NOMORMU
Oleh :
DANKIN
Langit kota pada siang hari ini terlihat begitu gelap seakan ingin membasahi bumi. Tak lama, hujan pun mulai mengguyur kota dengan derasnya. Seorang pria tampan terlihat berlari kencang dan memasuki sebuah toko buku untuk membaca atau mencari buku dan tentu saja untuk berteduh sembari menunggu hujan reda. Pria tampan tersebut bernama Rovin.
Rovin yang kini sudah berada di dalam toko buku, tidak terlihat basah. Mungkin karena dia begitu cepat berlari. Di dalam toko buku, Rovin begitu senang saat mulai membuka dan membaca sebuah buku yang baginya menarik. Rovin memang dikenal sebagai seorang kutu buku atau lebih tepatnya seseorang yang sangat gemar membaca buku, baik itu buku pengetahuan, novel, komik maupun buku lainnya. Terlalu senangnya dengan buku yang sekarang ia baca, sampai-sampai terbawa suasana dalam isi buku tersebut. Tak peduli siapapun orang yang melihatnya, ia tetap serius membacanya.
Tatapan Rovin berpaling ketika melihat seorang wanita yang begitu cantik berada tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.
"Dia begitu cantik. Sepertinya aku tertarik padanya. Siapa namanya?" ucapnya dalam hati yang terus bertanya-tanya.
Meski memiliki wajah tampan, ditambah lagi ia begitu cerdas dan memiliki postur tubuh ideal yang seakan dia adalah pria idaman setiap wanita. Namun, ia tidak begitu percaya diri.
"Kenapa kau ini? Kenapa kau tidak berani mendekatinya? Padahal kau sangat populer di kalangan wanita. Kenapa kau tidak berani mendekati wanita," ucapan kesal pada dirinya sendiri terus terlontar.
Sudah sekitar 10 menit, Rovin hanya bisa memandangi wanita yang kini sedang sibuk membaca buku, sedangkan buku yang Rovin pegang hanya seperti sebuah pegangan yang tak berguna. Sadar sedang dipandangi seseorang, wanita tersebut membalas pandangannya yang membuat Rovin terlihat salah tingkah dibuatnya. Wanita tersebut hanya tersenyum manis, begitu pula Rovin.
"Kau ini bagaimana, kenapa membuat diri sendiri malu. Begitu bodoh dirimu," bentaknya dalam hati.
Hujan mulai reda, wanita itu mengambil sebuah buku dan membawanya ke kasir untuk membayar. Kemudian wanita itu pergi meninggalkan toko buku tersebut. Rovin yang terus memperhatikan hanya terdiam di tempat, antara bingung atau gelisah.
"Kau telah menyia-nyiakan kesempatan itu. Kau begitu payah," lagi-lagi Rovin kesal dalam benak hatinya.
Tak lama, Rovin pun pergi meninggalkan toko buku tersebut tanpa membeli satu buku pun. Perasaannya begitu gelisah, tidak biasanya seperti ini. Keputusan saat ini adalah pulang dengan perasaan aneh yang bercampur menjadi satu.
Tiba di kamar, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil terus memikirkan kejadian tadi.
"Apakah mungkin aku bisa bertemu dia lagi? Atau, hanya sekali saja aku melihatnya? Ya ampun, kenapa aku ini," ucapnya.
Kini, pikiran Rovin begitu kacau. Ia terus-menerus dihantui oleh wanita tadi. Tanpa sadar ia pun tertidur pulas.
Hari sudah berlalu, siang hari ini sangat berbanding terbalik dengan kemarin. Jika kemarin langit mendung dan turun hujan deras, hari ini begitu cerah dan panas. Rovin kembali ke toko buku kemarin. Entah apa yang dipikirkannya, dia kembali ke toko buku itu. Kebiasaan Rovin jika sedang banyak beban pikiran memang selalu ke toko buku tersebut, terkadang ia membeli buku, terkadang juga hanya sekadar membaca buku untuk menghilangkan beban pikiran.
Ketika sedang membaca buku, dia terkejut ketika melihat wanita yang kemarin memasuki toko buku tersebut. Pikirannya berubah drastis, seperti sebuah keajaiban bisa bertemu kembali dengannya.
"Apakah aku sedang bermimpi? Oh, tidak. Ini benar-benar sebuah kenyataan. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dalam hati.
Wanita itu tiba-tiba semakin mendekatinya untuk mencari sebuah buku.
"Permisi," ucap wanita itu tiba-tiba.
Wanita itu mengambil sebuah buku karya Stephenie Meyer, tentu saja buku itu adalah novel berjudul Twilligh. Siapa yang tak kenal dengan Stephenie Meyer, dia sukses besar setelah menulis beberapa novel seri dari Twilligh yang menceritakan tentang kisah cinta vampir dan manusia. Bahkan karyanya tersebut difilmkan dan menjadi booming terutama di kalangan remaja.
"Suka Twilligh?" tanya Rovin mulai berani.
"Tentu saja. Aku menyukai filmnya, jadi aku mencoba untuk membaca versi novelnya," katanya.
"Jujur, aku juga sangat menyukai filmnya. Jalan ceritanya begitu bagus dan menarik," jelas Rovin.
"Bukankah kau yang kemarin disini juga?" tanya wanita itu.
"Betul sekali. Sepertinya kita bisa menjadi lebih dekat. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Rovin.
"Namaku Irene. Lalu siapa namamu?" tanyanya balik.
"Panggil saja aku Rovin. Salam kenal," jawab Rovin senang.
"Salam kenal juga," lanjut Irene.
Keduanya kini saling mengobrol satu sama lain seperti sudah sangat dekat, padahal baru saja mengenal.
"Aku pulang dulu," ucap Irene.
"Tunggu dulu," cegat Rovin.
"Kenapa?" tanya Irene bingung.
"Aku hanya ingin kita bisa terus bertemu kembali seperti saat ini, kuharap kau mau memberikan nomormu. Apa kau tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak keberatan, sebentar," jawabnya yang kemudian memberikan nomor ponselnya.
"Mengapa kau meminta nomorku? Apa ada sesuatu?" tanya Irene lagi.
"Kurasa kau begitu menarik untuk dekat denganku. Jadi, kupikir aku ingin tahu lebih banyak tentangmu," jelas Rovin.
"Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucap Irene sambil melambaikan tangan dan tersenyum.
"Sampai jumpa," sahut Rovin tersenyum.
Pertemuannya telah selesai, Rovin pun memutuskan kembali ke rumah dengan perasaan senang.
Setibanya di rumah, ia langsung menuju kamarnya. Setelah mengganti pakaiannya, ia merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai memainkan ponselnya. Terlihat jelas bahwa ia sedang mengirim pesan singkat pada Irene. Sesaat setelahnya, wajahnya terlihat begitu senang ketika muncul sebuah pesan balasan dari Irene.
"Apa kita bisa bertemu di lain waktu?" tanya Rovi.
"Mungkin besok siang kita bisa bertemu di suatu tempat," jawab Irene.
"Bagaimana kalau di sebuah coffe shop. Apa kau suka kopi?" tanya Rovin.
"Kopi? Tentu saja aku suka. Baiklah, besok kita bertemu di coffe shop dekat toko buku kemarin," jawab Irene setuju.
"Baik, sampai bertemu besok," ucap Rovin gembira.
"Ya," jawab Irene singkat.
Begitulah sekiranya isi percakapan pesan singkat keduanya. Jika dilihat-lihat, keduanya seperti saling tertarik satu sama lain.
Pagi hari tiba, matahari senantiasa menyinari dunia dengan senyum cerah cahayanya. Rovin yang baru terbangun merasa sangat bahagia. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu siang hari untuk bertemu Irene di sebuah coffe shop. Perasaan bahagia itu tak kunjung hilang ketika hatinya sudah bulat ingin mengungkapkan perasaannya pada Irene meskipun belum lama saling kenal.
Akhirnya siang hari yang ditunggu-tunggu tiba. Rovin sangat bersemangat. Sebelum menuju coffe shop, Rovin terlebih dahulu membeli seikat bunga mawar merah dan juga ia sudah membawa toples kecil berisi pasir. Entah apa maksudnya ia membawa dua benda itu.
Saat tiba di depan pintu sebuah coffe shop, ia melihat Irene yang sedang duduk sendirian di meja bernomor 12. Rovin langsung saja menghampirinya dengan membawa dua benda tadi.
"Apa kau menunggu lama?" sapa Rovin.
"Tidak juga. Kau mau pesan apa?" tanya Irene.
"Aku pesan cappucino saja, bagaimana denganmu? Apa kau sudah pesan?" tanya Rovin.
"Kebetulan belum," jawabnya.
Kemudian Rovin memanggil pelayan untuk memesan apa yang ia dan Irene inginkan. Setelahnya, keduanya mengobrol seperti biasa.
Pesanan mereka akhirnya tiba, sebelum sempat menyeruput kopinya, Rovin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
"Irene?" tanya Rovin tiba-tiba.
"Ya, ada apa?" jawab Irene bingung.
"Bolehkan aku mengatakan yang sejujurnya padamu?" ucap Rovin.
"Boleh saja. Memangnya kau ingin mengatakan apa?" tanya Irene.
Rovin langsung menjulurkan seikat bunga mawar dan toples berisi pasir yang dibawanya.
"Sejujurnya, aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di toko buku itu. Meski kita belum mengenal lama, tetapi aku merasa kau sangat cocok denganku. Maukah kau menjadi kekasihku? Jika kau menerimaku, maka ambilah bunga ini sebagai tanda cintaku untukmu. Tetapi, jika kau menolakku, maka kau ambil toples berisi pasir ini sebagai tanda kau mengubur hatiku dalam-dalam," jelas Rovin.
"Kau...," ucap Irene.
"Kenapa, apa kau menolakku?" tanya Rovin kaget.
"Tidak. Karena aku juga menyukaimu, jadi aku ambil bunga saja dan kubuang toples berisi pasir itu," jawab Irene yang kemudian mengambil kedua benda di tangan Rovin namun membuang toples berisi pasir itu.
"Kau menerimaku?" tanya Rovin yang dibalas anggukkan Irene.
Irene yang semula duduk di hadapan Rovi, kini berpindah ke samping Rovin dan memegang erat lengannya. Keduanya kini sudah menjadi sepasang kekasih. Menghabiskan hari-hari bersama layaknya pasangan kekasih lainnya.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Email : dandymathematics@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar