Sabtu, 26 Desember 2015

[CERPEN] Who's Next?

WHO'S NEXT?

Oleh :

DANKIN

       Gemerlap dunia malam seakan tak pernah lepas dari gambaran kota metropolitan. Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa juga berpartisipasi menghiasi gemerlap malam.

       Di sebuah gang sempit yang sepi, terlihat 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan remaja sekolah menengah yang sedang asyik berpesta ganja. Mereka adalah Lina, Eko, Dimas, Rio dan Maya. Mereka memang dikenal sebagai anak-anak yang nakal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Terlalu asyik berpesta ganja, seseorang bernama Ivan yang tak lain adalah adik kelas mereka, memotret kejadian tersebut diam-diam. Hingga akhirnya, Ivan ketahuan kalau sedang memotret mereka.

"Siapa kau!!!" teriak Eko.

Mendengar teriakkan tersebut, Ivan langsung kabur. Eko dan lainnya tidak mengejar karena mereka sudah tahu kalau orang yang baru saja kabur adalah adik kelas mereka.

"Biarkan saja dia lari, lagipula kita bisa menemuinya besok," ucap Lina.

"Awas saja kalau dia berani macam-macam," lanjut Rio.

"Bagaimana kalau dia memberitahu semuanya," ucap Maya.

"Kalau dia sampai membocorkan semua ini, kita harus memberinya pelajaran," ucap Eko.

"Kita tidak perlu cemas, di sekolah tidak ada yang berani dengan kita termasuk kepala sekolah," sahut Dimas santai.

Selesai pembicaraan, mereka melanjutkan aktivitas mereka yaitu pesta ganja hingga larut malam.

       Pagi harinya saat Lina, Eko, Dimas, Rio dan Maya sampai di sekolah, mereka terkejut ketika ada suara panggilan dari kepala sekolah yang menyebut nama mereka.

"Baru saja sampai, langsung ada panggilan. Sial sekali," ucap Eko kesal.

"Sudah kuduga, dia pasti memberitahu kepada kepala sekolah," lanjut Rio.

"Apa yang harus kita jawab nanti?" sahut Lina.

"Paling hanya ocehan. Kepala sekolah tidak akan mengeluarkan kita," jawab Dimas santai.

"Ayo kita ke ruang kepala sekolah!" perintah Eko.

Mereka pun menuju ruang kepala sekolah. Saat sedang berjalan, mereka berpapasan dengan Ivan yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Kelimanya menatap Ivan sinis. Ivan yang merasa sedang diperhatikan hanya bisa menundukkan kepala karena merasa ketakutan. Pintu dibuka, kelimanya menghadap kepala sekolah dan langsung mendapat sebuah kemarahan besar dari kepala sekolah atas kelakuan mereka yang semalam sedang berpesta ganja di sebuah gang. Saat mereka bertanya siapa yang memberitahu, kepala sekolah merahasiakannya. Namun, ia memiliki bukti berupa foto-foto. Kelimanya langsung tahu bahwa yang memberitahukan semua ini adalah Ivan. Beruntung mereka adalah anak dari pengusaha tersukses di kota ini dengan kerjasama bisnis yang besar, sehingga mereka tidak dikeluarkan dari sekolah. Itu semua karena orangtua mereka juga sebagai donatur di sekolah ini.

       Saat bel pulang sekolah, kelimanya sudah bersiap menunggu Ivan di bawah tangga. Ketika berjalan menuruni tangga, Ivan yang melihat ada lima orang di bawah tangga merasa ketakutan. Sekujur tubuhnya bergetar ketika lima orang itu menyeretnya ke gudang sekolah lalu mengikatnya di kursi.

"Kenapa kau memberitahukan semua pada kepala sekolah?" tanya Eko membentak namun Ivan hanya diam.

"Cepat jawab!!!" lanjut Dimas namun Ivan masih tetap diam.

"Sudahlah kita pukul saja dia," sahut Rio.

"Memang sepatutnya dia mendapat pelajaran dari kita," lanjut Maya.

Eko, Dimas dan Rio melepaskan ikatan tali pada kursi namun setelahnya mereka mulai memukul Ivan dengan sadisnya sampai-sampai tubuh Ivan berceceran darah. Kelimanya pergi meninggalkan Ivan yang sudah tak berdaya seakan tidak ada rasa bersalah.

       Sudah seminggu Ivan tidak terlihat di sekolah. Kabarnya, Ivan masuk rumah sakit setelah kejadian sebelumnya dengan luka yang sangat serius terutama pada bagian kepala. Dalam hatinya, ia sangat marah besar. Ingin sekali ia membalas semua perbuatan Eko, Lina, Dimas, Rio dan Maya. Setelah keluar dari rumah sakit, ia bertekad untuk membalas dendam dengan cara yang lebih kejam yaitu membunuh mereka satu per satu. Kali ini terlihat bahwa Ivan yang dikenal baik dan pendiam tiba-tiba berubah drastis seperti seorang psikopat.

       Pasca sembuh total, Ivan masih enggan berangkat sekolah sebelum rencananya selesai. Pertama yang ia lakukan pagi ini adalah ke rumah Maya secara diam-diam layaknya mata-mata. Tanpa ada yang melihat, Ivan berhasil memasuki rumah dan menuju kamar Maya. Ternyata Maya sedang bersiap menuju kamar mandi, Ivan pun mengikuti tanpa diketahui. Ketika Maya sedang berendam, Ivan langsung beraksi dengan mencelupkan kepala Maya dengan paksa ke dalam air hingga Maya tewas kehabisan napas dalam keadaan masih berendam. Ivan langsung pergi meninggalkannya.

       Berita di sekolah tentang kematian Maya yang medadak menjadi gempar. Lina, Eko, Dimas dan Rio tak menyangka kalau Maya tewas secara mengejutkan pagi ini. Mereka kembali dikejutkan ketika di meja tempat Rio duduk ada secarik kertas bertuliskan "Who's Next?".

"Apa maksud dari tulisan ini?" ucap Rio bingung.

"Sepertinya ada yang aneh," sahut Eko.

"Mungkin itu hanya kertas biasa yang tidak sengaja berada di mejamu," ucap Lina.

Mereka pun duduk berkumpul dengan raut wajah yang tidak biasa. Mungkin karena baru saja kehilangan salah satu anggota mereka.

       Seusai sekolah, mereka menuju ke pemakaman Maya yang tadi pagi baru saja selesai dimakamkan. Mereka merasa kehilangan bahkan bingung dengan penyebab kematiannya. Setelah itu, mereka pulang berpisah. Saat keempatnya berpisah, Ivan mengikuti Rio dari belakang sambil memegang kapak. Ternyata Ivan sejak awal mengikuti mereka. Baru ketika Rio berjalan di tempat yang sepi, dari arah belakang, Ivan berlari kencang dan menghempaskan kapak ke pundak Rio yang saat ini sedang menghadapnya karena sempat menoleh ketika mendengar suara langkah kaki. Dengan sadisnya Ivan terus mengarahkan kapak ke bagian tubuh yang lain hingga Rio tewas dengan banyak luka di sekujur tubuhnya. Ivan hanya membiarkannya.

       Saat di sekolah, berita tentang kematian Rio kembali menggemparkan warga sekolah seakan menambah daftar kematian siswa. Lina, Eko dan Dimas semakin merasa aneh. Belum 1 hari kepergian Maya, kini Rio menyusul bahkan kondisinya sangat mengenaskan.

"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kertas yang kemarin," ucap Eko.

"Apa maksudmu?" tanya Lina.

"Coba kalian ingat baik-baik, kemarin ada secarik kertas bertuliskan Who's Next? di meja Rio. Lalu Rio meninggal setelahnya. Kalimat itu pasti merujuk pada Rio untuk mati berikutnya," jelas Eko.

"Sangat masuk akal. Aku juga punya pemikiran seperti itu," sahut Dimas.

"Lebih baik kita ke kelas. Kalau ada kertas itu lagi berarti memang itu penyebabnya," ucap Lina.

Benar saja, ketika sampai di kelas, mereka menemukan kertas dengan tulisan yang sama di meja Dimas. Sontak perasaan Dimas menjadi ketakutan.

"Sudah kuduga, pasti ada seseorang yang meneror kita," ucap Eko.

"Memangnya siapa yang berani melakukannya?" tanya Lina.

"Aku tahu, pasti teror dari Ivan," kata Dimas tiba-tiba.

"Kalau memang dia, apa alasannya?" Lina kembali bertanya.

"Kalian masih ingat, sebelumnya kita pernah menganiaya Ivan hingga masuk rumah sakit. Kabarnya, Ivan sudah keluar dari rumah sakit tetapi sampai saat ini masih belum terlihat di sekolah," jelas Dimas.

"Benar juga, tetapi masalahnya kita tidak tahu keberadaannya," sahut Eko.

Mereka pun terus membicarakan tentang teror yang menimpa mereka hingga bel masuk tiba.

       Di tengah-tengah pelajaran, Eko dan Dimas meminta izin untuk ke kamar mandi. Dimas yang mengantar Eko hanya berdiri menunggu Eko keluar. Tetapi, Dimas melihat seperti ada seseorang misterius hingga dia mengejarnya sampai di tepi tangga sambil melihat ke bawah namun tidak ada orang yang turun. Secara tiba-tiba, ada seseorang yang mendorong Dimas hingga terguling sampai tangga paling bawah. Dimas tewas seketika karena benturan yang sangat keras di bagian kepala. Ternyata, orang yang mendorong Dimas adalah Ivan. Sejak awal dia memang menunggunya di sekolah untuk melakukan aksinya. Eko yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa bingung ketika melihat di luar sudah tidak ada Dimas sambil memanggil namanya. Ivan langsung kabur untuk bersembunyi, tetapi sebelumnya ia kembali menulis pada secarik kertas dengan tulisan "Who's Next?" di dekat tubuh Dimas agar Eko melihatnya. Eko yang sedang mencari Dimas terkejut ketika melihat Dimas yang tak sadarkan diri di bawah tangga tanpa ada hembusan napas. Anehnya lagi, Eko menemukan secarik kertas dengan tulisan yang sama dengan tadi pagi. Eko pun mencari bantuan, seketika kematian Dimas yang terjatuh dari tangga menjadi heboh seluruh warga sekolah. Kini yang tersisa hanya Lina dan Eko yang masih dibayang-bayangi teror yang mengancam nyawa mereka.

"Kau tahu, aku menemukan kertas dengan tulisan yang sama dengan tadi pagi di tubuh Dimas," ujar Eko.

"Kita harus berhati-hati. Terutama kau yang baru saja mendapat teror itu," kata Lina.

      Lina dan Eko terlihat hanya berdua di dalam kelas, padahal seluruh siswa bahkan guru sudah pulang. Mereka terus membicarakan tentang teror yang menghantui mereka. Akhirnya, keduanya memutuskan pulang. Ketika sudah di bawah tangga, Eko melupakan sesuatu kalau dia telah meninggalkan ponselnya di bawah mejanya. Dia pun menuju kelas, sementara Lina menunggu di bawah. Sampailah Eko di dalam kelas. Namun, ia terkejut ketika melihat Ivan yang berada dibelakangnya tiba-tiba menyerang dan menyeretnya ke kursi dengan ikatan tali yang kuat.

"Ternyata kau pelakunya," ucap Eko keras.

Ivan hanya diam sembari melanjutkan aksinya dengan menyiram sekitar kelas dengan bensin termasuk kursi yang ditempati Eko sekarang.

"Apa yang akan kau lakukan!!!" Eko membentak.
 
Ivan hanya menghiraukan kemudian dia membakar seisi kelas dan akan meninggalkannya. Ivan terkejut ketika melihat Lina yang sedang memperhatikannya dari pintu kelas dan kemudian lari. Ivan pun mengejar dan menangkapnya kemudian menyeretnya ke dalam kelas yang mulai terbakar. Ketika Ivan lengah, Lina mendorongnya hingga terjatuh dan berusaha kabur. Namun, api yang besar menghalanginya.

"Hahaha...percuma saja kau kabur. Kita semua akan mati bersama. Walaupun aku ikut mati, setidaknya pembalasanku selesai!!!" ucap Ivan dengan senangnya.

Api yang semakin membesar mulai membakar kelas bagian atas. Ivan, Lina dan Eko tewas terbakar dengan mengenaskan. Pada akhirnya, semuanya tewas. Mereka tidak bisa menjaga perilaku buruknya sehingga hal buruk menimpa mereka semua.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar