Jumat, 11 Desember 2015

[CERPEN] Hitori Kakurenbo

HITORI KAKURENBO

Oleh

DANKIN

       Bel sekolah berbunyi tanda waktu pulang tiba. Segerombolan siswa mulai berhamburan keluar dengan semangatnya. Cuaca di siang hari ini memang sangat cerah, tetapi juga panas, sehingga membuat siapapun ingin beristirahat dengan tenang. Dari depan pintu gerbang sekolah, terlihat dua orang sedang berjalan bersama yaitu Liana, seorang gadis cantik dengan wajah bulat yang menggemaskan, berkulit cerah serta rambutnya yang lebat terurai. Dia sedang berjalan dengan seorang teman laki-lakinya yang bernama Endou Takezu yang merupakan orang dari Jepang. Endou memiliki wajah seperti orang Jepang pada umumnya, dia sudah lama tinggal di Indonesia kurang lebih 10 tahun lamanya. Jadi, dia sudah sangat fasih dalam berbicara dengan Bahasa Indonesia.
       
       Saat sedang berjalan bersama, Endou mengajak Liana untuk bermain permainan aneh yang berhubungan dengan hantu. Liana yang sejak kecil menyukai hal-hal berbau horor merasa senang dengan ajakan Endou.

"Aku tahu permainan apa yang akan kita mainkan nanti," kata Endou.

"Memangnya permainan apa?" tanya Liana penasaran.

"Kita akan bermain Hitori Kakurenbo," jawab Endou.

"Aku memang pernah mendengar permainan itu, sepertinya menyenangkan," ucap Lina senang.

"Tentu saja menyenangkan, tetapi juga menegangkan, karena aku pernah bermain sekali saat masih berada di Jepang 10 tahun silam ketika umurku 9 tahun," ucap Endou.

"Begitukah?" jawab Liana singkat.

Sambil berjalan mereka terus membicarakan tentang Hitori Kakurenbo. Seperti yang sudah banyak orang ketahui, Hitori Kakurenbo adalah suatu permainan petak umpet dari Jepang. Bedanya, dalam permainan ini kita akan melibatkan arwah atau roh hantu yang berkeliaran melalui media boneka. Jika di Indonesia, permainan yang menyerupai adalah permainan Jelangkung.

      Ketika sampai di depan rumah, mereka langsung menuju ke rumah masing-masing yang memang sejak lama menjadi tetangga sebelah.

"Setelah berganti pakaian dan makan siang, aku akan datang untuk permainan itu," ucap Liana.

"Aku tunggu kedatanganmu," jawab Endou senang.

Selesai Liana berganti pakaian dan makan siang, dia langsung saja ke rumah Endou untuk melakukan permainan itu.

"Apakah sedang sepi?" tanya Liana penasaran.

"Memang momen ini yang aku tunggu. Menurut cerita, saat kita sedang bermain Hitori Kakurenbo, keadaan rumah harus sepi dan dikunci rapat-rapat," jelasnya.

"Apa yang terjadi kalau ada orang lain dalam rumah," tanya Liana semakin penasaran.

"Orang tersebut akan celaka, itu yang aku tahu," jawab Endou.

"Begitu," ucap Liana datar.

"Ayo kita mulai ke permainan," ucap Endou.

       Tibalah mereka di sebuah kamar mandi dengan beberapa alat untuk bermain Hitori Kakurenbo, seperti, boneka berbentuk manusia dengan perut yang berisi busa, beras, jarum jahit, benang merah, pisau dan gelas yang berisi air garam. Mereka langsung memulai, pertama mereka membelah perut boneka dengan pisau kemudian isi dari perut itu dikeluarkan dan diganti dengan beras yang sudah dipersiapkan.

"Kita masih membutuhkan satu lagi," ucap Endou.

"Apa itu?" tanya Liana.

"Setetes darah dari tangan kita masing-masing," jawab Endou.

Liana hanya mengangguk, kemudian keduanya menusuk jari mereka hingga mengeluarkan darah untuk diteteskan ke beras yang sudah terisi di perut boneka. Setelah itu perut boneka dijahit dengan benang berwarna merah.

"Apa warna benangnya harus merah?" tanya Liana.

"Tentu saja, karena warna merah melambangkan aliran darah pada boneka ini supaya seperti hidup," jelas Endou.

Boneka yang telah siap kemudian diletakkan di sebelah bak kecil berisi air yang sudah disiapkan Endou sebelumnya.

"Apa kau sudah siap Liana?" tanya Endou.

"Semoga saja siap," jawab Liana ragu.

"Kalau kau siap, sekarang kita harus memberikan nama pada boneka ini," kata Endou.

"Bagaimana kalau namanya Rika, seperti nama orang Jepang," Liana memberi saran.

"Baik, kita beri nama Rika," jawab Endou setuju.

"Sebelumnya aku jelaskan dulu peraturannya, pada permainan pertama ini kita seolah-olah akan berjaga terlebih dahulu sambil menghitung selama 10 detik kemudian kita temui Rika di tempat ini dan menusuk perutnya dengan pisau," jelas Endou.

Permainan pun dimulai, pertama Endou dan Liana berjaga terlebih dahulu untuk menemukan keberadaan boneka Rika.

"Endou dan Liana berjaga, Rika yang bersembunyi," ucap Endou hingga 3 kali.

Pertama Endou mematikan seluruh lampu terkecuali kamar mandi dan menyalakan televisi ke saluran statis, kemudian keduanya langsung bergegas ke suatu tempat seolah-olah mereka sedang berjaga dan menghitung selama 10 detik kemudian mereka langsung menuju ke kamar mandi untuk menemukan boneka Rika dan menusuk perutnya dengan pisau.

"Endou dan Liana menemukan Rika," ucap Endou 3 kali kemudian pisau itu diletakkan di sebelah boneka Rika.

"Berikutnya kita yang akan bersembunyi, tetapi apapun alasannya kita tidak boleh menengok ke belakang. Jika kita ingin mengakhiri permainan ini maka kita harus menenggak air garam ini ke mulut tanpa harus ditelan kemudian mencari boneka Rika untuk memuntahkannya, kau mengerti?" jelas Endou panjang.

"Aku mengerti," jawab Liana.

"Bagus," kata Endou.

Mereka bersiap-siap melanjutkan permainan dengan perasaan yang tegang.

"Endou dan Liana bersembunyi, Rika yang jaga" ucap Endou 3 kali

Kemudian mereka langsung lari ke suatu tempat yaitu sebuah lemari besar sambil membawa gelas berisi air garam. Keadaan rumah masih gelap dengan saluran televisi yang masih menyala.

"Sekarang kita tunggu apa yang akan terjadi," ucap Endou.

Sekitar 5 menit belum ada tanda-tanda keberadaan boneka Rika, akhirnya mereka mendengar suara langkah kecil. Dari dalam lemari, keduanya terus melihat keadaan di luar melalui pintu lemari yang sedikit terbuka.

"Sepertinya kita akan melihatnya," ucap Endou.

"Maksudmu melihat Rika mencari kita?" tanya Liana.

"Tentu saja," jawab Endou santai.

      Suasana semakin menegangkan ketika keduanya merasa kepanasan di dalam lemari karena menunggu lama.

"Aku ingin ke tempat lain saja," ucap Liana mencoba keluar.

"Jangan sekarang," kata Endou sambil menarik tangan Liana.

"Lihat itu," Liana kaget ketika melihat boneka Rika yang sedang berjalan sambil memegang pisau yang sebelumnya diletakkan disebelah boneka Rika saat di kamar mandi.

Seketika keduanya terdiam kaku dengan napas yang terengah-engah sambil berharap boneka itu tidak menemukan keduanya.

"Bagaimana ini, aku takut sekali. Bagaimana kalau dia menemukan kita?" ucap Liana ketakutan.

"Satu hal yang terpenting adalah kita harus tetap dalam keadaan tenang," jawab Endou menenangkan yang dibalas dengan anggukkan Liana.

Keadaan semakin menegangkan ketika suara saluran televisi mulai berubah-ubah dan langkah boneka Rika terus berjalan menyusuri setiap tempat di rumah itu untuk mencari seseorang yang tak lain adalah Endou dan Liana.

"Sebaiknya kita akhiri permainan ini," ucap Endou.

"Itu lebih baik," jawab Liana lega.

Keduanya langsung menenggak air garam itu tanpa menelan, kemudian berusaha mencari boneka Rika, mula-mula mereka ke tempat awal boneka Rika di kamar mandi ternyata tidak ada, kemudian mereka terus mencarinya dengan mulut yang masih berisi air garam. Keduanya melihat boneka Rika ternyata sedang di depan televisi namun tidak bergerak dan pisau itu berada disampingnya, air garam yang berada dimulut langsung dimuntahkan ke boneka Rika.

"Endou dan Liana menang," ucap Endou 3 kali.

Sambil menunggu boneka Rika kering keduanya mempersiapkan wadah besar sebagai tempat pembakaran boneka Rika. Tetapi, sebelumnya benang merah dan beras yang masih berada di boneka itu dibuang untuk menghilangkan arwah yang masih berada di dalam boneka Rika. Setelah boneka kering, langsung ditempatkan di sebuah wadah kemudian disiram dengan bensin dan dibakar hingga menjadi abu.

       Pengalaman ini adalah yang kedua kalinya bagi Endou, namun ini menjadi yang pertama kalinya bagi Liana. Keduanya senang bisa bermain sampai selesai tanpa ada yang terluka. Setelah melakukan permainan ini, keduanya sering melakukannya ketika salah satu rumah dari mereka sedang sepi. Hingga akhirnya, mereka menjadi sepasang kekasih dan dikenal oleh teman sekolah mereka dengan julukan "Pasangan Mistis".

 *****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar