MASIH MENCINTAIMU
Oleh :
DANKIN
Pinky Devi K.
Seftia Winda S.
Angin embun pagi menyentuh rambut panjangnya. Wendy tertegun dan teringat kecelakaan perih yang sudah mengambil penglihatannya. Melumpuhkan sarafnya, dan kini, ia hanya bisa menangis melihat dirinya yang tidak bisa apa-apa.
"Apa kau sudah makan?" tanya lelaki yang selalu datang ke rumah Wendy dengan wajah sumringahnya, Kai.
"Kau tidak usah repot-repot membawakan makanan untukku," jawab Wendy sembari menengok ke berbagai arah mencari dimana keberadaan namja itu.
"Jangan seperti itu. Aku sangat peduli padamu," lirih Kai.
Wendy kembali menangis terbayang kecelakaan satu tahun lalu saat dia bersama teman-temannya menghadiri pesta kelulusan. Sambil meminum wine, Wendy dan teman-temannya yang mengendarai mobil tidak menaati peraturan. Mobil mereka terpelanting jauh dan menabrak tiang listrik. Dua temannya meninggal, sisanya luka parah. Kembali air mata Wendy jatuh di depan kekasihnya yang sedang duduk dihadapannya.
"Carilah wanita yang lebih sempurna dariku," setetes air mata meluncur tanpa Wendy sadari setelah mengucapkan kalimat tersebut.
"Kupikir, aku tidak memiliki alasan untuk bisa meninggalkanmu. Jadi, aku akan tetap disampingmu apapun yang terjadi," kata Kai sambil mengusap air mata dari wajah Wendy.
"Apa kau gila? Aku ini buta!!! Sedang kau sempurna. Kau pantas mendapatkan wanita yang sempurna juga,"balas Wendy lalu menghempaskan tangan Kai dari wajahnya.
"Apa kau pikir kondisi fisik yang sempurna adalah sesuatu yang sangat penting dari seseorang? Itu tidak benar. Jika sejak awal aku mencintaimu hanya karena memandang fisikmu, mungkin sekarang aku sudah meninggalkanmu. Tetapi kenyataannya apa? Aku masih disini menemanimu. Aku benar-benar mencintaimu. Cinta itu memang buta, tak peduli apapun alasannya, aku akan tetap mencintaimu karena yang aku butuhkan adalah perasaan hatimu yang tulus dan bukan karena kondisi fisikmu," jelas Kai.
"Aku tahu kau mencintaiku, tetapi aku akan menjadi beban dalam hidupmu."
"Kau tidak akan menjadi beban dalam hidupku. Dengan kondisimu yang sekarang ini, aku pasti akan selalu berada disampingmu. Dan kau juga akan selalu disampingku. Aku tidak akan pernah menyesal, percayalah," jawab Kai lalu memeluk erat tubuh Wendy dan mengecup keningnya.
"Apa aku bisa percaya padamu?" ucap Wendy.
"Ya, kau bisa mempercayaiku. Kau adalah cinta pertamaku. Sejak dulu, aku tidak pernah tahu apa itu cinta. Saat bertemu denganmu, baru aku mulai merasakan apa itu cinta," jawab Kai tersenyum lebar.
"Kenapa kau sangat baik padaku? Apa karena aku buta? Atau kau kasihan dengan kondisiku?"
"Aku bukan bermaksud mengasihanimu, Wendy. Aku benar-benar tidak ingin meninggalkanmu. Sampai kapan pun, aku akan ada untukmu. Kau harus percaya padaku," jelas Kai lagi.
"Aku rasa kau gila," ketus Wendy, menggelengkan kepala.
"Aku memang sudah gila karenamu. Aku tak mampu melepasmu. Aku tak bisa hidup tanpamu. Tolonglah percaya padaku," Kai berusaha membuat Wendy percaya.
"Ya, aku mempercayaimu," ucap Wendy, menyandarkan kepala di bahu Kai.
"Aku sampai lupa. Ayo kau makan makanannya. Aku tidak ingin melihatmu sakit, biar aku yang menyuapimu,".
Kai mengambil makanan dan mencoba menyuapi tetapi Wendy menolak.
"Aku tidak nafsu makan. Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Wendy.
"Kalau kau tidak mau makan tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Sampai kapan aku buta? Apa aku tidak bisa melihat lagi?" kata Wendy kemudian menegakkan duduknya.
"Hmmm...apa kau mau jalan-jalan denganku?" ucap Kai mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa aku akan buta selamanya?" Wendy tetap bersikeras menanyakan hal itu.
Kai menghela napas panjang, berpikir keras.
"Sejujurnya, aku tidak tahu pasti apa kau akan buta selamanya atau tidak. Tetapi aku yakin, suatu saat kau akan mendapatkan donor mata dari seseorang" jawab Kai mencoba meyakinkan.
"Sampai kapan!" ketus Wendy.
"Kau tidak usah terlalu banyak pikiran tentang kondisimu. Aku disini akan selalu menemanimu, akan selalu menjagamu."
Kai menyentuh bibir Wendy dan membentuk sebuah senyuman yang manis. Dalam hati, Wendy hanya memaksakan senyuman tersebut.
"Benarkah? Tapi aku juga ingin melihat wajah tampanmu saat ini."
"Kau bisa sentuh wajahku jika ingin tahu," jawab Kai dan membimbing tangan Wendy untuk menyentuh wajahnya.
"Kau berubah?" ucap Wendy tersenyum.
"Aku tidak pernah berubah. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" tanya Kai.
"Baiklah," jawab Wendy mencari tangan Kai.
"Ayo, aku akan menuntunmu masuk ke mobil."
"Kita akan kemana?" Wendy kembali bertanya sambil berjalan mengikuti arahan Kai.
"Kau pasti tahu, itu tempat saat aku menyatakan perasaan padamu. Tempat yang menjadi saksi awal perjalanan cinta kita" jawab Kai.
Mereka pun sampai di mobil dan masuk. Mobil pun perjalan meninggalkan tempat itu.
"Apa kita sudah sampai?"
"Kita masih dalam perjalanan, bersabarlah," jawab Kai saat menyetir, kemudian mengacak-acak rambut Wendy.
"Jangan mengacak rambutku," ucap Wendy menyibirkan bibir.
"Kamu semakin cantik kalau cemberut seperti itu," goda Kai.
Lima belas menit perjalan ditempuh, mereka pun sampai. Sepanjang perjalanan tadi, Kai terus menggoda Wendy demi menghibur hatinya.
"Kita sudah sampai. Aku bantu jalan."
Kai membuka pintu mobil dan menuntun Wendy berjalan.
"Tapi aku tidak bisa melihat, bagaimana aku bisa menikmati tempat ini?" gerutu Wendy.
"Kita sudah berada di taman. Tempat ini sangat bermakna bagi kita. Walaupun kau tak bisa melihat, setidaknya kau bisa merasakannya. Kita duduk di bangku saja," ucap Kai kemudian menuntun Wendy duduk di bangku.
"Aku dapat merasakannya. Aku masih ingat saat kau mengatakan cinta padaku di tempat ini," ucap Wendy dengan senyuman manis.
"Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum. Aku senang kau tersenyum seperti itu," Kai tak bisa membohongi hatinya yang senang melihat kekasihnya tersenyum.
"Benarkah? Aku sendiri bahkan lupa kapan terakhir kali tersenyum."
"Aku jadi berpikir sesuatu. Seandainya saat pesta kelulusanmu selesai dan kau tidak menolak ajakkan pulang bersamaku, mungkin kau masih bisa melihat. Dan aku bisa terus melihat senyum indahmu," kata-kata itu seakan membuat Kai menyesal karena gagal menjaga Wendy.
"Aku juga menyesalinya."
Kurang lebih dua jam mereka menghabiskan waktu di taman itu, akhirnya mereka pulang.
Seminggu berlalu, Kai datang menjenguk Wendy di kamarnya seperti biasa. Sudah menjadi kebiasaan Kai yang selalu menemui Wendy hampir tiap hari.
"Apa kau sudah tidak sedih lagi? Kuharap kau bahagia dan melupakan semua hal burukmu," sapa Kai dengan senyum hangatnya.
"Ahhh...akhirnya kau datang. Aku sangat merindukanmu. Kenapa lama sekali tidak menjengukku?" gerutu Wendy.
"Maafkan aku. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Aku ada kabar baik untukmu," jawab Kai jujur.
"Kabar baik? Untukku? Apa itu?" Wendy bertanya-tanya.
"Aku mendapat kabar dari dari rumah sakit, bahwa ada pasien yang sudah meninggal dan keluarganya bersedia mendonorkan mata untukmu. Dan bagusnya lagi, matanya sangat cocok denganmu. Hari ini kau bisa menjalani operasi itu," ucap Kai terlihat sangat gembira.
"Benarkah? Apa itu artinya aku dapat melihat lagi?" Wendy meneteskan air mata.
"Dokter bilang, kau mempunyai kesempatan besar untuk bisa melihat kembali. Apa kau senang mendengarnya?" jelas Kai.
"Ya, aku senang tetapi juga takut," wajah Wendy menjadi muram.
"Kau takut kenapa?" tanya Kai penasaran.
"Takut jika operasi gagal," jawab Wendy seadanya.
"Aku yakin pasti berhasil. Ayo kita ke rumah sakit. Aku akan menggendongmu ke mobil agar cepat."
Kai menggendong Wendy di punggungnya ke dalam mobil.
"Kenapa aku jadi gelisah begini," ucap Wendy tiba-tiba.
"Tenanglah. Aku ada disisimu," jawab Kai lalu membawa mobil ke rumah sakit.
Tak lama, mereka sampai di rumah sakit. Terlihat jelas ekspresi wajah keduanya berubah. Begitu berdebar perasaan keduanya.
"Kita sudah sampai. Akan kutuntun kau berjalan," Kai membantu Wendy berjalan.
"Bagaimana kalau kita tunda saja. Perasaanku tidak enak," elak Wendy.
"Kenapa harus ditunda? Lebih cepat itu lebih baik. Aku ingin kau bisa melihat kembali seperti dulu," cegah Kai dengan kata menghibur.
Keduanya memasuki rumah sakit. Mereka sudah berada di ruang operasi sesuai jadwal. Seorang dokter muncul dengan siapnya bersama beberapa asistennya. Detik-detik operasi akan dimulai.
"Sekarang waktunya kau akan dioperasi. Aku tidak bisa mendampingimu, tetapi aku akan selalu mendoakanmu. Dihatimu ada aku, semangat!!!" ucap Kai memberi semangat.
"Terima kasih. Aku mencintaimu," ucap Wendy menggenggam tangan Kai.
"Aku juga mencintaimu," balas Kai.
Dalam hati, Wendy terus merasa khawatir. Tiba-tiba ia menangis.
"Kenapa kau menangis. Kau jangan khawatir, operasinya akan berjalan baik. Dokter bilang 90% kemungkinan kau akan bisa melihat lagi," ucap Kai sembari mengusap air mata Wendy.
"Aku menangis karena aku bahagia. Sebentar lagi aku bisa melihat wajah tampanmu," Wendy tersenyum.
"Aku juga bahagia," Kai pun sama-sama meneteskan air mata.
Operasi pun dimulai. Dokter beserta asistennya sudah siap di ruang operasi.
"Aku yakin, kau akan bisa melihat kembali," dalam hati Kai sangat berharap Wendy bisa melihat kembali.
Lima jam operasi berlangsung dramatis. Operasi berjalan sukses. Dengan senyum bahagia, dokter beserta asistennya bangga atas keberhasilan operasinya. Kai pun diizinkan masuk. Ia melihat kalau mata Wendy masih diperban.
"Apa kau baik-baik saja?" sapa Kai.
"Kai, apa itu kau?" Wendy memanggil dengan suara lirihnya.
"Ya, ini aku. Aku disini, disampingmu," ucap Kai kemudian langsung memeluk tubuh Wendy.
"Apa aku akan bisa melihat lagi?"
"Tentu saja. Itu pasti," jawab Kai singkat sembari berpelukan.
Setiap harinya, Kai selalu menjenguk Wendy di rumah sakit. Hingga satu minggu lamanya, ia terus menjenguknya.
"Apa kau sudah tidur?" ucap Kai setelah membuka pintu.
"Kau sudah datang. Hari ini perbanku akan dibuka dokter," senyum bahagia terpancar dari wajah Wendy.
"Aku senang mendengarnya."
Tak lama, dokter datang menghampiri untuk memberitahukan kalau perban akan dilepas. Perban pun mulai dilepas perlahan.
"Semoga di detik-detik akhir ini aku bisa melihatmu," ucap Wendy dalam hati.
Perban sudah terlepas semua. Wendy mulai membuka mata pelan-pelan. Pada awalnya terlihat remang-remang. Namun akhirnya, ia bisa melihat dengan jelas.
"Bagaimana, apa kau sudah bisa melihat?" tanya Kai gugup.
"Kai, apa itu kau?" Wendy menyipitkan mata.
"Ini aku, Kai."
"Kau sangat tampan. Kau lebih tampan dari yang dulu," Wendy langsung memeluk tubuh Kai.
"Aku sangat senang kau bisa melihat lagi. Hari-hari kita akan kembali seperti dulu lagi. Kuharap kau tidak mengulangi kejadian tahun lalu," ucap Kai senang.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi," Wendy pun juga senang.
"Kata dokter, kau boleh pulang hari ini. Ayo bersiap-siap."
"Tunggu. Aku ingin keluar sebentar."
Wendy keluar menemui dokter tanpa sepengetahuan Kai. Kai masih tetap menunggu. Wendy pun kembali. Raut wajahnya terlihat berubah. Seperti terjadi sesuatu.
"Ayo, kita pulang," ajak Wendy.
Mereka pun pulang. Kai berpikir kalau ada yang aneh dengan kekasihnya ini, tetapi ia hanya menghiraukan karena mungkin hanya perasaannya saja yang aneh.
Tiga bulan telah berlalu, Kai datang menjemput Wendy ke tempat favorit mereka. Ya, di sebuah taman di atas bukit.
"Apa kau sudah siap?" sapa Kai.
"Aku sudah siap," jawab Wendy singkat.
"Setelah tiga bulan, tubuhku semakin melemah. Kuharap kau tidak menyadarinya, Kai," ungkap Wendy dalam hati.
Kai langsung menarik tangan Wendy menuju mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan tempat itu.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai. Seperti biasa, aura kebahagian terpancar pada keduanya saat sampai di taman ini.
"Kita sudah sampai. Di tempat favorit kita sejak dulu."
Wendy menunduk sesaat, ia berharap tidak terjadi apa-apa.
"Jika suatu saat aku meninggalkanmu bagaimana?" tanya Wendy tiba-tiba.
"Ahhh...kau ini bicara apa. Jangan berpikir yang aneh-aneh."
Mereka duduk berdua. Wendy menyandarkan kepala ke bahu Kai.
"Sepertinya aku lelah, biarkan aku bersandar dulu," Wendy memejamkan mata menggenggam tangan Kai.
"Kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat?".
Tiba-tiba Wendy terjatuh pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah. Kai terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit
Setibanya di rumah sakit, ia langsung menggendong tubuh Wendy ke ruang darurat. Dokter menyuruhnya untuk menunggu.
"Kuharap kau baik-baik saja. Sejak awal aku curiga padamu, sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku. Entahlah, hanya kau dan Tuhan yang tahu."
Tak lama, dokter menghampiri Kai yang sedang duduk menunggu.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkata lain," ucap dokter tersebut.
"Maksudmu? Apa Wendy sudah tidak ada? Apa yang terjadi?" bentak Kai.
"Dia sudah tiada," jawab singkat dokter.
Kai merasa sangat terkejut dan langsung lari ke ruang dimana Wendy terbaring. Dokter kembali menghampiri.
"Kau ingat tiga bulan yang lalu saat operasi mata berlangsung. Aku secara tidak sengaja memeriksa seluruh tubuhnya dan ternyata dia mengidap kanker darah yang sudah sangat akut. Saat kutanya, dia tidak mau membahasnya dan menyuruhku untuk merahasiakannya darimu," dokter itu menjelaskan.
"Pantas saja aku sering melihatmu pucat seperti orang sakit. Ternyata, kau menyembunyikan penyakit itu dariku," ucap Kai pada Wendy yang sudah tiada.
Dokter pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan Kai menangisi kepergian kekasihnya, Wendy.
"Walaupun kau sudah tiada, tetapi aku masih mencintaimu, Wendy."
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar