Rabu, 16 Desember 2015

[CERPEN] Suara Hujan

SUARA HUJAN

Oleh :

DANKIN

       Derasnya hujan yang sedang membasahi kota seakan membuat perasaan menjadi tenang karena suara gemerincingnya. Semua orang berbondong-bondong mencari tempat untuk berteduh tak terkecuali seorang siswa bernama Jordy yang baru saja pulang sekolah. Jordy lari terbirit-birit mencari tempat untuk berteduh sampai akhirnya dia berteduh di depan sebuah minimarket. Siang ini, hujannya begitu deras. Mungkin karena musim hujan telah tiba akhir-akhir ini. Di depan minimarket tersebut, penuh orang-orang yang sedang berteduh dengan posisi yang saling berjejeran sembari menunggu hujan reda dengan kesibukkan masing-masing. Jordy terlihat kedinginan sambil terus memandang ke depan jalan melihat kendaraan yang lalu lalang melintas.

       Ketika tekanan hujan mulai menurun, terlihat sosok seorang gadis di seberang jalan yang sedang berteduh di depan sebuah toko buku walaupun wajah gadis itu masih terlihat samar tertutup hujan yang terus turun membasahi kota. Jordy terlihat sedang memikirkan sesuatu dan ternyata yang ia pikirkan adalah gadis yang berada di depan toko buku tersebut.

"Bukankah dia salah satu murid di sekolahku. Tetapi siapa?" batin Jordy mulai bertanya-tanya.

Pikiran itu terus muncul hingga Jordy teringat bahwa gadis tersebut adalah adik kelasnya namun dirinya tidak tahu namanya.

       Hujan yang awalnya deras kini mulai reda setelah kurang lebih 2 jam mengguyur kota. Saat itu pula, gadis di depan toko buku tersebut mulai menghilang entah kemana.

"Kemana dia? Kenapa aku tidak serius memperhatikannya?" batin Jordy kesal.

Jordy merasa menyesal tidak memperhatikan gadis. Ia tak tahu kemana gadis itu pergi. Ia pun memutuskan untuk pulang.

       Di pagi hari yang menyejukan seperti ini, pikiran Jordy terus dibayang-bayangi oleh keingintahuannya terhadap gadis yang ia lihat kemarin. Entah sebuah keberuntungan ataukah takdir, ketika sedang berjalan menuju sekolah Jordy melihat gadis tersebut sedang berjalan sendirian menuju sekolah. Dengan cepat, Jordy menghampiri gadis itu. Kini keduanya berjalan dengan posisi yang saling bersebelahan.

"Kau pasti yang kemarin berteduh di depan toko buku. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Jordy membuka pembicaraan.

Gadis itu hanya tersenyum malu mendengar ucapan tersebut. Tetapi Jordy terus menanyakannya lagi hingga gadis itu menjawab.

"Namaku Feby, kak," jawabnya singkat.

"Kau dari kelas mana?" Jordy kembali bertanya.

"Kelas 7A," jawab Feby singkat.

"Perkenalkan, aku Jordy dari kelas 9E. Salam kenal," sahut Jordy memperkenalkan diri.


Setelah itu, mereka terus berjalan bersama menuju sekolah tanpa ada lagi ucapan yang terlontar. Hingga berada di gerbang sekolah, keduanya hanya terdiam seakan tidak ada siapa-siapa. Mereka pun berpisah untuk menuju kelas masing-masing.

"Sampai jumpa lagi," ucap Jordy sambil melambaikan tangan yang dibalas oleh senyuman Feby yang manis.

       Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa mulai terlihat berhamburan keluar. Jordy terlihat berjalan dengan santainya padahal cuaca hari ini sangat mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan yang deras sama seperti kemarin. Benar saja, baru sebentar Jordy berjalan, hujan deras mulai mengguyur kota siang ini. Jordy langsung lari mencari tempat berteduh, dia pun berteduh di sebuah toko buku yang berada di seberang minimarket yang kemarin. Dia terkejut ketika melihat Feby yang juga sedang berteduh di toko buku tersebut.

"Ehhh...kita bertemu lagi," ucap Jordy tersenyum.

Hanya itu saja kata-kata yang terucap, selebihnya mereka berdua hanya duduk terdiam memandangi derasnya hujan. Antara perasaan gugup atau malu, keduanya tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun meski ada keinginan untuk berbicara. Gemerincing suara hujan seakan menjadi penghibur keduanya dari kesunyian. Setelah hujan reda, Feby langsung pergi meninggalkan Jordy sendirian yang sedang asyik membaca buku. Karena asyiknya, dia sampai tidak sadar kalau Feby yang awalnya berada disampingnya kini sudah tidak terlihat. Namun, Feby tidak sengaja meninggalkan sebuah buku catatan berwarna merah muda di tempat itu, Jordy pun mengambilnya dan mulai membuka halaman demi halaman. Alangkah terkejutnya dia ketika membaca buku catatan tersebut yang isinya adalah tentang dirinya. Dia baru tahu kalau sebenarnya Feby sudah lama menyukainya ketika baru masuk sekolah. Jordy hanya tersenyum memandangi buku tersebut. Dalam hatinya, dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Feby sejak melihatnya di tempat ini, bahkan suara hujan yang deras menjadi saksi atas perasaannya tersebut. Jordy pun pulang karena hujan telah reda dengan perasaan senang setelah mengetahui semua tentang Feby.

      Sampailah Jordy di rumah, dia langsung mengganti pakaiannya kemudian melanjutkan membaca buku catatan milik Feby. Dia hanya tersenyum, antara senang bercampur bahagia, dia merasa bahwa Feby ini sebenarnya anak yang lucu namun sangat pemalu. Dia ingin sekali mengungkapkan perasaan hatinya pada Feby agar dia tahu bahwa Jordy juga memiliki perasaan yang sama dengan Feby. Pikiran itu terus membayangi Jordy hingga malam hari bahkan sampai terbawa mimpi.

       Keesokan harinya, Jordy sangat bersemangat ketika akan pergi ke sekolah. Matahari yang menyinari dunia juga terlihat tersenyum pada Jordy di pagi hari ini seakan memberi sebuah semangat untuk bertemu Feby. Hari ini, dia tidak lupa membawa buku catatan milik Feby untuk dikembalikan padanya. Tak sabar baginya untuk bertemu Feby dan mengatakan tentang isi bukunya.

       Hari ini, ternyata Jordy masih diberi sebuah keberuntungan. Dia bertemu Feby di depan gerbang sekolah.

"Hai, Feby. Aku ingin mengembalikan buku milikmu yang tertinggal di depan toko buku kemarin," ucap Jordy tiba-tiba.

"Terima kasih, kak. Untung saja buku ini tidak hilang. Buku ini sangat berarti bagiku," sahut Feby.

"Maaf, kalau kemarin aku membaca isi buku tersebut. Sekali lagi maaf kalau aku lancang membacanya," ucap Jordy lagi.

"Jadi, kakak sudah mengetahui semuanya," tanya Feby terkejut.

"Kira-kira begitulah," jawab Jordy santai.

"Maaf, kak. Kalau aku menyukai kakak tetapi aku menyembunyikan perasaan ini. Aku malu mengatakan yang sejujurnya. Saat aku bertemu kakak dan tiba-tiba mengajakku bicara, aku tidak bisa banyak berkata karena aku sangat gugup saat bersebelahan dengan kakak," jelas Feby.

"Kalau boleh jujur aku juga sangat menyukaimu," ucap Jordy.

"Apa yang tadi kakak katakan?" Feby terkejut.

"Aku juga menyukaimu, aku mau kau menjadi kekasihku," ucap Jordy jelas.

Feby mengangguk dan tersipu malu saat mendengarnya. Tiba-tiba Jordy memeluk erat tubuh Feby, kini tubuh Feby berada di pelukan Jordy.

"Berarti mulai detik ini, kita resmi jadi pasangan kekasih," ucap Jordy yang disambut senyuman Feby.

Hari ini keduanya resmi menjadi pasangan kekasih, baik Jordy maupun Feby keduanya merasa bahagia. Setelah berpelukkan, keduanya berpisah menuju kelas masing-masing.

"Kutunggu pulang sekolah nanti," ucap Jordy.

"Ya," angguk Feby senang.

       Jordy dan Feby pulang bersama siang ini, cuacanya tetap sama seperti kemarin dengan awan gelap yang menjatuhkan rintikkan air hujan. Keduanya berlari bersama mencari tempat berteduh ketika hujan mulai turun. Yang menjadi aneh adalah mereka berteduh di depan toko buku yang sama dengan kemarin.

"Sepertinya takdir memang menyatukan kita," ucap Jordy.

"Maksudnya?" sahut Feby.

"Tempat ini sama seperti kemarin kita berteduh, mungkin tempat inilah saksi dari perasaan kita," jawab Jordy.

Feby tertegun mendengarnya, dia pun langsung bersender ke pundak Jordy sambil memeluknya, menikmati dinginnya hujan. Toko buku dan gemerincing suara hujan kini menjadi saksi bahwa keduanya telah menjadi sepasang kekasih setelah sebelumnya dipertemukan di tempat ini juga.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar