MERINDUKANMU
Oleh :
DANKIN
Pagi yang indah ini, kutelusuri setiap jalanan kota untuk menuju ke sekolah. Namaku Daniel. Aku adalah lelaki yang tak suka dengan keramaian dan cenderung tertutup pada orang lain. Tak memakan waktu lama, sampailah aku tepat di depan gerbang sekolahku. Hari ini adalah awal masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas. Dan sekarang, aku sudah menginjak kelas 9. Sungguh tak terasa, begitu cepat rasanya berada di sekolah ini meski sudah dua tahun belajar.
Hari pertama sekolah tentu ada sebuah Masa Orientasi Sekolah bagi siswa baru. Berhubung aku adalah anggota OSIS, aku bisa terlibat langsung dengan siswa baru yang akan menjadi adik kelasku. Aku bertugas di salah satu kelas 7. Diawal pertemuan, aku senang karena para siswa tidak terlalu berisik, berbeda dengan kelas 7 yang lain.
Selama tiga hari, aku dan teman-teman anggota OSIS mengajar di kelas 7. Selesai sudah tugas kami meski terasa sebentar. Mungkin karena nyaman bersosialisasi dengan adik kelas atau karena tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar. Setiap anggota pasti punya alasan yang berbeda-beda.
Seiring berjalannya waktu, aku merasa ada yang aneh dengan siswa kelas 7. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadapku. Apa ada yang salah atau bagaimana, aku merasa ada yang aneh. Pada suatu waktu, ada salah satu siswa dari kelas 7 yang menyapaku melalui sosial media. Siswa itu bernama Cessa.
"Test," mulanya.
"Ya, ada apa?" balasku.
"Tidak apa-apa, hanya ingin mengecek," katanya.
"Begitu," jawabku.
Hanya itu saja sebuah pesan singkat di sosial media yang ia lontarkan. Setelah itu, ia mulai mematikan akunnya, begitu pula diriku.
Semakin hari, ia sering sekali mengirimku sebuah pesan di sosial media, dan tentu saja aku selalu membalas pesan orang lain meski aku tidak mengenal orangnya secara pribadi.
"Kak Daniel?" sapanya.
"Ya, ada apa?" balasku.
"Kak, coba bicara."
"Maksudnya bagaimana?"
"Bicara apa saja terserah kakak, hehehe..."
"Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Tidak apa-apa, hanya ingin mendengar kakak bicara padaku."
Entah sampai berapa lama kami saling mengirimkan pesan yang mungkin orang lain berpikir bahwa itu tidak penting. Memang kelihatannya tidak penting, namun ada sebuah makna dibalik pesan-pesan yang ia kirim. Aku melihat ada sebuah perasaan darinya terhadapku.
Lambat laun, dia sangat akrab denganku meski hanya saling mengobrol di sosial media. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, mengapa tidak berbicara langsung saja. Entah ada perasaan malu atau mungkin karena aku termasuk orang yang pendiam dan tertutup. Secara pribadi, aku ingin berbicara langsung, tetapi yang selalu memulai pembicaraan di sosial media adalah dia. Jadi, aku hanya sekadar membalas pesannya tanpa ada alasan yang lain. Setiap waktu, bahkan hampir setiap hari, dia selalu mengajakku untuk saling mengirim pesan. Terlihat jelas bahwa dia tertarik padaku. Berhubung aku juga memiliki analisis yang cukup baik dalam menilai seseorang.
"Kak, sedang apa?" tanyanya.
"Sedang duduk santai," jawabku.
"Begitu."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya bertanya."
Percakapan terus berlanjut cukup lama seakan tak terasa bahwa waktu terus berjalan dengan sendirinya.
Ketika akhir semester pertama selesai, para anggota OSIS masih memiliki serangkaian kegiatan sekaligus melatih para anggota OSIS baru dari kelas 7 dalam kepemimpinan dan salah satu anggota barunya adalah Cessa. Saat itu libur semester tiba, aku tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut karena harus berkunjung ke rumah saudara di luar kota.
"Kak, kenapa kemarin tidak hadir?" tanyanya melalui pesan.
"Liburan di luar kota. Jadi, tidak bisa ikut kegiatannya," jelasku.
"Kukira terjadi apa-apa," katanya.
"Hmmm..."
"Kak, aku boleh bicara sesuatu?"
"Tentu saja boleh, silakan," jawabku.
"Kak, sebenarnya aku ******** kakak."
"Apa maksudmu. Hmmm, aku tahu artinya. Tetapi kubiarkan saja kau yang menyelesaikan kode itu."
"Kakak tahu?" tanyanya penasaran.
"Ya. Apa harus kujawav?" jawabku.
"Terserah kakak."
"Bagaimana aku menjawab kalau kau belum menyelesaikan kata-katanya."
"Kakak bilang sudah tahu maknanya."
Begitu panjang percakapan kami hingga beberapa jam lamanya. Dia sudah mulai mengatakan apa yang dirasakannya, tetapi tidak akan menjawab. Dalam hatiku hanya menganggap dia seperti adik kandung. Dia cantik, mungil, menggemaskan tetapi bukan berarti aku menyukainya.
Hari demi hari berjalan dengan sendirinya, dia selalu berusaha mengungkapkan perasaannya padaku namun aku tidak pernah menanggapinya dengan jelas. Bagaimana tidak, dia sendiri tidak berani mengungkapkannya secara langsung, jadi aku bisa menjelaskan padanya kalau aku hanya menganggapnya sebagai adik. Suatu ketika, dia memposting sebuah ungkapan yang mengatakan kalau dia sudah tidak memiliki perasaan lagi pada seseorang, dan aku tahu siapa yang ia maksud. Saat itu pula aku membuat sebuah postingan yang bermaksud mengucapkan padanya namun secara tersirat seperti sebuah sindirian. Dari situ terjadi pertikaian antara kami berdua. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia begitu marah padaku. Padahal yang memulai semuanya adalah dia. Aku sendiri hanya diam tak peduli apa yang ia ucapkan dalam postingannya yang mulai sedikit kasar padaku.
Hingga waktu berjalan cukup lama, aku merasa ada yang hilang dalam hari-hariku. Tidak biasanya aku seperti ini. Aku mulai sadar, ternyata yang hilang selama ini adalah obrolanku dengan Cessa. Padahal dia bukanlah orang istimewa. Namun, hati berkata lain dari apa yang kupikirkan. Hidupku terasa dipenuhi pikiran yang begitu kosong seperti cangkang telur yang terbuang. Aku mulai merasa sangat merindukannya.
"Apa yang harus aku lakukan? Mengapa perasaan ini begitu resah. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Daniel?" gumamku.
Esoknya, kuberanikan diri untuk menemuinya saat pulang sekolah. Aku langsung menarik tangannya dan mengajaknya ke tempat yang tidak banyak orang.
"Kenapa, kak?" ucapnya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya. Kenapa kau sepertinya membenciku. Apa salahku?" kataku.
"Tidak perlu dipikirkan, kak. Aku sudah melupakan semuanya," sahutnya.
"Kau bilang sudah melupakanku. Aku sendiri yang sejak awal tidak pernah memikirkanmu kini mulai memikirkanmu. Yang jelas aku sangat merindukanmu," jelasku.
"Maksud kakak apa?" tanyanya.
"Aku sangat merindukanmu. Ini bukanlah perasaan cinta, tetapi seperti kerinduan seorang kakak terhadap adiknya yang sudah lama tidak bertemu," jelasku lagi.
"Begitukah?"
"Maaf, aku hanya menganggapmu sebagai adik. Itu lebih baik. Kita tidak perlu lagi saling membenci," terangku.
"Betul juga, kak. Maafkan aku jika selama ini aku salah. Walaupun aku hanya dianggap sebagai adik, setidaknya kita tidak saling bermusuhan," katanya.
Setelah kejadian itu, hubunganku dengan Cessa sangat dekat walaupun hanya sebatas hubungan antara kakak dengan adik yang sangat dekat.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Email : dandymathematics@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar