Sabtu, 26 Desember 2015

[CERPEN] Who's Next?

WHO'S NEXT?

Oleh :

DANKIN

       Gemerlap dunia malam seakan tak pernah lepas dari gambaran kota metropolitan. Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa juga berpartisipasi menghiasi gemerlap malam.

       Di sebuah gang sempit yang sepi, terlihat 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan remaja sekolah menengah yang sedang asyik berpesta ganja. Mereka adalah Lina, Eko, Dimas, Rio dan Maya. Mereka memang dikenal sebagai anak-anak yang nakal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Terlalu asyik berpesta ganja, seseorang bernama Ivan yang tak lain adalah adik kelas mereka, memotret kejadian tersebut diam-diam. Hingga akhirnya, Ivan ketahuan kalau sedang memotret mereka.

"Siapa kau!!!" teriak Eko.

Mendengar teriakkan tersebut, Ivan langsung kabur. Eko dan lainnya tidak mengejar karena mereka sudah tahu kalau orang yang baru saja kabur adalah adik kelas mereka.

"Biarkan saja dia lari, lagipula kita bisa menemuinya besok," ucap Lina.

"Awas saja kalau dia berani macam-macam," lanjut Rio.

"Bagaimana kalau dia memberitahu semuanya," ucap Maya.

"Kalau dia sampai membocorkan semua ini, kita harus memberinya pelajaran," ucap Eko.

"Kita tidak perlu cemas, di sekolah tidak ada yang berani dengan kita termasuk kepala sekolah," sahut Dimas santai.

Selesai pembicaraan, mereka melanjutkan aktivitas mereka yaitu pesta ganja hingga larut malam.

       Pagi harinya saat Lina, Eko, Dimas, Rio dan Maya sampai di sekolah, mereka terkejut ketika ada suara panggilan dari kepala sekolah yang menyebut nama mereka.

"Baru saja sampai, langsung ada panggilan. Sial sekali," ucap Eko kesal.

"Sudah kuduga, dia pasti memberitahu kepada kepala sekolah," lanjut Rio.

"Apa yang harus kita jawab nanti?" sahut Lina.

"Paling hanya ocehan. Kepala sekolah tidak akan mengeluarkan kita," jawab Dimas santai.

"Ayo kita ke ruang kepala sekolah!" perintah Eko.

Mereka pun menuju ruang kepala sekolah. Saat sedang berjalan, mereka berpapasan dengan Ivan yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Kelimanya menatap Ivan sinis. Ivan yang merasa sedang diperhatikan hanya bisa menundukkan kepala karena merasa ketakutan. Pintu dibuka, kelimanya menghadap kepala sekolah dan langsung mendapat sebuah kemarahan besar dari kepala sekolah atas kelakuan mereka yang semalam sedang berpesta ganja di sebuah gang. Saat mereka bertanya siapa yang memberitahu, kepala sekolah merahasiakannya. Namun, ia memiliki bukti berupa foto-foto. Kelimanya langsung tahu bahwa yang memberitahukan semua ini adalah Ivan. Beruntung mereka adalah anak dari pengusaha tersukses di kota ini dengan kerjasama bisnis yang besar, sehingga mereka tidak dikeluarkan dari sekolah. Itu semua karena orangtua mereka juga sebagai donatur di sekolah ini.

       Saat bel pulang sekolah, kelimanya sudah bersiap menunggu Ivan di bawah tangga. Ketika berjalan menuruni tangga, Ivan yang melihat ada lima orang di bawah tangga merasa ketakutan. Sekujur tubuhnya bergetar ketika lima orang itu menyeretnya ke gudang sekolah lalu mengikatnya di kursi.

"Kenapa kau memberitahukan semua pada kepala sekolah?" tanya Eko membentak namun Ivan hanya diam.

"Cepat jawab!!!" lanjut Dimas namun Ivan masih tetap diam.

"Sudahlah kita pukul saja dia," sahut Rio.

"Memang sepatutnya dia mendapat pelajaran dari kita," lanjut Maya.

Eko, Dimas dan Rio melepaskan ikatan tali pada kursi namun setelahnya mereka mulai memukul Ivan dengan sadisnya sampai-sampai tubuh Ivan berceceran darah. Kelimanya pergi meninggalkan Ivan yang sudah tak berdaya seakan tidak ada rasa bersalah.

       Sudah seminggu Ivan tidak terlihat di sekolah. Kabarnya, Ivan masuk rumah sakit setelah kejadian sebelumnya dengan luka yang sangat serius terutama pada bagian kepala. Dalam hatinya, ia sangat marah besar. Ingin sekali ia membalas semua perbuatan Eko, Lina, Dimas, Rio dan Maya. Setelah keluar dari rumah sakit, ia bertekad untuk membalas dendam dengan cara yang lebih kejam yaitu membunuh mereka satu per satu. Kali ini terlihat bahwa Ivan yang dikenal baik dan pendiam tiba-tiba berubah drastis seperti seorang psikopat.

       Pasca sembuh total, Ivan masih enggan berangkat sekolah sebelum rencananya selesai. Pertama yang ia lakukan pagi ini adalah ke rumah Maya secara diam-diam layaknya mata-mata. Tanpa ada yang melihat, Ivan berhasil memasuki rumah dan menuju kamar Maya. Ternyata Maya sedang bersiap menuju kamar mandi, Ivan pun mengikuti tanpa diketahui. Ketika Maya sedang berendam, Ivan langsung beraksi dengan mencelupkan kepala Maya dengan paksa ke dalam air hingga Maya tewas kehabisan napas dalam keadaan masih berendam. Ivan langsung pergi meninggalkannya.

       Berita di sekolah tentang kematian Maya yang medadak menjadi gempar. Lina, Eko, Dimas dan Rio tak menyangka kalau Maya tewas secara mengejutkan pagi ini. Mereka kembali dikejutkan ketika di meja tempat Rio duduk ada secarik kertas bertuliskan "Who's Next?".

"Apa maksud dari tulisan ini?" ucap Rio bingung.

"Sepertinya ada yang aneh," sahut Eko.

"Mungkin itu hanya kertas biasa yang tidak sengaja berada di mejamu," ucap Lina.

Mereka pun duduk berkumpul dengan raut wajah yang tidak biasa. Mungkin karena baru saja kehilangan salah satu anggota mereka.

       Seusai sekolah, mereka menuju ke pemakaman Maya yang tadi pagi baru saja selesai dimakamkan. Mereka merasa kehilangan bahkan bingung dengan penyebab kematiannya. Setelah itu, mereka pulang berpisah. Saat keempatnya berpisah, Ivan mengikuti Rio dari belakang sambil memegang kapak. Ternyata Ivan sejak awal mengikuti mereka. Baru ketika Rio berjalan di tempat yang sepi, dari arah belakang, Ivan berlari kencang dan menghempaskan kapak ke pundak Rio yang saat ini sedang menghadapnya karena sempat menoleh ketika mendengar suara langkah kaki. Dengan sadisnya Ivan terus mengarahkan kapak ke bagian tubuh yang lain hingga Rio tewas dengan banyak luka di sekujur tubuhnya. Ivan hanya membiarkannya.

       Saat di sekolah, berita tentang kematian Rio kembali menggemparkan warga sekolah seakan menambah daftar kematian siswa. Lina, Eko dan Dimas semakin merasa aneh. Belum 1 hari kepergian Maya, kini Rio menyusul bahkan kondisinya sangat mengenaskan.

"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kertas yang kemarin," ucap Eko.

"Apa maksudmu?" tanya Lina.

"Coba kalian ingat baik-baik, kemarin ada secarik kertas bertuliskan Who's Next? di meja Rio. Lalu Rio meninggal setelahnya. Kalimat itu pasti merujuk pada Rio untuk mati berikutnya," jelas Eko.

"Sangat masuk akal. Aku juga punya pemikiran seperti itu," sahut Dimas.

"Lebih baik kita ke kelas. Kalau ada kertas itu lagi berarti memang itu penyebabnya," ucap Lina.

Benar saja, ketika sampai di kelas, mereka menemukan kertas dengan tulisan yang sama di meja Dimas. Sontak perasaan Dimas menjadi ketakutan.

"Sudah kuduga, pasti ada seseorang yang meneror kita," ucap Eko.

"Memangnya siapa yang berani melakukannya?" tanya Lina.

"Aku tahu, pasti teror dari Ivan," kata Dimas tiba-tiba.

"Kalau memang dia, apa alasannya?" Lina kembali bertanya.

"Kalian masih ingat, sebelumnya kita pernah menganiaya Ivan hingga masuk rumah sakit. Kabarnya, Ivan sudah keluar dari rumah sakit tetapi sampai saat ini masih belum terlihat di sekolah," jelas Dimas.

"Benar juga, tetapi masalahnya kita tidak tahu keberadaannya," sahut Eko.

Mereka pun terus membicarakan tentang teror yang menimpa mereka hingga bel masuk tiba.

       Di tengah-tengah pelajaran, Eko dan Dimas meminta izin untuk ke kamar mandi. Dimas yang mengantar Eko hanya berdiri menunggu Eko keluar. Tetapi, Dimas melihat seperti ada seseorang misterius hingga dia mengejarnya sampai di tepi tangga sambil melihat ke bawah namun tidak ada orang yang turun. Secara tiba-tiba, ada seseorang yang mendorong Dimas hingga terguling sampai tangga paling bawah. Dimas tewas seketika karena benturan yang sangat keras di bagian kepala. Ternyata, orang yang mendorong Dimas adalah Ivan. Sejak awal dia memang menunggunya di sekolah untuk melakukan aksinya. Eko yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa bingung ketika melihat di luar sudah tidak ada Dimas sambil memanggil namanya. Ivan langsung kabur untuk bersembunyi, tetapi sebelumnya ia kembali menulis pada secarik kertas dengan tulisan "Who's Next?" di dekat tubuh Dimas agar Eko melihatnya. Eko yang sedang mencari Dimas terkejut ketika melihat Dimas yang tak sadarkan diri di bawah tangga tanpa ada hembusan napas. Anehnya lagi, Eko menemukan secarik kertas dengan tulisan yang sama dengan tadi pagi. Eko pun mencari bantuan, seketika kematian Dimas yang terjatuh dari tangga menjadi heboh seluruh warga sekolah. Kini yang tersisa hanya Lina dan Eko yang masih dibayang-bayangi teror yang mengancam nyawa mereka.

"Kau tahu, aku menemukan kertas dengan tulisan yang sama dengan tadi pagi di tubuh Dimas," ujar Eko.

"Kita harus berhati-hati. Terutama kau yang baru saja mendapat teror itu," kata Lina.

      Lina dan Eko terlihat hanya berdua di dalam kelas, padahal seluruh siswa bahkan guru sudah pulang. Mereka terus membicarakan tentang teror yang menghantui mereka. Akhirnya, keduanya memutuskan pulang. Ketika sudah di bawah tangga, Eko melupakan sesuatu kalau dia telah meninggalkan ponselnya di bawah mejanya. Dia pun menuju kelas, sementara Lina menunggu di bawah. Sampailah Eko di dalam kelas. Namun, ia terkejut ketika melihat Ivan yang berada dibelakangnya tiba-tiba menyerang dan menyeretnya ke kursi dengan ikatan tali yang kuat.

"Ternyata kau pelakunya," ucap Eko keras.

Ivan hanya diam sembari melanjutkan aksinya dengan menyiram sekitar kelas dengan bensin termasuk kursi yang ditempati Eko sekarang.

"Apa yang akan kau lakukan!!!" Eko membentak.
 
Ivan hanya menghiraukan kemudian dia membakar seisi kelas dan akan meninggalkannya. Ivan terkejut ketika melihat Lina yang sedang memperhatikannya dari pintu kelas dan kemudian lari. Ivan pun mengejar dan menangkapnya kemudian menyeretnya ke dalam kelas yang mulai terbakar. Ketika Ivan lengah, Lina mendorongnya hingga terjatuh dan berusaha kabur. Namun, api yang besar menghalanginya.

"Hahaha...percuma saja kau kabur. Kita semua akan mati bersama. Walaupun aku ikut mati, setidaknya pembalasanku selesai!!!" ucap Ivan dengan senangnya.

Api yang semakin membesar mulai membakar kelas bagian atas. Ivan, Lina dan Eko tewas terbakar dengan mengenaskan. Pada akhirnya, semuanya tewas. Mereka tidak bisa menjaga perilaku buruknya sehingga hal buruk menimpa mereka semua.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Selasa, 22 Desember 2015

[CERPEN] Untuk Ibu

UNTUK IBU

Oleh :

DANKIN

       Mentari pagi menampakkan senyuman penuh semangat membuat pagi ini terlihat menyenangkan. Aku terbangun dengan perasaan gembira menyambut pagi ini. Hari-hariku selalu dipenuhi oleh segudang aktivitas yang membuatku bosan. Sebelumnya perkenalkan, namaku Josua Malik, panggil saja Josu. Sekarang ini, aku tinggal sendirian di tempat kost dan masih menempuh pendidikan menengah atas.

       Seperti biasa, pagi ini, aku selalu menyiapkan keperluanku sendiri termasuk membuat makanan. Aku memang sangat mahir dalam memasak, sehingga aku tidak pernah bermasalah tentang makanan walaupun hanya ada beberapa bahan makanan, setidaknya aku bisa membuatnya menjadi makanan yang lezat. Setelah semuanya selesai, aku bergegas pergi ke sekolah.

       Aku terus berjalan menyusuri kota sambil menghirup segarnya udara pagi. Sampailah aku di rumah temanku, Riki. Aku selalu menghampiri Riki sebelum ke sekolah.

"Ternyata kau sudah menungguku. Maaf kalau lama," sapaku.

"Tidak masalah, Josu. Aku baru menunggu beberapa menit saja," ujarnya.

Kami pun langsung berjalan menuju sekolah sambil mengobrol. Membicarakan hal-hal lucu memang kebiasaan kami, tetapi kali ini Riki membicarakan hal lain.

"Dua hari lagi kita liburan panjang, apa kau akan liburan ke rumah orangtuamu?" tanya Riki tiba-tiba.

"Aku memang ingin kesana, tetapi setelah kegiatan sekolah selesai. Kau tahu sendiri kalau aku sangat aktif dalam kegiatan di sekolah," jawabku.

"Liburan panjang kau masih ada kegiatan sekolah?" tanyanya lagi.

"Begitulah, untuk 5 hari saat liburan masih ada kegiatan PRAMUKA dan OSIS," jelasku.

Pembicaraan tersebut cukup menghilangkan kebosanan saat di jalan. Tak terasa, kami sampai di sekolah dan bergegas menuju kelas kami. Dalam hati, aku terus memikirkan hal tadi.

"Sebenarnya aku sangat merindukan orangtuaku, terutama ibuku," gumamku.

      Beruntung sekali hari ini tidak ada kegiatan sekolah karena besok pembagian hasil raport sehingga aku bisa langsung pulang. Kurebahkan tubuhku di sebuah kasur berukuran sedang yang cukup nyaman sambil memikirkan ucapan Riki tadi pagi.

"Sebentar lagi liburan, tetapi aku masih banyak kegiatan di sekolah. Ingin sekali mengunjungi orangtuaku," pikirku.

Karena bosan, akhirnya aku memilih menonton televisi untuk menghilangkan kekosongan hatiku. Hampir setiap hari aku selalu melamun tanpa sebab. Mungkin karena aku sendirian atau perasaan rindu terhadap orangtuaku, entahlah aku sendiri tidak tahu. Tanpa sadar, aku tertidur nyenyak hingga sore hari.

      Hari ini adalah hari yang kutunggu, hasil nilai raport akan diumumkan. Sayangnya seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu mengambilnya sendiri. Setelah diumumkan, ternyata namaku berada di peringkat pertama. Ini adalah pertama kalinya aku mendapat peringkat pertama setelah terakhir kali mendapat saat masih menengah pertama. Aku merasa bangga terhadap diriku meski orangtuaku belum mengetahui hal ini.

       Aku pulang dengan sangat senang, namun setelahnya aku kembali teringat orangtuaku, terutama ibu. Liburan tiba, tetapi jadwal kegiatan sekolahku masih padat untuk 5 hari kedepan. Walaupun aku masih bisa bertemu karena masih ada 9 hari liburan, tetapi bagiku 9 hari itu sangat tidak memuaskan. Kemudian kucoba untuk menelepon ibuku.

"Apa kabar, bu?" tanyaku membuka pembicaraan.

"Baik. Liburan ini, apa kau akan kesini?" tanyanya.

"Aku memang ingin kesana, tetapi setelah 5 hari ke depan, karena aku masih sangat sibuk dengan kegiatan sekolahku. Jadi, aku akan ke sana setelah semuanya selesai," jelasku.

"Tidak apa-apa. Kalau memang itu kegiatan sekolah, silakan saja kau kerjakan, baru setelah selesai kau bisa kesini," ucapnya halus.

"Terima kasih, bu. Ibu selalu bisa mengerti keadaanku," jawabku senang.

"Sama-sama. Ibu tunggu kau disini," ucapnya sebagai kalimat penutup.

Hatiku merasa lega bisa mengucapkannya dengan jujur, namun berita tentang hasil nilai raportku masih aku rahasiakan.

       Tak terasa semua kegiatan sekolahku telah selesai. Hari ini aku sudah bersiap-siap untuk liburan ke rumah orangtuaku di luar kota. Banyak perlengkapan yang aku bawa meskipun hanya kurang dari 9 hari aku disana. Pagi menjelang siang, bus yang aku tumpangi mulai berjalan. Rasanya tidak sabar ingin bertemu orangtuaku. Tak lupa, aku membawa hadiah berupa kado ulang tahun untuk ibuku dan selembar kartu ucapan. Ibuku memang baru saja berulang tahun yang ke 40 tahun.

       Di tengah-tengah perjalanan, ternyata bus yang ditumpangi Josu mengalami kecelakaan parah setelah menabrak pembatas jalan yang mengakibatkan sopir dan banyak penumpang termasuk tewas, termasuk Josu. Berita kecelakaan ini langsung menjadi heboh di televisi. Saat itu juga, ibu Josu melihat beritanya yang ternyata itu adalah bus yang ditumpangi Josu. Seketika ibu Josu menangis. 

       Pada sore harinya, orangtua Josu telah sampai di rumah sakit dekat daerah terjadi kecelakaan tadi. Ibu Josu tak kuasa menahan isak tangis yang kini mulai membanjiri wajah ketika melihat mayat Josu. Sementara ayah Josu yang juga sedih berusaha menenangkan sang istri. Orangtua Josu kembali terkejut ketika diberitahu oleh salah seorang di rumah sakit kalau saat kecelakaan, Josu memegang sebuah kado dan selembar kertas. Kado tersebut berisi sebuah foto kenangan masa kecil Josu bersama sang ibu dan selembar kertas tersebut berisi ucapan selamat ulang tahun.

Untuk Ibu,

       Selamat ulang tahun yang ke 40 ibuku tersayang. Kado yang aku beri ini mungkin tidak seberapa, tetapi sangat bermakna bagiku yaitu foto kenangan kita saat aku masih kecil. Aku juga ingin memberitahu kalau aku berhasil mendapat peringkat pertama di kelas. Sekali lagi selamat ulang tahun Ibu.
                                                                                                                                      Josu

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Rabu, 16 Desember 2015

[CERPEN] Suara Hujan

SUARA HUJAN

Oleh :

DANKIN

       Derasnya hujan yang sedang membasahi kota seakan membuat perasaan menjadi tenang karena suara gemerincingnya. Semua orang berbondong-bondong mencari tempat untuk berteduh tak terkecuali seorang siswa bernama Jordy yang baru saja pulang sekolah. Jordy lari terbirit-birit mencari tempat untuk berteduh sampai akhirnya dia berteduh di depan sebuah minimarket. Siang ini, hujannya begitu deras. Mungkin karena musim hujan telah tiba akhir-akhir ini. Di depan minimarket tersebut, penuh orang-orang yang sedang berteduh dengan posisi yang saling berjejeran sembari menunggu hujan reda dengan kesibukkan masing-masing. Jordy terlihat kedinginan sambil terus memandang ke depan jalan melihat kendaraan yang lalu lalang melintas.

       Ketika tekanan hujan mulai menurun, terlihat sosok seorang gadis di seberang jalan yang sedang berteduh di depan sebuah toko buku walaupun wajah gadis itu masih terlihat samar tertutup hujan yang terus turun membasahi kota. Jordy terlihat sedang memikirkan sesuatu dan ternyata yang ia pikirkan adalah gadis yang berada di depan toko buku tersebut.

"Bukankah dia salah satu murid di sekolahku. Tetapi siapa?" batin Jordy mulai bertanya-tanya.

Pikiran itu terus muncul hingga Jordy teringat bahwa gadis tersebut adalah adik kelasnya namun dirinya tidak tahu namanya.

       Hujan yang awalnya deras kini mulai reda setelah kurang lebih 2 jam mengguyur kota. Saat itu pula, gadis di depan toko buku tersebut mulai menghilang entah kemana.

"Kemana dia? Kenapa aku tidak serius memperhatikannya?" batin Jordy kesal.

Jordy merasa menyesal tidak memperhatikan gadis. Ia tak tahu kemana gadis itu pergi. Ia pun memutuskan untuk pulang.

       Di pagi hari yang menyejukan seperti ini, pikiran Jordy terus dibayang-bayangi oleh keingintahuannya terhadap gadis yang ia lihat kemarin. Entah sebuah keberuntungan ataukah takdir, ketika sedang berjalan menuju sekolah Jordy melihat gadis tersebut sedang berjalan sendirian menuju sekolah. Dengan cepat, Jordy menghampiri gadis itu. Kini keduanya berjalan dengan posisi yang saling bersebelahan.

"Kau pasti yang kemarin berteduh di depan toko buku. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Jordy membuka pembicaraan.

Gadis itu hanya tersenyum malu mendengar ucapan tersebut. Tetapi Jordy terus menanyakannya lagi hingga gadis itu menjawab.

"Namaku Feby, kak," jawabnya singkat.

"Kau dari kelas mana?" Jordy kembali bertanya.

"Kelas 7A," jawab Feby singkat.

"Perkenalkan, aku Jordy dari kelas 9E. Salam kenal," sahut Jordy memperkenalkan diri.


Setelah itu, mereka terus berjalan bersama menuju sekolah tanpa ada lagi ucapan yang terlontar. Hingga berada di gerbang sekolah, keduanya hanya terdiam seakan tidak ada siapa-siapa. Mereka pun berpisah untuk menuju kelas masing-masing.

"Sampai jumpa lagi," ucap Jordy sambil melambaikan tangan yang dibalas oleh senyuman Feby yang manis.

       Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa mulai terlihat berhamburan keluar. Jordy terlihat berjalan dengan santainya padahal cuaca hari ini sangat mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan yang deras sama seperti kemarin. Benar saja, baru sebentar Jordy berjalan, hujan deras mulai mengguyur kota siang ini. Jordy langsung lari mencari tempat berteduh, dia pun berteduh di sebuah toko buku yang berada di seberang minimarket yang kemarin. Dia terkejut ketika melihat Feby yang juga sedang berteduh di toko buku tersebut.

"Ehhh...kita bertemu lagi," ucap Jordy tersenyum.

Hanya itu saja kata-kata yang terucap, selebihnya mereka berdua hanya duduk terdiam memandangi derasnya hujan. Antara perasaan gugup atau malu, keduanya tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun meski ada keinginan untuk berbicara. Gemerincing suara hujan seakan menjadi penghibur keduanya dari kesunyian. Setelah hujan reda, Feby langsung pergi meninggalkan Jordy sendirian yang sedang asyik membaca buku. Karena asyiknya, dia sampai tidak sadar kalau Feby yang awalnya berada disampingnya kini sudah tidak terlihat. Namun, Feby tidak sengaja meninggalkan sebuah buku catatan berwarna merah muda di tempat itu, Jordy pun mengambilnya dan mulai membuka halaman demi halaman. Alangkah terkejutnya dia ketika membaca buku catatan tersebut yang isinya adalah tentang dirinya. Dia baru tahu kalau sebenarnya Feby sudah lama menyukainya ketika baru masuk sekolah. Jordy hanya tersenyum memandangi buku tersebut. Dalam hatinya, dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Feby sejak melihatnya di tempat ini, bahkan suara hujan yang deras menjadi saksi atas perasaannya tersebut. Jordy pun pulang karena hujan telah reda dengan perasaan senang setelah mengetahui semua tentang Feby.

      Sampailah Jordy di rumah, dia langsung mengganti pakaiannya kemudian melanjutkan membaca buku catatan milik Feby. Dia hanya tersenyum, antara senang bercampur bahagia, dia merasa bahwa Feby ini sebenarnya anak yang lucu namun sangat pemalu. Dia ingin sekali mengungkapkan perasaan hatinya pada Feby agar dia tahu bahwa Jordy juga memiliki perasaan yang sama dengan Feby. Pikiran itu terus membayangi Jordy hingga malam hari bahkan sampai terbawa mimpi.

       Keesokan harinya, Jordy sangat bersemangat ketika akan pergi ke sekolah. Matahari yang menyinari dunia juga terlihat tersenyum pada Jordy di pagi hari ini seakan memberi sebuah semangat untuk bertemu Feby. Hari ini, dia tidak lupa membawa buku catatan milik Feby untuk dikembalikan padanya. Tak sabar baginya untuk bertemu Feby dan mengatakan tentang isi bukunya.

       Hari ini, ternyata Jordy masih diberi sebuah keberuntungan. Dia bertemu Feby di depan gerbang sekolah.

"Hai, Feby. Aku ingin mengembalikan buku milikmu yang tertinggal di depan toko buku kemarin," ucap Jordy tiba-tiba.

"Terima kasih, kak. Untung saja buku ini tidak hilang. Buku ini sangat berarti bagiku," sahut Feby.

"Maaf, kalau kemarin aku membaca isi buku tersebut. Sekali lagi maaf kalau aku lancang membacanya," ucap Jordy lagi.

"Jadi, kakak sudah mengetahui semuanya," tanya Feby terkejut.

"Kira-kira begitulah," jawab Jordy santai.

"Maaf, kak. Kalau aku menyukai kakak tetapi aku menyembunyikan perasaan ini. Aku malu mengatakan yang sejujurnya. Saat aku bertemu kakak dan tiba-tiba mengajakku bicara, aku tidak bisa banyak berkata karena aku sangat gugup saat bersebelahan dengan kakak," jelas Feby.

"Kalau boleh jujur aku juga sangat menyukaimu," ucap Jordy.

"Apa yang tadi kakak katakan?" Feby terkejut.

"Aku juga menyukaimu, aku mau kau menjadi kekasihku," ucap Jordy jelas.

Feby mengangguk dan tersipu malu saat mendengarnya. Tiba-tiba Jordy memeluk erat tubuh Feby, kini tubuh Feby berada di pelukan Jordy.

"Berarti mulai detik ini, kita resmi jadi pasangan kekasih," ucap Jordy yang disambut senyuman Feby.

Hari ini keduanya resmi menjadi pasangan kekasih, baik Jordy maupun Feby keduanya merasa bahagia. Setelah berpelukkan, keduanya berpisah menuju kelas masing-masing.

"Kutunggu pulang sekolah nanti," ucap Jordy.

"Ya," angguk Feby senang.

       Jordy dan Feby pulang bersama siang ini, cuacanya tetap sama seperti kemarin dengan awan gelap yang menjatuhkan rintikkan air hujan. Keduanya berlari bersama mencari tempat berteduh ketika hujan mulai turun. Yang menjadi aneh adalah mereka berteduh di depan toko buku yang sama dengan kemarin.

"Sepertinya takdir memang menyatukan kita," ucap Jordy.

"Maksudnya?" sahut Feby.

"Tempat ini sama seperti kemarin kita berteduh, mungkin tempat inilah saksi dari perasaan kita," jawab Jordy.

Feby tertegun mendengarnya, dia pun langsung bersender ke pundak Jordy sambil memeluknya, menikmati dinginnya hujan. Toko buku dan gemerincing suara hujan kini menjadi saksi bahwa keduanya telah menjadi sepasang kekasih setelah sebelumnya dipertemukan di tempat ini juga.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Jumat, 11 Desember 2015

[CERPEN] Hitori Kakurenbo

HITORI KAKURENBO

Oleh

DANKIN

       Bel sekolah berbunyi tanda waktu pulang tiba. Segerombolan siswa mulai berhamburan keluar dengan semangatnya. Cuaca di siang hari ini memang sangat cerah, tetapi juga panas, sehingga membuat siapapun ingin beristirahat dengan tenang. Dari depan pintu gerbang sekolah, terlihat dua orang sedang berjalan bersama yaitu Liana, seorang gadis cantik dengan wajah bulat yang menggemaskan, berkulit cerah serta rambutnya yang lebat terurai. Dia sedang berjalan dengan seorang teman laki-lakinya yang bernama Endou Takezu yang merupakan orang dari Jepang. Endou memiliki wajah seperti orang Jepang pada umumnya, dia sudah lama tinggal di Indonesia kurang lebih 10 tahun lamanya. Jadi, dia sudah sangat fasih dalam berbicara dengan Bahasa Indonesia.
       
       Saat sedang berjalan bersama, Endou mengajak Liana untuk bermain permainan aneh yang berhubungan dengan hantu. Liana yang sejak kecil menyukai hal-hal berbau horor merasa senang dengan ajakan Endou.

"Aku tahu permainan apa yang akan kita mainkan nanti," kata Endou.

"Memangnya permainan apa?" tanya Liana penasaran.

"Kita akan bermain Hitori Kakurenbo," jawab Endou.

"Aku memang pernah mendengar permainan itu, sepertinya menyenangkan," ucap Lina senang.

"Tentu saja menyenangkan, tetapi juga menegangkan, karena aku pernah bermain sekali saat masih berada di Jepang 10 tahun silam ketika umurku 9 tahun," ucap Endou.

"Begitukah?" jawab Liana singkat.

Sambil berjalan mereka terus membicarakan tentang Hitori Kakurenbo. Seperti yang sudah banyak orang ketahui, Hitori Kakurenbo adalah suatu permainan petak umpet dari Jepang. Bedanya, dalam permainan ini kita akan melibatkan arwah atau roh hantu yang berkeliaran melalui media boneka. Jika di Indonesia, permainan yang menyerupai adalah permainan Jelangkung.

      Ketika sampai di depan rumah, mereka langsung menuju ke rumah masing-masing yang memang sejak lama menjadi tetangga sebelah.

"Setelah berganti pakaian dan makan siang, aku akan datang untuk permainan itu," ucap Liana.

"Aku tunggu kedatanganmu," jawab Endou senang.

Selesai Liana berganti pakaian dan makan siang, dia langsung saja ke rumah Endou untuk melakukan permainan itu.

"Apakah sedang sepi?" tanya Liana penasaran.

"Memang momen ini yang aku tunggu. Menurut cerita, saat kita sedang bermain Hitori Kakurenbo, keadaan rumah harus sepi dan dikunci rapat-rapat," jelasnya.

"Apa yang terjadi kalau ada orang lain dalam rumah," tanya Liana semakin penasaran.

"Orang tersebut akan celaka, itu yang aku tahu," jawab Endou.

"Begitu," ucap Liana datar.

"Ayo kita mulai ke permainan," ucap Endou.

       Tibalah mereka di sebuah kamar mandi dengan beberapa alat untuk bermain Hitori Kakurenbo, seperti, boneka berbentuk manusia dengan perut yang berisi busa, beras, jarum jahit, benang merah, pisau dan gelas yang berisi air garam. Mereka langsung memulai, pertama mereka membelah perut boneka dengan pisau kemudian isi dari perut itu dikeluarkan dan diganti dengan beras yang sudah dipersiapkan.

"Kita masih membutuhkan satu lagi," ucap Endou.

"Apa itu?" tanya Liana.

"Setetes darah dari tangan kita masing-masing," jawab Endou.

Liana hanya mengangguk, kemudian keduanya menusuk jari mereka hingga mengeluarkan darah untuk diteteskan ke beras yang sudah terisi di perut boneka. Setelah itu perut boneka dijahit dengan benang berwarna merah.

"Apa warna benangnya harus merah?" tanya Liana.

"Tentu saja, karena warna merah melambangkan aliran darah pada boneka ini supaya seperti hidup," jelas Endou.

Boneka yang telah siap kemudian diletakkan di sebelah bak kecil berisi air yang sudah disiapkan Endou sebelumnya.

"Apa kau sudah siap Liana?" tanya Endou.

"Semoga saja siap," jawab Liana ragu.

"Kalau kau siap, sekarang kita harus memberikan nama pada boneka ini," kata Endou.

"Bagaimana kalau namanya Rika, seperti nama orang Jepang," Liana memberi saran.

"Baik, kita beri nama Rika," jawab Endou setuju.

"Sebelumnya aku jelaskan dulu peraturannya, pada permainan pertama ini kita seolah-olah akan berjaga terlebih dahulu sambil menghitung selama 10 detik kemudian kita temui Rika di tempat ini dan menusuk perutnya dengan pisau," jelas Endou.

Permainan pun dimulai, pertama Endou dan Liana berjaga terlebih dahulu untuk menemukan keberadaan boneka Rika.

"Endou dan Liana berjaga, Rika yang bersembunyi," ucap Endou hingga 3 kali.

Pertama Endou mematikan seluruh lampu terkecuali kamar mandi dan menyalakan televisi ke saluran statis, kemudian keduanya langsung bergegas ke suatu tempat seolah-olah mereka sedang berjaga dan menghitung selama 10 detik kemudian mereka langsung menuju ke kamar mandi untuk menemukan boneka Rika dan menusuk perutnya dengan pisau.

"Endou dan Liana menemukan Rika," ucap Endou 3 kali kemudian pisau itu diletakkan di sebelah boneka Rika.

"Berikutnya kita yang akan bersembunyi, tetapi apapun alasannya kita tidak boleh menengok ke belakang. Jika kita ingin mengakhiri permainan ini maka kita harus menenggak air garam ini ke mulut tanpa harus ditelan kemudian mencari boneka Rika untuk memuntahkannya, kau mengerti?" jelas Endou panjang.

"Aku mengerti," jawab Liana.

"Bagus," kata Endou.

Mereka bersiap-siap melanjutkan permainan dengan perasaan yang tegang.

"Endou dan Liana bersembunyi, Rika yang jaga" ucap Endou 3 kali

Kemudian mereka langsung lari ke suatu tempat yaitu sebuah lemari besar sambil membawa gelas berisi air garam. Keadaan rumah masih gelap dengan saluran televisi yang masih menyala.

"Sekarang kita tunggu apa yang akan terjadi," ucap Endou.

Sekitar 5 menit belum ada tanda-tanda keberadaan boneka Rika, akhirnya mereka mendengar suara langkah kecil. Dari dalam lemari, keduanya terus melihat keadaan di luar melalui pintu lemari yang sedikit terbuka.

"Sepertinya kita akan melihatnya," ucap Endou.

"Maksudmu melihat Rika mencari kita?" tanya Liana.

"Tentu saja," jawab Endou santai.

      Suasana semakin menegangkan ketika keduanya merasa kepanasan di dalam lemari karena menunggu lama.

"Aku ingin ke tempat lain saja," ucap Liana mencoba keluar.

"Jangan sekarang," kata Endou sambil menarik tangan Liana.

"Lihat itu," Liana kaget ketika melihat boneka Rika yang sedang berjalan sambil memegang pisau yang sebelumnya diletakkan disebelah boneka Rika saat di kamar mandi.

Seketika keduanya terdiam kaku dengan napas yang terengah-engah sambil berharap boneka itu tidak menemukan keduanya.

"Bagaimana ini, aku takut sekali. Bagaimana kalau dia menemukan kita?" ucap Liana ketakutan.

"Satu hal yang terpenting adalah kita harus tetap dalam keadaan tenang," jawab Endou menenangkan yang dibalas dengan anggukkan Liana.

Keadaan semakin menegangkan ketika suara saluran televisi mulai berubah-ubah dan langkah boneka Rika terus berjalan menyusuri setiap tempat di rumah itu untuk mencari seseorang yang tak lain adalah Endou dan Liana.

"Sebaiknya kita akhiri permainan ini," ucap Endou.

"Itu lebih baik," jawab Liana lega.

Keduanya langsung menenggak air garam itu tanpa menelan, kemudian berusaha mencari boneka Rika, mula-mula mereka ke tempat awal boneka Rika di kamar mandi ternyata tidak ada, kemudian mereka terus mencarinya dengan mulut yang masih berisi air garam. Keduanya melihat boneka Rika ternyata sedang di depan televisi namun tidak bergerak dan pisau itu berada disampingnya, air garam yang berada dimulut langsung dimuntahkan ke boneka Rika.

"Endou dan Liana menang," ucap Endou 3 kali.

Sambil menunggu boneka Rika kering keduanya mempersiapkan wadah besar sebagai tempat pembakaran boneka Rika. Tetapi, sebelumnya benang merah dan beras yang masih berada di boneka itu dibuang untuk menghilangkan arwah yang masih berada di dalam boneka Rika. Setelah boneka kering, langsung ditempatkan di sebuah wadah kemudian disiram dengan bensin dan dibakar hingga menjadi abu.

       Pengalaman ini adalah yang kedua kalinya bagi Endou, namun ini menjadi yang pertama kalinya bagi Liana. Keduanya senang bisa bermain sampai selesai tanpa ada yang terluka. Setelah melakukan permainan ini, keduanya sering melakukannya ketika salah satu rumah dari mereka sedang sepi. Hingga akhirnya, mereka menjadi sepasang kekasih dan dikenal oleh teman sekolah mereka dengan julukan "Pasangan Mistis".

 *****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com 

Sabtu, 28 November 2015

[CERPEN] Cerita di Malam Minggu

CERITA DI MALAM MINGGU

Oleh

DANKIN

       Malam minggu mungkin adalah waktu yang paling tepat bagi para remaja yang sudah memiliki pasangan untuk berkencan. Malam minggu banyak disukai orang termasuk diriku yang sudah memiliki pasangan, tetapi banyak juga yang membenci malam minggu yaitu mereka-mereka yang statusnya masih belum punya pasangan. Kali ini ada sebuah cerita tentang diriku di malam minggu yang baru kali ini aku merasa sangat membosankan. Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri, namaku Januardi Febra Septian Oktavi, panggil saja aku Ardi. Orang tuaku memberi nama tersebut karena aku lahir di bulan Juli.

      Hari itu, saat malam minggu, untuk pertama kalinya aku bosan karena kekasihku sedang berada di luar kota bersama keluarganya. Sehingga, aku memutuskan untuk tetap berada di kamar sepanjang malam seperti sebuah patung sambil berharap akan adanya hujan yang turun dengan lebat agar semua orang yang menikmati malam minggu merasakan kesengsaraan yang aku alami. Tetapi kenyataannya hal itu tidak terjadi.

"Sial, ternyata malam ini tidak akan turun hujan," gumamku kesal ketika melihat langit malam yang penuh dengan pemandangan bintang yang menandakan tidak akan ada hujan yang turun.

       Waktu berjalan dengan lambat, hal ini membuatku semakin bosan di malam minggu ini. Ingin rasanya cepat berakhir malam minggu ini. Karena merasa bosan, aku lebih memilih untuk menulis sebuah cerita pendek yang merupakan hobi baruku sejak 2 bulan yang lalu. Tulisan demi tulisan memenuhi sebuah buku yang tadinya kosong kini penuh dengan rangkaian tulisan cerita pendek karyaku. 

       Keasyikan menulis, aku sampai lupa kalau malam ini masih dalam suasana malam minggu yang membosankan. 

"Sampai kapan malam ini berakhir?" ucapku cukup keras.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan kehadiran seekor kecoak yang sedang terbang di langit-langit kamarku. Refleks saja, aku terkejut karena kecoa terbang adalah binatang yang sangat menjijikkan meskipun aku tidak takut. Karena merasa terganggu, aku pun langsung mengambil sebuah semprotan anti serangga yang kemudian kusemprotkan dengan semangat sambil berharap kecoak itu mati. Dan benar saja, dalam hitungan detik kecoak mati sehingga aku menjadi puas hati.

"Akhirnya mati juga. Aku kira seseorang yang datang, tetapi malah kecoak yang datang," batinku kesal.

Kemudian kuambil mayat kecoak tersebut untuk aku bakar sebagai sebagai upacara penutupan kematian kecoak tersebut sambil mengucapkan sebuah doa yang aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang kuucapkan. Selesai dengan itu, aku kembali melanjutkan menulis cerita pendek.

       Sedang sibuknya menulis, tiba-tiba bibiku memanggil. Aku pun langsung mendatanginya.

"Ardi, tolong belikan mie ayam 5 porsi, karena malam ini kita tidak punya bahan makanan untuk dimasak," perintah bibi.

"Baiklah, bi. Mana uangnya?" jawabku datar.

Setelah menerima uang darinya, aku langsung pergi untuk membeli mie ayam di tempat langgananku. Suasana keramaian jalan di malam minggu semakin membuatku kesal. Meski begitu aku tetap mengayuh sepedaku hingga akhirnya aku tiba di suatu tempat yaitu penjual mie ayam.

"Pak, mie ayam 5 porsi," ucapku.

Bapak penjual mie ayam itu mengangguk. Aku langsung duduk di sebuah kursi sembari menunggu pesananku selesai. Kulihat disekelilingku banyak para pasangan yang sedang menikmati malam minggu ini bersama. Aku bagaikan setan yang tak berwibawa. Tak perlu menunggu lama, pesananku selesai. Kemudian aku membayarnya.

      Perjalanan pulang aku memilih untuk mempersingkat waktu dengan melewati sebuah gang yang sangat gelap. Namun, bukan keberuntungan yang aku dapat, justru sebuah kesialan kembali menimpaku. Seekor anjing muncul dari sebuah rumah yang pagarnya terbuka kemudian anjing itu mengejarku. Aku pun langsung mengayuh sepedaku dengan kencang hingga anjing itu sudah tidak terlihat lagi.

"Syukurlah anjing itu tidak bisa mengejarku," kataku dengan napas yang terengah-engah.

Baru selesai masalah yang aku hadapi, aku kembali dikejutkan dengan kedatangan seorang waria dihadapanku.

"Ehhh...ada cowok, mau kemana, mas? Sini temani aku," ucapnya mencoba menggodaku.

Berhubung aku merasa takut, tanpa pikir panjang langsung saja kutendang dia sampai terjatuh. Kesempatan ini langsung kumanfaatkan untuk kabur. Untuk kesekian kalinya aku berhasil melewati masalah di malam ini.

"Kenapa malam ini begitu menyebalkan," ucapku pelan sambil terus mengayuh sepeda.

       Setibanya di rumah, aku langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka dengan harapan kejadian tadi hanya sebuah bayangan. Selesai mencuci muka langsung saja aku melahap mie ayam tadi bersama keluarga dengan lahap. Merasa kenyang, jadi kuputuskan untuk menonton TV terlebih dahulu selagi perut masih mencoba mencerna makanan. Kulihat acara TV malam ini begitu membosankan, sangat cocok dengan malam minggu ini yang juga membosankan. Aku kembali ke kamar mandi untuk menggosok gigi, kemudian kembali ke kamar untuk melanjutkan cerita pendek.

       Di kamar, aku langsung kembali menulis cerita pendek dengan setenang mungkin. Tetapi, baru beberapa menit aku menulis, masalah kembali menimpaku. Kepalaku terkena kotoran dari seekor cicak di atas kamar yang membuat rambutku menjadi bau. Aku langsung lari ke kamar mandi untuk mencuci rambut ini dengan shampoo.

"Lagi-lagi masalah menimpaku. Semoga ini yang terakhir kalinya," ucapku sambil mencuci rambut.

Kembali aku ke kamar, kali ini aku tetap melanjutkan cerita pendek hingga selesai. Aku pun langsung tidur dengan sebuah harapan semoga kejadian di malam ini hanyalah sebuah mimpi.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Sabtu, 21 November 2015

[CERPEN] Maafkan Aku, Teman

  Maafkan Aku, Teman

Oleh

DANKIN

      Hamparan pasir pantai dengan pemandangan sunset yang indah membuat siapapun ingin merasakannya. Hari itu terlihat 4 orang remaja bernama Leo, Erick, Adam dan Nina yang sedang duduk bersama menikmati indahnya sunset dengan minuman bersoda serta tak lupa camilan sebagai pelengkapnya. Dari kejauhan seorang pria bernama Tuan Zigurat terus memandangi mereka dengan tatapan serius.

"Kalian cepat tangkap yang bernama Leo!!!" perintahnya kepada anak buahnya sambil menunjuk Leo.

"Baik, tuan. Akan kami kerjakan," jawab salah satu anak buahnya.

Anak buahnya yang berjumlah 10 orang langsung berlari mendatangi Leo dan lainya. Seketika Leo dan lainnya kaget melihat sekumpulan pria dengan menggunakan pakaian yang serba hitam ada di hadapan mereka.

"Apa-apaan ini. Kalian mau apa?" tanya Leo membuka pembicaraan.

Tanpa ada jawaban seluruh anak buah Tuan Zigurat langsung melakukan perlawan, Leo dan lainnya juga melawan sehingga perkelahian yang sengit terjadi. Perkelahian akhirnya dimenangkan Leo dan teman-temannya sehingga seluruh pria itu lari menuju Tuan Zigurat yang sedari tadi terus memperhatikan perkelahian mereka.

"Kalian semua payah, melawan anak sekolahan saja kalah. Padahal kalian lebih banyak," ucap Tuan Zigurat kesal.

"Maafkan kami, tuan. Kami tak menyangka bisa dikalahkan dengan mudah," jawab salah satu anak buahnya.

"Lupakan saja. Biar besok aku sendiri yang menemuinya. Lebih baik kita pulang!" perintah Tuan Zigurat.

Semuanya masuk ke dalam mobil dan mobil melaju pergi meninggalkan tempat itu. Leo dan lainnya tidak bisa melepas pandangan mereka, antara bingung dan kaget, mereka tidak tahu siapa orang-orang tadi.

"Siapa sebenarnya mereka?" ucap Leo bingung.

"Entahlah kawan, yang penting kita selamat," jawab Erick.

"Berhubung hari sudah gelap lebih baik kita pulang saja," ucap Adam.

"Baiklah, ayo kita pulang!" Leo menyetujui.

"Ayo!!!" jawab Nina semangat.

Mereka pun pergi untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Dalam perjalanan, Leo terus memikirkan kejadian tadi.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini?" gumamnya dalam hati.

      Jam menunjukkan pukul 2 siang, waktunya Leo dan teman-temannya berkumpul setelah pulang sekolah, tetapi kali ini Leo tidak bisa dengan alasan banyak tugas sekolah sehingga tidak berkumpul di pantai seperti biasa.

"Kalau memang begitu kau pulang saja. Kami tidak akan memaksamu," ucap Nina.

"Terima kasih semua, aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucap Leo sambil melambaikan tangan.

"Selamat mengerjakan tugas," teriak Adam.

Leo pun meninggalkan ketiganya. Saat di perjalanan, sebuah mobil mewah datang menghampirinya. Sesosok pria muncul dari balik kaca mobil, dia adalah Tuan Zigurat.

"Kudengar kau yang bernama Leo?" katanya.

"Benar sekali. Memangnya ada perlu apa?" tanya Leo datar.

"Masuklah ke mobil, karena ada hal penting yang harus kita bicarakan," Tuan Zigurat mempersilakan masuk.

Leo terdiam seribu bahasa karena bingung apa yang terjadi dengan hari ini.

"Bagaimana, apa kau mau masuk?" Tuan Zigurat kembali bertanya.

"Baik," sahut Leo mengangguk.

Leo langsung masuk ke mobil meski dengan perasaan yang sedikit gugup. Mobil pun melaju ke suatu tempat yang akan dituju Tuan Zigurat.

"Sebenarnya kejadian kemarin saat di pantai itu, aku yang memerintahkan anak buahku untuk mengangkapmu meski pada akhirnya aku sendiri yang turun tangan," jelas Tuan Zigurat.

"Begitukah?" jawab Leo gugup.

"Perkenalkan namaku Zigurat. Kau bisa memanggilku Tuan Zigurat," ucap Tuan Zigurat.

Leo mengangguk. Sekitar 10 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah gedung perusahaan milik Tuan Zigurat. Kemudian mereka masuk untuk membicarakan hal penting di ruangan pribadi Tuan Zigurat. Sampailah mereka di ruangan yang sangat mewah dengan dekorasi yang elegan.

"Kita langsung ke pokok pembicaraan. Sebenarnya aku ingin kau menjadi anak buahku, karena aku yakin kau itu bisa menyelesaikan tugas yang kuberikan," Tuan Zigurat membuka pembicaraan.

"Memangnya tugas seperti apa yang harus aku kerjakan," tanya Leo.

"Mudah saja, kau hanya perlu mengambil sebuah flashdisk dari seseorang bernama Tuan Ravi," jelas Tuan Zigurat.

"Flashdisk? Apa di dalamnya ada data penting?" tanya Leo lagi.

"Begitulah, karena sebenarnya perusahaanku melakukan kegiatan ekspor impor dengan cara yang ilegal dan Tuan Ravi memiliki bukti yang kuat dalam flashdisk itu. Dulu dia temanku, tetapi dia tidak mendukung apa yang aku lakukan sekarang ini. Bagimana, apa kau mau melakukannya?" jelas Tuan Zigurat.

"Aku bingung," jawab Leo.

"Kau tidak perlu bingung, kalau kau berhasil mendapatkan flashdisk itu, aku akan memberikan apa yang kau mau," rayu Tuan Zigurat.

Lama berpikir Leo pun mengangguk tanda setuju meskipun ini merupakan perbuatan yang tidak baik tetapi Leo tergiur apa yang dijanjikan Tuan Zigurat.

       Sudah 3 hari ini Leo selalu tidak bisa berkumpul dengan tiga temannya. Hal ini membuat mereka bingung, dan hari ini akan membuntutinya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Leo. Ketiganya kaget ketika melihat Leo bertemu dengan seorang pria yang sepertinya jahat kemudian mereka berbincang-bincang merencanakan sesuatu. Ketika pria itu pergi, ketiganya langsung menghampiri untuk menanyakan hal itu. Leo kaget atas kehadiran tiga temannya.

"Apa yang kau lakukan dengan pria tadi?" tanya Adam tegas.

"Siapa dia?" lanjut Erick.

"Sebenarnya sekarang aku bekerja padanya. Namanya Tuan Zigurat. Tugasku hanya mengambil flashdisk dari seseorang," jelas Leo.

"Apakah dia orang yang baik?" tanya Nina.

"Dia memang bukan orang baik, tetapi dia bisa memberikan apa yang kuinginkan jika aku berhasil," jawab Leo keras.

"Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu. Kenapa kau seperti ini," ucap Erick.

"Ini urusanku, kalian tidak perlu mencampurinya," ucap Leo kesal.

"Baik, kalau ini yang kau inginkan. Kami tidak akan menghalangimu, silakan kau boleh melakukannya," ucap Nina kecewa.

"Ayo teman-teman, lebih baik kita pulang, tinggalkan saja dia," ucap Adam.

Mereka pun pergi meninggalkan Leo sendirian. Leo hanya diam tak menanggapi apa yang diucapkan ketiga temannya. Setelah itu, Leo langsung pergi mencari Tuan Ravi untuk mengambil sebuah flashdisk. Di sisi lain Nina tiba-tiba tidak ingin berkumpul bersama karena sakit kepala, padahal sebenarnya Nina ingin menghalangi tindakan Leo. Erick dan Adam pun tidak keberatan ditinggal berdua saja.

       Nina tampak berhati-hati sekali dalam membuntuti Leo. Kini Leo telah sampai di sebuah gedung perusahaan elektronik tempat dimana Tuan Ravi bekerja seperti yang Tuan Zigurat katakan. Leo langsung duduk di bangku depan perusahaan sembari menunggu Tuan Ravi keluar, begitu pula dengan Nina yang bersembunyi di sebuah taman kecil samping perusahaan itu sambil memperhatikan gerak-gerik Leo. Lama menunggu, Tuan Ravi pun mucul dari balik pintu sambil membawa tas kecil di tangannya, sepertinya dia akan pulang karena sudah ada mobil yang menunggu di depan. Saat itulah Leo mulai beraksi, dia tahu kalau flashdisk itu ada di dalam tas kecil. Nina pun juga beraksi menghampiri Leo dengan berlari kencang. Dengan sengaja dia menabrakkan diri ke arah Leo yang sudah mendekati Tuan Ravi hingga keduanya terjatuh. Tuan Ravi yang melihat kejadian itu hanya diam kemudian masuk ke mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Leo menjadi kesal karena Nina menggagalkan semuanya.

"Apa yang kau lakukan, Nina! Kenapa kau menggagalkan rencanaku?" bentak Leo.

"Perbuatanmu itu salah. Itu sebabnya aku tidak akan membiarkannya terjadi," jelas Nina

"Sudah kubilang, jangan campuri urusanku," balas Leo.

Nina hanya bisa terdiam mendengar kata-kata itu dari mulut Leo.

"Kali ini aku maafkan, tapi lain kali aku tidak akan memaafkanmu," ucap Leo.

Leo pergi meninggalkan Nina yang hanya berdiam diri. Nina pun akhirnya juga pergi untuk pulang sambil berpikir bingung atas perilaku temannya itu yang sudah berubah. Saat sedang berjalan di gang yang sepi, seseorang muncul dihadapannya, Tuan Zigurat. Tuan Zigurat langsung menekan tubuhnya ke dinding dengan kencang hingga membuat tubuh Nina tertekan.

"Mau apa kau, Zigurat," ucap Nina terseda karena tubuhnya tertekan di dinding.

"Kau tahu kenapa aku menemuimu. Karena kau telah menggagalkan Leo. Tadi aku melihatnya sendiri. Gara-gara kau, rencanaku gagal," ucap Tuan Zigurat marah.

Belum sempat Nina menjawab, Tuan Zigurat memperlihatkan besi berukuran 40 cm dengan ujung yang runcing yang kemudian langsung menusukannya ke perut Nina. Nina tidak bisa melawan karena tenaganya kalah. Walaupun Nina mencoba melawan namun sayang, besi itu menembus tubuhnya sampai ke bagian belakang. Dia pun tewas mengenaskan dengan banyak darah yang berceceran dari tubuhnya hingga dari mulut Nina yang juga memuntahkan darah. Tuan Zigurat yang sudah merasa puas langsung pergi meninggalkan mayatnya begitu saja.

       Leo terbangun dari tidurnya yang sangat memuaskan karena ini adalah hari minggu, dia pun langsung ke kamar mandi untuk mandi. Seusai mandi tiba-tiba ada suara ketukkan pintu, Leo membukanya. Terlihat 2 orang temannya Erick dan Adam dengan napas yang terengah-engah.

"Leo, apa kau sudah tahu kabar tentang Nina?" tanya Adam.

"Memangnya kenapa dengan Nina?" tanya Leo.

"Kemarin Nina ditemukan tewas dengan besi yang menancap di tubuhnya," jelas Erick.

"Dia baru saja dikubur," tambah Adam.

Seketika tubuh Leo kaku ketika mendengarnya. Mereka bertiga langsung menuju ke makam Nina. Leo menangis ketika melihat makam Nina, dia sangat sedih melihatnya.

"Maafkan aku, teman. Ini semua gara-gara aku. Aku yakin pasti Tuan Zigurat yang melakukan ini," ucap Leo menangis.

"Erick, Adam, sekarang aku mohon pada kalian untuk menemui Tuan Ravi di alamat ini. Beritahu dia tentang keberadaan Tuan Zigurat, disitu juga tercantum alamat perusahaan Tuan Zigurat," ucap Leo memerintah sambil memberikan secarik kertas.

"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Erick.

"Aku akan menemui Tuan Zigurat sekarang juga," jawab Leo 

Leo langsung berlari meninggalkan Erick dan Adam untuk menemui Tuan Zigurat. Saat sampai di dalam ruangan pribadi Tuan Zigurat, ternyata dia sudah bersiap diri bersama 30 anak buahnya menunggu kedatangan Leo. Tuan Zigurat sudah mengetahui kalau Leo akan datang menemuinya setelah temannya tewas ditangannya. Tanpa ada kata-kata yang mucul dari mulutnya, Leo langsung memberontak melawan anak buahnya. Leo berhasil membuat 13 orang tak sadarkan diri, namun tenaganya mulai terkuras sehingga dia tidak mampu melawan sisanya yang masih 17 orang. Tiba-tiba Erick dan Adam muncul, pertarungan pun berhenti sejenak. Leo tersenyum dengan tubuh yang sudah lemas penuh luka darah, kemudian berjalan menghampiri kedua temannya, tapi sayang, Tuan Zigurat melepaskan peluru dari pistolnya ke arah belakang tubuh Leo hingga tewas. Melihat kejadian itu membuat Erick dan Adam marah dan memberontak kemudian anak buah Tuan Zigurat juga melawan. 

       Dalam pertarungan itu, keduanya bisa mengalahkan 17 anak buahnya hingga tak sadarkan diri bahkan ada beberapa yang tewas. Tuan Zigurat kaget tidak percaya, kemudian dia menodongkan pistolnya ke arah keduanya.

"Jangan mendekat atau kalian kutembak!" perintah Tuan Zigurat

Erick dan Adam mengikuti apa yang dikatakan Tuan Zigurat untuk diam di tempat.

"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Adam lirih.

"Kita ikuti saja perintahnya, sebentar lagi Tuan Ravi pasti datang bersama polisi," jawab Erick tenang.

Sebelumnya Erick dan Adam menemui Tuan Ravi untuk memberitahukan tentang Tuan Zigurat sesuai dengan perintah Leo. Mereka membuat rencana besar.

"Kalian tidak bisa apa-apa lagi sekarang, hahaha...," Tuan Zigurat merasa berkuasa.

Tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu, Tuan Ravi bersama sekawanan polisi yang langsung mengepung Tuan Zigurat. Tuan Zigurat mencoba kabur tetapi polisi menembakkan peluru ke arah kakinya, Tuan Zigurat pun terjatuh. Kini polisi berhasil menangkapnya untuk disidangkan dengan membawa bukti dari Tuan Ravi melalui flashdisk.

"Terima kasih atas kerjasama kalian berdua," ucap Tuan Ravi.

"Kami yang seharusnya berterima kasih kepada," jawab Erick.

       Keesokannya, mayat Leo dikubur di pemakaman yang sama dengan Nina, dia dikubur di samping makam Nina. Proses pemakaman penuh isak tangis dari keluarga Leo serta kedua sahabatnya, Erick dan Adam. Setelah semuanya selesai Erick dan Adam masih di tempat.

"Maafkan kami, Leo. Kami datang terlambat kemarin," ucap Adam sedih.

"Kami berjanji akan selalu mengingatmu dan juga Nina," tambah Erick.

"Leo, Nina, kalian adalah sahabat sejati kami," ucap Erick dan Adam bersama.

Keduanya pun meninggalkan tempat itu, tempat peristirahatan kedua sahabat mereka, Leo dan Nina.

******TAMAT******

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Selasa, 03 November 2015

[CERPEN] Aku Mencintaimu

AKU MENCINTAIMU

Oleh
 

DANKIN

       Pagi ini seperti biasa aku menjalankan aktivitas yaitu berangkat ke sekolah walaupun dengan perasaan yang tidak tenang karena selalu dihantui oleh Yudha cs yang selalu membullyku di kelas. Aku memang tidak berani melawan karena mereka berjumlah 5 orang. Aku juga sempat berpikir bahwa ini semua mirip seperti apa yang pernah aku lakukan semasa sekolah dasar ketika aku dan temanku selalu membully seseorang di kelas. Dibalik semua itu, aku merasa senang karena ada 2 orang sahabatku, Lidya dan Rifki yang selalu menghiburku di saat aku sedih. Mereka seperti saudara kandungku.

"Tenanglah, Dino, disini masih ada kami yang selalu siap membantumu kalau ada masalah," ucap Rifki menghiburku.

"Ya, benar. Kita ini sahabat, jadi sudah sepantasnya saling membantu ketika diantara kita mempunyai masalah," jelas Lidya.

"Terima kasih, kalian selalu ada saat aku sedang ada masalah," jawabku senang.

       Suatu hari Rifki memutuskan untuk pindah sekolah ke luar kota karena pekerjaan orangtuanya. Tetapi sebelum keberangkatan, aku dan Lidya sempat bertemu untuk salam perpisahan.

"Rifki, semoga disana kau senang dan tidak melupakan kami berdua," ucapku merasa sedih.

"Tentu saja aku tidak akan melupakan kalian berdua. Terima kasih sudah sempat kemari," jawab Rifki senang.

"Sama-sama. Kami pasti akan merindukanmu, Rifki," jawab Lidya.

Belum lama kami bicara, orangtua Rifki memanggilnya untuk segera naik ke mobil karena mereka segera jalan.

"Terima kasih semuanya. Sampai jumpa," ucap Rifki.

"Hati-hati di jalan," balas Lidya.

"Jangan lupa jaga kesehatan juga," sahutku.

Akhirnya Rifki beserta orangtuanya pergi meninggalkan kami berdua. Jadi sekarang hanya ada Lidya yang bisa menghiburku disini. Dia bagaikan peri kecil yang selalu menemaniku kemana pun aku pergi. Saat mobil Rifki sudah tidak terlihat, aku langsung memandangi wajah Lidya yang sedang tersenyum manis, dalam hati aku berkata "Oh Tuhan, dia sangat cantik", diapun menoleh padaku namun aku langsung membuang wajah karena kaget.

        Seperti hari-hari biasanya, aku jarang sekali berangkat ke sekolah karena aku merasa takut jika dibully lagi oleh Yudha cs. Tetapi seperti biasanya Lidya selalu menghampiriku sebelum berangkat ke sekolah untuk mengajakku berangkat ke sekolah.

"Hari ini apa kau tidak berangkat sekolah lagi?" tanyanya.

"Hmmm...bukannya aku tidak mau berangkat sekolah. Tapi kau tahu sendiri, apa yang akan dilakukan Yudha cs terhadapku," jawabku menjelaskan.

"Ya, sudah. Aku tidak akan memaksa. Sepulang sekolah nanti aku akan menemuimu. Sampai jumpa," ucapnya sambil tersenyum.

"Akan kutunggu nanti siang," jawabku datar.

Lidya langsung saja meninggalkanku ke sekolah dengan perasaan yang sedikit kecewa karena aku tidak mau berangkat sekolah.

"Maafkan aku, Lidya. Bukan maksudku untuk menolak ajakanmu untuk berangkat sekolah," ucapku dalam hati.

        Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, aku yakin Lidya sudah pulang dan sebentar lagi akan datang kemari. Benar saja, baru beberapa menit aku menunggu, tiba-tiba Lidya datang.

"Hai, Dino?" sapa dia.

"Hai juga, Lidya. Cepat sekali kamu datang, padahal aku baru beberapa menit menunggumu," jawabku senang.

"Aku hampir saja lupa. Tadi pagi ibu guru bilang padaku untuk menyuruhmu berangkat ke sekolah. Tadi aku juga menjelaskan alasan kau jarang ke sekolah," ucapnya panjang.

"Apa kau mengatakan tentang aku yang dibully?" tanyaku.

"Tentu saja aku mengatakan seperti itu dengan jujur supaya ibu guru tahu semuanya," jelasnya.

"Baiklah, besok pagi aku akan berangkat ke sekolah," ucapku bersemangat.

"Itu baru namanya Dino," ucap Lidya memujiku.

Kami pun terus berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa bosan.

        Besoknya, aku kembali berangkat ke sekolah bersama dengan Lidya. Semakin hari sepertinya aku mulai merasa ada sebuah perasaan aneh di dalam hatiku terhadap Lidya. 

"Apakah dia jodohku, oh tidak, kau jangan berpikir seperti itu Dino. Lidya itu hanya sahabatmu," ucapku dalam hati.

Kami tiba di sekolah pukul 06.30 dan langsung menuju ke kelas kami masing-masing karena memang kami berbeda kelas.

"Aku ke kelas dulu. Sampai bertemu istirahat nanti," ucapnya padaku.

Aku mengangguk dan segera menuju ke kelas, tetapi di dalam kelas Yudha cs sudah menungguku yang kemudian langsung menghampiriku.

"Akhirnya berangkat juga kau," ucap Yudha sambil menatapku tajam.

"Kalian mau apa?" tanyaku mulai ketakutan.

"Seperti biasa," nadanya mulai mencurigakan.

Langsung saja mereka merebut tasku dan saling melemparkan satu sama lain seolah aku ini anjing yang sedang menginginkan tulang. Saat aku berusaha meraih tasku, tiba-tiba Yudha menendang kakiku hingga terjatuh. Dalam hati, aku merasa sangat marah. Entah apa yang aku pikirkan tiba-tiba saja aku langsung mengangkat meja kemudian melemparkannya tepat ke tubuh Yudha yang akhirnya terjatuh sehingga aku bisa langsung menginjak-injak kepalanya, walau pada akhirnya teman-teman Yudha langsung melawanku dan siswa yang lain kemudian memisahkan kami semua. Yudha sangat kesakitan, kepalanya mengeluarkan darah akibat aku yang menginjaknya. Aku pun di panggil ke ruang konseling dan diberi surat panggilan orangtua besok pagi.

        Pagi hari tiba, hari ini sangat menegangkan bagiku. Aku datang bersama ibuku ke ruang konseling. Guru itu menjelaskan panjang lebar hingga pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkanku dari sekolah atas tindakanku yang membuat Yudha harus dirawat di rumah sakit. Selain dikeluarkan dari sekolah, juga harus bertanggung jawab membayar biaya rumah sakit. Dalam hati aku merasa bersalah terutama pada ibuku.

"Maafkan aku, bu," ucapku sambil menunduk merasa bersalah.

"Sudahlah, ibu tahu maksud kau sebenarnya untuk membela diri, tetapi yang terjadi demikian. Mungkin ini yang terbaik untukmu," jawabnya lembut.

Begitulah ibuku, dia memang orang yang sangat baik padaku.

        Siang hari setelah pulang sekolah, Lidya langsung menemuiku tanpa pulang ke rumah dan berganti pakaian terlebih dahulu. Saat itu aku sedang duduk sambil memandangi ponselku di teras rumah.

"Aku dengar kau dikeluarkan dari sekolah karena masalah kemarin?" tanyanya memulai pembicaraan.

"Begitulah. Mungkin ini yang terbaik untukku," jawabku.

"Sebenarnya aku sedikit kecewa denganmu. Aku tidak habis pikir kenapa kau berani melakukan tindakan seperti itu," terangnya.

"Maafkan aku, Lidya. Kita jadi tidak bisa bersama lagi di sekolah," aku merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, Dino. Itu mungkin sudah takdirmu," jawabnya santai.

"Terima kasih, kau selalu mengerti keadaanku,".

"Tentu saja, kita ini sahabat sejati," ucapnya.

"We are LDR (Lidya Dino Rifki)," kami berdua mengucapkannya bersama dengan semangat meski Rifki sudah tidak bersama kami.

"Aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucapnya berpamitan.

"Hati-hati. Sampai jumpa," jawabku

Hatiku kembali mengucap "Lidya, sebenarnya aku menyukaimu, tetapi aku tidak mau merusak persahabatan kita"

        Sudah seminggu semenjak aku dikeluarkan dari sekolah, aku hanya berdiam diri di rumah tanpa banyak kegiatan. Namun aku senang karena Lidya juga setiap hari menemuiku. Hingga suatu hari saat liburan sekolah, Lidya mengajakku pergi ke suatu tempat, aku pun langsung menjawab "ya". Sehingga keesokan harinya aku bersiap-siap menunggu di datang menjemputku mengendarai motornya. Lama aku menunggu tetapi dia tak kunjung datang sampai siang hari. Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi ponselnya tetapi tidak aktif. Merasa aneh, aku memutuskan untuk menemuinya. Sesampainya di sana ternyata rumahnya sepi tidak ada orang, jadi aku menunggu saja di depan rumah. Hingga 2 jam aku menunggu tetapi penghuni rumah belum ada yang pulang, kemudian aku lebih memilih pulang dan besok akan kembali lagi.

        Seperti yang sudah kuputuskan kemarin, hari ini aku kembali datang ke rumah Lidya pada pukul 10 pagi. Tibalah aku di depan rumahnya, aku langsung mengetuk pintu kemudian muncul seseorang dari balik pintu tersebut yang tidak lain adalah ibunya. Aku bingung kenapa dia mengenakan pakaian yang rapi seperti ingin pergi ke suatu tempat. Tentu saja dia mengenalku karena aku juga sering ke mari saat masih ada Rifki.

"Dino, ada keperluan apa?" tanyanya.

"Aku ingin bertemu Lidya. Apa dia ada?" jawabku.

Tiba-tiba raut wajah ibunya langsung murung. Aku semakin bingung.

"Bagaimana, bu, apa Lidya ada?" aku kembali bertanya.

"Lebih baik kita duduk dulu," ucapnya.

Aku langsung mengikuti ucapanya kemudian dia memulai pembicaraan.

"Begini, Dino. Sebenarnya kemarin itu Lidya mengalami kecelakaan saat mengendarai motor, sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit," ucapnya sedih.

"Lidya kecelakaan?" jawabku kaget.

"Pantas saja kemarin aku menunggumu lama. Ternyata kau kecelakaan saat menuju ke rumahku," gumamku dalam hati.

"Lalu bagaimana kondisi Lidya sekarang?' tanyaku penasaran.

"Dia sekarang masih koma. Kata dokter, dia mengalami kerusakan pada organ otaknya," jelasnya.

"Kalau begitu, bolehkah aku ikut menjenguknya?" tanyaku.

"Tentu saja boleh, kebetulan hari ini ibu mau menjenguknya sendirian karena ayah Lidya sedang sibuk bekerja," jawabnya.

Kami pun segera menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Lidya.

        Tidak butuh waktu lama, kami telah sampai di rumah sakit. Kami segera menuju ke ruang pasien tempat dimana Lidya terbaring lemah tak sadarkan diri. Kami terkejut ketika hendak memasuki ruang pasien, ada seorang dokter yang sedang memeriksa Lidya bersama seorang perawat yang mendampinginya, namun ekspresi wajahnya seperti seseorang yang mengalami kegagalan, seketika ibu Lidya masuk dan menghampirinya.

"Apa yang terjadi, dok?" tanya ibu Lidya khawatir.

"Maaf, bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi takdir berkata lain," jawab dokter sambil menggelengkan kepalanya.

"Maksudnya apa, dok?" ibu Lidya semakin ketakutan.

"Anak ibu, Lidya, tidak bisa kami selamatkan. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya," terangnya.

Seketika ibunya menangis saat mendengar ucapan Dokter tadi, aku juga ikut menangis mendengarnya. Ibunya langsung memeluk Lidya dengan wajah yang masih mengeluarkan air mata. Tak kusangka ternyata Lidya sudah meninggalkanku untuk selamanya sebelum aku mengatakan sesuatu yang sangat penting tentang perasaanku yang sangat mencintainya. Aku tak percaya dia pergi begitu cepat.

"I LOVE YOU...Lidya," gumamku dalam hati.
                 
*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Jumat, 23 Oktober 2015

[CERPEN] Broken Home

 BROKEN HOME

Oleh

DANKIN

       Di sebuah perkampungan kecil, hiduplah sebuah keluarga yang sangat berantakan. Ayah bernama Ikhsan, ibu bernama Nila. Memiliki 4 anak bernama Afik, Ana, Robby dan Nina.

       Cerita berawal ketika suatu hari Pak Ikhsan berusaha merebut semua perhiasan milik Bu Nila dengan paksa, tetapi Robby dan Nina datang untuk menghalanginya. Namun, usaha itu hanya sia-sia karena Pak Ikhsan berhasil merebut perhiasan dari Bu Nila kemudian mendorong keduanya hingga terjatuh dan pergi untuk berjudi dengan membawa perhiasan itu. Robby dan Nina kemudian mencoba menenangkan sang ibu.

"Sabar, bu. Biarkan saja ayah mengambil perhiasan ibu," Robby mencoba menenangkan ibunya.

"Ya, bu. Dia juga pasti akan sadar suatu hari nanti," diikuti dengan Nina.

"Kalian tidak usah peduli dengan ibu, lagipula ini urusan orangtua. Kalian tidak boleh ikut campur," ibu seakan tidak peduli dengan perkataan mereka kemudian kembali ke dapur.

Tiba-tiba Afik dan Ana datang memarahi Robby dan Nina karena mereka terlalu mencampuri urusan orangtua.

"Kalian ini. Kenapa kalian selalu peduli masalah orangtua kita," ucap Ana dengan nada seakan marah.

"Percuma saja kita berbuat baik dengan orangtua kita. Lagipula mereka juga tidak akan peduli dengan kita, paham!!!" Afik juga memarahi dengan suaranya yang sangat keras.

Robby dan Nina hanya bisa terdiam dan bersabar dengan apa yang Afik katakan.

       Malam hari tiba, Pak Ikhsan pulang dalam keadaan mabuk berat sambil membawa botol minuman keras yang masih dipegang. Dia pun mengetuk pintu dengan keras sambil membentak. Pintu terbuka, ternyata Bu Nila yang membukakan pintunya karena sejak tadi menunggu Pak Ikhsan pulang. Bu Nila langsung marah-marah.

"Manusia macam apa kau, malam-malam begini baru pulang dalam keadaan mabuk!!!" ucap Bu Nila kesal.

"Jangan menghalangi jalanku. Cepat menyingkir!!!" jawab Pak Ikhsan yang masih mabuk dengan suara keras sehingga membuat keempat anak mereka terbangun.

Afik dan Ana keluar kamar dan membentak kedua orangtuanya karena sudah mengganggu tidur mereka kemudian kembali ke kamarnya. Di sisi lain, Robby dan Nina juga keluar untuk menetralkan orangtua mereka.
Tanpa pikir panjang, Pak Ikhsan langsung menyerobot masuk tanpa mempedulikan Bu Nila serta Robby dan Nina yang berada di hadapannya. Bu Nila hanya bisa pasrah atas kelakuan suaminya itu, ia pun pergi ke kamar untuk tidur. Robby dan Nina juga kembali ke kamar.

       Pagi harinya Afik dan Ana yang hendak bersekolah tiba-tiba membentak pintu kamar ibunya yang masih tertidur karena tidak menyediakan makanan, tetapi sang ibu seolah tak mendengarkan mereka. Afik dan Ana menghampiri ayah mereka, Pak Ikhsan, untuk meminta uang saku, namun Pak Ikhsan juga membentak seakan tak peduli dengan mereka yang kemudian melanjutkan tidurnya. Afik ternyata memiliki ide, ia tahu kalau Robby dan Nina memiliki uang simpanan. Dia pun mengajak Ana untuk meminta uang Robby dan Nina secara paksa. Mereka menghampirinya.

"Aku tahu kalau kalian punya cukup banyak uang simpanan kan? Ayo berikan uang itu pada kami!" tanya Afik memaksa.

"Ya. Cepat berikan semuanya!" Ana mengikuti.

Mereka akhirnya merebut dengan paksa semua uang yang telah dikumpulkan Robby dan Nina sejak lama. Mereka tidak bisa melawan karena Afik dan Ana adalah kakak mereka.

"Jangan ambil semua, kak. Itu uang kami. Kami sudah mengumpulkannya sejak lama, tolong jangan ambil semua," Nina mencoba memohon.

Afik dan Ana tidak peduli kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Robby mencoba menenangkan Nina supaya bisa mengikhlaskan semuanya.

      Hari sudah siang, Robby dan Nina pulang sekolah bersama seperti biasanya. Mereka kaget ketika melihat kedua orangtuanya bertengkar. Secara refleks mereka berdua langsung menetralkan kedua orangtuanya. Pak Ikhsan pun pergi untuk berjudi sedangkan Bu Nila membentak keduanya.

"Lagi-lagi kalian berdua selalu mencampuri kami. Apa yang kalian inginkan," ucap Bu Nila kesal.

Belum sempat keduanya manjawab, Bu Nila langsung masuk ke rumah. Robby dan Nina hanya bisa terdiam kemudian masuk ke rumah untuk berganti pakaian.

       Beberapa saat kemudian, Afik dan Ana pulang ke rumah dan langsung menuju ke kamar untuk merencanakan sesuatu yaitu membunuh Robby. 

"Ana, lebih baik kita bunuh salah satu dari mereka. Bagaimana?" Afik bertanya.

"Baiklah, kita bunuh saja Robby," Ana berpendapat.

"Setuju, besok pagi kita ajak dia ke puncak gunung kemudian kita susun rencananya," Afik menyetujuinya.

"Ide bagus. Aku sangat setuju, kak," Ana juga setuju.

Afik dan Ana kemudian menghampiri Robby ntuk mengajak pergi ke puncak gunung besok pagi tanpa Nina, tepatnya hari minggu, tapi Nina menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Dengan senang, Robby langsung mengucapkan kata "ya".

      Hari yang telah ditunggu-tunggu tiba, pagi-pagi sekali Afik, Ana dan Robby sudah siap untuk pergi tanpa sepengetahuan orangtua mereka yang selalu memikirkan diri sendiri. Tiba-tiba Nina menghampiri Robby untuk mengatakan sesuatu.

"Sebaiknya kakak jangan mengikuti ajakkan mereka. Aku merasa curiga dengan mereka, kak," ucap Nina memohon.

"Nina, percayalah dengan kakak. Kakak yakin kalau Kak Afik dan Kak Ana tidak akan berbuat jahat pada kakak," kata Robby mencoba menenangkan.

"Ya, sudah, kak. Kalau itu memang keinginan kakak, aku tidak akan menghalangi," jawab Nina membolehkan.

Akhirnya mereka bertiga memulai perjalanan ke puncak gunung, tetapi secara diam-diam Nina mengikuti mereka dari belakang karena masih curiga dengan Afik dan Ana.

       Mereka bertiga tiba di puncak gunung tepat pukul 10 siang, perjalanan yang cukup melelahkan bagi mereka.
Mereka bermain, bersantai dan bersenda gurau dengan senang. Rencana mulai berjalan, saat ketiganya sedang berfoto bersama, Afik dan Ana berencana mendorong Robby ke jurang, tetapi Nina yang mengikutinya dari belakang hingga mencapai puncak gunung dengan melelahkan merasa curiga. Dia pun berlari tanpa diketahui untuk menggagalkan rencana mereka, dan apa yang terjadi? Ternyata saat Nina mencoba menyelamatkan Robby, Ana yang merasa kaget terdorong jatuh ke jurang. Melihat kejadian itu, Afik langsung marah dan menarik Nina untuk dilemparkan ke jurang, Robby secara refleks melawan kakaknya dari belakang. Afik pun terdorong hingga terjatuh ke jurang seakan menjemput adiknya, Ana, untuk mati bersama.

"Bagaimana ini, kak. Apa yang sudah kita lakukan," Nina merasa ketakutan.

"Kita harus tenang, ini bukan salah kita. Lagipula kita hanya mencoba menyelamatkan diri, jadi kakak mohon kau tenang," Robby mencoba menenangkan sang adik.

      Hari berlalu, Pak Ikhsan merasa heran karena Afik dan Ana tidak ada di rumah sejak kemarin, kemudian dia bertanya pada istrinya, Bu Nila.

"Bu, dimana Afik dan Ana? Mereka sepertinya tidak ada di rumah sejak kemarin," tanyanya.

"Mungkin saja mereka kabur dari rumah. Biarkan saja mereka pergi entah kemana, mereka sudah besar," jawab Bu Nila seperti tidak peduli dengan kedua anaknya.

Tidak ada yang tahu tentang kematian Afik dan Ana karena Robby dan Nina tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

      Tepat pukul 5 sore Pak Ikhsan berusaha mencari sertifikat rumah untuk dijadikan taruhan judi, dia akhirnya menemukannya tanpa ada yang mengetahui. Kemudian seperti biasa dia pergi untuk berjudi. Pak Ikhsan ternyata kalah dalam perjudian tersebut sehingga saat pulang dia menyuruh seluruh anggota keluarganya harus angkat kaki dari rumah termasuk dirinya. Bu Nila menjadi kesal atas kelakuan Pak Ikhsan sehingga mereka memutuskan untuk berpisah.

"Kalian berdua mau ikut siapa?" tanya Bu Nila pada kedua anak mereka.

Ternyata Robby dan Nina lebih memilih untuk ikut pada ibu mereka karena ayahnya adalah penyebab mereka harus angkat kaki dari rumah.

"Ya, sudah. Kalau kalian ikut ibu, sekarang kalian bawa semua barang ibu, mengerti!!!" perintah Bu Nila.

"Baik, bu," jawab Robby dan Nina serentak.

Mereka bertiga pergi entah kemana dan meninggalkan Pak Ikhsan sendirian. Benar-benar menjadi keluarga yang hancur.

       Di jalan mereka bertika bertemu dengan seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun yang langsung memperkenalkan diri, ia bernama Pak Oto. Ia kemudian bertanya apa yang terjadi pada mereka.

"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Pak Oto.

"Kami baru saja kehilangan rumah karena suamiku kalah dalam perjudian," jelas Bu Nila dengan jujur.

"Kalau begitu kalian bisa tinggal di rumahku. Aku hanya hidup sendiri," Pak Oto menawarkan bantuan.

Bu Nila langsung mengangguk, kemudian mereka menuju ke rumah Pak Oto yang ternyata besar dan mewah, mereka pun beristirahat.

      Satu minggu berlalu, Pak Oto yang ternyata sejak awal menyukai Bu Nila berencana meminangnya sebagai istri sekaligus menerima Robby dan Nija menjadi anaknya. Tibalah saatnya Pak Oto untuk menyampaikan perasaan pada Bu Nila.

"Bu Nila?" tanyanya dengan gugup.

"Ya, pak, ada apa?" jawab Bu Nila dengan polosnya.

"Aku....," tiba-tiba ucapanya berhenti.

"Kenapa, pak?" Bu Nila kebingungan.

"Aku sudah lama menyukaimu, bolehkah aku meminangmu sebagai istri?" ucap Pak Oto dengan suara gemetar.

"Apa kau serius?" tanya Bu Nila yang semakin kebingungan.

"Aku serius, apa Bu Nila bersedia?" jelasnya.

"Kalau begitu aku bersedia menjadi istri Pak Oto," jawab Bu Nila malu.

Pak Oto merasa senang dengan jawaban yang diberikan Bu Nila. Beberapa hari kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Pernikahan mereka ternyata dikaruniai 2 orang anak perempuan yang bernama Ara dan Asih, mereka berdua memiliki kepribadian yang berbeda. Ara memiliki kepribadian yang cenderung suka marah-marah, pemalas dan egois, sedangkan Asih memiliki kepribadian yang sangat sabar, rajin, dan sopan.

      Waktu berjalan begitu cepat, sudah 10 tahun Bu Nila dan Pak Oto menikah. Semakin hari Pak Oto mulai berubah sikap, sekarang ia menjadi lebih kasar terhadap istrinya, Bu Nila. Sampai suatu hari, saat rumah sedang sepi, mereka berdua bertengkar hebat di lantai atas hingga terjadi aksi kekerasan namun pada akhirnya mereka berdua terjatuh bersama. Keempat anaknya yang baru saja pergi jalan-jalan langsung panik saat mengetahui kalau kedua orangtua mereka berceceran darah, kemudian membawa orangtua mereka ke rumah sakit. Namun sayang, keduanya sudah tidak bernapas akibat pendarahan yang hebat. Harta warisan Pak Oto kini jatuh ke tangan Robby karena dia anak tertua dari keempat anaknya.

      Sepuluh tahun berlalu, Ara yang sudah mulai beranjak dewasa yaitu 19 tahun baru mengetahui kalau kedua kakaknya, Robby dan Nina adalah kakak tirinya. Ara pun merencanakan untuk mengambil alih harta warisan dari ayahnya, Pak Oto yang sudah meninggal. Dalam waktu kurang dari seminggu Ara berhasil melakukannya dan ia mengusir semuanya termasuk adik kandungnya, Asih yang kini berumur 13 tahun. Robby, Nina dan Asih hanya bisa pasrah menjalani kehidupan selanjutnya.

      Robby dan Nina yang sudah sangat dewasa harus bekerja keras untuk bisa menyambung hidup mereka serta membiayai adik mereka, Asih yang masih duduk di bangku sekolah menengah. Lama waktu berjalan, Robby dan Nina yang bekerja sebagai penjual roti bakar, kini mulai sukses hingga memiliki banyak cabang di beberapa tempat serta memiliki tempat tinggal sendiri yang nyaman walau tidak sebesar rumah mereka yang dulu. Saat Robby hendak pergi membeli bahan untuk membuat roti bakar, tiba-tiba dia bertemu dengan Ara yang keadaannya sangat memprihatinkan. Robby menghampiri untuk membawanya ke rumah, tanpa menunggu lama ia menggendong Ara ke dalam mobilnya.

       Sesampainya di rumah Ara langsung dibawa ke dalam rumah, Nina dan Asih terkejut saat melihat Ara yang sangat buruk.

"Kak Ara," ucap Asih terkejut.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya Nina.

"Sebenarnya aku sudah ditipu oleh teman-temanku hingga aku tidak punya harta lagi. Jadi sekarang aku menjadi orang yang tidak berguna. Maafkan semua yang telah aku lakukan ke kalian waktu dulu, aku sangat menyesalinya," Ara menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya dan meminta maaf.

"Sudahlah, Ara. Kami semua sudah memaafkanmu jauh-jauh hari," jawab Robby.

"Terima kasih semua. Ternyata kalian sangat mulia," ucap Ara.

Ketiganya kemudian memohon pada Ara agar mau tinggal bersama mereka dan menjadi sebuah keluarga seperti dulu lagi. Ara mengangguk. Akhirnya Robby, Nina, Ara dan Asih hidup bersama menjadi sebuah keluarga yang bahagia.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Rabu, 14 Oktober 2015

[CERPEN] Petualangan Mencari Harta Karun

 PETUALANGAN MENCARI HARTA KARUN
                                                      
 Oleh : 

DANKIN

       Diceritakan ada 3 orang sahabat yang bernama Berry, Dandy, dan Taufiq. Saat sedang asyiknya berjalan, Taufiq tergelincir karena tidak sengaja menendang sebuah botol. Namun, secara mengejutkan muncul sesuatu dari botol tersebut yang membuat mereka kaget.

"Hahaha... aku ucapkan terima kasih pada kalian yang telah membebaskanku dari botol ini," ucap makhluk yang muncul dari botol tersebut.

"Si...si...siapa kau?" ucap Taufiq dengan nada ketakutan.

"Perkenalkan, aku Jin dari Timur Tengah yang sudah seribu tahun terperangkap dalam botol itu," balas Jin.

"Seribu tahun dalam botol? Hahaha... pantas saja wajahmu sudah keriput," Berry tertawa.

"Betul sekali, badanmu juga seperti botol itu," Taufiq mengikuti.

"Jangan sembarangan. Walaupun aku ini jelek, setidaknya aku Jin terkuat di muka bumi ini," Jin itu berkata dengan sombongnya.

"Penampilanmu sangat meragukan," ada keraguan dalam pikiran Dandy.

"Terserah kalian, setidaknya aku berkata jujur. Berhubung kalian telah membebaskanku dari botol itu, aku akan memberikan kalian sebuah peta yang akan menunjukkan lokasi harta karun berada," Jin itu menjelaskan.

"Apa kau bilang?" mereka bertiga kaget.

"Apa kalian tuli? Aku akan memberikan kalian peta harta karun," Jin itu memberikan peta harta karun kepada mereka.

"Aku sedikit ragu, apakah ini benar-benar peta harta karun?" kata Dandy seolah tidak percaya dengan perkataan Jin.

"Tentu saja itu asli. Aku tidak mungkin berbohong. Percayalah bahwa itu benar-benar peta harta karun," kata Jin itu berusaha jujur.

"Baiklah, aku percaya dengan kata-katamu," Dandy akhirnya percaya.

"Tapi kalian tidak akan mudah mendapatkan harta karun tersebut, karena kalian akan menghadapi beberapa rintangan yang sulit," jelas Jin.

"Sesulit apapun rintangan yang akan dilewati, kami yakin pasti berhasil," ucap Taufiq dengan percaya diri yang tinggi.

"Baiklah, sepertinya aku akan pergi dulu. Semoga kalian berhasil. Selamat tinggal," Jin itu menghilang tiba-tiba dan membuat ketiganya kembali kebingungan.

       Keesokan harinya, mereka sudah siap dengan membawa keperluan yang banyak hingga tas mereka terlihat begitu berat. Perjalanan pun dimulai dengan mengikuti denah yang terdapat pada peta tersebut. Tiga jam sudah mereka berjalan. Kini, mereka berada di hutan dan akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat sejenak karena sejak awal mereka belum berhenti berjalan.

"Teman-teman, sebaiknya kita istirahat dulu," Dandy berkata dengan napas yang terengah-engah karena kelelahan.

"Ya, sudah. Kita istirahat di bawah pohon itu saja," sahut Taufiq menyetujui.

Akhirnya mereka istirahat makan dan minum yang telah dibawa.

"Berry, kau makan banyak sekali, apa muat dalam perutmu itu," canda Taufiq.

"Tentu saja muat, tenagaku sudah habis karena perjalanan yang lama sekali. Jadi, aku harus mengisi banyak tenaga untuk melanjutkan perjalanan," ketus Berry.

"Cepatlah selesaikan makanmu, perjalanan kita masih cukup jauh, mau berapa lama lagi kita istirahat," ucap Dandy sedikit kesal.

"Siap, kapten!!!" dengan sedikit bercanda Berry menghormat layaknya prajurit.

       Akhirnya mereka bertiga selesai istirahat dan melanjutkan perjalanan. Belum lama mereka berjalan, tiba-tiba seekor harimau yang sedang kelaparan muncul di hadapan mereka. Ketiganya pun ketakutan dan memutuskan untuk lari menghindari harimau tersebut. Namun apa yang terjadi? Harimau itu berhasil menangkap Berry yang terjatuh.

"Teman-teman, tolong aku!!!" seru Berry ketakutan.

"Bagaimana ini, kita harus menyelamatkan Berry. Lihatlah harimau itu kelihatan lapar sekali, sepertinya dia akan memangsa Berry," ucap Taufiq kebingungan.

"Kau lihat disana, ada 2 tombak. Kita harus mengambilnya untuk segera melawan harimau tersebut!" kata Dandy menyusun rencana.

"Baik," Taufiq menyetujui.

Dandy dan Taufiq pun mengambil tombak, mereka langsung berusaha melawan harimau tersebut. Harimau itu pun melepaskan Berry dan melawan mereka berdua.

       Harimau tersebut langsung berusaha menyerang, tetapi beberapa kali gagal dan untuk kesekiankalinya harimau pun berhasil menjatuhkan Dandy dan langsung mencengkramnya. Taufiq pun segera menyerang dari belakang tetapi harimau tersebut sangat gesit dan menendang Taufiq hingga terjatuh. Harimau tersebut akhirnya bersiap untuk memangsa Dandy. Tiba-tiba dari arah belakang Berry muncul dengan membawa tombak milik Taufiq yang tejatuh. Harimau tersebut tidak sadar, akhirnya tertusuk oleh tombak yang dipegang Berry. Mereka pun selamat dan saling berpelukkan.

"Terima kasih, Berry. Berkat kau, aku selamat dari harimau itu," ucapan terima kasih muncul dari Taufiq.

"Sama-sama, lagipula kalian seperti itu juga karena berusaha menolongku," sahut Berry merasa senang bisa menolong.

"Hebat kau, aku bangga padamu Berry. Ayo kita lanjutkan perjalanan," Taufiq memuji.

"Ayo...!" Berry mengikuti.

Perjalanan dilanjutkan dengan penuh rasa lelah, tapi mereka tetap bersemangat untuk bisa mendapatkan harta karun yang mereka cari.

       Mereka tiba di pinggir sungai, menurut peta mereka harus menyeberangi sungai. Mereka kebingungan. 

"Bagaimana cara kita menyeberangi sungai, sedangkan kita melewatinya harus menggunakan kendaraan," Berry merasa kebingungan.

       Lama berpikir, tiba-tiba muncul seseorang dengan menggunakan perahu dari arah timur. Mereka pun memanggilnya untuk meminta bantuan dengan menumpang perahunya agar mencapai daratan di seberang.

"Pak, kemarilah kami butuh bantuan," ucapan Berry sangat keras sehingga bapak itu mendengar dan langsung mendatangi mereka bertiga.

"Ada perlu apa kalian memanggilku?" tanya bapak itu kebingungan.

"Kami butuh bantuan bapak, supaya kami bisa ke daratan di seberang dengan menumpang perahu bapak. Apa boleh kami menumpang?" tanya Dandy.

"Tentu saja boleh, lagipula itu sangat dekat, jadi tidak masalah bagiku. Baiklah, kalau begitu ayolah naik ke perahu," kata bapak itu membolehkan.

       Mereka bertiga naik perahu untuk menuju ke daratan. Tak butuh waktu lama karena jaraknya hanya 20 meter.

"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Maaf juga sudah merepotkan bapak," Dandy mengucapkan terima kasih atas bantuannya.

"Oh, itu tidak masalah. Aku justru senang bisa membantu kalian. Aku pergi dulu. Sampai jumpa," bapak itu merasa senang.

"Sampai jumpa, pak. Hati-hati!" mereka bertiga serempak mengucapkannya.

Bapak itu akhirnya pergi meninggalkan mereka. Tiba saatnya mereka ke tempat yang dituju. Menurut peta, lokasi harta karun hampir sampai. Dengan semangat, mereka melanjutkan berjalanan walaupun terasa lelah tetapi mereka senang karena lokasi yang dituju hampir sampai.

       Sampailah mereka ke lokasi yang dituju berdasarkan peta. Mereka pun sangat senang saat mengetahui lokasi yang mereka tuju sudah sampai. Tanda X pada peta menunjukkan kalau harta karunnya di dalam gua. Mereka langsung masuk ke dalam gua itu. Gua itu sangat gelap, sehingga sulit sekali untuk mereka melihat dengan jelas. Untung saja Berry yang membawa banyak barang, sempat membawa senter. Jadi mereka bisa melewatinya tanpa harus menabrak sesuatu yang ada di depan. Mereka terus berjalan. Tak sampai 10 menit, mereka menemukan tanda X di atas tanah.

"Ini dia tanda X yang kita cari," kata Berry bersemangat.

"Benar sekali, ayo kita gali!" ajak Taufiq untuk menggali.

Tanpa menunggu lama, mereka menggali tanah itu dengan alat seadanya. Setelah 15 menit menggali, mereka melihat dengan jelas sebuah kotak yang sepertinya berisi harta karun.

"Akhirnya kita mendapatkan harta karunnya. Cepat kita angkat," perintah Dandy.

"Ayo...!" kata Taufiq menyetujui.

Harta karun diangkat. Mereka terlihat kelelahan karena telah menggali tanahnya cukup lama. Meski begitu mereka senang, ternyata perjuangan tidak sia-sia.

       Dibukalah kotak tersebut dan apa yang terjadi. Ternyata yang ada di dalam kotak tersebut memang benar-benar harta karun yang berupa emas batangan maupun yang berbentuk koin dengan jumlah yang sulit untuk dihitung.

"Selesai sudah perjuangan kita mencari harta karun ini," ucap Taufiq merasa senang dengan hasil usaha mereka.

"Tak sia-sia kita mencarinya, ternyata benar apa yang dikatakan Jin waktu itu," lanjut Berry.

"Baiklah, kalau begitu kini saatnya kita pulang membawa harta karun ini," ucap Dandy memerintah untuk membawa harta karun itu ke rumah.

Mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah dengan membawa harta karun yang ditemukan. Mereka mendadak kaya raya dan sangat dermawan kepada penduduk desa.

******TAMAT******

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com