BROKEN HOME
Oleh :
DANKIN
Cerita berawal ketika suatu hari Pak Ikhsan berusaha merebut semua perhiasan milik Bu Nila dengan paksa, tetapi Robby dan Nina datang untuk menghalanginya. Namun, usaha itu hanya sia-sia karena Pak Ikhsan berhasil merebut perhiasan dari Bu Nila kemudian mendorong keduanya hingga terjatuh dan pergi untuk berjudi dengan membawa perhiasan itu. Robby dan Nina kemudian mencoba menenangkan sang ibu.
"Sabar, bu. Biarkan saja ayah mengambil perhiasan ibu," Robby mencoba menenangkan ibunya.
"Ya, bu. Dia juga pasti akan sadar suatu hari nanti," diikuti dengan Nina.
"Kalian tidak usah peduli dengan ibu, lagipula ini urusan orangtua. Kalian tidak boleh ikut campur," ibu seakan tidak peduli dengan perkataan mereka kemudian kembali ke dapur.
Tiba-tiba Afik dan Ana datang memarahi Robby dan Nina karena mereka terlalu mencampuri urusan orangtua.
"Kalian ini. Kenapa kalian selalu peduli masalah orangtua kita," ucap Ana dengan nada seakan marah.
"Percuma saja kita berbuat baik dengan orangtua kita. Lagipula mereka juga tidak akan peduli dengan kita, paham!!!" Afik juga memarahi dengan suaranya yang sangat keras.
Robby dan Nina hanya bisa terdiam dan bersabar dengan apa yang Afik katakan.
Malam hari tiba, Pak Ikhsan pulang dalam keadaan mabuk berat sambil membawa botol minuman keras yang masih dipegang. Dia pun mengetuk pintu dengan keras sambil membentak. Pintu terbuka, ternyata Bu Nila yang membukakan pintunya karena sejak tadi menunggu Pak Ikhsan pulang. Bu Nila langsung marah-marah.
"Manusia macam apa kau, malam-malam begini baru pulang dalam keadaan mabuk!!!" ucap Bu Nila kesal.
"Jangan menghalangi jalanku. Cepat menyingkir!!!" jawab Pak Ikhsan yang masih mabuk dengan suara keras sehingga membuat keempat anak mereka terbangun.
Afik dan Ana keluar kamar dan membentak kedua orangtuanya karena sudah mengganggu tidur mereka kemudian kembali ke kamarnya. Di sisi lain, Robby dan Nina juga keluar untuk menetralkan orangtua mereka.
Tanpa pikir panjang, Pak Ikhsan langsung menyerobot masuk tanpa mempedulikan Bu Nila serta Robby dan Nina yang berada di hadapannya. Bu Nila hanya bisa pasrah atas kelakuan suaminya itu, ia pun pergi ke kamar untuk tidur. Robby dan Nina juga kembali ke kamar.
Pagi harinya Afik dan Ana yang hendak bersekolah tiba-tiba membentak pintu kamar ibunya yang masih tertidur karena tidak menyediakan makanan, tetapi sang ibu seolah tak mendengarkan mereka. Afik dan Ana menghampiri ayah mereka, Pak Ikhsan, untuk meminta uang saku, namun Pak Ikhsan juga membentak seakan tak peduli dengan mereka yang kemudian melanjutkan tidurnya. Afik ternyata memiliki ide, ia tahu kalau Robby dan Nina memiliki uang simpanan. Dia pun mengajak Ana untuk meminta uang Robby dan Nina secara paksa. Mereka menghampirinya.
"Aku tahu kalau kalian punya cukup banyak uang simpanan kan? Ayo berikan uang itu pada kami!" tanya Afik memaksa.
"Ya. Cepat berikan semuanya!" Ana mengikuti.
Mereka akhirnya merebut dengan paksa semua uang yang telah dikumpulkan Robby dan Nina sejak lama. Mereka tidak bisa melawan karena Afik dan Ana adalah kakak mereka.
"Jangan ambil semua, kak. Itu uang kami. Kami sudah mengumpulkannya sejak lama, tolong jangan ambil semua," Nina mencoba memohon.
Afik dan Ana tidak peduli kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Robby mencoba menenangkan Nina supaya bisa mengikhlaskan semuanya.
Hari sudah siang, Robby dan Nina pulang sekolah bersama seperti biasanya. Mereka kaget ketika melihat kedua orangtuanya bertengkar. Secara refleks mereka berdua langsung menetralkan kedua orangtuanya. Pak Ikhsan pun pergi untuk berjudi sedangkan Bu Nila membentak keduanya.
"Lagi-lagi kalian berdua selalu mencampuri kami. Apa yang kalian inginkan," ucap Bu Nila kesal.
Belum sempat keduanya manjawab, Bu Nila langsung masuk ke rumah. Robby dan Nina hanya bisa terdiam kemudian masuk ke rumah untuk berganti pakaian.
Beberapa saat kemudian, Afik dan Ana pulang ke rumah dan langsung menuju ke kamar untuk merencanakan sesuatu yaitu membunuh Robby.
"Ana, lebih baik kita bunuh salah satu dari mereka. Bagaimana?" Afik bertanya.
"Baiklah, kita bunuh saja Robby," Ana berpendapat.
"Setuju, besok pagi kita ajak dia ke puncak gunung kemudian kita susun rencananya," Afik menyetujuinya.
"Ide bagus. Aku sangat setuju, kak," Ana juga setuju.
Afik dan Ana kemudian menghampiri Robby ntuk mengajak pergi ke puncak gunung besok pagi tanpa Nina, tepatnya hari minggu, tapi Nina menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Dengan senang, Robby langsung mengucapkan kata "ya".
Hari yang telah ditunggu-tunggu tiba, pagi-pagi sekali Afik, Ana dan Robby sudah siap untuk pergi tanpa sepengetahuan orangtua mereka yang selalu memikirkan diri sendiri. Tiba-tiba Nina menghampiri Robby untuk mengatakan sesuatu.
"Sebaiknya kakak jangan mengikuti ajakkan mereka. Aku merasa curiga dengan mereka, kak," ucap Nina memohon.
"Nina, percayalah dengan kakak. Kakak yakin kalau Kak Afik dan Kak Ana tidak akan berbuat jahat pada kakak," kata Robby mencoba menenangkan.
"Ya, sudah, kak. Kalau itu memang keinginan kakak, aku tidak akan menghalangi," jawab Nina membolehkan.
Akhirnya mereka bertiga memulai perjalanan ke puncak gunung, tetapi secara diam-diam Nina mengikuti mereka dari belakang karena masih curiga dengan Afik dan Ana.
Mereka bertiga tiba di puncak gunung tepat pukul 10 siang, perjalanan yang cukup melelahkan bagi mereka.
Mereka bermain, bersantai dan bersenda gurau dengan senang. Rencana mulai berjalan, saat ketiganya sedang berfoto bersama, Afik dan Ana berencana mendorong Robby ke jurang, tetapi Nina yang mengikutinya dari belakang hingga mencapai puncak gunung dengan melelahkan merasa curiga. Dia pun berlari tanpa diketahui untuk menggagalkan rencana mereka, dan apa yang terjadi? Ternyata saat Nina mencoba menyelamatkan Robby, Ana yang merasa kaget terdorong jatuh ke jurang. Melihat kejadian itu, Afik langsung marah dan menarik Nina untuk dilemparkan ke jurang, Robby secara refleks melawan kakaknya dari belakang. Afik pun terdorong hingga terjatuh ke jurang seakan menjemput adiknya, Ana, untuk mati bersama.
"Bagaimana ini, kak. Apa yang sudah kita lakukan," Nina merasa ketakutan.
"Kita harus tenang, ini bukan salah kita. Lagipula kita hanya mencoba menyelamatkan diri, jadi kakak mohon kau tenang," Robby mencoba menenangkan sang adik.
Hari berlalu, Pak Ikhsan merasa heran karena Afik dan Ana tidak ada di rumah sejak kemarin, kemudian dia bertanya pada istrinya, Bu Nila.
"Bu, dimana Afik dan Ana? Mereka sepertinya tidak ada di rumah sejak kemarin," tanyanya.
"Mungkin saja mereka kabur dari rumah. Biarkan saja mereka pergi entah kemana, mereka sudah besar," jawab Bu Nila seperti tidak peduli dengan kedua anaknya.
Tidak ada yang tahu tentang kematian Afik dan Ana karena Robby dan Nina tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tepat pukul 5 sore Pak Ikhsan berusaha mencari sertifikat rumah untuk dijadikan taruhan judi, dia akhirnya menemukannya tanpa ada yang mengetahui. Kemudian seperti biasa dia pergi untuk berjudi. Pak Ikhsan ternyata kalah dalam perjudian tersebut sehingga saat pulang dia menyuruh seluruh anggota keluarganya harus angkat kaki dari rumah termasuk dirinya. Bu Nila menjadi kesal atas kelakuan Pak Ikhsan sehingga mereka memutuskan untuk berpisah.
"Kalian berdua mau ikut siapa?" tanya Bu Nila pada kedua anak mereka.
Ternyata Robby dan Nina lebih memilih untuk ikut pada ibu mereka karena ayahnya adalah penyebab mereka harus angkat kaki dari rumah.
"Ya, sudah. Kalau kalian ikut ibu, sekarang kalian bawa semua barang ibu, mengerti!!!" perintah Bu Nila.
"Baik, bu," jawab Robby dan Nina serentak.
Mereka bertiga pergi entah kemana dan meninggalkan Pak Ikhsan sendirian. Benar-benar menjadi keluarga yang hancur.
Di jalan mereka bertika bertemu dengan seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun yang langsung memperkenalkan diri, ia bernama Pak Oto. Ia kemudian bertanya apa yang terjadi pada mereka.
"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Pak Oto.
"Kami baru saja kehilangan rumah karena suamiku kalah dalam perjudian," jelas Bu Nila dengan jujur.
"Kalau begitu kalian bisa tinggal di rumahku. Aku hanya hidup sendiri," Pak Oto menawarkan bantuan.
Bu Nila langsung mengangguk, kemudian mereka menuju ke rumah Pak Oto yang ternyata besar dan mewah, mereka pun beristirahat.
Satu minggu berlalu, Pak Oto yang ternyata sejak awal menyukai Bu Nila berencana meminangnya sebagai istri sekaligus menerima Robby dan Nija menjadi anaknya. Tibalah saatnya Pak Oto untuk menyampaikan perasaan pada Bu Nila.
"Bu Nila?" tanyanya dengan gugup.
"Ya, pak, ada apa?" jawab Bu Nila dengan polosnya.
"Aku....," tiba-tiba ucapanya berhenti.
"Kenapa, pak?" Bu Nila kebingungan.
"Aku sudah lama menyukaimu, bolehkah aku meminangmu sebagai istri?" ucap Pak Oto dengan suara gemetar.
"Apa kau serius?" tanya Bu Nila yang semakin kebingungan.
"Aku serius, apa Bu Nila bersedia?" jelasnya.
"Kalau begitu aku bersedia menjadi istri Pak Oto," jawab Bu Nila malu.
Pak Oto merasa senang dengan jawaban yang diberikan Bu Nila. Beberapa hari kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Pernikahan mereka ternyata dikaruniai 2 orang anak perempuan yang bernama Ara dan Asih, mereka berdua memiliki kepribadian yang berbeda. Ara memiliki kepribadian yang cenderung suka marah-marah, pemalas dan egois, sedangkan Asih memiliki kepribadian yang sangat sabar, rajin, dan sopan.
Waktu berjalan begitu cepat, sudah 10 tahun Bu Nila dan Pak Oto menikah. Semakin hari Pak Oto mulai berubah sikap, sekarang ia menjadi lebih kasar terhadap istrinya, Bu Nila. Sampai suatu hari, saat rumah sedang sepi, mereka berdua bertengkar hebat di lantai atas hingga terjadi aksi kekerasan namun pada akhirnya mereka berdua terjatuh bersama. Keempat anaknya yang baru saja pergi jalan-jalan langsung panik saat mengetahui kalau kedua orangtua mereka berceceran darah, kemudian membawa orangtua mereka ke rumah sakit. Namun sayang, keduanya sudah tidak bernapas akibat pendarahan yang hebat. Harta warisan Pak Oto kini jatuh ke tangan Robby karena dia anak tertua dari keempat anaknya.
Sepuluh tahun berlalu, Ara yang sudah mulai beranjak dewasa yaitu 19 tahun baru mengetahui kalau kedua kakaknya, Robby dan Nina adalah kakak tirinya. Ara pun merencanakan untuk mengambil alih harta warisan dari ayahnya, Pak Oto yang sudah meninggal. Dalam waktu kurang dari seminggu Ara berhasil melakukannya dan ia mengusir semuanya termasuk adik kandungnya, Asih yang kini berumur 13 tahun. Robby, Nina dan Asih hanya bisa pasrah menjalani kehidupan selanjutnya.
Robby dan Nina yang sudah sangat dewasa harus bekerja keras untuk bisa menyambung hidup mereka serta membiayai adik mereka, Asih yang masih duduk di bangku sekolah menengah. Lama waktu berjalan, Robby dan Nina yang bekerja sebagai penjual roti bakar, kini mulai sukses hingga memiliki banyak cabang di beberapa tempat serta memiliki tempat tinggal sendiri yang nyaman walau tidak sebesar rumah mereka yang dulu. Saat Robby hendak pergi membeli bahan untuk membuat roti bakar, tiba-tiba dia bertemu dengan Ara yang keadaannya sangat memprihatinkan. Robby menghampiri untuk membawanya ke rumah, tanpa menunggu lama ia menggendong Ara ke dalam mobilnya.
Sesampainya di rumah Ara langsung dibawa ke dalam rumah, Nina dan Asih terkejut saat melihat Ara yang sangat buruk.
"Kak Ara," ucap Asih terkejut.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Nina.
"Sebenarnya aku sudah ditipu oleh teman-temanku hingga aku tidak punya harta lagi. Jadi sekarang aku menjadi orang yang tidak berguna. Maafkan semua yang telah aku lakukan ke kalian waktu dulu, aku sangat menyesalinya," Ara menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya dan meminta maaf.
"Sudahlah, Ara. Kami semua sudah memaafkanmu jauh-jauh hari," jawab Robby.
"Terima kasih semua. Ternyata kalian sangat mulia," ucap Ara.
Ketiganya kemudian memohon pada Ara agar mau tinggal bersama mereka dan menjadi sebuah keluarga seperti dulu lagi. Ara mengangguk. Akhirnya Robby, Nina, Ara dan Asih hidup bersama menjadi sebuah keluarga yang bahagia.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Email : dandymathematics@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar