AKU MENCINTAIMU
Oleh :
DANKIN
Pagi ini seperti biasa aku menjalankan aktivitas yaitu berangkat ke sekolah walaupun dengan perasaan yang tidak tenang karena selalu dihantui oleh Yudha cs yang selalu membullyku di kelas. Aku memang tidak berani melawan karena mereka berjumlah 5 orang. Aku juga sempat berpikir bahwa ini semua mirip seperti apa yang pernah aku lakukan semasa sekolah dasar ketika aku dan temanku selalu membully seseorang di kelas. Dibalik semua itu, aku merasa senang karena ada 2 orang sahabatku, Lidya dan Rifki yang selalu menghiburku di saat aku sedih. Mereka seperti saudara kandungku.
"Tenanglah, Dino, disini masih ada kami yang selalu siap membantumu kalau ada masalah," ucap Rifki menghiburku.
"Ya, benar. Kita ini sahabat, jadi sudah sepantasnya saling membantu ketika diantara kita mempunyai masalah," jelas Lidya.
"Terima kasih, kalian selalu ada saat aku sedang ada masalah," jawabku senang.
Suatu hari Rifki memutuskan untuk pindah sekolah ke luar kota karena pekerjaan orangtuanya. Tetapi sebelum keberangkatan, aku dan Lidya sempat bertemu untuk salam perpisahan.
"Rifki, semoga disana kau senang dan tidak melupakan kami berdua," ucapku merasa sedih.
"Tentu saja aku tidak akan melupakan kalian berdua. Terima kasih sudah sempat kemari," jawab Rifki senang.
"Sama-sama. Kami pasti akan merindukanmu, Rifki," jawab Lidya.
Belum lama kami bicara, orangtua Rifki memanggilnya untuk segera naik ke mobil karena mereka segera jalan.
"Terima kasih semuanya. Sampai jumpa," ucap Rifki.
"Hati-hati di jalan," balas Lidya.
"Jangan lupa jaga kesehatan juga," sahutku.
Akhirnya Rifki beserta orangtuanya pergi meninggalkan kami berdua. Jadi sekarang hanya ada Lidya yang bisa menghiburku disini. Dia bagaikan peri kecil yang selalu menemaniku kemana pun aku pergi. Saat mobil Rifki sudah tidak terlihat, aku langsung memandangi wajah Lidya yang sedang tersenyum manis, dalam hati aku berkata "Oh Tuhan, dia sangat cantik", diapun menoleh padaku namun aku langsung membuang wajah karena kaget.
Seperti hari-hari biasanya, aku jarang sekali berangkat ke sekolah karena aku merasa takut jika dibully lagi oleh Yudha cs. Tetapi seperti biasanya Lidya selalu menghampiriku sebelum berangkat ke sekolah untuk mengajakku berangkat ke sekolah.
"Hari ini apa kau tidak berangkat sekolah lagi?" tanyanya.
"Hmmm...bukannya aku tidak mau berangkat sekolah. Tapi kau tahu sendiri, apa yang akan dilakukan Yudha cs terhadapku," jawabku menjelaskan.
"Ya, sudah. Aku tidak akan memaksa. Sepulang sekolah nanti aku akan menemuimu. Sampai jumpa," ucapnya sambil tersenyum.
"Akan kutunggu nanti siang," jawabku datar.
Lidya langsung saja meninggalkanku ke sekolah dengan perasaan yang sedikit kecewa karena aku tidak mau berangkat sekolah.
"Maafkan aku, Lidya. Bukan maksudku untuk menolak ajakanmu untuk berangkat sekolah," ucapku dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, aku yakin Lidya sudah pulang dan sebentar lagi akan datang kemari. Benar saja, baru beberapa menit aku menunggu, tiba-tiba Lidya datang.
"Hai, Dino?" sapa dia.
"Hai juga, Lidya. Cepat sekali kamu datang, padahal aku baru beberapa menit menunggumu," jawabku senang.
"Aku hampir saja lupa. Tadi pagi ibu guru bilang padaku untuk menyuruhmu berangkat ke sekolah. Tadi aku juga menjelaskan alasan kau jarang ke sekolah," ucapnya panjang.
"Apa kau mengatakan tentang aku yang dibully?" tanyaku.
"Tentu saja aku mengatakan seperti itu dengan jujur supaya ibu guru tahu semuanya," jelasnya.
"Baiklah, besok pagi aku akan berangkat ke sekolah," ucapku bersemangat.
"Itu baru namanya Dino," ucap Lidya memujiku.
Kami pun terus berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa bosan.
Besoknya, aku kembali berangkat ke sekolah bersama dengan Lidya. Semakin hari sepertinya aku mulai merasa ada sebuah perasaan aneh di dalam hatiku terhadap Lidya.
"Apakah dia jodohku, oh tidak, kau jangan berpikir seperti itu Dino. Lidya itu hanya sahabatmu," ucapku dalam hati.
Kami tiba di sekolah pukul 06.30 dan langsung menuju ke kelas kami masing-masing karena memang kami berbeda kelas.
"Aku ke kelas dulu. Sampai bertemu istirahat nanti," ucapnya padaku.
Aku mengangguk dan segera menuju ke kelas, tetapi di dalam kelas Yudha cs sudah menungguku yang kemudian langsung menghampiriku.
"Akhirnya berangkat juga kau," ucap Yudha sambil menatapku tajam.
"Kalian mau apa?" tanyaku mulai ketakutan.
"Seperti biasa," nadanya mulai mencurigakan.
Langsung saja mereka merebut tasku dan saling melemparkan satu sama lain seolah aku ini anjing yang sedang menginginkan tulang. Saat aku berusaha meraih tasku, tiba-tiba Yudha menendang kakiku hingga terjatuh. Dalam hati, aku merasa sangat marah. Entah apa yang aku pikirkan tiba-tiba saja aku langsung mengangkat meja kemudian melemparkannya tepat ke tubuh Yudha yang akhirnya terjatuh sehingga aku bisa langsung menginjak-injak kepalanya, walau pada akhirnya teman-teman Yudha langsung melawanku dan siswa yang lain kemudian memisahkan kami semua. Yudha sangat kesakitan, kepalanya mengeluarkan darah akibat aku yang menginjaknya. Aku pun di panggil ke ruang konseling dan diberi surat panggilan orangtua besok pagi.
Pagi hari tiba, hari ini sangat menegangkan bagiku. Aku datang bersama ibuku ke ruang konseling. Guru itu menjelaskan panjang lebar hingga pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkanku dari sekolah atas tindakanku yang membuat Yudha harus dirawat di rumah sakit. Selain dikeluarkan dari sekolah, juga harus bertanggung jawab membayar biaya rumah sakit. Dalam hati aku merasa bersalah terutama pada ibuku.
"Maafkan aku, bu," ucapku sambil menunduk merasa bersalah.
"Sudahlah, ibu tahu maksud kau sebenarnya untuk membela diri, tetapi yang terjadi demikian. Mungkin ini yang terbaik untukmu," jawabnya lembut.
Begitulah ibuku, dia memang orang yang sangat baik padaku.
Siang hari setelah pulang sekolah, Lidya langsung menemuiku tanpa pulang ke rumah dan berganti pakaian terlebih dahulu. Saat itu aku sedang duduk sambil memandangi ponselku di teras rumah.
"Aku dengar kau dikeluarkan dari sekolah karena masalah kemarin?" tanyanya memulai pembicaraan.
"Begitulah. Mungkin ini yang terbaik untukku," jawabku.
"Sebenarnya aku sedikit kecewa denganmu. Aku tidak habis pikir kenapa kau berani melakukan tindakan seperti itu," terangnya.
"Maafkan aku, Lidya. Kita jadi tidak bisa bersama lagi di sekolah," aku merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Dino. Itu mungkin sudah takdirmu," jawabnya santai.
"Terima kasih, kau selalu mengerti keadaanku,".
"Tentu saja, kita ini sahabat sejati," ucapnya.
"We are LDR (Lidya Dino Rifki)," kami berdua mengucapkannya bersama dengan semangat meski Rifki sudah tidak bersama kami.
"Aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucapnya berpamitan.
"Hati-hati. Sampai jumpa," jawabku
Hatiku kembali mengucap "Lidya, sebenarnya aku menyukaimu, tetapi aku tidak mau merusak persahabatan kita"
Sudah seminggu semenjak aku dikeluarkan dari sekolah, aku hanya berdiam diri di rumah tanpa banyak kegiatan. Namun aku senang karena Lidya juga setiap hari menemuiku. Hingga suatu hari saat liburan sekolah, Lidya mengajakku pergi ke suatu tempat, aku pun langsung menjawab "ya". Sehingga keesokan harinya aku bersiap-siap menunggu di datang menjemputku mengendarai motornya. Lama aku menunggu tetapi dia tak kunjung datang sampai siang hari. Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi ponselnya tetapi tidak aktif. Merasa aneh, aku memutuskan untuk menemuinya. Sesampainya di sana ternyata rumahnya sepi tidak ada orang, jadi aku menunggu saja di depan rumah. Hingga 2 jam aku menunggu tetapi penghuni rumah belum ada yang pulang, kemudian aku lebih memilih pulang dan besok akan kembali lagi.
Seperti yang sudah kuputuskan kemarin, hari ini aku kembali datang ke rumah Lidya pada pukul 10 pagi. Tibalah aku di depan rumahnya, aku langsung mengetuk pintu kemudian muncul seseorang dari balik pintu tersebut yang tidak lain adalah ibunya. Aku bingung kenapa dia mengenakan pakaian yang rapi seperti ingin pergi ke suatu tempat. Tentu saja dia mengenalku karena aku juga sering ke mari saat masih ada Rifki.
"Dino, ada keperluan apa?" tanyanya.
"Aku ingin bertemu Lidya. Apa dia ada?" jawabku.
Tiba-tiba raut wajah ibunya langsung murung. Aku semakin bingung.
"Bagaimana, bu, apa Lidya ada?" aku kembali bertanya.
"Lebih baik kita duduk dulu," ucapnya.
Aku langsung mengikuti ucapanya kemudian dia memulai pembicaraan.
"Begini, Dino. Sebenarnya kemarin itu Lidya mengalami kecelakaan saat mengendarai motor, sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit," ucapnya sedih.
"Lidya kecelakaan?" jawabku kaget.
"Pantas saja kemarin aku menunggumu lama. Ternyata kau kecelakaan saat menuju ke rumahku," gumamku dalam hati.
"Lalu bagaimana kondisi Lidya sekarang?' tanyaku penasaran.
"Dia sekarang masih koma. Kata dokter, dia mengalami kerusakan pada organ otaknya," jelasnya.
"Kalau begitu, bolehkah aku ikut menjenguknya?" tanyaku.
"Tentu saja boleh, kebetulan hari ini ibu mau menjenguknya sendirian karena ayah Lidya sedang sibuk bekerja," jawabnya.
Kami pun segera menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Lidya.
Tidak butuh waktu lama, kami telah sampai di rumah sakit. Kami segera menuju ke ruang pasien tempat dimana Lidya terbaring lemah tak sadarkan diri. Kami terkejut ketika hendak memasuki ruang pasien, ada seorang dokter yang sedang memeriksa Lidya bersama seorang perawat yang mendampinginya, namun ekspresi wajahnya seperti seseorang yang mengalami kegagalan, seketika ibu Lidya masuk dan menghampirinya.
"Apa yang terjadi, dok?" tanya ibu Lidya khawatir.
"Maaf, bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi takdir berkata lain," jawab dokter sambil menggelengkan kepalanya.
"Maksudnya apa, dok?" ibu Lidya semakin ketakutan.
"Anak ibu, Lidya, tidak bisa kami selamatkan. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya," terangnya.
Seketika ibunya menangis saat mendengar ucapan Dokter tadi, aku juga ikut menangis mendengarnya. Ibunya langsung memeluk Lidya dengan wajah yang masih mengeluarkan air mata. Tak kusangka ternyata Lidya sudah meninggalkanku untuk selamanya sebelum aku mengatakan sesuatu yang sangat penting tentang perasaanku yang sangat mencintainya. Aku tak percaya dia pergi begitu cepat.
"I LOVE YOU...Lidya," gumamku dalam hati.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Email : dandymathematics@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar