Sabtu, 21 November 2015

[CERPEN] Maafkan Aku, Teman

  Maafkan Aku, Teman

Oleh

DANKIN

      Hamparan pasir pantai dengan pemandangan sunset yang indah membuat siapapun ingin merasakannya. Hari itu terlihat 4 orang remaja bernama Leo, Erick, Adam dan Nina yang sedang duduk bersama menikmati indahnya sunset dengan minuman bersoda serta tak lupa camilan sebagai pelengkapnya. Dari kejauhan seorang pria bernama Tuan Zigurat terus memandangi mereka dengan tatapan serius.

"Kalian cepat tangkap yang bernama Leo!!!" perintahnya kepada anak buahnya sambil menunjuk Leo.

"Baik, tuan. Akan kami kerjakan," jawab salah satu anak buahnya.

Anak buahnya yang berjumlah 10 orang langsung berlari mendatangi Leo dan lainya. Seketika Leo dan lainnya kaget melihat sekumpulan pria dengan menggunakan pakaian yang serba hitam ada di hadapan mereka.

"Apa-apaan ini. Kalian mau apa?" tanya Leo membuka pembicaraan.

Tanpa ada jawaban seluruh anak buah Tuan Zigurat langsung melakukan perlawan, Leo dan lainnya juga melawan sehingga perkelahian yang sengit terjadi. Perkelahian akhirnya dimenangkan Leo dan teman-temannya sehingga seluruh pria itu lari menuju Tuan Zigurat yang sedari tadi terus memperhatikan perkelahian mereka.

"Kalian semua payah, melawan anak sekolahan saja kalah. Padahal kalian lebih banyak," ucap Tuan Zigurat kesal.

"Maafkan kami, tuan. Kami tak menyangka bisa dikalahkan dengan mudah," jawab salah satu anak buahnya.

"Lupakan saja. Biar besok aku sendiri yang menemuinya. Lebih baik kita pulang!" perintah Tuan Zigurat.

Semuanya masuk ke dalam mobil dan mobil melaju pergi meninggalkan tempat itu. Leo dan lainnya tidak bisa melepas pandangan mereka, antara bingung dan kaget, mereka tidak tahu siapa orang-orang tadi.

"Siapa sebenarnya mereka?" ucap Leo bingung.

"Entahlah kawan, yang penting kita selamat," jawab Erick.

"Berhubung hari sudah gelap lebih baik kita pulang saja," ucap Adam.

"Baiklah, ayo kita pulang!" Leo menyetujui.

"Ayo!!!" jawab Nina semangat.

Mereka pun pergi untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Dalam perjalanan, Leo terus memikirkan kejadian tadi.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini?" gumamnya dalam hati.

      Jam menunjukkan pukul 2 siang, waktunya Leo dan teman-temannya berkumpul setelah pulang sekolah, tetapi kali ini Leo tidak bisa dengan alasan banyak tugas sekolah sehingga tidak berkumpul di pantai seperti biasa.

"Kalau memang begitu kau pulang saja. Kami tidak akan memaksamu," ucap Nina.

"Terima kasih semua, aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucap Leo sambil melambaikan tangan.

"Selamat mengerjakan tugas," teriak Adam.

Leo pun meninggalkan ketiganya. Saat di perjalanan, sebuah mobil mewah datang menghampirinya. Sesosok pria muncul dari balik kaca mobil, dia adalah Tuan Zigurat.

"Kudengar kau yang bernama Leo?" katanya.

"Benar sekali. Memangnya ada perlu apa?" tanya Leo datar.

"Masuklah ke mobil, karena ada hal penting yang harus kita bicarakan," Tuan Zigurat mempersilakan masuk.

Leo terdiam seribu bahasa karena bingung apa yang terjadi dengan hari ini.

"Bagaimana, apa kau mau masuk?" Tuan Zigurat kembali bertanya.

"Baik," sahut Leo mengangguk.

Leo langsung masuk ke mobil meski dengan perasaan yang sedikit gugup. Mobil pun melaju ke suatu tempat yang akan dituju Tuan Zigurat.

"Sebenarnya kejadian kemarin saat di pantai itu, aku yang memerintahkan anak buahku untuk mengangkapmu meski pada akhirnya aku sendiri yang turun tangan," jelas Tuan Zigurat.

"Begitukah?" jawab Leo gugup.

"Perkenalkan namaku Zigurat. Kau bisa memanggilku Tuan Zigurat," ucap Tuan Zigurat.

Leo mengangguk. Sekitar 10 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah gedung perusahaan milik Tuan Zigurat. Kemudian mereka masuk untuk membicarakan hal penting di ruangan pribadi Tuan Zigurat. Sampailah mereka di ruangan yang sangat mewah dengan dekorasi yang elegan.

"Kita langsung ke pokok pembicaraan. Sebenarnya aku ingin kau menjadi anak buahku, karena aku yakin kau itu bisa menyelesaikan tugas yang kuberikan," Tuan Zigurat membuka pembicaraan.

"Memangnya tugas seperti apa yang harus aku kerjakan," tanya Leo.

"Mudah saja, kau hanya perlu mengambil sebuah flashdisk dari seseorang bernama Tuan Ravi," jelas Tuan Zigurat.

"Flashdisk? Apa di dalamnya ada data penting?" tanya Leo lagi.

"Begitulah, karena sebenarnya perusahaanku melakukan kegiatan ekspor impor dengan cara yang ilegal dan Tuan Ravi memiliki bukti yang kuat dalam flashdisk itu. Dulu dia temanku, tetapi dia tidak mendukung apa yang aku lakukan sekarang ini. Bagimana, apa kau mau melakukannya?" jelas Tuan Zigurat.

"Aku bingung," jawab Leo.

"Kau tidak perlu bingung, kalau kau berhasil mendapatkan flashdisk itu, aku akan memberikan apa yang kau mau," rayu Tuan Zigurat.

Lama berpikir Leo pun mengangguk tanda setuju meskipun ini merupakan perbuatan yang tidak baik tetapi Leo tergiur apa yang dijanjikan Tuan Zigurat.

       Sudah 3 hari ini Leo selalu tidak bisa berkumpul dengan tiga temannya. Hal ini membuat mereka bingung, dan hari ini akan membuntutinya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Leo. Ketiganya kaget ketika melihat Leo bertemu dengan seorang pria yang sepertinya jahat kemudian mereka berbincang-bincang merencanakan sesuatu. Ketika pria itu pergi, ketiganya langsung menghampiri untuk menanyakan hal itu. Leo kaget atas kehadiran tiga temannya.

"Apa yang kau lakukan dengan pria tadi?" tanya Adam tegas.

"Siapa dia?" lanjut Erick.

"Sebenarnya sekarang aku bekerja padanya. Namanya Tuan Zigurat. Tugasku hanya mengambil flashdisk dari seseorang," jelas Leo.

"Apakah dia orang yang baik?" tanya Nina.

"Dia memang bukan orang baik, tetapi dia bisa memberikan apa yang kuinginkan jika aku berhasil," jawab Leo keras.

"Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu. Kenapa kau seperti ini," ucap Erick.

"Ini urusanku, kalian tidak perlu mencampurinya," ucap Leo kesal.

"Baik, kalau ini yang kau inginkan. Kami tidak akan menghalangimu, silakan kau boleh melakukannya," ucap Nina kecewa.

"Ayo teman-teman, lebih baik kita pulang, tinggalkan saja dia," ucap Adam.

Mereka pun pergi meninggalkan Leo sendirian. Leo hanya diam tak menanggapi apa yang diucapkan ketiga temannya. Setelah itu, Leo langsung pergi mencari Tuan Ravi untuk mengambil sebuah flashdisk. Di sisi lain Nina tiba-tiba tidak ingin berkumpul bersama karena sakit kepala, padahal sebenarnya Nina ingin menghalangi tindakan Leo. Erick dan Adam pun tidak keberatan ditinggal berdua saja.

       Nina tampak berhati-hati sekali dalam membuntuti Leo. Kini Leo telah sampai di sebuah gedung perusahaan elektronik tempat dimana Tuan Ravi bekerja seperti yang Tuan Zigurat katakan. Leo langsung duduk di bangku depan perusahaan sembari menunggu Tuan Ravi keluar, begitu pula dengan Nina yang bersembunyi di sebuah taman kecil samping perusahaan itu sambil memperhatikan gerak-gerik Leo. Lama menunggu, Tuan Ravi pun mucul dari balik pintu sambil membawa tas kecil di tangannya, sepertinya dia akan pulang karena sudah ada mobil yang menunggu di depan. Saat itulah Leo mulai beraksi, dia tahu kalau flashdisk itu ada di dalam tas kecil. Nina pun juga beraksi menghampiri Leo dengan berlari kencang. Dengan sengaja dia menabrakkan diri ke arah Leo yang sudah mendekati Tuan Ravi hingga keduanya terjatuh. Tuan Ravi yang melihat kejadian itu hanya diam kemudian masuk ke mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Leo menjadi kesal karena Nina menggagalkan semuanya.

"Apa yang kau lakukan, Nina! Kenapa kau menggagalkan rencanaku?" bentak Leo.

"Perbuatanmu itu salah. Itu sebabnya aku tidak akan membiarkannya terjadi," jelas Nina

"Sudah kubilang, jangan campuri urusanku," balas Leo.

Nina hanya bisa terdiam mendengar kata-kata itu dari mulut Leo.

"Kali ini aku maafkan, tapi lain kali aku tidak akan memaafkanmu," ucap Leo.

Leo pergi meninggalkan Nina yang hanya berdiam diri. Nina pun akhirnya juga pergi untuk pulang sambil berpikir bingung atas perilaku temannya itu yang sudah berubah. Saat sedang berjalan di gang yang sepi, seseorang muncul dihadapannya, Tuan Zigurat. Tuan Zigurat langsung menekan tubuhnya ke dinding dengan kencang hingga membuat tubuh Nina tertekan.

"Mau apa kau, Zigurat," ucap Nina terseda karena tubuhnya tertekan di dinding.

"Kau tahu kenapa aku menemuimu. Karena kau telah menggagalkan Leo. Tadi aku melihatnya sendiri. Gara-gara kau, rencanaku gagal," ucap Tuan Zigurat marah.

Belum sempat Nina menjawab, Tuan Zigurat memperlihatkan besi berukuran 40 cm dengan ujung yang runcing yang kemudian langsung menusukannya ke perut Nina. Nina tidak bisa melawan karena tenaganya kalah. Walaupun Nina mencoba melawan namun sayang, besi itu menembus tubuhnya sampai ke bagian belakang. Dia pun tewas mengenaskan dengan banyak darah yang berceceran dari tubuhnya hingga dari mulut Nina yang juga memuntahkan darah. Tuan Zigurat yang sudah merasa puas langsung pergi meninggalkan mayatnya begitu saja.

       Leo terbangun dari tidurnya yang sangat memuaskan karena ini adalah hari minggu, dia pun langsung ke kamar mandi untuk mandi. Seusai mandi tiba-tiba ada suara ketukkan pintu, Leo membukanya. Terlihat 2 orang temannya Erick dan Adam dengan napas yang terengah-engah.

"Leo, apa kau sudah tahu kabar tentang Nina?" tanya Adam.

"Memangnya kenapa dengan Nina?" tanya Leo.

"Kemarin Nina ditemukan tewas dengan besi yang menancap di tubuhnya," jelas Erick.

"Dia baru saja dikubur," tambah Adam.

Seketika tubuh Leo kaku ketika mendengarnya. Mereka bertiga langsung menuju ke makam Nina. Leo menangis ketika melihat makam Nina, dia sangat sedih melihatnya.

"Maafkan aku, teman. Ini semua gara-gara aku. Aku yakin pasti Tuan Zigurat yang melakukan ini," ucap Leo menangis.

"Erick, Adam, sekarang aku mohon pada kalian untuk menemui Tuan Ravi di alamat ini. Beritahu dia tentang keberadaan Tuan Zigurat, disitu juga tercantum alamat perusahaan Tuan Zigurat," ucap Leo memerintah sambil memberikan secarik kertas.

"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Erick.

"Aku akan menemui Tuan Zigurat sekarang juga," jawab Leo 

Leo langsung berlari meninggalkan Erick dan Adam untuk menemui Tuan Zigurat. Saat sampai di dalam ruangan pribadi Tuan Zigurat, ternyata dia sudah bersiap diri bersama 30 anak buahnya menunggu kedatangan Leo. Tuan Zigurat sudah mengetahui kalau Leo akan datang menemuinya setelah temannya tewas ditangannya. Tanpa ada kata-kata yang mucul dari mulutnya, Leo langsung memberontak melawan anak buahnya. Leo berhasil membuat 13 orang tak sadarkan diri, namun tenaganya mulai terkuras sehingga dia tidak mampu melawan sisanya yang masih 17 orang. Tiba-tiba Erick dan Adam muncul, pertarungan pun berhenti sejenak. Leo tersenyum dengan tubuh yang sudah lemas penuh luka darah, kemudian berjalan menghampiri kedua temannya, tapi sayang, Tuan Zigurat melepaskan peluru dari pistolnya ke arah belakang tubuh Leo hingga tewas. Melihat kejadian itu membuat Erick dan Adam marah dan memberontak kemudian anak buah Tuan Zigurat juga melawan. 

       Dalam pertarungan itu, keduanya bisa mengalahkan 17 anak buahnya hingga tak sadarkan diri bahkan ada beberapa yang tewas. Tuan Zigurat kaget tidak percaya, kemudian dia menodongkan pistolnya ke arah keduanya.

"Jangan mendekat atau kalian kutembak!" perintah Tuan Zigurat

Erick dan Adam mengikuti apa yang dikatakan Tuan Zigurat untuk diam di tempat.

"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Adam lirih.

"Kita ikuti saja perintahnya, sebentar lagi Tuan Ravi pasti datang bersama polisi," jawab Erick tenang.

Sebelumnya Erick dan Adam menemui Tuan Ravi untuk memberitahukan tentang Tuan Zigurat sesuai dengan perintah Leo. Mereka membuat rencana besar.

"Kalian tidak bisa apa-apa lagi sekarang, hahaha...," Tuan Zigurat merasa berkuasa.

Tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu, Tuan Ravi bersama sekawanan polisi yang langsung mengepung Tuan Zigurat. Tuan Zigurat mencoba kabur tetapi polisi menembakkan peluru ke arah kakinya, Tuan Zigurat pun terjatuh. Kini polisi berhasil menangkapnya untuk disidangkan dengan membawa bukti dari Tuan Ravi melalui flashdisk.

"Terima kasih atas kerjasama kalian berdua," ucap Tuan Ravi.

"Kami yang seharusnya berterima kasih kepada," jawab Erick.

       Keesokannya, mayat Leo dikubur di pemakaman yang sama dengan Nina, dia dikubur di samping makam Nina. Proses pemakaman penuh isak tangis dari keluarga Leo serta kedua sahabatnya, Erick dan Adam. Setelah semuanya selesai Erick dan Adam masih di tempat.

"Maafkan kami, Leo. Kami datang terlambat kemarin," ucap Adam sedih.

"Kami berjanji akan selalu mengingatmu dan juga Nina," tambah Erick.

"Leo, Nina, kalian adalah sahabat sejati kami," ucap Erick dan Adam bersama.

Keduanya pun meninggalkan tempat itu, tempat peristirahatan kedua sahabat mereka, Leo dan Nina.

******TAMAT******

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar