Senin, 29 Februari 2016

[CERPEN] Pesawat Kertas

PESAWAT KERTAS

Oleh :

DANKIN

       Lipatan demi lipatan terus dilakukan Nathan hingga membentuk sebuah pesawat kertas berwarna merah muda yang melambangkan cinta. Tak lupa, ia menulis sesuatu pada pesawat kertas tersebut dengan sebuah kata yang penuh makna. Sesaat kemudian, ia menerbangkan pesawat kertas tersebut pada pagi hari yang sejuk ini dengan penuh perasaan senang.

"Pesawat kertasku. Semoga setelah aku menerbangkanmu, aku bisa menemukan wanita yang tepat untukku," ungkapnya setelah menerbangkan pesawat kertasnya.

       Selanjutnya, ia seperti biasa melakukan kegiatan rutinnya pada hari minggu yaitu jogging. Kegiatan ini sudah menjadi kewajiban ketika hari minggu untuk membuat tubuh tetap sehat dan bugar. Sebelum lari pagi, yang dilakukannya selalu membuat pesawat kertas yang diberi kata-kata kemudian diterbangkan dengan harapan agar cepat bertemu wanita yang tepat. Ia sangat yakin jika setiap minggu pagi menerbangkan pesawat kertas berwarna merah muda,  maka suatu saat nanti harapannya untuk bertemu wanita yang tepat akan terkabul.

       Sudah tiga puluh menit ia berlari, kini waktunya istirahat untuk sekadar minum air mineral atau duduk santai dengan mendengarkan lagu. Ketika sedang asyiknya santai, ia melihat seorang wanita cantik yang sedang berlari sendirian. Sorot matanya tertuju pada wanita itu. Saat wanita tersebut sedang duduk untuk beristirahat, dengan beraninya Nathan menghampiri wanita itu untuk berkenalan.

"Hai, apa kau hanya sendirian?" sapa Nathan sambil tersenyum.

"Seperti yang kau lihat sekarang, aku sendirian saja," jawabnya lembut.

"Boleh kutemani?" tanya Nathan.

"Tentu saja boleh," balas wanita itu.

Mendengar jawabannya, Nathan langsung duduk disamping wanita itu tanpa ada rasa malu.

"Siapa namamu?" tanya Nathan tiba-tiba.

"Namaku Hanna. Lalu, namamu siapa?" jawab wanita yang ternyata bernama Hanna dan bertanya balik.

"Aku Nathan. Senang berkenalan denganmu," jawab Nathan yang dibalas senyum manis Hanna.

"Kalau boleh tahu, kau tinggal dimana?" Nathan kembali bertanya.

"Aku tinggal tidak jauh dari sini," jawab Hanna.

"Benarkah? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?" ucap Nathan bingung.

"Jelas kau tidak pernah melihatku. Aku baru dua hari pindah ke kota ini," jelas Hanna.

"Artinya, kau belum banyak mengenal orang disini. Bagaimana kalau kita berteman?" tawar Nathan.

"Baiklah," jawab Hanna singkat.

Selesai dengan obrolan mereka, Nathan pun memutuskan untuk mengantar Hanna ke rumahnya.

"Ternyata rumahmu tak jauh dari rumahku," ucap Nathan begitu sampai di rumah Hanna.

"Benarkah? Berarti kita memang ditakdirkan untuk berteman," sahut Hanna.

"Lain waktu aku akan menemuimu. Apa kau tidak keberatan?" tanya Nathan.

"Tentu saja tidak," jawab Hanna sebelum akhirnya masuk ke rumahnya dan Nathan pun pulang dengan perasaan senang.

       Sore hari, Nathan menghubungi Hanna melalui nomor telepon yang diberikan sesaat sebelum Hanna masuk ke rumahnya untuk mengajaknya ke suatu tempat.

"Bisakah kita jalan berdua?" kata Nathan.

"Sepertinya bisa. Sekarang saja kau temui aku," balas Hanna.

"Tiga puluh menit lagi aku ke sana. Cepatlah kau bersiap-siap," kata Nathan.

"Baik," balas Hanna singkat.

       Nathan menepati janjinya. Tepat tiga puluh menit setelah percakapan selesai, ia sudah sampai di rumah Hanna dengan pakaian yang sangat rapi.

"Kau sudah datang ternyata," ucap Hanna begitu keluar.

"Sesuai seperti ucapanku sebelumnya," sahut Nathan.

"Mau kemana kita pergi?" tanya Hanna penasaran.

"Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat yang sangat berkesan bagiku," jawab Nathan.

"Kelihatannya menarik," ucap Hanna.

Mereka pun pergi mengendarai mobil milik Nathan ke sebuah tempat yang belum diketahui oleh Hanna.

       Tak kurang dari tiga puluh menit, mereka sampai di sebuah bukit yang penuh dengan bunga-bunga cantik dan pepohonan yang rindang. Tempat ini begitu sejuk, indah dan sunyi.

"Inikah tempat yang kau maksud?" tanya Hanna begitu melihat bukit dengan pemandangan yang sangat indah.

"Inilah tempat favoritku. Ketika ada waktu luang seperti sekarang, aku selalu ke tempat ini hanya untuk bersantai sambil menghilangkan rasa bosan. Tempat ini memang jarang dilewati orang-orang, sehingga aku bisa merasakan kesunyian yang sulit dirasakan ketika berada di perkotaan," jelas Nathan.

"Kau benar, aku juga merasa nyaman berada di tempat ini," ucap Hanna.

"Baguslah kalau kau suka. Aku ikut merasa senang," ucap Nathan sedikit bercanda.

"Maksudmu?" tanya Hanna tiba-tiba.

"Tidak apa-apa, aku hanya bercanda tadi," jawab Nathan tersenyum.

Perbincangan mereka tentang tempat tersebut cukup lama sambil menikmati keindahannya. Mereka seperti sudah lama saling mengenal walau sebenarnya belum 24 jam mengenal. Ketika hari sudah petang, keduanya pun pulang. Nathan mengantarkan Hanna tepat di depan rumahnya.

"Sampai jumpa. Kapan-kapan ajak aku ke tempat itu lagi," ucap Hanna sambil melambaikan tangan.

"Baiklah. Aku janji jika ada waktu luang, aku akan mengajakmu lagi," balas Nathan kemudian mobilnya melaju meninggalkan Hanna.

       Nathan dan Hanna semakin dekat hingga mereka menjadi sahabat karena sudah saling mempercayai satu sama lain. Karena hubungan yang sangat dekat itu, Nathan merasa nyaman dengan Hanna dan mulai menaruh hati padanya. Terhitung persahabatan mereka sudah berjalan tiga minggu. Mereka juga sering ke bukit yang sudah menjadi tempat favorit keduanya. Nathan yang mulai menyukai Hanna semakin yakin ingin cepat-cepat menyatakannya, tetapi belum mendapat waktu yang tepat. 

       Pagi ini pun ia terus memikirkan tentang perasaannya pada Hanna yang kemudian dituliskan dalam sebuah pesawat kertasnya dengan sebuah ungkapan "Aku mencintaimu, Hanna" di sampingnya, kemudian ia menerbangkannya.

       Perasaan Nathan yang sangat yakin ini mendorongnya untuk menyatakan perasaannya sore ini. Ia pun menghungi Hanna untuk mengajak ke tempat favorit mereka.

"Apa kau ada waktu untuk menemaniku ke tempat favorit kita?" tanya Nathan.

"Kapan kau mau menemuiku? Apa seperti biasa pada sore hari?" balas Hanna.

"Tepat sekali, kalau begitu aku akan ke sana sore ini,".

"Kutunggu kedatanganmu," balas Hanna.

Respon Hanna membuat perasaan Nathan semakin senang. Ia yakin sekali kalau Hanna adalah seorang wanita yang ada dalam harapannya selama ini.

       Hingga sore hari, sesuai janji, Nathan menjemput Hanna. Tanpa menunggu lama-lama mereka pun langsung jalan. Di dalam mobil Hanna terlihat bingung dengan penampilan Nathan yang tidak seperti biasanya. Kali ini Nathan terlihat berbeda sekali. Gaya rambutnya lebih rapi, pakaiannya pun sangat rapi.

"Baru kali ini aku melihatmu seperti ini," ucap Hanna.

"Memangnya kenapa? Apa aku terlihat berbeda?" tanya Nathan.

"Ya, kau sangat berbeda. Kau bahkan lebih tampan dari biasanya," jawab Hanna yang dibalas senyuman Nathan.

       Bagitu sampai di tempat favorit mereka. Mereka seperti biasa mengobrol untuk melepas kepenatan. Tiba-tiba, Nathan ingin mengatakan sesuatu dengan serius.

"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Hanna penasaran.

"Kau tahu, sejujurnya aku sangat mencintaimu dengan setulus hatiku. Selama tiga minggu lebih aku mengenalmu, aku merasa kau adalah wanita yang akan menjadi kekasihku. Kau wanita yang ada dalam harapanku di pesawat kertas yang selalu aku terbangkan setiap Hari Minggu pagi," jelas Nathan dengan jujur.

"Pesawat kertas? Tunggu dulu, apa warnanya merah muda dan ada sebuah tulisan" tanya Hanna kebingungan.

"Benar sekali. Kenapa kau bisa tahu?" tanya Nathan terkejut.

Hanna pun membuka tas kecilnya dan mengambil sebuah benda yang ternyata adalah pesawat kertas berwarna merah muda milik Nathan.

"Apa ini pesawat kertas yang kau maksud?" tanya Hanna sambil menodongkan pesawat kertas di tangannya.

"Ya, ini milikku. Kapan dan dimana kau mendapatkannya?" tanya Nathan semakin penasaran.

"Aku mendapatkannya di jalan ketika sedang lari pagi sesaat sebelum aku mengenalmu," jelas Hanna.

"Ternyata benar, kau adalah wanita harapanku. Itu terbukti dengan pesawat kertas yang aku terbangkan yang sekarang telah berada di tanganmu," sahut Nathan.

"Sejujurnya aku juga merasa nyaman bersamamu. Kau begitu baik padaku. Aku juga mencintaimu," ucap Hanna.

"Kau juga mencintaiku?".

Hanna langsung memeluk Nathan dengan eratnya. Nathan pun membalas pelukan itu dengan erat. Keduanya seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih. Sesaat kemudian, Nathan menuliskan kata "Forever Love, Nathan and Hanna" pada pesawat kertas tadi dan akhirnya diterbangkan dengan harapan cinta mereka bisa abadi selamanya.

"Terbanglah yang tinggi pesawat kertasku. Semoga cinta kami akan abadi selamanya. Walaupun harapanku sudah terkabul, aku akan terus menerbangkan pesawat kertas sepertimu dengan harapan yang lain," ucap Nathan setelah menerbangkan pesawat kertasnya.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar