Minggu, 14 Februari 2016

[CERPEN] Pengakuan Cinta

PENGAKUAN CINTA

Oleh :

DANKIN

         Dalam perasaan hati yang begitu tegang, Luna menghela napas panjang sebelum akhirnya memasuki pesawat yang akan menerbangkannya dari New York menuju Jakarta. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi penumpang, kemudian memejamkan matanya untuk tidur. Tujuan ia ke Indonesia adalah untuk melanjutkan sekolahnya setelah semester pertama selesai. Ia sebenarnya orang Indonesia dan memang sejak kecil berada di Indonesia. Namun, orangtuanya pindah ke New York ketika Luna berusia enam tahun karena suatu pekerjaan yang membuat Luna harus ikut tinggal dan besar di sana. Walaupun terbiasa dengan Bahasa Inggris, tetapi ia masih sangat fasih berbahasa Indonesia. Itu sebabnya ia bersedia untuk kembali ke Indonesia, lagi-lagi karena orangtuanya pindah dengan alasan pekerjaan.

       Pagi hari yang sejuk seakan memeluk tubuh Luna untuk tetap tertidur di kursi penumpang, tetapi itu tidak boleh terjadi. Pagi ini, pesawat yang ditumpanginya telah sampai di salah satu bandara di Indonesia. Ia menghela napas panjang begitu keluar dari pesawat seakan teringat masa kecilnya saat masih di Indonesia. Dengan semangatnya, ia menaiki taksi untuk menuju rumah orangtuanya. Tiga bulan yang lalu orangtua Luna lebih dahulu pindah ke Indonesia sedangkan Luna harus menunggu akhir semester. Setelah semester satu selesai, Luna melanjutka  sekolahnya di Indonesia. Sekarang ini, Luna telah menyelesaikan pendaftaran di salah satu sekolah menengah atas di kota ini. Yang ia lakukan saat ini adalah menunggu waktu liburan selesai dan menjalani hari pertamanya di sekolah barunya.

"Kau tidak perlu canggung, Luna. Ibu yakin kau bisa menyesuaikan diri dengan sekolah barumu," ucap ibu Luna.

       Udara yang terkadang panas sudah tidak menjadi masalah bagi Luna. Bagaimana tidak, ia terbiasa dengan udara dingin di New York, meski sekarang sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Ini adalah hari libur terakhirnya sebelum memulai hari pertama sekolah besok.

"Aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari pertama di sekolah baruku. Semoga hari pertamaku menyenangkan," gumamnya.

       Keesokan hari tiba, kini Luna telah menginjakkan kakinya di sekolah yang baru. Sekolah yang sekarang memang cukup besar meski tidak sebesar sekolahnya dulu di New York. Perlahan, Luna mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah.

"Selamat pagi, pak. Namaku Luna Alvina, murid baru di sekolah ini. Dimana letak kelas 3, pak?" tanya Luna pada seorang lelaki hampir setengah baya yang sepertinya adalah seorang guru di sekolah ini.

"Kau murid pindahan dari New York?" tanya lelaki tersebut.

"Betul sekali, pak," jawab Luna tersenyum.

"Silakan kau melapor dulu ke ruang guru. Tempatnya di sana, tepat di ujung," kata bapak itu lagi sambil menunjuk ruang guru.

"Kalau begitu terima kasih banyak, pak," sahut Luna dengan sopan.

Lalu, ia beregas menuju ruang yang ditunjuk bapak tadi, tepat di ujung sana ruang guru berada.

       Setelah masuk ke ruang guru, Luna diminta untuk menunggu Pak Herman, Wali Kelas sekaligus guru matematika yang kebetulan sedang mengajar. Sekitar lima belas menit menunggu, Luna kaget melihat bapak yang sebelumnya memberi informasi padanya tadi pagi.

"Luna Alvina, ayo ikut aku ke kelas barumu," ucap bapak tadi.

"Apa kau Pak Herman, Wali Kelasku?" tanya Luna.

"Tebakanmu benar sekali," jawab Pak Herman singkat sambil terus berjalan menuju kelas.

        Begitu sampai di kelas, Pak Herman mempersilakan Luna untuk memperkenalkan dirinya di depan murid-murid yang akan menjadi teman sekelasnya.

"Selamat pagi anak-anak. Hari pertama semester dua ini, kita kedatangan murid baru. Ia pindahan dari New York. Tetapi tenang saja, karena ia orang Indonesia dan fasih berbahasa Indonesia. Luna, silakan kau memperkenalkan diri," ucap Pak Herman.

"Selamat pagi teman-teman, perkenalkan  namaku Luna Alvina. Panggil saja Luna. Aku baru pindah kemari enam hari yang lalu. Salam kenal semuanya," ucap Luna memperkenalkan dirinya dengan ceria yang membuat semuanya melihat dengan antusias terutama murid laki-laki.

"Luna, kau bisa berkenalan dengan teman-temanmu istirahat nanti. Sekarang kau bisa duduk di situ, tepat disamping Deny karena bangku di sebelahnya kosong," perintah Pak Herman sambil menunjuk kursi kosong disamping seorang lelaki bernama Deny Febrian atau akrab disapa Deny.

       Deny melirik secara diam-diam ke arah Luna yang duduk disamping kirinya. Ia tersentak kaget, seketika perasaannya menjadi gugup saat tiba-tiba Luna menoleh ke arahnya dan tersenyum manis padanya.

"Hai, aku Luna Alvina. Panggil saja aku Luna," sapa Luna sambil mengulurkan tangannya.

"Aku Deny Febrian. Panggil saja Deny. Senang berkenalan denganmu," sahut Deny sambil menyambut uluran tangan Luna.

Deny mulai merasa Luna cukup menyenangkan. Ia merasa sangat beruntung bisa sebangku dengan Luna. Sebangku dengan gadis cantik seperti Luna tentulah sangat menyenangkan baginya.

       Luna Alvina bertubuh langsing dan tinggi. Memiliki wajah yang cantik dan rambut panjang terurai yang hitam. Matanya bagitu bercahaya dan menjadi daya tarik tersendiri. Deny menyukai gadis itu sejak melihatnya pertama kali tadi. Rasanya seperti takdir bisa menjadi teman sebangkunya, sehingga ia punya kesempatan untuk mengenal Luna lebih dekat.

"Apa hobimu?" tanya Luna tiba-tiba.

"Aku sangat suka melukis. Dan tempat favoritku untuk melukis di taman belakang sekolah kita. Taman itu sangat indah dan jarang ada murid yang ke sana. Jadi, aku bisa leluasa mendapat banyak inspirasi saat melukis," jelas Deny.

"Banarkah? Apa kau bisa mengajakku ke taman itu. Hanya sebatas merasakan keindahannya dan menemanimu. Apa kau tidak keberatan?" ucap Luna memohon.

"Tentu saja aku tidak keberatan. Aku justru senang kau bisa menemaniku," jawab Deny merasa senang.

       Saat waktu pulang tiba, Luna dan Deny menuju taman belakang sekolah. Deny langsung saja mengambil buku gambarnya dan mulai melukis sesuatu, sedangkan Luna berkeliling taman dengan senangnya. Deny yang sedang melukis terlihat tersenyum, entah apa yang ia lukis hingga membuatnya tersenyum. Luna yang melihatnya pun mendekat.

"Kenapa kau senyum sendiri?" tanya Luna yang membuat Deny kaget.

"Ahhh...tidak apa-apa," jawab Deny malu.

"Apa karena lukisannya. Sini aku lihat," ucap Luna sambil mencoba melihat lukisan Deny namun ditahan olehnya.

"Tidak boleh," ucap Deny sambil melindungi lukisannya.

"Kenapa tidak boleh?" tanya Luna heran.

"Suatu saat kau akan tahu dan melihatnya, tetapi tidak untuk sekarang," jelas Deny.

Luna hanya diam saja. Keduanya kini memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore.

       Semakin hari Luna dan Deny semakin dekat. Keduanya kini telah menjadi sahabat dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Deny yang sejak awal menyukai Luna semakin yakin dengan perasaannya tersebut meski masih ia sembunyikan.

"Bukannya sejak awal kau menyukainya. Kenapa tidak kau akui saja kalau kau menyukainya," ucap seorang teman bernama Andre.

"Tidak semudah itu mengakui perasaan cinta pada seseorang. Kau pikir ini adalah game," ketus Deny pada Andre yang sedang sibuk bermain game di ponselnya.

"Aku yakin sekali kalau Luna juga menyukaimu," sahut Andre setelah menghentikan gamenya.

"Kenapa kau bisa berpendapat seperti itu?" tanya Deny.

"Tidak perlu aku jelaskan. Yang jelas, terlihat sekali kalau dia sepertinya juga menyukaimu," sahut Andre.

"Apa kau yakin kalau dia akan menerimaku?"

"Aku yakin itu. Cepatlah kau ungkapkan perasaanmu itu sebelum ada orang lain yang mendahuluimu. Sejak kedatangan Luna di sekolah ini, banyak murid laki-laki yang menyukainya. Begitu pula dirimu, murid laki-laki yang paling diidolakan para siswi di sekolah ini. Kalian berdua sangat serasi," jelas Andre.

"Aku pergi dulu. Terima kasih atas saranmu," ucap Deny sambil melambaikan tangan sebelum akhirnya pergi.

       Seperti hari-hari biasanya, pagi ini Luna sangat bersemangat ke sekolah. Saat sampai di kelas, ia tidak melihat Deny di bangkunya.

"Andre, apa kau tahu kenapa Deny tidak berangkat?" tanya Luna pada Andre yang duduk di belakangnya.

"Aku dengar dia sakit hari ini," jawab Andre seadanya.

"Benarkah? Apa dia sakit parah?" tanya Luna karena khawatir.

"Kau tidak perlu khawatir, dia tidak sakit parah. Hanya sakit biasa," sahut Andre.

Luna hanya terdiam dan duduk di kursinya. Hari ini terasa kurang tanpa adanya Deny.

       Sepulang sekolah, Luna mencoba menjenguk ke rumah Deny. Ia tak peduli walaupun masih mengenakan seragam sekolah karena ia sangat mengkhawatirkan Deny. Begitu sampai di rumah Deny, ia langsung mengetuk pintu.

"Luna, ada perlu apa kau datang kemari?" tanya seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah ibu Deny.

"Apa benar kalau Deny sedang sakit, bu?" tanya Luna dengan polosnya.

"Deny memang sakit. Dia bilang sedang tidak enak badan," jawab ibu Deny.

"Apa boleh aku menemuinya?" Luna memohon.

"Tunggu sebentar. Ibu bilang dulu," sahut ibu Deny kemudian pergi ke kamar Deny.

Tak lama ia datang dan memberi kabar yang tidak diinginkan Luna.

"Maaf, Luna. Deny sedang tidak mau bertemu orang lain termasuk dirimu," ucap ibu Deny pelan.

"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu," ucap Luna kemudian pergi untuk pulang.

Perasaannya begitu kecewa mendengar kalau Deny tidak mau bertemu siapa-siapa termasuk dirinya, sahabat dekatnya.

       Keesokan harinya, Deny masih belum berangkat sekolah. Luna pun kembali menjenguknya namun sama seperti kemarin, Deny tidak ingin menemuinya. Bahkan sampai tiga hari berturut-turut Deny selalu menolak untuk menemui Luna yang selalu berusaha menjenguknya.

"Maaf, Luna. Ibu tidak tahu kenapa Deny seperti itu," ucap ibu Deny meminta maaf.

"Tidak apa-apa, bu. Lebih baik aku pulang saja," sahut Luna sedikit kecewa.

       Hari-hari berikutnya, Deny masih belum terlihat di sekolah. Namun, Luna sudah tidak berani lagi menjenguknya karena ia yakin Deny akan menolak untuk menemuinya. Begitu pulang sekolah tiba, ia langsung menuju rumah. Tepat saat Luna sampai di rumah, ia melihat sebuah surat berwarna merah cerah di depan pintu rumahnya. Surat itu ternyata ditujukan padanya. Ia pun bergegas ke kamar untuk membacanya. Dalam isi surat itu tertulis bahwa seseorang yang mengirim surat ini ingin bertemu dengan Luna di taman belakang sekolah sore ini. Luna tersenyum saat membacanya. Ia tahu kalau Deny yang mengirim surat ini.

       Ketika sore hari, Luna sudah tiba di taman belakang sekolah. Ia sangat terkejut melihat taman tersebut yang sangat indah dihiasi lampu warna-warni dan banyak lukisan pensil wajahnya yang begitu cantik. Tiba-tiba muncul seseorang dari belakangnya.

"Kau...?" ucap Luna kaget.

"Ya. Ini aku, Deny," ucap seseorang tersebut yang ternyata adalah Deny.

"Jadi benar kau yang membuat ini semua. Lukisan ini begitu indah. Bahkan sangat mirip dengan wajahku tanpa ada sedikit kesalahan," ucap Luna kagum.

"Maafkan aku masalah kemarin. Aku memang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Selama aku sakit, aku terus melukis wajahmu dan mempersiapkan semua ini untukmu," jelas Deny.

"Apa maksud dari semua ini?" tanya Luna.

"Ini adalah sebuah pengakuan cinta," sahut Deny.

"Pengakuan cinta?" tanya Luna terheran-heran.

"Benar, ini pengakuan cinta. Pengakuan cintaku padamu. Sejak awal kita bertemu, aku sudah menyukaimu hingga akhirnya kita menjadi sahabat. Maukah kau menjadi kekasihku?" ungkap Deny serius.

Tanpa menjawab, Luna langsung memeluk tubuh Deny dengan erat.

"Kau lelaki yang sangat baik. Kau cerdas dan juga berbakat. Aku menyukai lelaki sepertimu," ucap Luna sambil memeluk Deny.

"Jadi...?" tanya Deny.

"Aku juga menyukaimu," lanjut Luna tersenyum.

Keduanya pun menikmati keindahan taman yang penuh hiasan lampu dan lukisan berdua. Ditambah lagi, pemandangan sunset yang semakin menambah suasana menjadi romantis.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar