JIKA KAU TAHU
Oleh :
DANKIN
Matahari mulai menampakkan dirinya dari ufuk timur menyinari pagi ini. Ditambah lagi, kicauan burung-burung di luar rumah, semakin terasa nyaman pagi ini. Benar-benar suasana yang menenangkan.
Seorang pria bernama Jinu terbangun dari tidurnya yang nyenyak dengan semangat. Tak bisa dipungkiri, pagi ini memang begitu membuat perasaan seseorang menjadi bersemangat untuk memulai aktivitas. Jinu langsung mandi untuk bersiap ke sekolah. Setelah selesai, Jinu segera keluar rumah. Ternyata, ada seorang wanita yang tak lain adalah sahabatnya sendiri yang telah menunggu di depan tempat kostnya.
"Sudah selesai kah?" ucap wanita tersebut.
"Ehhh, Lita. Kau sudah menunggu lama?" tanya Jinu pada wanita yang ternyata bernama Lita.
"Tidak juga. Kurang lebih sekitar 15 menit," jawab Lita.
"Ayo kita berangkat," ucap Jinu,
Lita pun mengangguk.
Mereka berdua pun berangkat ke sekolah mengendarai mobil milik Jinu. Sedikit cerita, Jinu adalah seorang anak dari keluarga yang sangat mampu, tetapi, dia akhirnya memilih bersekolah di luar kota yang jauh dari orangtuanya. Sehingga, ia harus tinggal di tempat kost. Setiap bulan orangtuanya mengirim uang untuk kebutuhannya. Jinu bersekolah di tingkat menengah atas dan sudah memiliki syarat-syarat mengendarai kendaraan untuk mematuhi hukum negara.
Dalam perjalanan, keduanya saling berbicara seperti biasa layaknya persahabatan orang-orang lain di dunia ini. Keduanya saling menjaga persahabatan mereka agar tidak hancur. Tibalah mereka di sekolah setelah kurang lebih sepuluh menit perjalanan. Jarak sekolah dengan tempat kost Jinu memang cukup jauh. Mereka langsung keluar dari mobil dan bergegas menuju kelas masing-masing.
"Pulang nanti jika tidak ada kesibukan, kita jalan-jalan ke pantai. Setuju?" tanya Jinu.
"Setuju! Aku ke kelas dulu. Sampai nanti," balas Lisa.
Mereka pun berpisah menuju kelas masing-masing karena kelas mereka berbeda.
Sampai di kelas, seperti biasa Jinu bergaul bersama teman kelasnya, mendengarkan guru yang sedang menerangkan, mengerjakan tugas dari guru, dan kegiatan lain di kelas yang baginya tidak menyenangkan jika tanpa adanya Lita, sahabatnya. Sebenarnya, Jinu menganggap Lita lebih dari perasaan sahabat. Ia sangat mencintai Lita, tetapi ia tidak ingin hanya karena cinta, persahabatannya menjadi hancur.
Waktu pulang sekolah tiba, Jinu bergegas menuju mobilnya di tempat parkir. Ternyata, Lita sudah lebih dahulu sampai dan menunggunya.
"Bagaimana dengan kesepakatan kita tadi pagi. Apa hari ini kau tidak ada kesibukan?" tanya Jinu.
"Kebetulan tidak ada. Ayolah kita pergi ke pantai," jawab Lita senang.
"Untunglah aku juga tidak ada kesibukan. Kalau ada, mungkin kita tidak jadi ke pantai," terang Jinu.
"Betul juga. Tetapi, apa tidak sebaiknya kita pulang dulu mengganti pakaian ini," tanya Lita.
"Tidak perlu pulang. Aku sudah membawa pakaian ganti, kau juga sudah aku bawakan. Jadi, kita tidak perlu khawatir," jelas Jinu.
"Membawa baju untukku? Maksudmu, kau memberiku pakaian?" tanya Lita bingung.
"Tentu saja. Kau kan sahabatku yang terbaik. Ayo masuk ke mobil," sahut Jinu.
Keduanya memasuki mobil dan mulai melaju ke suatu tempat yaitu pantai.
Akhirnya mereka sampai di pantai. Keduanya langsung menuju ruang ganti baju untuk mengganti seragam mereka dengan pakaian formal. Keluar dari ruang ganti, Jinu terkejut melihat Lita yang begitu cantik mengenakan pakaian yang ia berikan.
"Kau begitu cantik dengan pakaian itu. Sepertinya aku tidak salah memilih," ucap Jinu menggoda.
"Kau serius?" tanya Lita tersenyum.
"Aku serius. Kau sangat cantik mengenakan itu," ungkap Jinu.
"Terima kasih. Ayo kita jalan-jalan" ucap Lita kemudian menggaet tangan Jinu keluar.
Jinu dan Lita saling berpegangan tangan seperti pasangan kekasih. Keduanya memang terlihat sangat cocok menjadi sepasang kekasih meski kenyataannya mereka hanya menjalin persahabatan semata.
Keduanya selesai bermain bersama dan sekarang sedang beristirahat di sebuah tempat di pinggir pantai. Lita tiba-tiba ingin mengatakan suatu hal penting.
"Jinu, aku ingin mengatakan hal penting padamu, tetapi kau jangan marah padaku," ucap Lita serius.
"Hal penting? Memangnya apa?" tanya Jinu penasaran.
"Seminggu lagi aku dan keluargaku akan pindah ke Melbourne, Australia. Jadi aku akan meninggalkanmu entah sampai kapan kita bisa bertemu lagi. Maaf, aku baru bisa jujur sekarang," jelas Lita.
"Kenapa sangat?" tanya Jinu kaget.
"Satu hal lagi, sejujurnya aku sudah lama menyukai sahabatku sendiri yaitu kau, Jinu. Tetapi, kau tidak perlu memikirkan hal ini karena sebentar lagi kita akan berpisah," jelas Lita lagi.
"Kau tahu, sekarang hatiku menjadi hancur mendengar ucapanmu tadi. Apa kau tidak memikirkan perasaanku? Apa kau juga tidak peduli lagi padaku?" bentak Jinu.
"Maaf, Jinu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Ini semua bukan keinginanku. Keluargaku akan pindah dan aku juga harus ikut," sahut Lita sambil menangis.
Mendengar itu, Jinu tiba-tiba pergi meninggalkan Lita yang kini sedang menangis sendiri. Hati Jinu begitu hancur mendengar semua ucapan Lita tadi.
Sudah tiga hari ini Jinu dan Lita tidak saling bertatap muka. Lita juga tidak pernah lagi mengunjungi Jinu sebelum ke sekolah. Mungkin Lita merasa bersalah. Di sisi lain, Jinu memang tidak ingin bertemu Lita untuk menenangkan perasaannya terlebih dahulu. Menjalankan aktivitas seperti biasa tanpa adanya Lita, baginya ini hal buruk. Sepulang sekolah, Jinu hanya bisa langsung ke tempat kostnya dan menghabiskan waktu menyendiri di kamar. Menjelang sore, ia terkejut ketika mendapat sebuah pesan singkat di ponselnya. Tertera jelas bahwa Lita yang mengirim pesan.
"Sebelumnya aku minta maaf terlebih dahulu dan ingin mengucapkan perpisahan padamu. Keluargaku mendadak mengganti jadwal keberangkatan kami sore ini. Sekarang, aku sudah berada di bandara dan sebentar lagi pesawat yang akan kami tumpangi akan lepas landas."
Begitulah isi pesan dari Lita yang mengejutkan. Bagaimana tidak, yang Jinu tahu, Lita akan pergi empat hari lagi, tetapi, ia mendadak pergi sore ini. Jinu pun bergegas menuju bandara sambil berharap kalau pesawat yang akan ditumpangi Lita belum lepas landas.
"Kenapa kau mengecewakanku, Lita. Kenapa kau begitu cepat meninggalkanku?" ucap Jinu sambil menyetir mobilnya.
Tibalah Jinu di bandara dan memarkirkan mobilnya. Jinu langsung berlari memasuki bandara dengan perasaan yang sangat kacau. Tetapi ketika ia melihat papan boarding, perasaannya menjadi tak karuan. Jadwal penerbangan menuju Melbourne sudah lepas landas lima menit yang lalu. Jinu pun menangis di tempat duduk.
"Jika kau tahu, bahwa aku juga sebenarnya sangat menyayangi dan mencintaimu sejak awal. Kenapa kau tiba-tiba meninggalkanku begitu saja?" ucap Jinu dalam hati.
Jinu pun pergi meninggalkan bandara dengan kecewa. Seseorang yang dicintainya sudah pergi meninggalkannya.
"Mungkin kita tidak akan pernah bisa bertemu kembali. Tetapi, bukan itu yang kuharapkan. Semoga saja, suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali," batinku.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Email : dandymathematics@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar