila.

"Kevin, sebelum dia meninggal. Dia menitipkan surat ini untukmu," ucap Resti sambil memberikan secarik kertas pada Kevin.

Kevin yang masih menangis, menerima surat itu dengan sedih dan membacanya.

Untuk Kevin (Romeo Terakhirku),

       Maafkan aku kalau selama ini, aku merahasiakan penyakit ini darimu. Aku juga ingin menjelaskan, kalau aku dan Nino tidak ada hubungan apa-apa selain sebagai sahabat. Di dalam hatiku hanya ada kau seorang. Aku senang bisa menjadi Juliette untukmu. Dan aku senang kau bisa menjadi Romeo untukku. Selamanya kau akan menjadi Romeoku, Romeo yang terakhir dalam hidupku ini.
                                                                                                                                Nabila

Begitulah isi surat yang ditulis Nabila untuk Kevin yang terakhir kalinya dalam hidupnya.

"Aku juga senang bisa menjadi Romeomu. Meskipun aku Romeo yang terakhir dalam dalam hidupmu. Aku akan terus mengenangmu dalam hatiku," ungkapnya dalam hati.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Minggu, 14 Februari 2016

[CERPEN] Pengakuan Cinta

PENGAKUAN CINTA

Oleh :

DANKIN

         Dalam perasaan hati yang begitu tegang, Luna menghela napas panjang sebelum akhirnya memasuki pesawat yang akan menerbangkannya dari New York menuju Jakarta. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi penumpang, kemudian memejamkan matanya untuk tidur. Tujuan ia ke Indonesia adalah untuk melanjutkan sekolahnya setelah semester pertama selesai. Ia sebenarnya orang Indonesia dan memang sejak kecil berada di Indonesia. Namun, orangtuanya pindah ke New York ketika Luna berusia enam tahun karena suatu pekerjaan yang membuat Luna harus ikut tinggal dan besar di sana. Walaupun terbiasa dengan Bahasa Inggris, tetapi ia masih sangat fasih berbahasa Indonesia. Itu sebabnya ia bersedia untuk kembali ke Indonesia, lagi-lagi karena orangtuanya pindah dengan alasan pekerjaan.

       Pagi hari yang sejuk seakan memeluk tubuh Luna untuk tetap tertidur di kursi penumpang, tetapi itu tidak boleh terjadi. Pagi ini, pesawat yang ditumpanginya telah sampai di salah satu bandara di Indonesia. Ia menghela napas panjang begitu keluar dari pesawat seakan teringat masa kecilnya saat masih di Indonesia. Dengan semangatnya, ia menaiki taksi untuk menuju rumah orangtuanya. Tiga bulan yang lalu orangtua Luna lebih dahulu pindah ke Indonesia sedangkan Luna harus menunggu akhir semester. Setelah semester satu selesai, Luna melanjutka  sekolahnya di Indonesia. Sekarang ini, Luna telah menyelesaikan pendaftaran di salah satu sekolah menengah atas di kota ini. Yang ia lakukan saat ini adalah menunggu waktu liburan selesai dan menjalani hari pertamanya di sekolah barunya.

"Kau tidak perlu canggung, Luna. Ibu yakin kau bisa menyesuaikan diri dengan sekolah barumu," ucap ibu Luna.

       Udara yang terkadang panas sudah tidak menjadi masalah bagi Luna. Bagaimana tidak, ia terbiasa dengan udara dingin di New York, meski sekarang sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Ini adalah hari libur terakhirnya sebelum memulai hari pertama sekolah besok.

"Aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari pertama di sekolah baruku. Semoga hari pertamaku menyenangkan," gumamnya.

       Keesokan hari tiba, kini Luna telah menginjakkan kakinya di sekolah yang baru. Sekolah yang sekarang memang cukup besar meski tidak sebesar sekolahnya dulu di New York. Perlahan, Luna mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah.

"Selamat pagi, pak. Namaku Luna Alvina, murid baru di sekolah ini. Dimana letak kelas 3, pak?" tanya Luna pada seorang lelaki hampir setengah baya yang sepertinya adalah seorang guru di sekolah ini.

"Kau murid pindahan dari New York?" tanya lelaki tersebut.

"Betul sekali, pak," jawab Luna tersenyum.

"Silakan kau melapor dulu ke ruang guru. Tempatnya di sana, tepat di ujung," kata bapak itu lagi sambil menunjuk ruang guru.

"Kalau begitu terima kasih banyak, pak," sahut Luna dengan sopan.

Lalu, ia beregas menuju ruang yang ditunjuk bapak tadi, tepat di ujung sana ruang guru berada.

       Setelah masuk ke ruang guru, Luna diminta untuk menunggu Pak Herman, Wali Kelas sekaligus guru matematika yang kebetulan sedang mengajar. Sekitar lima belas menit menunggu, Luna kaget melihat bapak yang sebelumnya memberi informasi padanya tadi pagi.

"Luna Alvina, ayo ikut aku ke kelas barumu," ucap bapak tadi.

"Apa kau Pak Herman, Wali Kelasku?" tanya Luna.

"Tebakanmu benar sekali," jawab Pak Herman singkat sambil terus berjalan menuju kelas.

        Begitu sampai di kelas, Pak Herman mempersilakan Luna untuk memperkenalkan dirinya di depan murid-murid yang akan menjadi teman sekelasnya.

"Selamat pagi anak-anak. Hari pertama semester dua ini, kita kedatangan murid baru. Ia pindahan dari New York. Tetapi tenang saja, karena ia orang Indonesia dan fasih berbahasa Indonesia. Luna, silakan kau memperkenalkan diri," ucap Pak Herman.

"Selamat pagi teman-teman, perkenalkan  namaku Luna Alvina. Panggil saja Luna. Aku baru pindah kemari enam hari yang lalu. Salam kenal semuanya," ucap Luna memperkenalkan dirinya dengan ceria yang membuat semuanya melihat dengan antusias terutama murid laki-laki.

"Luna, kau bisa berkenalan dengan teman-temanmu istirahat nanti. Sekarang kau bisa duduk di situ, tepat disamping Deny karena bangku di sebelahnya kosong," perintah Pak Herman sambil menunjuk kursi kosong disamping seorang lelaki bernama Deny Febrian atau akrab disapa Deny.

       Deny melirik secara diam-diam ke arah Luna yang duduk disamping kirinya. Ia tersentak kaget, seketika perasaannya menjadi gugup saat tiba-tiba Luna menoleh ke arahnya dan tersenyum manis padanya.

"Hai, aku Luna Alvina. Panggil saja aku Luna," sapa Luna sambil mengulurkan tangannya.

"Aku Deny Febrian. Panggil saja Deny. Senang berkenalan denganmu," sahut Deny sambil menyambut uluran tangan Luna.

Deny mulai merasa Luna cukup menyenangkan. Ia merasa sangat beruntung bisa sebangku dengan Luna. Sebangku dengan gadis cantik seperti Luna tentulah sangat menyenangkan baginya.

       Luna Alvina bertubuh langsing dan tinggi. Memiliki wajah yang cantik dan rambut panjang terurai yang hitam. Matanya bagitu bercahaya dan menjadi daya tarik tersendiri. Deny menyukai gadis itu sejak melihatnya pertama kali tadi. Rasanya seperti takdir bisa menjadi teman sebangkunya, sehingga ia punya kesempatan untuk mengenal Luna lebih dekat.

"Apa hobimu?" tanya Luna tiba-tiba.

"Aku sangat suka melukis. Dan tempat favoritku untuk melukis di taman belakang sekolah kita. Taman itu sangat indah dan jarang ada murid yang ke sana. Jadi, aku bisa leluasa mendapat banyak inspirasi saat melukis," jelas Deny.

"Banarkah? Apa kau bisa mengajakku ke taman itu. Hanya sebatas merasakan keindahannya dan menemanimu. Apa kau tidak keberatan?" ucap Luna memohon.

"Tentu saja aku tidak keberatan. Aku justru senang kau bisa menemaniku," jawab Deny merasa senang.

       Saat waktu pulang tiba, Luna dan Deny menuju taman belakang sekolah. Deny langsung saja mengambil buku gambarnya dan mulai melukis sesuatu, sedangkan Luna berkeliling taman dengan senangnya. Deny yang sedang melukis terlihat tersenyum, entah apa yang ia lukis hingga membuatnya tersenyum. Luna yang melihatnya pun mendekat.

"Kenapa kau senyum sendiri?" tanya Luna yang membuat Deny kaget.

"Ahhh...tidak apa-apa," jawab Deny malu.

"Apa karena lukisannya. Sini aku lihat," ucap Luna sambil mencoba melihat lukisan Deny namun ditahan olehnya.

"Tidak boleh," ucap Deny sambil melindungi lukisannya.

"Kenapa tidak boleh?" tanya Luna heran.

"Suatu saat kau akan tahu dan melihatnya, tetapi tidak untuk sekarang," jelas Deny.

Luna hanya diam saja. Keduanya kini memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore.

       Semakin hari Luna dan Deny semakin dekat. Keduanya kini telah menjadi sahabat dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Deny yang sejak awal menyukai Luna semakin yakin dengan perasaannya tersebut meski masih ia sembunyikan.

"Bukannya sejak awal kau menyukainya. Kenapa tidak kau akui saja kalau kau menyukainya," ucap seorang teman bernama Andre.

"Tidak semudah itu mengakui perasaan cinta pada seseorang. Kau pikir ini adalah game," ketus Deny pada Andre yang sedang sibuk bermain game di ponselnya.

"Aku yakin sekali kalau Luna juga menyukaimu," sahut Andre setelah menghentikan gamenya.

"Kenapa kau bisa berpendapat seperti itu?" tanya Deny.

"Tidak perlu aku jelaskan. Yang jelas, terlihat sekali kalau dia sepertinya juga menyukaimu," sahut Andre.

"Apa kau yakin kalau dia akan menerimaku?"

"Aku yakin itu. Cepatlah kau ungkapkan perasaanmu itu sebelum ada orang lain yang mendahuluimu. Sejak kedatangan Luna di sekolah ini, banyak murid laki-laki yang menyukainya. Begitu pula dirimu, murid laki-laki yang paling diidolakan para siswi di sekolah ini. Kalian berdua sangat serasi," jelas Andre.

"Aku pergi dulu. Terima kasih atas saranmu," ucap Deny sambil melambaikan tangan sebelum akhirnya pergi.

       Seperti hari-hari biasanya, pagi ini Luna sangat bersemangat ke sekolah. Saat sampai di kelas, ia tidak melihat Deny di bangkunya.

"Andre, apa kau tahu kenapa Deny tidak berangkat?" tanya Luna pada Andre yang duduk di belakangnya.

"Aku dengar dia sakit hari ini," jawab Andre seadanya.

"Benarkah? Apa dia sakit parah?" tanya Luna karena khawatir.

"Kau tidak perlu khawatir, dia tidak sakit parah. Hanya sakit biasa," sahut Andre.

Luna hanya terdiam dan duduk di kursinya. Hari ini terasa kurang tanpa adanya Deny.

       Sepulang sekolah, Luna mencoba menjenguk ke rumah Deny. Ia tak peduli walaupun masih mengenakan seragam sekolah karena ia sangat mengkhawatirkan Deny. Begitu sampai di rumah Deny, ia langsung mengetuk pintu.

"Luna, ada perlu apa kau datang kemari?" tanya seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah ibu Deny.

"Apa benar kalau Deny sedang sakit, bu?" tanya Luna dengan polosnya.

"Deny memang sakit. Dia bilang sedang tidak enak badan," jawab ibu Deny.

"Apa boleh aku menemuinya?" Luna memohon.

"Tunggu sebentar. Ibu bilang dulu," sahut ibu Deny kemudian pergi ke kamar Deny.

Tak lama ia datang dan memberi kabar yang tidak diinginkan Luna.

"Maaf, Luna. Deny sedang tidak mau bertemu orang lain termasuk dirimu," ucap ibu Deny pelan.

"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu," ucap Luna kemudian pergi untuk pulang.

Perasaannya begitu kecewa mendengar kalau Deny tidak mau bertemu siapa-siapa termasuk dirinya, sahabat dekatnya.

       Keesokan harinya, Deny masih belum berangkat sekolah. Luna pun kembali menjenguknya namun sama seperti kemarin, Deny tidak ingin menemuinya. Bahkan sampai tiga hari berturut-turut Deny selalu menolak untuk menemui Luna yang selalu berusaha menjenguknya.

"Maaf, Luna. Ibu tidak tahu kenapa Deny seperti itu," ucap ibu Deny meminta maaf.

"Tidak apa-apa, bu. Lebih baik aku pulang saja," sahut Luna sedikit kecewa.

       Hari-hari berikutnya, Deny masih belum terlihat di sekolah. Namun, Luna sudah tidak berani lagi menjenguknya karena ia yakin Deny akan menolak untuk menemuinya. Begitu pulang sekolah tiba, ia langsung menuju rumah. Tepat saat Luna sampai di rumah, ia melihat sebuah surat berwarna merah cerah di depan pintu rumahnya. Surat itu ternyata ditujukan padanya. Ia pun bergegas ke kamar untuk membacanya. Dalam isi surat itu tertulis bahwa seseorang yang mengirim surat ini ingin bertemu dengan Luna di taman belakang sekolah sore ini. Luna tersenyum saat membacanya. Ia tahu kalau Deny yang mengirim surat ini.

       Ketika sore hari, Luna sudah tiba di taman belakang sekolah. Ia sangat terkejut melihat taman tersebut yang sangat indah dihiasi lampu warna-warni dan banyak lukisan pensil wajahnya yang begitu cantik. Tiba-tiba muncul seseorang dari belakangnya.

"Kau...?" ucap Luna kaget.

"Ya. Ini aku, Deny," ucap seseorang tersebut yang ternyata adalah Deny.

"Jadi benar kau yang membuat ini semua. Lukisan ini begitu indah. Bahkan sangat mirip dengan wajahku tanpa ada sedikit kesalahan," ucap Luna kagum.

"Maafkan aku masalah kemarin. Aku memang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Selama aku sakit, aku terus melukis wajahmu dan mempersiapkan semua ini untukmu," jelas Deny.

"Apa maksud dari semua ini?" tanya Luna.

"Ini adalah sebuah pengakuan cinta," sahut Deny.

"Pengakuan cinta?" tanya Luna terheran-heran.

"Benar, ini pengakuan cinta. Pengakuan cintaku padamu. Sejak awal kita bertemu, aku sudah menyukaimu hingga akhirnya kita menjadi sahabat. Maukah kau menjadi kekasihku?" ungkap Deny serius.

Tanpa menjawab, Luna langsung memeluk tubuh Deny dengan erat.

"Kau lelaki yang sangat baik. Kau cerdas dan juga berbakat. Aku menyukai lelaki sepertimu," ucap Luna sambil memeluk Deny.

"Jadi...?" tanya Deny.

"Aku juga menyukaimu," lanjut Luna tersenyum.

Keduanya pun menikmati keindahan taman yang penuh hiasan lampu dan lukisan berdua. Ditambah lagi, pemandangan sunset yang semakin menambah suasana menjadi romantis.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Minggu, 07 Februari 2016

[CERPEN] Jika Kau Tahu

JIKA KAU TAHU

Oleh :

DANKIN

       Matahari mulai menampakkan dirinya dari ufuk timur menyinari pagi ini. Ditambah lagi, kicauan burung-burung di luar rumah, semakin terasa nyaman pagi ini. Benar-benar suasana yang menenangkan.

       Seorang pria bernama Jinu terbangun dari tidurnya yang nyenyak dengan semangat. Tak bisa dipungkiri, pagi ini memang begitu membuat perasaan seseorang menjadi bersemangat untuk memulai aktivitas. Jinu langsung mandi untuk bersiap ke sekolah. Setelah selesai, Jinu segera keluar rumah. Ternyata, ada seorang wanita yang tak lain adalah sahabatnya sendiri yang telah menunggu di depan tempat kostnya.

"Sudah selesai kah?" ucap wanita tersebut.

"Ehhh, Lita. Kau sudah menunggu lama?" tanya Jinu pada wanita yang ternyata bernama Lita.

"Tidak juga. Kurang lebih sekitar 15 menit," jawab Lita.

"Ayo kita berangkat," ucap Jinu,
Lita pun mengangguk.

       Mereka berdua pun berangkat ke sekolah mengendarai mobil milik Jinu. Sedikit cerita, Jinu adalah seorang anak dari keluarga yang sangat mampu, tetapi, dia akhirnya memilih bersekolah di luar kota yang jauh dari orangtuanya. Sehingga, ia harus tinggal di tempat kost. Setiap bulan orangtuanya mengirim uang untuk kebutuhannya. Jinu bersekolah di tingkat menengah atas dan sudah memiliki syarat-syarat mengendarai kendaraan untuk mematuhi hukum negara. 

       Dalam perjalanan, keduanya saling berbicara seperti biasa layaknya persahabatan orang-orang lain di dunia ini. Keduanya saling menjaga persahabatan mereka agar tidak hancur. Tibalah mereka di sekolah setelah kurang lebih sepuluh menit perjalanan. Jarak sekolah dengan tempat kost Jinu memang cukup jauh. Mereka langsung keluar dari mobil dan bergegas menuju kelas masing-masing.

"Pulang nanti jika tidak ada kesibukan, kita jalan-jalan ke pantai. Setuju?" tanya Jinu.

"Setuju! Aku ke kelas dulu. Sampai nanti," balas Lisa.

Mereka pun berpisah menuju kelas masing-masing karena kelas mereka berbeda.

       Sampai di kelas, seperti biasa Jinu bergaul bersama teman kelasnya, mendengarkan guru yang sedang menerangkan, mengerjakan tugas dari guru, dan kegiatan lain di kelas yang baginya tidak menyenangkan jika tanpa adanya Lita, sahabatnya. Sebenarnya, Jinu menganggap Lita lebih dari perasaan sahabat. Ia sangat mencintai Lita, tetapi ia tidak ingin hanya karena cinta, persahabatannya menjadi hancur.

       Waktu pulang sekolah tiba, Jinu bergegas menuju mobilnya di tempat parkir. Ternyata, Lita sudah lebih dahulu sampai dan menunggunya.

"Bagaimana dengan kesepakatan kita tadi pagi. Apa hari ini kau tidak ada kesibukan?" tanya Jinu.

"Kebetulan tidak ada. Ayolah kita pergi ke pantai," jawab Lita senang.

"Untunglah aku juga tidak ada kesibukan. Kalau ada, mungkin kita tidak jadi ke pantai," terang Jinu.

"Betul juga. Tetapi, apa tidak sebaiknya kita pulang dulu mengganti pakaian ini," tanya Lita.

"Tidak perlu pulang. Aku sudah membawa pakaian ganti, kau juga sudah aku bawakan. Jadi, kita tidak perlu khawatir," jelas Jinu.

"Membawa baju untukku? Maksudmu, kau memberiku pakaian?" tanya Lita bingung.

"Tentu saja. Kau kan sahabatku yang terbaik. Ayo masuk ke mobil," sahut Jinu.

Keduanya memasuki mobil dan mulai melaju ke suatu tempat yaitu pantai.

       Akhirnya mereka sampai di pantai. Keduanya langsung menuju ruang ganti baju untuk mengganti seragam mereka dengan pakaian formal. Keluar dari ruang ganti, Jinu terkejut melihat Lita yang begitu cantik mengenakan pakaian yang ia berikan.

"Kau begitu cantik dengan pakaian itu. Sepertinya aku tidak salah memilih," ucap Jinu menggoda.

"Kau serius?" tanya Lita tersenyum.

"Aku serius. Kau sangat cantik mengenakan itu," ungkap Jinu.

"Terima kasih. Ayo kita jalan-jalan" ucap Lita kemudian menggaet tangan Jinu keluar.

Jinu dan Lita saling berpegangan tangan seperti pasangan kekasih. Keduanya memang terlihat sangat cocok menjadi sepasang kekasih meski kenyataannya mereka hanya menjalin persahabatan semata.

       Keduanya selesai bermain bersama dan sekarang sedang beristirahat di sebuah tempat di pinggir pantai. Lita tiba-tiba ingin mengatakan suatu hal penting.

"Jinu, aku ingin mengatakan hal penting padamu, tetapi kau jangan marah padaku," ucap Lita serius.

"Hal penting? Memangnya apa?" tanya Jinu penasaran.

"Seminggu lagi aku dan keluargaku akan pindah ke Melbourne, Australia. Jadi aku akan meninggalkanmu entah sampai kapan kita bisa bertemu lagi. Maaf, aku baru bisa jujur sekarang," jelas Lita.

"Kenapa sangat?" tanya Jinu kaget.

"Satu hal lagi, sejujurnya aku sudah lama menyukai sahabatku sendiri yaitu kau, Jinu. Tetapi, kau tidak perlu memikirkan hal ini karena sebentar lagi kita akan berpisah," jelas Lita lagi.

"Kau tahu, sekarang hatiku menjadi hancur mendengar ucapanmu tadi. Apa kau tidak memikirkan perasaanku? Apa kau juga tidak peduli lagi padaku?" bentak Jinu.

"Maaf, Jinu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Ini semua bukan keinginanku. Keluargaku akan pindah dan aku juga harus ikut," sahut Lita sambil menangis.

Mendengar itu, Jinu tiba-tiba pergi meninggalkan Lita yang kini sedang menangis sendiri. Hati Jinu begitu hancur mendengar semua ucapan Lita tadi.

       Sudah tiga hari ini Jinu dan Lita tidak saling bertatap muka. Lita juga tidak pernah lagi mengunjungi Jinu sebelum ke sekolah. Mungkin Lita merasa bersalah. Di sisi lain, Jinu memang tidak ingin bertemu Lita untuk menenangkan perasaannya terlebih dahulu. Menjalankan aktivitas seperti biasa tanpa adanya Lita, baginya ini hal buruk. Sepulang sekolah, Jinu hanya bisa langsung ke tempat kostnya dan menghabiskan waktu menyendiri di kamar. Menjelang sore, ia terkejut ketika mendapat sebuah pesan singkat di ponselnya. Tertera jelas bahwa Lita yang mengirim pesan.

"Sebelumnya aku minta maaf terlebih dahulu dan ingin mengucapkan perpisahan padamu. Keluargaku mendadak mengganti jadwal keberangkatan kami sore ini. Sekarang, aku sudah berada di bandara dan sebentar lagi pesawat yang akan kami tumpangi akan lepas landas."

Begitulah isi pesan dari Lita yang mengejutkan. Bagaimana tidak, yang Jinu tahu, Lita akan pergi empat hari lagi, tetapi, ia mendadak pergi sore ini. Jinu pun bergegas menuju bandara sambil berharap kalau pesawat yang akan ditumpangi Lita belum lepas landas.

"Kenapa kau mengecewakanku, Lita. Kenapa kau begitu cepat meninggalkanku?" ucap Jinu sambil menyetir mobilnya.

       Tibalah Jinu di bandara dan memarkirkan mobilnya. Jinu langsung berlari memasuki bandara dengan perasaan yang sangat kacau. Tetapi ketika ia melihat papan boarding, perasaannya menjadi tak karuan. Jadwal penerbangan menuju Melbourne sudah lepas landas lima menit yang lalu. Jinu pun menangis di tempat duduk.

"Jika kau tahu, bahwa aku juga sebenarnya sangat menyayangi dan mencintaimu sejak awal. Kenapa kau tiba-tiba meninggalkanku begitu saja?" ucap Jinu dalam hati.

Jinu pun pergi meninggalkan bandara dengan kecewa. Seseorang yang dicintainya sudah pergi meninggalkannya.

"Mungkin kita tidak akan pernah bisa bertemu kembali. Tetapi, bukan itu yang kuharapkan. Semoga saja, suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali," batinku.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Senin, 01 Februari 2016

[CERPEN] Nomormu

NOMORMU

Oleh :

DANKIN

       Langit kota pada siang hari ini terlihat begitu gelap seakan ingin membasahi bumi. Tak lama, hujan pun mulai mengguyur kota dengan derasnya. Seorang pria tampan terlihat berlari kencang dan memasuki sebuah toko buku untuk membaca atau mencari buku dan tentu saja untuk berteduh sembari menunggu hujan reda. Pria tampan tersebut bernama Rovin.

       Rovin yang kini sudah berada di dalam toko buku, tidak terlihat basah. Mungkin karena dia begitu cepat berlari. Di dalam toko buku, Rovin begitu senang saat mulai membuka dan membaca sebuah buku yang baginya menarik. Rovin memang dikenal sebagai seorang kutu buku atau lebih tepatnya seseorang yang sangat gemar membaca buku, baik itu buku pengetahuan, novel, komik maupun buku lainnya. Terlalu senangnya dengan buku yang sekarang ia baca, sampai-sampai terbawa suasana dalam isi buku tersebut. Tak peduli siapapun orang yang melihatnya, ia tetap serius membacanya.

       Tatapan Rovin berpaling ketika melihat seorang wanita yang begitu cantik berada tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.

"Dia begitu cantik. Sepertinya aku tertarik padanya. Siapa namanya?" ucapnya dalam hati yang terus bertanya-tanya.

Meski memiliki wajah tampan, ditambah lagi ia begitu cerdas dan memiliki postur tubuh ideal yang seakan dia adalah pria idaman setiap wanita. Namun, ia tidak begitu percaya diri.

"Kenapa kau ini? Kenapa kau tidak berani mendekatinya? Padahal kau sangat populer di kalangan wanita. Kenapa kau tidak berani mendekati wanita," ucapan kesal pada dirinya sendiri terus terlontar.

       Sudah sekitar 10 menit, Rovin hanya bisa memandangi wanita yang kini sedang sibuk membaca buku, sedangkan buku yang Rovin pegang hanya seperti sebuah pegangan yang tak berguna. Sadar sedang dipandangi seseorang, wanita tersebut membalas pandangannya yang membuat Rovin terlihat salah tingkah dibuatnya. Wanita tersebut hanya tersenyum manis, begitu pula Rovin.

"Kau ini bagaimana, kenapa membuat diri sendiri malu. Begitu bodoh dirimu," bentaknya dalam hati.

       Hujan mulai reda, wanita itu mengambil sebuah buku dan membawanya ke kasir untuk membayar. Kemudian wanita itu pergi meninggalkan toko buku tersebut. Rovin yang terus memperhatikan hanya terdiam di tempat, antara bingung atau gelisah.

"Kau telah menyia-nyiakan kesempatan itu. Kau begitu payah," lagi-lagi Rovin kesal dalam benak hatinya.

Tak lama, Rovin pun pergi meninggalkan toko buku tersebut tanpa membeli satu buku pun. Perasaannya begitu gelisah, tidak biasanya seperti ini. Keputusan saat ini adalah pulang dengan perasaan aneh yang bercampur menjadi satu.

       Tiba di kamar, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil terus memikirkan kejadian tadi.

"Apakah mungkin aku bisa bertemu dia lagi? Atau, hanya sekali saja aku melihatnya? Ya ampun, kenapa aku ini," ucapnya.

Kini, pikiran Rovin begitu kacau. Ia terus-menerus dihantui oleh wanita tadi. Tanpa sadar ia pun tertidur pulas.

       Hari sudah berlalu, siang hari ini sangat berbanding terbalik dengan kemarin. Jika kemarin langit mendung dan turun hujan deras, hari ini begitu cerah dan panas. Rovin kembali ke toko buku kemarin. Entah apa yang dipikirkannya, dia kembali ke toko buku itu. Kebiasaan Rovin jika sedang banyak beban pikiran memang selalu ke toko buku tersebut, terkadang ia membeli buku, terkadang juga hanya sekadar membaca buku untuk menghilangkan beban pikiran.

       Ketika sedang membaca buku, dia terkejut ketika melihat wanita yang kemarin memasuki toko buku tersebut. Pikirannya berubah drastis, seperti sebuah keajaiban bisa bertemu kembali dengannya.

"Apakah aku sedang bermimpi? Oh, tidak. Ini benar-benar sebuah kenyataan. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dalam hati.

Wanita itu tiba-tiba semakin mendekatinya untuk mencari sebuah buku.

"Permisi," ucap wanita itu tiba-tiba.

       Wanita itu mengambil sebuah buku karya Stephenie Meyer, tentu saja buku itu adalah novel berjudul Twilligh. Siapa yang tak kenal dengan Stephenie Meyer, dia sukses besar setelah menulis beberapa novel seri dari Twilligh yang menceritakan tentang kisah cinta vampir dan manusia. Bahkan karyanya tersebut difilmkan dan menjadi booming terutama di kalangan remaja.

"Suka Twilligh?" tanya Rovin mulai berani.

"Tentu saja. Aku menyukai filmnya, jadi aku mencoba untuk membaca versi novelnya," katanya.

"Jujur, aku juga sangat menyukai filmnya. Jalan ceritanya begitu bagus dan menarik," jelas Rovin.

"Bukankah kau yang kemarin disini juga?" tanya wanita itu.

"Betul sekali. Sepertinya kita bisa menjadi lebih dekat. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Rovin.

"Namaku Irene. Lalu siapa namamu?" tanyanya balik.

"Panggil saja aku Rovin. Salam kenal," jawab Rovin senang.

"Salam kenal juga," lanjut Irene.

Keduanya kini saling mengobrol satu sama lain seperti sudah sangat dekat, padahal baru saja mengenal.

"Aku pulang dulu," ucap Irene.

"Tunggu dulu," cegat Rovin.

"Kenapa?" tanya Irene bingung.

"Aku hanya ingin kita bisa terus bertemu kembali seperti saat ini, kuharap kau mau memberikan nomormu. Apa kau tidak keberatan?"

"Tentu saja tidak keberatan, sebentar," jawabnya yang kemudian memberikan nomor ponselnya.

"Mengapa kau meminta nomorku? Apa ada sesuatu?" tanya Irene lagi.

"Kurasa kau begitu menarik untuk dekat denganku. Jadi, kupikir aku ingin tahu lebih banyak tentangmu," jelas Rovin.

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucap Irene sambil melambaikan tangan dan tersenyum.

"Sampai jumpa," sahut Rovin tersenyum.

Pertemuannya telah selesai, Rovin pun memutuskan kembali ke rumah dengan perasaan senang.

       Setibanya di rumah, ia langsung menuju kamarnya. Setelah mengganti pakaiannya, ia merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai memainkan ponselnya. Terlihat jelas bahwa ia sedang mengirim pesan singkat pada Irene. Sesaat setelahnya, wajahnya terlihat begitu senang ketika muncul sebuah pesan balasan dari Irene.

"Apa kita bisa bertemu di lain waktu?" tanya Rovi.

"Mungkin besok siang kita bisa bertemu di suatu tempat," jawab Irene.

"Bagaimana kalau di sebuah coffe shop. Apa kau suka kopi?" tanya Rovin.

"Kopi? Tentu saja aku suka. Baiklah, besok kita bertemu di coffe shop dekat toko buku kemarin," jawab Irene setuju.

"Baik, sampai bertemu besok," ucap Rovin gembira.

"Ya," jawab Irene singkat.

Begitulah sekiranya isi percakapan pesan singkat keduanya. Jika dilihat-lihat, keduanya seperti saling tertarik satu sama lain.

       Pagi hari tiba, matahari senantiasa menyinari dunia dengan senyum cerah cahayanya. Rovin yang baru terbangun merasa sangat bahagia. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu siang hari untuk bertemu Irene di sebuah coffe shop. Perasaan bahagia itu tak kunjung hilang ketika hatinya sudah bulat ingin mengungkapkan perasaannya pada Irene meskipun belum lama saling kenal.

       Akhirnya siang hari yang ditunggu-tunggu tiba. Rovin sangat bersemangat. Sebelum menuju coffe shop, Rovin terlebih dahulu membeli seikat bunga mawar merah dan juga ia sudah membawa toples kecil berisi pasir. Entah apa maksudnya ia membawa dua benda itu.

       Saat tiba di depan pintu sebuah coffe shop, ia melihat Irene yang sedang duduk sendirian di meja bernomor 12. Rovin langsung saja menghampirinya dengan membawa dua benda tadi. 

"Apa kau menunggu lama?" sapa Rovin.

"Tidak juga. Kau mau pesan apa?" tanya Irene.

"Aku pesan cappucino saja, bagaimana denganmu? Apa kau sudah pesan?" tanya Rovin.

"Kebetulan belum," jawabnya.

Kemudian Rovin memanggil pelayan untuk memesan apa yang ia dan Irene inginkan. Setelahnya, keduanya mengobrol seperti biasa.

      Pesanan mereka akhirnya tiba, sebelum sempat menyeruput kopinya, Rovin mengatakan sesuatu yang sangat penting.

"Irene?" tanya Rovin tiba-tiba.

"Ya, ada apa?" jawab Irene bingung.

"Bolehkan aku mengatakan yang sejujurnya padamu?" ucap Rovin.

"Boleh saja. Memangnya kau ingin mengatakan apa?" tanya Irene.

Rovin langsung menjulurkan seikat bunga mawar dan toples berisi pasir yang dibawanya.

"Sejujurnya, aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di toko buku itu. Meski kita belum mengenal lama, tetapi aku merasa kau sangat cocok denganku. Maukah kau menjadi kekasihku? Jika kau menerimaku, maka ambilah bunga ini sebagai tanda cintaku untukmu. Tetapi, jika kau menolakku, maka kau ambil toples berisi pasir ini sebagai tanda kau mengubur hatiku dalam-dalam," jelas Rovin.

"Kau...," ucap Irene.

"Kenapa, apa kau menolakku?" tanya Rovin kaget.

"Tidak. Karena aku juga menyukaimu, jadi aku ambil bunga saja dan kubuang toples berisi pasir itu," jawab Irene yang kemudian mengambil kedua benda di tangan Rovin namun membuang toples berisi pasir itu.

"Kau menerimaku?" tanya Rovin yang dibalas anggukkan Irene.

Irene yang semula duduk di hadapan Rovi, kini berpindah ke samping Rovin dan memegang erat lengannya. Keduanya kini sudah menjadi sepasang kekasih. Menghabiskan hari-hari bersama layaknya pasangan kekasih lainnya.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com