Selasa, 03 November 2020

Perkembangan Fisik dan Kognitif Peserta Didik

Perkembangan Fisik dan Kognitif Peserta Didik

Perkembangan dan pertumbuhan anak merupakan hal yang penting untuk kita pelajari dan kita pahami selaku calon pendidik. Banyak para pendidik yang belum memahami perkembangan - perkembangan anak. Sehingga masih ada pendidik yang menerapkan sistem pembelajaran tanpa melihat perkembangan anak didiknya. Hal ini akan berakibat adanya ketidakseimbangan antara sistem pembelajaran dengan perkembangan anak yang akan menyulitkan anak didik mengikuti sistem pembelajaran yang ada. Dengan mengetahui proses, faktor dan konsep perkembangan anak didik kita akan mudah mengetahui sistem pembelajaran yang efektif, efisien, terarah dan sesuai dengan perkembangan anak didik.
Untuk mengembangkan potensi anak didik dan menciptakan generasi - generasi masa depan yang berkualitas, maka diperlukan adanya pemahaman tentang perkembangan dan pertumbuhan anak didik. Dengan demikian, sebagai pendidik kita diharuskan mengetahui dan memahami perkembangan dan pertumbuhan peserta didik.
Perkembangan adalah proses perubahan individu yang bersifat dinamis ke arah kesempurnaan secara terus – menerus sejak lahir hingga akhir hayat. Dalam menumbuh kembangkan kualitas peserta didik, yang perlu dilakukan oleh tenaga pendidik adalah mengenali peserta didik dengan sebaik-baiknya. Mengenali di sini diartikan seperti mengenal psikolog anak, bagaimana pribadi si anak, dan bagaimana cara menghadapi watak atau karakteristik anak yang berbeda-beda. Dengan mengenali karakter si anak, maka pendidik akan lebih mudah dalam menyampaikan materi ajar pada si anak. Sehingga anak akan lebih mudah menerima apa yang disampaikan oleh gurunya. 
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan informal, pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu. Dengan kata lain, perkembangan peserta didik adalah proses perubahan peserta didik yang bersifat dinamis dalam menumbuh kembangkan kualitasnya ke arah kesempurnaan.
Peserta didik memiliki potensi yang berbeda. Perbedaan peserta didik terletak dalam pola pikir, daya imajinasi, pengandaian dan hasil karyanya. Akibatnya, proses belajar mengajar perlu dipilih dan dirancang agar memberikan kesempatan dan kebebasan berkreasi secara berkesinambungan guna mengembangkan dan mengoptimalkan kreativitas peserta didik. Untuk itu dalam hal ini, diperlukannya pemahaman dari guru untuk mengetahui keberagaman masing-masing peserta didik melalui strategi dan metode pembelajaran yang tepat untuk peserta didik.
Perkembangan peserta didik secara umum meliputi perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa, perkembangan moral-spiritual, perkembangan emosional, dan perkembangan sosial. Pada pembahasan kali ini akan dijelaskan tentang perkembangan fisik dan perkembangan kognitif peserta didik. Tujuannya adalah agar kita memahami pentingnya untuk mengembangkan perkembangan fisik dan kognitif agar peserta didik bisa terus berkembang dengan wawasan yang luas dengan kondisi fisik yang sehat.
Dilihat dari segi perkembangan fisik, pada usia sekolah dasar merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira dua tahun menjelang anak menjadi matang secara seksual pada saat mana pertumbuhan berkembang pesat. Masa ini sering juga disebut sebagai “periode tenang” sebelum pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja. Tetapi, hal ini tidak berarti bahwa pada masa ini tidak terjadi proses pertumbuhan fisik yang berarti.
Karakteristik perkembangan fisik pada masa anak usia 5-7 tahun
Perkembangan waktu reaksi lebih lambat dibanding masa kanak-kanak, koordinasi mata berkembang dengan baik, masih belum mengembangkan otot-otot kecil, kesehatan umum relatif tidak stabil dan mudah sakit, rentan dan daya tahan kurang.
Karakteristik perkembangan fisik pada masa anak usia 8-9 tahun
Terjadi perbaikan koordinasi tubuh, ketahanan tubuh bertambah, anak laki-laki cenderung aktivitas yang ada kontak fisik seperti berkelahi dan bergulat, koordinasi mata dan tangan lebih baik, sistim peredaran darah masih belum kuat, koordinasi otot dan syaraf masih kurang baik. Dari segi psikologi anak wanita lebih maju satu tahun dari lelaki
Karakteristik perkembangan fisik pada masa anak usia 10-11 tahun
Kekuatan anak laki-laki lebih kuat dari wanita, kenaikan tekanan darah dan metabolisme yang tajam. Wanita mulai mengalami kematangan seksual (12 tahun). Lelaki hanya 5% yang mencapai kematangan seksual.
Karakteristik perkembangan fisik pada masa remaja (12-18 tahun)
Pada masa remaja perkembangan fisik yang paling menonjol terdapat pada perkembangan, kekuatan, ketahanan, dan organ seksual. Karakteristik perkembangan fisik pada masa remaja ditandai dengan pertumbuhan berat dan tinggi badan yang cepat, pertumbuhan tanda-tanda seksual primer (kelenjar-kelenjar dan alat-alat kelamin) maupun tanda-tanda seksual sekunder (tumbuh payudara, haid, kumis, dan mimpi basah, dan lainnya), timbulnya hasrat seksual yang tinggi (masa pubertas).
Karakteristik perkembangan fisik pada masa dewasa (>18 tahun)
Kemampuan fisik pada masa dewasa pada setiap individu menjadi sangat bervariasi seiring dengan pertumbuhan fisik. Laki-laki cenderung lebih baik kemampuan fisiknya dan gerakannya lebih terampil. Pertumbuhan ukuran tubuh yang proporsional memberikan kemampuan fisik yang kuat. Pada masa dewasa pertumbuhan mencapai titik maksimal. Pada masa ini pertumbuhan fisik mulai terhenti sehingga hasil dari pertumbuhan ini menentukan kemampuan fisik.
Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan peserta didik yang berkaitan menentukan keberhasilan mereka disekolah. Guru sebagai tenaga kependidikan yang bertanggungjawab melaksanakan interaksi edukasi di dalam kelas, perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang perkembangan kognitif peserta didik. Dengan bekal pemahaman tersebut, guru akan dapat memberikan. Layanan pendidikan atau melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan kognitif peserta didik yang dihadapinya. Perkembangan kognitif dapat dibedakan dengan dua bentuk yaitu :
a.       Perkembangan Formal
Yaitu perkembangan fungsi-fungsi pikir atau alat-alat pikir anak untuk dapat menyerap, menimbang, memutuskan, menguraikan, dan lain-lain. Contoh, perkembangan sistematika berpikir, teknik pengambilan keputusan dan lain-lain.
b.      Perkembangan Material
Yaitu perkembangan jumlah pengetahuan pikir (knowledge) oleh seseorang untuk dapat memiliki dan dikuasainya contoh, penguasaan tentang angka-angka, pendapat-pendapat, teori-teori dan sebagainya.
Secara keseluruhan perkembangan pikiran dapat diartikan sejalan dengan proses perkembangan pengamatan dan tanggapan anak, maka perkembangan pikiran pun dapat dikategorikan dengan dua tahap :
1.      Berpikir dengan kongkret ( dengan objek realis ) sehingga proses berpikir anak harus dirangsang atau di tuntun dengan benda peraga.
2.      Berpikir secara simbolis atau sistematis yaitu anak berpikir dengan menggunakan simbol-simbol ( tanda-tanda) maka di sini sudah kenal huruf, angka, skema, simbol-simbol tertentu, dan sebagainya.
Secara sederhana, kemampuan kognitif dapat dialami sebagai kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks secara kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah. Dengan berkembangnya kemampuan kognitif ini akan memudahkan anak menguasai pengetahuan umum yang lebih luas, sehingga anak mampu menjalankan fungsinya dengan wajar dalam interaksinya dengan masyarakat dan lingkungan sehari-hari. Dengan demikian dapat dipahami bahwa perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Kesimpulannya adalah perkembangan fisik tiap jenjang berbeda-beda antara usia anak-anak, remaja, dan dewasa, sehingga kita perlu memahami perbedaan itu dan bisa menyesuaikan bagaimana untuk bisa mengembangkan perkembangan fisik sesuai usia peserta didik. Kemudian untuk perkembangan kognitif dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu formal yang menitikberatkan pada fungsi pengetahuan dan material yang menitikberatkan pada jumlah pengetahuan. Dengan terus mengasah kognitif melalui latihan materi atau pemecahan masalah, perkembangan kognitif peserta didik akan meningkat pesat.


Sumber Referensi :
Asih, T. (2018). Perkembangan Tingkat Kognitif Peserta Didik di Kota Metro. Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi, 2(1), 9-17.
I Made Reki. 2014. Perkembangan Peserta Didik. http://imaderekiartawan97.blogspot.com/2016/10/makalah-perkembangan-peserta-didik-made.html?m=1. Diunduh pada tanggal 1 November 2020.
Puspita, D., Calista, W., & Suyadi, S. (2018). Perkembangan Fisik-Motorik Siswa Usia Dasar: Masalah Dan Perkembangannya. JIP (Jurnal Ilmiah PGMI), 4(2), 170-182.

Sabtu, 02 Juni 2018

[CERPEN] Jangan Katakan Selamat Tinggal

JANGAN KATAKAN SELAMAT TINGGAL

Oleh :

DANKIN

       Di malam yang sunyi, seorang pria berjalan santai melewati jalan yang sepi seorang diri. Dengan langkah gontainya, ia berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Namun, saat memasuki pekarangan rumahnya, ia melihat seorang wanita tergeletak di dekat pohon. Ia mencoba membangunkan tetapi tidak terbangun juga. Akhirnya, digendonglah wanita itu ke dalam rumahnya.

       Keesokan harinya, wanita itu terbangun dan kaget saat melihat dirinya sudah terbaring di atas kasur. Lebih terkejut lagi saat melihat seorang pria yang tidur menyandarkan kepalanya di samping kasur. Tak lama, pria itu pun perlahan terbangun.

"Ahhh...kau sudah terbangun," kata pria itu.

Wanita itu masih terdiam dalam kebingungan. Mengapa ia bisa berada di tempat ini. Begitulah mungkin yang terus terbayang dalam benaknya.

       Pria tersebut berdiri dan pergi meninggalkan wanita itu sendiri di kamar. Wanita itu membaringkan kembali tubuhnya ke kasur. Ia terus menatap langit-langit kamar sambil terus memikirkan siapa dia sebenarnya dan kenapa dia ada di tempat ini bersama seorang pria. Namanya sendiri bahkan tidak tahu. Tiba-tiba terdengar suara teriakkan dari luar kamar.

"Hei...ayo cepat keluar. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu!" teriak pria tadi.

Wanita itu bergegas keluar kamar untuk menemui sumber suara. Dia kaget melihat banyak makanan yang tersaji di atas meja makan.

"Kenapa? Ada yang salah?" tanya si pria.

"Siapa kau? Dan kenapa aku bisa bersamamu disini?" tanya wanita itu dengan wajah polos.

"Panggil saja Han. Semalam aku menemukanmu tergeletak di pekarangan rumahku. Jadi kubawa kau kemari," jelas pria itu yang bernama Han.

"Kau sendiri, siapa namamu? lanjutnya.

"Aku...aku...," wanita itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan tiba-tiba meneteskan air mata yang membuat Han mendekatinya.

"Kau kenapa? Apa kau terluka?" ucap Han khawatir sambil menghapuskan air matanya.

"Aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Aku tidak tahu namaku. Bahkan tidak tahu siapapun," jelas wanita itu.

"Jangan khawatir, kau bisa tinggal bersamaku," kata Han.

Mereka berdua pun sarapan lalu wanita itu terus menjelaskan bahwa sepertinya dirinya tidak ingat apa-apa atau amnesia. Han bersedia merawat dirinya sampai ia kembali ingat atau ada kerabat yang mengenalnya. Untuk sementara, wanita itu menggunakan nama Alice, nama pemberian Han.

       Siang hari, Han sedang sibuk dengan pekerjaannya yaitu sebagai pelukis. Kesehariannya tentu saja membuat lukisan yang indah untuk bisa dipamerkan di sebuah pameran dan menghasilkan uang dari penjualan lukisan tersebut. Sambil melukis, Han sesekali melirik diam-diam Alice yang duduk membaca buku di sofa. Saat Alice mengetahui sedang dilirik, Han langsung mebuang wajahnya dengan malu. Sepertinya Han memiliki ketertarikan pada Alice. Merasa lelah, Han mencoba mengambil minuman di kulkas tetapi tatapannya masih terus tertuju pada Alice. Alice yang kembali mebalas tatapannya membuat Han menabrakan dirinya ke kulkas. Alice hanya bisa tertawa sedangkan Han tersipu malu dengan tingkahnya.

       Han merasa terganggu dengan tidurnya malam ini. Ia terus memikirkan tentang Alice sampai-sampai lukisannya tadi siang masih belum selesai. Padahal baru mengenal, tetapi sudah membuatnya terus terpikirkan. Apakah ini perasaan pada pandangan pertama, pikirnya.

"Ahhh...kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya," geramnya.

Karena tidak bisa berhenti memikirkan Alice, Han tidak bisa tidur. Baru pada tengah malam, ia pun memejamkan mata dengan sendirinya. Han tertidur dengan nyenyak.

       Seperti biasa, Han selalu bangun pagi-pagi untuk berolahraga dan mandi setelahnya. Ia terkejut saat melihat banyak makanan di meja. Padahal masih pukul 6 pagi. Siapa yang memasak ini semua?

"Kau sudah bangun rupanya," ucap Alice.

"Kau yang memasak sepagi ini?" tanya Han dengan wajah polos.

"Meski tidak tahu siapa diriku. Aku sangat pandai memasak. Silahkan coba masakanku," kata Alice dengan nada imutnya.

Han terdiam menatap Alice yang menurutnya sangat cantik. Ia seperti terhipnotis dengan kata-kata Alice yang menyuruhnya makan. Han menyantap dengan lahapnya tanda ia menyukai makanan ini. Alice pun senang saat Han menyukai masakannya.

       Kebersamaan mereka terus berjalan beberapa hari. Benih-benih cinta sepertinya muncul juga pada Alice. Tidak lain karena Han yang terus memberikan perhatian yang lebih padanya. Han yang terlalu pemalu tidak pernah berani mengakui yang sebenarnya. Sepertinya ia tidak tahu kalau Alice juga menyukainya. Apadaya, Han tidak mau suatu hari saat Alice mengingat semuanya dan kembali pada keluarganya, ia menjadi sakit hati kehilangan wanita yang dicintainya.

      Tayangan televisi menampilkan berita hilangnya seorang wanita. Han terkejut saat melihat foto di televisi yang ternyata adalah Alice. Ia langsung mematikan tayangan televisi tersebut. Akhirnya ia tahu siapa Alice sebenarnya, tetapi ia seolah merasa sedih. Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk. Ternyata kekasih Alice yang menghubunginya.

"Aku Edwin, kekasih dari Fita, wanita yang sekarang tinggal bersamamu. Keluarganya sedang bersedih karena ia menghilang. Sebaiknya besok sore kau temui aku di sungai dekat rumahmu," ucap seseorang yang ternyata adalah kekasih Alice atau nama aslinya yaitu Fita.

Belum sempat menjawab panggilan itu, tiba-tiba panggilan terputus.  Hatinya berdegup kencang, ia menatap Alice yang terduduk. Bagaimana jika Alice pergi? Itulah yang terus Han pikirkan. Kekasih Alice tampak sudah mengetahui semuanya. Mau tidak mau, Han harus mengikuti perkataannya.

       Seharian ini, yang terus ia pikirkan hanyalah Alice. Berat baginya untuk mengembalikan Alice pada keluarganya. Jika ia membiarkan Alice disini sama saja ia seperti orang jahat.

"Kau kenapa? Sepertinya sedang frustasi," ucap Alice tiba-tiba.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan ide untuk lukisan selanjutnya," jawab Han berbohong.

"Jangan patah semangat. Teruslah gali idemu. Aku tidak akan mengganggu dulu. Semangat, Han!" ucap Alice memberi semangat.

       Esok hari, Han mengajak Alice untuk menemaninya melukis di pinggir sungai sambil membawa banyak makanan karena akan menghabiskan waktu seharian. Tentu saja ini hanyalah alasan Han agar bisa membuat Edwin membawa kembali Alice pada keluarganya meski Han akan merasakan sakit hati setelahnya.

       Seharian ini seperti piknik nagi mereka. Alice menikmati pemandangan sungai yang indah sementara Han sibuk dengan lukisannya meski pikirannya kacau. Sampai senja mulai menampakkan diri, keduanya terlihat seperti pasangan kekasih yang duduk berdua memandangi sunset dengan Alice yang menyandarkan kepala di pundak Han.

"Sepertinya aku mencintaimu. Bagaimana ini?" ucap Alice yang membuat Han kaget.

"Aku juga...mencintaimu," balas Han pelan.

Wajah mereka saling berdekatan dan akhirnya mereka berciuman mesra. Secara refleks, mereka saling membalas ciuman tersebut sampai beberapa detik. Han menghentikan ciuman itu. Mereka saling menatap dengan dengan nafas yang terengah.

       Tak lama, muncul sebuah mobil hitam dekat sungai. Alice terkejut saat melihat seorang pria yang mendekati mereka, Edwin. Edwin menjelaskan semua pada Alice lalu menariknya dengan paksa, Han hanya bisa terdiam menatap kejadian itu.

"Han, tolong aku!"

"Aku tidak mau dengannya!"

"Jangan tinggalkan aku!"

"Aku mencintaimu!"

"Kemarilah!"

Teriakkan Alice yang tak karuan tidak mendapat respons dari Han yang terus terdiam. Sampai akhirnya Alice masuk ke mobil dan melaju meninggalkannya.

"Maafkan aku, Alice. Hanya ini yang bisa kulakukan. Kau harus kembali ke kehidupanmu yang sebelumnya. Aku yakin ingatanmu akan kembali suatu hari nanti. Jangan katakan selamat tinggal meski kita sudah berpisah," ucap Han dalam hatinya.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : _onaelykim_
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Senin, 07 Mei 2018

[CERPEN] Song for You

                  SONG FOR YOU

                           Oleh :

                        DANKIN

       Aku melangkah menapaki sepanjang jalan. Banyak kendaraan berlalu-lalang yang kulihat. Terik matahari seolah menghalangi pandanganku yang menjadi silau. Aku jadi kembali teringat masa-masa pertemananku dengan Joana dan Vito.

Dua minggu yang lalu,
       Pemandangan kota sangat indah ketika dilihat dari atas bukit ini. Inilah kegiatan rutin kami apabila sedang libur masa kerja. Kali ini, kami ke atas bukit untuk menikmati pemandangan sambil membuat pesta kecil.

"Kalian tidak mau makan dulu?" teriak Joana yang sudah mempersiapkan makanan.

"Kami segera datang," teriakku.

"Barbeque-nya terlihat lezat," ucap Vito.

"Pasti lezat. Aku yang membuatnya,"  sahut Joana dengan percaya diri.

"Sudah-sudah, ayo kita makan," kataku.

Kami bertiga makan dengan lahapnya. Momen seperti ini benar-benar sangat istimewa, mengingat kami bertiga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kulihat ada noda makanan di bibir Joana. Tiba-tiba, Vito mengusap noda itu dengan tisu.

"Kau sangat belepotan," ucapnya.

Entah mengapa aku tidak suka melihat pemandangan itu. Aku yang sejak dulu menyukai Joana, tidak pernah berani mengungkapkannya.

       Sampailah diriku di sebuah gedung acara pernikahan. Aku tidak tahu kenapa sepanjang perjalanan tadi terus memikirkan momen tersebut. Padahal, itu sudah berlalu dan mungkin aka sangat sulit terulang. Acara pernikahan itu terlihat sangat meriah. Kulihat sekeliling mencari untuk keberadaan Joana. Kurasa ia sedang mempersiapkan diri untuk acara pernikahannya. Sambil menunggu acara dimulai, aku berdiri memandangi taman dari balik jendela. Memikirkan banyak kejadian yang tak terlupakan.

Sepuluh hari yang lalu,
       Joana sedang asyik membaca buku di sofa. Aku yang duduk di sebelahnya, terus memandangi wajah cantiknya. Sepertinya dia sangat serius membaca buku itu. Kucoba untuk lebih dekat.

"Kau terlihat sangat serius. Apa ceritanya menarik?" ucapku.

"Kalau kau membacanya, pasti tsulit untuk berhenti juga," balasnya.

"Aku tidak terlalu suka membaca buku seperti itu," sahutku.

Joana terus melanjutkan cerita yang ia baca itu. Tiba-tiba, Vito datang dari belakang sambil menutupi kedua mata Joana. Lalu ia duduk di tengah-tengah seolah memotong jarak dekat kami.

"Dasar kau ini," kata Joana pada Vito.

"Kau ini tidak terlihat bosan membaca buku itu. Sudah seperti orang asing saja," balas Vito.

"Mark, kenapa kau tidak memasak saja sekarang?" tanya Vito padaku.

"Sebentar lagi aku memasak. Kalian mau makan apa?" ucapku.

"Aku bingung," jawab Joana.

"Sesuka kau saja. Kau kan sangat ahli memasak," kata Vito.

"Baiklah," balasku.

Aku pergi ke dapur mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak. Akhir pekan ini, kami berkumpul di rumahku untuk sekadar bersantai. Semua bahan sudah siap. Waktunya untuk memasak makanan spesial.

       Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku saat sedang menatap taman dari jendela. Aku langsung menoleh.

"Kau rupanya," kataku pada orang itu yang ternyata Vito.

"Bagaimana, apa kau siap untuk menyanyikan lagu di acara penikahan kami?" tanyanya.

"Tenang saja. Aku ini sangat berbakat. Kau pasti tidak kecewa dengan suaraku yang merdu ini," balasku dengan sedikit menyombongkan diri.

"Semoga berhasil. Aku akan mempersiapkan diri dulu. Sampai nanti," katanya lalu meninggalkanku.

"Kau juga. Semoga acaramu lancar sampai selesai," ucapku sedikit berteriak.

       Sekarang waktunya mempersiapkan piano yang akan kumainkan nanti ketika bernyanyi. Sesekali aku membantu merapikan perlengkapan acara ini agar terlihat lebih indah. Selesai itu, aku menuju ke tempat Joana yang sudah selesai dirias.

"Kau terlihat cantik," kataku dari depan pintu ruangan.

"Mark, kapan kau datang?" tanyanya.

"Belum lama. Bagaimana denganmu, apa ada kendala untuk acara nanti?"

"Semuanya berjalan dengan baik. Aku sudah tidak sabar menantikan acara nanti," ucapnya bahagia.

"Sampai nanti. Aku akan bersiap untuk persembahan nanti," kataku kemudian keluar dari ruangan itu.

Meski dia bahagia, bukan berarti aku bahagia. Justru aku akan merasa sedih melihat orang yang paling kucintai, menikah dengan orang lain yang juga merupakan sahabatku, Vito. Seandainya saja aku lebih dahulu mengungkapkan perasaan ini padanya, mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi. Teringat kembali kejadian yang menyakitkan itu.

Satu minggu yang lalu,
       Aku berjalan memasuki klub malam untuk mencari Joana. Tak lama, aku melihat ia sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Kudatangi dia, lalu kutarik tangannya perlahan ke ruang belakang.

"Apa ada sesuatu?" ucapnya kebingungan.

"Tunggu sebentar," jawabku.

Aku masih berusaha mencari sesuatu dari pakaianku. Ternyata ada di saku celana. Kucoba untuk merogohnya, tetapi sedikit sulit karena ukurannya yang sesuai badan. Datangnya Vito dengan tiba-tiba di hadapan kami.

"Kau ada disini rupanya," kata Vito pada Joana.

"Kebetulan sekali ada kau Mark. Kurasa kau akan menjadi saksinya," lanjutnya.

Ucapannya membuatku terdiam sesaat. Aku tidak tahu apa maksud ucapannya tadi. Vito meraih tangan kanan Joana lalu memasukan sebuah cincin di jari manisnya. Pemandangan itu membuatku kaget.

"Sudah lama kita menjadi sahabat. Sudah lama pula aku memendam rasa cinta ini padamu. Sekarang, baru bisa kuungkapkan perasaan ini padamu. Aku benar-benar sangat mencintaimu dengan tulus. Maukah kau menikah denganku?" ungkap Vito.

"Apa kau serius?" tanya Joana malu-malu.

"Tentu saja aku serius," balas Vito.

Joana mengangguk, lalu mereka berpelukan tepat dihadapanku. Perasaan apa ini, rasanya sungguh menyakitkan. Meski harus memperlihatkan wajah bahagia karena mereka akan menikah, hatiku tetap terasa sakit. Aku gagal mengungkapkannya. Vito sudah lebih dulu mengungkapkan perasaannya. Aku baru mengetahui kalau ia juga menyukai Joana.

       Acara pernikahan segera dimulai. Aku mengusap air mata ini yang sedari tadi mengalir saat mengingat kejadian waktu itu. Kurogoh saku celana. Cincin ini masih berada ditanganku. Cincin yang seharusnya kuberikan pada Joana saat itu. Akhirnya, kujatuhkan cincin ini ke lantai dan membiarkannya.

"Mungkin dia memang bukan jodohku. Semoga ini memang rencana terbaik dari Tuhan," ucapku dalam hati.

       Akhirnya, acara benar-benar dimulai. Resepsi pernikahan Joana dan Vito berjalan lancar. Keduanya terlihat sangat serasi. Para tamu undangan memberikan tepuk tangan meriah dan memberi ucapan selamat. Sekarang waktunya aku memberikan persembahan untuk menyanyikan sebuah lagu. Aku telah duduk di hadapan piano dan mulai memainkannya sambil bernyanyi.

"Baby jebal geuui soneul japjima
Cuz you should be my lady
Oraen sigan gidaryeo on nal dorabwajwo
Noraega ullimyeon ije neoneun
Geuwa pyeongsaengeul hamkkehajyo
Oneuri oji ankireul
Geureoke na maeil bam gidohaenneunde
Nega ibeun wedding dress
Nega ibeun wedding dress
Nega ibeun wedding dress"

(Baby, tolong jangan genggam tangannya
Karena kau seharusnya menjadi gadisku
Tolong lihat aku, aku sudah menunggu selama waktu ini
Sekali musiknya berhenti, kau akan bersamanya selamanya
Aku berdoa dan berdoa hari ini tidak akan pernah datang
Gaun pengantin yang hanya kamu pakai sekali
Gaun pengantin yang hanya kamu pakai sekali
Gaun pengantin yang hanya kamu pakai sekali)

Begitulah sekiranya lirik lagu yang kunyanyikan. Lagu milik Taeyang berjudul Wedding Dress. Aku sengaja menyanyikan lagu ini karena mewakili perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan sekarang.

       Usai acara, aku yang sudah mengucapkan selamat kepada mereka, langsung memutuskan untuk pulang cepat. Sungguh bertambah menyakitkan setelah acara pernikahan mereka selesai. Tetapi, aku akan berusaha melupakan perasaan ini pada Joana dan berharap, semoga pernikahannya bisa bahagia selamanya.

                  *****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Rabu, 18 April 2018

[CERPEN] Menyentuh Langit

             MENYENTUH LANGIT

                         Oleh :

                      DANKIN

Masa depanmu tergantung pada impianmu sendiri. Jadi, apakah impianmu hanya setinggi tanah? Atau mungkin impianmu setinggi langit sampai kau bisa menyentuhnya? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kau terus mengejar impianmu dan mewujudkannya.

       Lampu belajar terus menyoroti buku yang sedang kupelajari. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Semakin larut, rasa kantukku semakin mengganggu waktu belajarku. Kurasa cukup sampai disini aku belajar untuk hari ini. Kututup buku dan kubaringkan kepala di meja belajar ini. Aku sudah sangat mengantuk sehingga kubiarkan tubuh ini untuk tidak tidur di kasur dan berharap bisa melihat masa depanku yang cerah dalam mimpiku malam ini.

       Namaku Felix. Hampir setiap malam selalu kuhabiskan waktu untuk belajar hingga larut malam. Minggu depan, ujian nasional akan berlangsung, sehingga membuatku menambah intensitas waktu untuk belajar. Beginilah caraku agar bisa masuk salah satu universitas terbaik dengan mengambil jurusan hukum. Meski aku siswa yang selalu masuk daftar peringkat 10 besar paralel, tetap saja aku harus lebih giat belajar untuk bisa meraih nilai tinggi demi mewujudkan impianku menjadi jaksa.

kriiing… 
       Alarmku berbunyi. Aku langsung terbangun karena kaget. Kulihat jam menunjukkan pukul lima pagi. Segera aku langsung mandi dan berdoa sebelum akhirnya sarapan. Beruntung, aku sudah merapikan isi tas untuk belajar hari ini. Tepat pukul enam, aku bergegas menuju sekolah, rumah keduaku setelah rumah milik orangtuaku ini.

“Aku berangkat dulu. Sampai jumpa,” teriakku sebelum meninggalkan rumah.

       Tak sampai lima belas menit, aku telah tiba di sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah memang tidak terlalu jauh yang membuatku tidak pernah terlambat masuk sekolah. Setelah memasuki gerbang, kulihat beberapa guru berdiri sambil menyalami siswa yang baru datang termasuk diriku. Selesai bersalaman, aku langsung bergegas menuju kelas tetapi salah seorang teman mengagetkanku dari belakang.

“Kau ini, mengagetkanku saja,” keluhku.

“Kau terlihat gugup sekali. Apa kau belum mengerjakan tugas?” tanyanya.

“Aku ini orang yang selalu mengerjakan tugas tepat waktu. Lagipula, cara berjalanku memang seperti ini,” jelasku.

“Ah, aku hanya bercanda, Felix,” katanya sambil tertawa.

Kami pun sampai di kelas lalu duduk sambil membicarakan berbagai hal. Namanya Jeno, teman sebangku yang selalu ceria setiap hari. Ia memiliki kesamaan denganku yaitu memiliki impian untuk menjadi jaksa. Kami sama-sama bertekad untuk masuk universitas yang sama dan selalu bersama menjadi sahabat terbaik dari yang terbaik di dunia ini.

       Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh siswa bergegas untuk pulang dengan penuh keceriaan. Mungkin hanya aku yang terlihat bosan. Sejujurnya aku ingin sekali menikmati waktu di luar sekolah untuk menghibur diri. Kupikir, waktu yang tersisa sebelum ujian tiba harus kumanfaatkan untuk belajar dengan maksimal. Seperti biasa, setibanya di rumah langsung belajar. Sesekali istirahat untuk menyegarkan pikiran ini.

“Aku percaya usaha kerasku tidak akan mengkhianati hasilnya nanti,” ucapku dalam hati.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Jeno menelepon.

“Ada apa kau meneleponku?” tanyaku membuka percakapan.

“Aku hanya ingin mengajakmu ke toko buku malam ini. Kau bisa?” katanya.

“Baiklah. Aku pasti bisa untuk masalah seperti itu,” jawabku santai.

“Sampai bertemu malam nanti,” ucapnya sebelum akhirnya menutup panggilan.

       Malam hari tiba, aku sudah berada di toko buku menunggu Jeno sambil membaca-baca buku tentang hukum. Entah mengapa aku bisa sangat tertarik mempelajari hukum. Mungkin karena aku geram melihat hukum di negeri ini tidak berjalan pada semestinya. Aku berjanji jika suatu saat nanti berhasil menjadi jaksa, akan menjalankan kewajibanku pada negara sesuai hukum yang berlaku tanpa adanya ketidakadilan terhadap masyarakat.

“Kau sudah sampai ternyata,” ucap Jeno yang membuatku kaget.

“Sudah dari tadi aku disini. Kau ini seperti hantu saja selalu mengagetkanku.”

“Itu karena memang kau yang sangat mudah kaget,” balasnya.

“Buku apa yang akan kau cari?” tanyaku.

“Tentu saja sama seperti yang sedang kau baca,” katanya.

Kami pun sama-sama membeli buku tentang hukum sekaligus buku tentang materi ujian. Setelah itu, kami menuju kedai untuk sekadar makan dan bersenda gurau menikmati malam yang sejuk. Meski tidak lama, setidaknya pikiranku yang jenuh menjadi segar kembali dan siap untuk bartarung melawan buku malam ini. 

       Tak lama, aku sampai di rumah. Kubaringkan tubuhku sejenak di kasur kesayanganku. Menatap langit-langit kamar yang membuatku terus berpikir, apakah aku bisa meraih impianku yang bagaikan menyentuh langit. Pikiran itu membuatku mulai mengantuk, tapi aku langsung bergegas bangun untuk belajar.

“Tidak bisa kubiarkan kantuk ini menghalangi belajarku,” tegasku.

Duduk di depan meja, membuka buku pelajaran. Aku sudah sangat siap melawan rasa kantukku dengan belajar giat. Perlahan, aku mulai tidak kuat dengan kantuk ini. Aku teringat dengan perkataan Jeno, jika aku harus tetap menjaga kesehatan dan jangan memaksakan untuk belajar sampai larut malam.

“Benar sekali, kesehatan itu paling utama,” kataku.

Akhirnya aku menyelesaikan belajar malam ini. Kubaringkan tubuhku kembali ke kasur dan tak lama mata ini terlelap. Tidur nyenyak dengan mimpi yang indah.

       Hari demi hari berjalan. Setiap hari, kegiatan belajar mengajar di sekolah hanya berfokus pada materi ujian nasional yang akan segera tiba. Tentu saja aku memanfaatkan waktu itu dengan serius. Sudah tidak ada lagi kata santai dalam kamus kehidupanku saat ini. Yang ada hanyalah belajar dengan giat agar bisa sukses di ujian nanti. Begitupula dengan Jeno yang setiap hari terlihat lebih giat dariku. Akhirnya anak itu bisa lebih serius dari biasanya.

“Semoga kita meraih hasil yang memuaskan,” kataku pada Jeno.

“Ya, itu pasti. Kali ini nilaiku akan berada diatasmu. Lihat saja nanti,” ucapnya dengan percaya diri.

“Semoga beruntung. Aku juga tidak akan bersantai-santai. Jadi, kupikir kau akan sulit untuk mengalahkanku,” jawabku tersenyum.

“Bagaimana kalau kita belajar bersama di rumahku besok?” katanya.

“Boleh juga. Sudah lama kita tidak belajar bersama,” jawabku.

“Kita terlalu sibuk belajar sendiri akhir-akhir ini sampai tidak pernah belajar bersama lagi,” katanya sambil merapikan bajunya.

“Dua hari lagi kita akan menghadapi ujian nasional. Ayo kita sama-sama serius belajar demi impian kita,” tegasku.

“Itu pasti,” balasnya dengan semangat.

Perbincangan kami tentang ujian nasional begitu serius. Kami ini memang selalu serius kalau urusan belajar. Masa muda bukanlah masa yang harus disia-siakan untuk bersenang-senang saja karena masa depan berawal dari masa muda yang harus mengejar dan meraih mimpi untuk masa depan. Begitulah prinsip hidup kami yang pasti selalu berbeda dari anak muda kebanyakan.

       Hari Minggu tiba, kami seharian belajar bersama di rumah Jeno. Hari terakhir belajar ini, kami sangat serius sampai-sampai orangtua Jeno merasa takjub dengan semangat kami berdua. Tentu saja orangtuanya takjub lantaran anak muda seperti kami biasanya lebih suka bersenang-senang di luar apalagi kami laki-laki. Kami tentu tidak mau disamakan dengan mereka-mereka yang seperti itu. Kami mempunyai impian. Impian itu harus kami raih dan wujudkan. Jangan hanya memiliki impian tetapi tidak ada usaha untuk bisa meraihnya.

       Sampai sore hari, kami pun selesai belajar bersama. Rasanya lelah sekali seharian menghabiskan waktu dengan belajar. Meski lelah, tapi ada hasilnya yaitu ilmu yang teringat di otak. Dengan ini, aku siap menghadapi ujian besok. Aku sudah sangat tidak sabar.

“Aku pulang dulu. Semoga ujian kita berhasil. Sampai jumpa,” ucapku kemudian pergi.

       Setibanya di rumah, setelah makan malam, aku melanjutkan untuk belajar. Waktu yang tersisa harus benar-benar untuk belajar. Ibuku bahkan sampai menyuruhku untuk tidur saat tahu aku masih belajar sampai larut malam. Aku pun menurutinya untuk tidur.

“Semoga aku dimudahkan dalam mengerjakan ujian besok,” begitulah harapanku.

       Hari berlalu, ujian nasional akan dilaksanakan hari ini. Orangtuaku memberiku semangat untuk ujian ini. Aku pun semakin percaya diri akan meraih hasil yang memuaskan. Dari hari pertama ujian sampai hari terakhir aku berhasil melewatinya dengan mudah. Mungkin inilah dampak dari belajarku yang giat sehingga dimudahkan dalam mengerjakan soal ujian. Kulihat Jeno juga sama sepertiku. Sepertinya dia akan mendadak jadi kuda hitam di daftar peringkat 10 besar paralel. 

“Akhirnya ujian telah usai. Bebanku terasa hilang seketika,” kata Jeno sambil mengangkat tangannya.

“Walau begitu kita harus terus optimis dan berdoa agar hasilnya nanti memuaskan,” lanjutku.

“Aku percaya kita akan mendapat hasil yang diharapkan,” jawabnya dengan senyum.

Usai ujian, kami menghabiskan waktu seharian untuk bersenang-senang di sebuah mall. Entah kapan terakhir kali kami senang seperti ini. Benar kata Jeno, beban setelah ujian usai terasa hilang semua. Sampai-sampai, kami sangat menikmati waktu ini dengan gembira.

       Sebulan berlalu, hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu karena hasil ujian nasional diumumkan. Setelah melihat hasilnya, ternyata nilaiku begitu memuaskan dan aku berada di peringkat ke 3 paralel. Sungguh bahagia hari ini. Doa dan harapanku selama penantian ini tidak sia-sia. Kulihat di mading tertera daftar urutan nilai ujian seluruh siswa. Benar saja apa yang pernah kuprediksikan, nama Jeno berada di urutan ke 8. Benar-benar kuda hitam yang nyata.

       Pasca kelulusan dan perpisahan kami dengan sekolah ini, kami akan masuk universitas untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Aku dan Jeno sepakat untuk mengikuti seleksi masuk universitas yang sama dan tentunya jurusan yang sama, hukum. Inilah perjalanan awal kami untuk meraih impian itu. Selanjutnya, kami harus bisa melewati rintangan ini dengan semangat yang mengembara.

Impian tidak seharusnya hanya menjadi impian semata. Kau harus berusaha untuk meraih dan mewujudkannya dengan usaha keras. Karena usaha keras itu tidak akan mengkhianati hasil. Percayalah, bahwa impian itu bisa diraih jika kita mau berusaha meraihnya.

               *****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Minggu, 08 April 2018

[CERPEN] Kambing

KAMBING

Oleh :

DANKIN

       Langkahku begitu cepat. Kulalui jalanan tanpa melihat sekitar. Tetapi, langkahku terhenti tiba-tiba saat melihat seorang kakek membawa kambing yang sepertinya membutuhkan bantuan. Anehnya, aku lebih fokus kepada kambingnya.
“Apa kakek butuh bantuan?” tanyaku.

“Sepertinya begitu. Aku sangat sulit membujuknya untuk makan. Sudah tiga hari kambing ini tidak mau makan,” jawabnya dengan lesu.

“Akan kucoba membujuknya,” kataku.

“Kambing yang lucu, apa kau mau susu? Ayo cepatlah minum susu ini,” ucapku pada kambing dengan gemas.

Ternyata tak sia-sia, kambing itu mau meminum susu yang kuberikan. Si kakek hanya diam menatap tingkah anehku. Kambing itu seolah bagaikan seorang kekasihku. Aku terus mengusap dan memeluk kambing itu sambil memberinya susu. Kakek itu pasti akan menganggapku tidak waras, tapi inilah diriku dengan segudang keanehan.

“Bagaimana jika kau saja yang merawat kambing ini selama seminggu? Kalian terlihat sangat akrab,” kata kakek itu tetapi aku masih diam berpikir.

“Aku akan membayarmu setelah seminggu kau rawat. Bagaimana?” lanjutnya.

“Tawaran yang menarik. Baiklah akan kurawat kambing ini,” balasku senang lalu kuberikan secarik kertas bertuliskan alamat tempat tinggalku.

“Kalau begitu, aku pamit pergi dulu,” ucap kakek lalu pergi meninggalkanku dengan kambing ini.

       Setelah berpikir sesaat, akhirnya kuputuskan untuk tidak bekerja hari ini dengan alasan sakit meski berbohong. Kubawa kambing ini pulang ke tempat kost. Beruntung, pemilik kost mengizinkanku untuk merawat kambing ini selama seminggu di halaman rumah. Kuikat kambing ini dibawah pohon yang rindang agar bisa berteduh.

“Kambing milik siapa itu? Apa kau mencurinya?” tanya teman kost tiba-tiba.

“Yang benar saja kau. Aku bukan pencuri. Ini kambing milik orang lain yang dititipkan padaku,” balasku sedikit kesal sambil memeluk kambing itu.

“Baguslah, kupikir kau berbuat aneh lagi,” ucapnya menyeringai.

“Daniel. Kau sendiri kenapa tidak pergi ke kampus? Bukankah hari ini ada mata kuliah?” kataku.

“Aku sedang malas hari ini. Sudah, aku mau tidur dulu,” jawabnya lalu pergi.

       Hari demi hari kambing ini kurawat dengan penuh kasih sayang, bahkan sudah seperti kekasihku. Sepertinya kambing ini sangat penurut kepadaku. Aku selalu memberinya makan rumput tiga kali sehari. Tak lupa minum susu segar bahkan selalu kuajak jalan-jalan. Tingkah anehku ini membuat orang-orang sekitar menjadi risih terhadapku, termasuk penghuni kost. Aku tidak peduli komentar mereka terhadapku, karena bagiku yang terpenting adalah merawat kambing ini dengan baik.

       Tak terasa seminggu telah berlalu. Si kakek akhirnya datang. Seharusnya hari ini aku senang karena akan mendapat banyak uang dari pekerjaanku merawat kambingnya. Namun, aku justru sangat sedih harus berpisah dengan kambing yang kusayangi.

“Bisa aku bawa kembali kambing itu?” kata kakek.

“Tentu saja bisa. Kambingnya ada di halaman rumah,” jawabku dengan wajah pucat.

“Nanti malam aku akan kembali sekaligus membayar upahmu,” ucapnya.

“Baiklah. Sampai jumpa nanti malam,” jawabku.

Si kakek melepas ikatan tali dan langsung pulang membawa kambing itu.

       Setelah kejadian tadi siang, hari ini aku merasa pudar. Tidak ada lagi kambing yang menemaniku. Bagiku, kambing itu sangat berharga seperti keluargaku sendiri bahkan seperti kekasih. Namun apadaya, aku bukanlah pemilik kambing itu.

“Apa yang kau pikirkan? Sedari tadi kau hanya tiduran di sofa memandangi langit-langit,” ucap Daniel yang membuatku kaget.

“Bukan urusanmu,” balasku singkat.

“Aku tahu, pasti kau sedang memikirkan kambing kesayanganmu itu. Kuharap kau tidak menjadi gila hanya karena seekor kambing” katanya namun aku hanya menghiraukan.

       Malam harinya, si kakek datang lagi untuk memberikanku uang sebagai upah karena telah merawat kambingnya. Dia juga membawa bungkusan makanan yang sepertinya terlihat lezat. Benar saja, ternyata ini adalah gulai kambing.

“Terima kasih atas semua ini,” ucapku dengan senyum.

“Kau tidak perlu berterimakasih,” balasnya.

“Bagaimana keadaan kambingnya? Apa masih baik-baik saja?” tanyaku gugup.

“Kau ini aneh sekali menanyai kambing seolah kekasihmu yang sedang pergi. Tentu saja kambing itu sudah menjadi gulai yang kau pegang itu,” katanya sambil sedikit tertawa.

“Jadi, gulai ini…”

Seketika aku menjatuhkan bungkusan gulai kambing itu lalu aku lari terbirit-birit sambil menangis memikirkan kambing itu. Aku tak tahu harus berlari sejauh mana sampai akhirnya sebuah mobil menabrak tubuhku hingga terpental dan tewas.

kriiing…

       Jam alarmku berbunyi dengan kencang hingga membuatku terbangun. Tubuhku sangat basah oleh keringat akibat mimpi buruk tadi.

“Ternyata hanya mimpi. Astaga, kupikir aku benar-benar menjadi orang aneh yang menyayangi seekor kambing,” ucapku dengan napas lega.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Senin, 05 Maret 2018

[CERPEN] 4+4=3+5 (Love, Girl, Boy and Tears)

4+4=3+5
(LOVE, GIRL, BOY, AND TEARS)

Oleh :

DANKIN

       Aku menangis menatap mereka berdua bahagia menikah. Hatiku bagaikan tertusuk duri-duri yang sangat tajam. Entah apa yang merasuki tubuhku, aku memberontak di acara pernikahan mereka. Meja dan kursi aku tendang dengan penuh emosi kemarahan.

“Hentikan acara ini!!!” teriakku sembari memberontak.

Datanglah beberapa petugas keamanan yang berusaha menghentikan perbuatanku.

“Apa-apaan kalian ini. Jangan mengangguku!!!” bentakku pada petugas keamanan, tetapi usahaku sia-sia karena jumlah mereka lebih banyak sehingga bisa menghentikanku.

Sambil menangis dan mencoba memberontak, aku diseret keluar oleh petugas keamanan itu.

       Pagi hari yang cerah, aku terbangun dengan banyak keringat di tubuhku. Kulihat tempat tidurku sangat berantakan.

“Ahhh, kenapa mimpi itu yang harus terjadi?” ucapku dalam hati sambil mengucek mata dan segera mengambil buku catatan harian untuk menuliskan kejadian yang sama persis dengan mimpiku tadi.

“28 Februari 2018 pukul 20.00, Aku Memberontak di Acara Pernikahan Dankin dengan Leonabegitulah kira-kira yang kutulis.

“Tidak lama lagi mereka menikah. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin itu semua terjadi,” kataku.

       Namaku Bobby. Sejak kecil, apapun yang kumimpikan selalu menjadi kenyataan. Sebab itulah mengapa selalu kutulis dalam buku catatan harian untuk mengingatkanku agar bisa mengubah kejadian tersebut jika itu buruk. Salah satu mimpi burukku yang menjadi nyata adalah ketika ayahku harus meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Di situlah aku membenci diriku yang tidak bisa mengubah mimpi buruk itu.

       Hari ini, aku menikmati cuti dengan bermalas-malasan di rumah. Akhirnya aku bisa terbebas dari pekerjaanku sebagai polisi yang selalu berpatroli di jalanan. Meski hanya tiga hari, setidaknya aku merasa cukup senang menikmatinya.


ting…tong…

Terdengar suara bel rumahku. Sepertinya ada seseorang yang datang. Langsung saja aku hampiri untuk membukakan pintu.

“Selamat pagi,” ucap seorang pria yang tak lain adalah Dankin.

“Apa kabar, Bobby?” Leona muncul dari belakang Dankin dan entah kenapa membuat hatiku marah melihat mereka berdua bersama.

“Selamat pagi juga. Aku baik-baik saja hari ini,” jawabku dengan senyum memaksa.

“Kudengar kau sedang cuti. Jadi, kami ingin mengunjungimu sekaligus memberitahumu kalau sepuluh hari lagi kami akan menikah,” terang Dankin.

“Kalian akan menikah?” ucapku terkejut.

“Ada apa denganmu? Apa ada masalah?” tanya Dankin .

“Ah, tidak. Aku hanya terkejut kalian akan menikah secepat ini. Kupikir tahun depan,” jelasku.

“Kami sudah sangat saling mencintai dan berkomitmen untuk menikah sesegera mungkin. Memang ini terlalu cepat, tapi aku percaya kami akan bahagia,” jelas Leona tiba-tiba.

Mendengar penjelasannya, aku merasa sakit hati terhadapnya. Namun, perasaan itu sangat sulit kuutarakan.

       Aku memasak makanan spesial hari ini untuk kami bertiga makan sekaligus sebagai ucapan selamat pada mereka berdua yang sebentar lagi menikah. Meski sakit, aku harus bisa menerima kenyataan ini. Sambil meneteskan air mata, aku tetap memasak dengan serius.

“Aku harus mengubah mimpi itu!” tegasku dalam hati.

       Selesai memasak, aku segera menghidangkan makanan ini untuk mereka berdua. Kulihat mereka sedang bermesraan di sofa. Seketika aku terdiam melihatnya namun hanya sesaat.  Aku kembali berjalan menghampiri mereka.

“Ini dia masakan spesial yang kubuat untuk calon pasangan suami istri yang akan segera menikah,” ucapku dengan ceria.

"Steak cacahnya terlihat enak," kata Leona.

"Aku yakin pasti enak. Masakan buatanmu selalu yang terbaik, Bobby," puji Dankin yang membuatku sangat senang.

Kami bertiga pun menyantap steak cacah bersama sembari membicarakan tentang acara pernikahan mereka nanti.

       Seorang wanita datang mengacaukan acara makan malam Dankin dan Leona di sebuah restoran. Terlihat wanita itu menyiramkan minuman ke arah Dankin yang membuat Leona marah dan terjadilah adu mulut. Wanita itu kemudian mengambil pisau makan dari meja dan berusaha menusukkan ke Leona, tetapi Dankin yang berusaha melindungi Leona tertusuk pisau tersebut.

“Siapa wanita itu?’ ucapku setelah terbangun dari mimpi tadi.

“21 Februari 2018 pukul 20.35, Seorang Wanita Melukai Dankin,” kutuliskan kembali mimpi tadi ke buku catatan harianku agar aku bisa menghentikan kejadian itu. Jangan sampai wanita itu melukai Dankin.

21 Februari 2018,
       Aku  yang sedang berpatroli teringat mimpiku sebelumnya. Langsung saja kubawa mobil menuju lokasi kejadian. Tepat pukul 20.30, aku sampai di tempat. Kulihat dari kejauhan, Dankin dan Leona sedang menikmati makan malam.

“Dimana wanita itu?” tanyaku dalam hati sambil melihat sekeliling.

Sesaat, akhirnya aku menemukan wanita itu yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua. Segera aku mendatangi wanita itu kemudian kutarik tangannya keluar untuk menghentikan perbuatannya nanti.

“Lepaskan!” teriaknya yang membuatku melepaskan genggamanku.

“Siapa kau, beraninya menarik tanganku!” bentaknya.

“Aku tahu apa yang akan kau lakukan pada mereka. Sebaiknya kau jangan mengacaukan makan malam mereka,” balasku.

“Memangnya kau siapa. Beraninya mengaturku?” bentaknya lagi.

“Lebih baik kau ikut denganku. Akan kujelaskan nanti,” jawabku sambil menarik tangannya ke mobil.

Aku membawanya ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu kami berdua. Tempat rahasiaku yang berada di belakang bukit dekat kantor polisi tempatku bekerja.

       Tibalah kami tak lama setelah perjalanan tadi. Dia yang sedari tadi terus berbicara panjang lebar tiba-tiba terdiam saat memasuki tempat rahasiaku. Nampak matanya yang tak lepas dari pandangan foto-foto di dinding. Entah dia takjub melihat banyaknya foto atau warna dindingnya yang penuh warna seperti pelangi, atau mungkin keduanya. Namanya Sania. Kami berkenalan saat di perjalanan tadi. Aku bahkan sudah menjelaskan alasan mengapa aku menariknya untuk menghentikan perbuatan yang akan dia lakukan.

“Menakjubkan. Aku tak menyangka ternyata kau memiliki kelainan sepertiku,” ucapnya sambil terus memandangi dinding yang penuh dengan fotoku bersama orang yang kusayangi.

“Apa maksudmu? Memiliki kelainan yang sama?” tanyaku kebingungan.

Sania memperlihatkanku koleksi foto di ponselnya. Benar saja, hampir semuanya dipenuhi foto dirinya bersama orang yang ia sayangi. Dan tentunya banyak editan fotonya yang diberi latar belakang warna pelangi.

“Jadi kau menyukainya. Pantas saja kau berusaha mengacaukan makan malam mereka,” kataku.

“Ya, kau juga sama kan? Itu artinya, kita memiliki tujuan yang sama untuk memisahkan Dankin dan Leona. Benar begitu?” terangnya.

“Kupikir jika berhasil pun, keinginan kita tidak akan bisa terwujud untuk bersama orang yang kita sayangi. Dunia ini terlalu kejam untuk orang-orang seperti kita,” jelasku.

“Kau benar. Orang lain pasti akan menganggap kita seperti sampah dan akan dikucilkan dari masyarakat,” ucapnya sambil meneteskan air mata.

Perbincangan kami sangat panjang hingga sama-sama meneteskan air mata. Kami sama-sama saling mencurahkan isi hati yang memang isinya akan membuat kami dikucilkan masyarakat jika tersebar luas. Pada akhirnya, kami tertidur di tempat ini dan sejenak berusaha melupakan orang yang kami sayangi meski sangat sulit.

28 Februari 2018,
       Di hari pernikahan Dankin dan Leona, aku menjadi salah satu polisi yang bertugas menjaga keamanan persis seperti dalam mimpiku sebelumnya sekaligus menjadi tamu undangan. Kali ini, aku akan berusaha untuk tidak memberontak seperti dalam mimpi. Sania juga hadir di acara ini dan sepertinya ia sangat sedih. Aku pun menghampirinya untuk mengobrol.

“Kau datang juga,” ucapku di sampingnya.

“Karena mereka temanku. Jadi, aku harus datang untuk mengucapkan selamat,” balasnya.

“Ah, kupikir kau sedang menangis di kamar karena pernikahan ini,” kataku menimpali.

“Sejujurnya, hatiku menangis sedari tadi. Tapi aku harus kuat menghadapi situasi seperti ini. Jika dia bahagia, maka aku juga bahagia. Bukankah kau juga begitu?” jelasnya yang kubalas dengan senyuman.

Acara pernikahan sudah berlangsung, kini tinggal menikmati acara dengan hiburan, makanan, foto bersama sang pengantin, serta hiburan lain. Aku berfoto bertiga bersama Dankin dan Leona, rasanya sangat sakit sekaligus bahagia. Kulihat Sania juga melakukan hal serupa denganku. Sania terlihat sedang menaiki tangga menuju atap gedung ini setelah berfoto tadi, tetapi aku menghiraukannya. Aku pun segera pergi meninggalkan tempat ini untuk menenangkan diriku.

       Hujan terlihat mengguyur jalanan kota dengan derasnya. Aku mengendarai mobil sambil menangis seperti hujan yang deras ini. Pikiranku sangat kacau mengingat pernikahan itu. Kupikir hujan ini mengerti apa yang sedang kurasakan sekarang ini. Tiba-tiba, ponselku berdering karena ada sebuah pesan dari Sania. Aku sangat terkejut membaca isi pesannya.

“Aku tidak kuat dengan semua ini. Aku akan mengakhiri hidup ini dengan kesedihan. Kumohon sampaikan perasaanku pada Leona. Katakan jika aku sangat menyayanginya,” itulah isi pesan singkatnya sekaligus mengirim foto dirinya sedang di atap gedung untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap gedung.

Aku sangat mengerti dengan perasaannya karena perasaan itu sama dengan apa yang kurasakan sekarang. Konsentrasi menyetirku semakin buruk saat melihat fotoku bersama Dankin dan Leona tadi. Air mataku semakin banyak menetes melihat foto itu. Aku terus berharap jika pernikahan yang terjadi dalam foto adalah pernikahanku dengan orang yang kusayangi, Dankin. Karena terus memandangi foto itu, mobil yang kukendarai tergelincir akibat genangan air di jalan yang menyebabkan kecelakaan tak bisa dihindari. Kecelakaan itu mengakibatkan banyak korban jiwa termasuk diriku yang akhirnya tewas di tempat kejadian.


*****TAMAT*****


Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Selasa, 14 November 2017

[CERPEN] Hujan Deras

HUJAN DERAS

Oleh :

DANKIN

       Sore ini, hujannya sungguh deras. Suara air hujan yang terjatuh, membuat hati ini menjadi lebih tenang. Kupandangi hujan dari balik kaca jendela, terlihat sosok wanita dibawah pohon sedang berteduh. Cepat-cepat aku mengambil payung untuk menyusulnya.

"Kau sedang apa disini? Cepat ikut aku!" kataku sambil memberinya payung.

Wanita itu mengangguk dan menuruti kata-kataku. Di dalam rumahku, kupersilakan dia duduk di kursi sambil meminum air hangat.

"Minumlah dulu, akan kusiapkan air hangat untuk kau mandi," ucapku dengan senyuman.

"Ya," jawabnya singkat.

Aku pun mempersiapkan air hangat untuknya mandi.

"Sebaiknya kau mandi dulu. Tubuhmu terlihat kedinginan," kataku.

"Ya...terima...kasih," ia menjawab dengan terbata-bata.

Dia pun langsung menuju kamar mandi yang sudah kupersiapkan air hangat untuknya.

     Saat sedang duduk sambil menyeruput kopi, kulihat wanita itu telah selesai mandi dan berjalan dihadapanku. Aku seakan terhipnotis kala memandangi wajahnya yang cantik.

"Apa yang terjadi padaku?" tanyaku dalam hati.

Dia menengok ke arahku hingga membuatku kaget.

"Ada yang salah padaku?" tanyanya.

"Ah, tidak tidak," jawabku gugup.

"Siapa namamu?" tanyaku memulai pembicaraan.

"Namaku Viola. Lalu kau?"

"Panggil saja Lee. Akan kuantar kau pulang setelah hujan reda," kataku padanya yang dibalas anggukkan dan senyuman manis.

       Malam hari tiba, kulihat hujan di luar sudah reda. Aku sudah berjanji pada Viola untuk mengantarnya pulang, tetapi aku mengajaknya makan malam terlebih dahulu. Aku yang sedari kecil pandai memasak, untuk pertamakalinya memasak hidangan untuk seorang wanita. Perasaanku sangat gugup.

"Ayo kita makan malam dulu," ajakku.

"Kau yang memasak semua ini?" tanyanya dengan wajah yang terus memandangi hidangan di meja makan.

"Menurutmu?" balasku dengan senyum.

Kami pun makan malam berdua. Sejujurnya ini pertamakali aku makan hanya berdua dengan wanita. Hal yang mungkin langka dalam hidupku.

"Ini enak sekali. Aku tak menyangka ada pria yang pandai masak sepertimu," ucapnya kagum padaku.

"Sedari kecil memang inilah bakat yang aku miliki dan sudah menjadi hobi."

Selesai makan malam, aku pun bersiap untuk mengantarnya pulang dan tentunya dia sudah siap. Akhirnya, kuantarkan dia pulang dengan mengendarai mobilku.

       Sampailah kami di rumahnya. Sebelum aku meninggalkannya, kami saling bertukar kontak agar hubungan pertemanan kami tidak sampai disini saja.

"Terima kasih sudah mengantarkanku, apa kau mau mampir sebentar?"

"Ah, tidak usah. Ini sudah malam dan aku harus beristirahat," balasku.

"Kalau begitu hati-hati di jalan."

"Aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucapku sebelum akhirnya meninggalkan dia pergi.

      Tepat pukul sepuluh malam, aku baru sampai rumah. Kuakhiri hari ini dengan istirahat karena tubuh ini terasa sangat lelah. Kubaringkan tubuhku di kasur  dan berharap mendapat mimpi indah yang menghiasi tidurku. Perlahan, mataku mulai terlelap dan pada akhirnya tertidur.

       Pagi hari tiba, cahaya matahari begitu menyilaukan hingga menembus jendela rumah yang membuatku terbangun. Kulihat ponselku, ada sebuah pesan dan kubuka dan ternyata dari Viola.

"Pagi! Semoga harimu menyenangkan, semangat!!!" begitulah isi pesan tersebut.

Aku hanya bisa tersenyum membacanya. Kubalas pesan tersebut dengan kalimat yang sama. Tak lama dia membalas.

"Besok lusa, apakah kau ada waktu untuk menemaniku berlibur?" tanya Viola.

"Kebetulan sekali aku tidak ada kesibukan di hari itu. Tentu saja aku bisa menemanimu," balasku.

"Benarkah? Baguslah kalau begitu."

"Memangnya kenapa?" tanyaku bingung.

"Tidak apa-apa," dia membalas.

"Aneh sekali. Bodoh," balasku.

       Hari Minggu tiba, aku sudah siap untuk menemuinya. Sebelum itu aku menghubungi terlebih dahulu.

"Bagaimana? Apakah kau sudah siap?"

"Ya, tentu saja aku sudah siap, Lee," jawabnya sedikit bergurau.

"Aku akan menemuimu sekarang. Sampai jumpa."

Aku langsung mengendarai mobilku ke rumah Viola.

       Tepat lima belas menit perjalanan, mobilku telah sampai di depan rumahnya. Rupanya, Viola telah menungguku. Kubuka kaca mobil dan menyuruhnya segera naik. Viola yang mendengarku langsung masuk ke mobil, tepatnya duduk disampingku.

"Kau sudah lama menunggu?" tanyaku memulai.

"Hmmm...tidak juga," jawabnya.

Aku langsung menancapkan gas dan mobil pun melaju meninggalkan tempat tersebut. Hari ini kami sudah merencanakan untuk berlibur ke luar kota. Meskipun hubungan pertemanan kami baru berjalan kurang dari seminggu, tetapi kami sudah sangat dekat. Aku merasa nyaman jika dekat bersamanya.

       Cuaca hari ini begitu buruk, di tengah perjalanan, hujan yang deras mengguyur kota sehingga mengganggu perjalanan kami. Meski sebenarnya ini bukan hal buruk karena aku sangat menyukai hujan. Suara dan udara sejuknya itulah yang membuatku menyukainya. Kulihat ke arah Viola, terlihat dia memandangi jalanan yang terguyur hujan deras.

"Kenapa dengan hujannya?" tanyaku.

"Tidak apa-apa. Aku hanya menyukai saat-saat hujan seperti ini. Kesejukkannya mengingatkanku saat masih kecil," kata Viola.

"Saat masih kecil?" tanyaku lagi.

"Ya, saat aku kecil sangat suka bermain saat hujan turun. Sangat menyenangkan," jelasnya.

"Ternyata kau sama-sama menyukai hujan juga," kataku.

"Kau juga suka hujan?" tanyanya kaget.

"Ya, begitulah," jawabku singkat.

       Perjalanan sudah kami tempuh selama kurang lebih satu jam. Sepertinya, hujan deras ini akan menggagalkan rencana kami untuk berlibur. Kurasa liburan kali ini adalah menikmati pemandangan hujan deras bersama Viola. Aku tak memikirkan liburan kita ke luar kota, mungkin karena sebenarnya aku menyukai Viola. Hal itulah yang membuatku senang bisa terus berdua dengannya meski liburan kami terganggu.

"Apa kita harus pulang?" tawarku.

"Sepertinya liburan kita tidak berjalan dengan lancar," keluhnya.

"Kau tidak perlu sedih. Anggap saja liburan kita adalah melihat pemandangan hujan dari dalam mobil," kataku menghibur.

Viola hanya membalas dengan senyuman manis. Kurasa dia sudah tidak lagi kecewa dengan keadaan sekarang. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali pulang.

       Saat perjalanan pulang, hujan semakin deras dan mengganggu pemandangan dari kaca mobil. Tiba-tiba tanpa kusadari, mobil yang kukendarai menabrak sebuah pembatas jalan samping kiri hingga mobil kami terguling. Kecelakaan itu membuat kami harus dilarikan ke rumah sakit.

       Malam harinya aku terbangun dan melihat diriku sudah terbaring diatas tempat tidur pasien rumah sakit. Tepat di samping ada kedua orangtuaku yang datang menjenguk.

"Ayah, ibu, apa yang terjadi padaku?" aku bertanya dengan ketakutan.

"Tadi sore kau mengalami kecelakaan. Tapi beruntung, kau hanya mengalami luka ringan," jawab ibuku.

Aku pun teringat kalau saat itu sedang mengendarai mobil bersama Viola. Perasaanku sangat cemas kala mengingat Viola.

"Lalu bagaimana dengan keadaan Viola?"

"Teman wanitamu itu baru saja meninggal dunia. Orangtuanya sangat terkejut saat melihat keadaannya. Rencananya, Viola akan dimakamkan besok siang," jelas ibuku.

Aku langsung terkejut dan merasa bersalah. Seandainya tidak ada hujan deras saat itu, mungkin kami masih bisa bersama dan aku bisa secepatnya menyatakan perasaanku padanya. Tapi Tuhan berkata lain, mungkin ini takdirku yang harus ditinggal orang yang paling kucintai. Aku menangis meneteskan banyak air mata. Sangat terpukul hati ini mendengat penjelasan ibuku. Aku sangat menyesal. Akulah penyebab kematian Viola. Sku membenci diriku sendiri. Aku membenci hujan. Kini, aku tidak lagi menyukai hujan. Saat hujan turun, aku seolah menjadi orang yang sangat membenci dunia ini. Setiap hujan turun, aku tidak berani melihat bahkan mendengar suara rintiknya. Aku menjadi orang yang sangat depresi ketika hujan turun.

       Aku seperti mendengar orang yang memanggil namaku. Suara lirih itu seperti kukenal.

"Lee, ayo bangun. Hujannya sudah reda."

Tiba-tiba, aku terbangun dan terkejut melihat Viola dihadapanku. Posisi kami masih berada di dalam mobil.

"Apa yang terjadi padaku?" tanyaku bingung.

"Sedari tadi kau tertidur. Sekarang hujannya sudah reda. Ayo kita lanjutkan perjalanan," jelas Viola.

Akhirnya aku teringat, ternyata kecelakaan itu hanyalah mimpi buruk. Senyumku terus terlihat setelah tahu kalau ternyata aku masih bisa bersama Viola lagi. Mimpi buruk itu membuatku menjadi berhati-hati dalam bertindak sesuatu. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk menikmati perjalanan berdua. Dan pada akhirnya, aku masih menyukai hujan.

       Setelah lama kami lelah dalam perjalanan, kami pun sampai di tempat yang dituju. Kami masih harus naik kapal kecil untuk menuju salah satu pulau kecil yang sangat indah. Akhirnya kami menginjakkan kaki ke pulau tersebut. Pemandangan laut yang terlihat dari pulau tersebut sangat indah. Air laut begitu biru cerah dengan pemandangan ikan-ikan kecil dan ubur-ubur. Kami berdua sangat menikmati liburan ini.

       Malam hari tiba, makan malam telah disediakan oleh pihak pemilik tempat wisata tersebut. Obor api yang menyala sepanjang pantai begitu terang ditambah lagi lampu-lampu yang cantik semakin menambah kesan romantis di malam hari. Kami berdua makan bersama di satu meja makan. Alunan musik yang merdu sangat menghibur makan malam ini.

"Ada yang ingin aku katakan," kataku.

"Kau ingin berkata apa?" tanyanya.

"Sejauh pertemanan kita saat ini, aku merasa kita bisa menjadi lebih dari ini. Sejak pertama bertemu, aku langsung terpana padamu, kau wanita pertama yang bisa membuat hatiku terbuka untuk mencintai seseorang. Maukah kau menjadi kekasihku?" ungkapku sambil menyodorkan kancing ketiga bajuku yang baru saja aku lepas.

"Kancing baju?" dia sedikit bingung.

"Bagiku kancing ketiga dari bajuku ini merupakan perwakilan dari perasaan hatiku padamu. Aku memberikan semua perasaan ini padamu, kuharap kau mau menerima dan menjaga perasaanku ini," lanjutku.

"Aku sangat kagum padamu. Yang kau lakukan ini sangat mengesankan. Tidak seperti pria pada umumnya, sangat berbeda. Aku juga menyukaimu, Lee," jelasnya sambil menerima kancing yang kuberikan.

Aku pun memeluk tubuhnya kencang. Malam hari ini begitu indah. Orang yang aku cintai kini sudah menjadi kekasihku.

"Jagalah perasaanku juga, Lee," kata Viola saat kupeluk.

Sisa malam hari ini, kami habiskan dengan menikmati fasilitas yang telah disediakan di pulau ini.

       Hari berlalu, kami bersiap untuk pulang. Tidak sia-sia kami menikmati liburan di pulau ini. Momen ini menjadi momen yang tak akan pernah aku lupakan. Kami pun berjanji untuk tetap saling mencintai sampai maut menjemput kami apapun yang terjadi. Kapal tersebut kembali mengantar pengunjung pulau. Kami melambaikan tangan kepada para pekerja yang telah profesional melayani liburan kami. Kunyalakan mobil dan segera bersiap untuk pulang.

       Belum lama kami dalam perjalanan, tiba-tiba hujan deras mengguyur jalanan kota. Kulihat jalanan sepi, kuinjakkan gas lebih laju agar cepat sampai. Entah karena lelah atau kurang fokus, ternyata apa yang kulihat tadi tidak seperti apa yang kupikirkan. Mobil yang kukendarai menabrak mobil lain yang berada di depan dengan kencang hingga terguling. Kecelakaan itu tentu saja tidak bisa kuhindari.

        Tiba-tiba, aku berada dibawah guyuran hujan dan memandangi mobil yang mengalami kecelakaan. Kudekati mobil itu dan kulihat ada diriku yang lain terluka parah bersama Viola. 

"Kecelakaan itu. Mimpi itu. Jadi mimpi yang lalu itu benar-benar terjadi sekarang. Jadi yang sekarang itu nyata?" tanyaku pada diri sendiri.

Air mata tergelinang dari mataku kala melihat kondisi Viola yang sangat mengenaskan tepat di samping tubuhku. Aku sangat menyesal dengan kejadian ini, seharusnya setelah mimpi buruk itu, aku tidak perlu melanjutkan perjalanan berlibur. Tunggu dulu, sepertinya aku melihat Viola yang lain menangis.

        Aku mendekatinya untuk memeluk tubuh Viola. Meski sedih melihat diri kami yang sesungguhnya mengenaskan. Tetapi, kami berdua akhirnya berjalan bersama menyusuri jalanan yang masih terguyur hujan deras dengan senyuman bahagia. Tangan kami saling menggenggam satu sama lain. Hujan deras ini menjadi bukti bahwa cinta kami abadi sampai maut menjemput kami.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Senin, 02 Januari 2017

[CERPEN] Terjebak Cinta

TERJEBAK CINTA

Oleh :

DANKIN
Dita Dwi L.
Seftia Winda S.

       Bencana tsunami melanda Korea Selatan tepatnya di Distrik Bupyeong. Saat itu, keadaan sangat genting. Sebuah keluarga tengah berlari menghindari ombak besar yang tiba-tiba menghantam kawasan tersebut saat pagi hari. Para tim penyelamat berhamburan keluar untuk menyelamatkan masyarakat sekitar yang tengah bertahan hidup dari hantaman ombak. Suara teriakkan orang-orang dan sirine bergema di tempat itu.

"Kakak, aku takut...," rengek Bona, adik dari seorang gadis yang tengah berjuang melawan maut.

       Tim penyelamat segera mendatangi keluarga itu menggunakan kendaraan besar anti tsunami dari Jepang. Mereka berhasil menarik tangan gadis malang itu. Namun naasnya, orang tua dan kakaknya terseret arus gelombang dahsyat dan tidak bisa diselamatkan lagi. Sementara tubuh gadis itu terbentur bangunan saat tubuhnya ditarik oleh tim penyelamat. Dia pun pingsan dengan tubuh bersimpah darah.

"Cepat, selamatkan dia!!!" teriak salah seorang petugas.

Entah apa yang dirasakan gadis itu saat ini, bayangan putih terus menghantuinya antara hidup dan mati.

"Kami menemukannya. Dia hampir terseret gelombang itu," ujar salah seorang petugas.

"Keadaannya sangat parah, aku tidak menjamin dia akan tetap hidup," jawab seorang dokter di rumah sakit tersebut.

"Aku yakin dia bisa diselamatkan. Aku percaya akan keajaiban," ucap seorang pria berpakaian rapi.

Dia adalah Song Yunhyeong, seorang pebisnis muda yang sukses dan tinggal di wilayah Distrik Gangnam.

       Hari ini, Yunhyeong menjadi relawan untuk menolong para korban bencana, tetapi perhatiannya kini tertuju pada seorang gadis yang malang itu.

"Siapa gadis ini?" tanya Yunhyeong.

"Gadis ini bernama Kim Bona. Dia berasal dari keluarga sederhana yg berumur sekitar 19 tahun dan tinggal di Distrik Bupyeong. Semua anggota keluarganya telah meninggal," jelas seorang polisi kepada Yunhyeong.

Mendengar semua itu, Yunhyeong tertunduk lemah dan terus memandangi wajah cantik gadis itu.

"Tuan Song, syukurlah kami tim medis berhasil menyelamatkan gadis ini. Tetapi dia akan koma dalam waktu yang cukup lama," kata Dokter Han Jisung sambil tersenyum.

"Terima kasih. Biar semua biaya aku yang menanggung," balas Yunhyeong.

"Baiklah, Tuan Song. Aku akan kembali lagi nanti," lanjut Dokter Han.

       Dua bulan kemudian, Yunhyeong datang ke rumah sakit untuk menjenguk Bona yang terbaring lemah. Tiba-tiba jari tangan Bona mulai bergerak dan kelopak matanya perlahan terbuka. Ia melihat di sekelilingnya dengan kebingungan.

"Aku ada dimana?" rintih Bona.

"Kau sedang dirawat di rumah sakit," jawab seorang dokter.

Tak lama, datang seorang pria tampan di ruangan itu. Dokter pun meninggalkan ruangan tersebut.

"Kau sudah sadar rupanya," ucap Yunhyeong.

"Kau siapa? Dimana orangtua dan kakakku?" tanya Bona pelan.

"Jika aku berkata yang sesungguhnya, apakah kau akan percaya ucapanku?" balas Yunhyeong.

"Sebenarnya ada apa? Baiklah aku akan mempercayaimu," lirih Bona.

"Mereka semua sudah meninggal dua bulan yang lalu dan saat itu kau masih koma. Tetapi kau tidak perlu khawatir, aku yang akan merawatmu," Yunhyeong berkata tanpa memandang mata Bona.

"Apa? Tidak mungkin. Aku ingin bertemu mereka," Bona bersiap turun dari tempat tidur itu.

"Tetaplah di tempat ini, kau baru sadar dan masih butuh banyak istirahat," Yunhyeong mencoba menahan Bona.

"Tapi aku merindukan mereka," Bona menangis pelan.

"Sudah kubilang mereka sudah meninggal. Kau keras kepala sekali," balas Yunhyeong hingga membuat Bona terdiam.

"Maaf...," lirih Bona sambil menundukkan kepala.

"Sekarang kau istirahat saja. Kau masih belum benar-benar sehat," lanjut Yunhyeong.

"Kau ini siapa?" tanya Bona.

"Namaku Song Yunhyeong. Maaf, aku harus keluar karena banyak urusan pekerjaan. Nanti aku kesini lagi, sampai jumpa," balas Yunhyeong kemudian ia pergi meninggalkan ruangan itu.

       Waktu menunjukkan pukul tiga sore, rupanya Bona masih terlelap dalam mimpi indahnya. Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka dan tampaklah seorang pria tampan yang tak lain adalah Yunhyeong.

"Kau masih tertidur rupanya. Jika kuperhatikan ternyata kau sangat cantik," gumamnya seraya memandangi wajah Bona.

Perlahan, Bona membuka matanya tanda mulai terbangun.

"Tuan Song?" ucap Bona sambil mengucek matanya.

"Kau sudah bangun," ucap Yunhyeong kaget.

"Kau kemana saj?" tanya Bona.

"Aku sibuk dengan pekerjaanku. Apa kau sudah makan?" balas Yunhyeong.

"Tentu saja belum, sedari tadi aku tertidur. Aku lapar sekali," jawab Bona.

"Kebetulan sekali aku membawa makanan untuk kita makan," ucap Yunhyeong yang mulai menyiapkan makanan.

"Terima kasih, Tuan Song. Kapan aku boleh pergi dari tempat ini. Aku merasa sangat bosan," kata Bona merengek.

"Panggil aku Yunhyeong. Aku tidak tahu pasti kapan kau boleh pulang. Dokter masih menyuruhmu tetap dirawat di sini hingga benar-benar sembuh," jelas Yunhyeong.

"Bisakah aku pergi keluar sebentar saja untuk mencari udara segar," pinta Bona dengan wajah manisnya yang dibalas anggukkan Yunhyeong.

Mereka berjalan ke taman dekat rumah sakit tersebut. Bona terlihat bahagia sekarang ini. Yunhyeong yang melihatnya pun dalam hatinya ikut bahagia.

"Kau bisa menghirup udara segar disini," ucap Yunhyeong.

Bona memejamkan matanya sambil menghirup udara segar dan menikmati tempat tersebut hingga hari mulai gelap.

"Hari sudah gelap, lebih baik kita kembali," ujar Yunhyeong.

"Ya," balas Bona singkat.

Mereka kembali ke ruang tempat Bona dirawat.

"Maaf, aku harus pulang. Aku tidak bisa menemanimu lama. Sebaiknya kau istirahat saja."

"Tidak apa-apa. Kau juga harus istirahat," balas Bona tersenyum.

       Satu minggu telah berlalu, Yunhyeong muncul tiba-tiba di hadapan Bona sambil tersenyum.

"Selamat pagi. Aku membawa kabar baik untukmu," kata Yunhyeong.

"Benarkah ada kabar baik untukku?" balas Bona tersenyum.

"Kata dokter, kau boleh pulang hari ini," lanjut Yunhyeong.

"Ah senangnya," balas Bona.

"Akan kutunggu di luar, kau bisa memperisiapkan diri" Yunhyeong keluar ruangan tersebut sembari menunggu Bona selesai.

"Aku sudah siap," seru Bona.

"Ayo, kita langsung ke mobil," sahut Yunhyeong.

       Sampai di rumah Yunhyeong yang sangat besar dan mewah, mereka keluar dari mobil dan memasuki rumah itu sambil berjalan perlahan.

"Bagus sekali rumahmu. Apa kau tinggal sendiri di rumah sebesar ini," tanya Bona takjub.

"Sejak kedua orangtuaku meninggal tiga tahun yang lalu bersama kakak perempuanku, aku hidup sendiri di rumah ini," jawab Yunhyeong pelan.

"Astaga kau sama sepertiku rupanya. Aku pasti akan merepotkanmu disini," ucap Bona menundukkan kepala.

"Kau tidak merepotkanku. Justru aku senang ada seseorang yang bisa menemaniku di rumah," lanjut Yunhyeong.

"Terima kasih, Tuan Song. Maksudku Yunhyeong," Bona membungkuk.

"Kau bisa tidur di kamar kakakku. Sebaiknya, kau bereskan dulu barang-barangmu. Aku mau keluar karena ada pertemuan dua jam lagi. Kau tetap disini menjaga rumah," jelas Yunhyeong.

Yunhyeong pergi meninggalkan Bona di rumah karena harus ada urusan yang sangat penting.

       Hari telah sore, Yunhyeong sudah sampai di rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya yang sangat sibuk.

"Selamat sore," teriak Yunhyeong saat memasuki rumah.

"Aku ada di dapur," Bona membalas dengan berteriak.

"Kau sedang apa?" tanya Yunhyeong saat di dapur.

"Aku sedang memasak untuk makan malam kita," balas Bona.

"Kau bisa masak ternyata. Akan kutunggu hidanganmu selesai," kata Yunhyeong.

"Baik."

Bona melanjutkan memasaknya yang sempat tertunda obrolan kecil. Makanan telah siap dihidangkan di meja makan dengan tatanan rapi yang menggugah selera makan.

"Yunhyeong, ayo kita makan. Makanannya sudah siap," teriak Bona dari meja makan.

"Ya, aku segera kesana," balas Yunhyeong berjalan ke meja makan.

"Silakan duduk dan makan yang banyak."

"Kau masak apa malam ini," tanya Yunhyeong seraya duduk.

"Aku memasak bulgogi dan bibimbap," jawab Bona.

Makan malam mereka pun selesai. Sekarang mereka sedang bersantai sambil menonton acara televisi.

"Aku ingin membahas tentang dirimu. Kau ini kan masih seorang mahasiswi di Universitas Kyunghee. Kau lanjutkan saja kuliahmu itu, biar aku yang akan membiayai semuanya," terang Yunhyeong.

"Benarkah? Terima kasih, Yunhyeong," ucap Bona sambil memeluk Yunhyeong.

      Tiga bulan berlalu, Yunhyeong baru saja selesai bekerja dan memarkirkan mobilnya di garasi. Ia segera memasuki rumah.

"Aku pulang. Apa kau sudah menyiapkan makan malam?" seru Yunhyeong.

Bona datang menghampiri dengan wajah yang murung. Yunhyeong yang melihatnya merasa bingung.

"Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" ucap Yunhyeong seraya mengacak rambut Bona.

"Jangan acak rambutku," balas Bona sedikit kesal.

"Kenapa tiba-tiba jadi sensitif seperti itu. Kau ada masalah apa?" Yunhyeong kebingungan.

"Apa kau sudah memiliki kekasih? Aku menemukan fotomu bersama wanita lain di laci. Dia itu siapa?" ucap Bona.

"Foto itu memang diriku bersama mantan kekasihku dulu. Aku sudah tidak berhubungan dengannya lagi. Atau jangan-jangan, kau menyukaiku?" jelas Yunhyeong.

Seketika wajah Bona memerah, terlihat sangat malu dirinya dihadapan Yunhyeong.

"Aku memang menyukaimu," jawab Bona pelan.

Yunhyeong hanya terdiam kemudian meninggalkannya ke kamar. Bona sedikit kesal, pernyataannya tidak dibalas sepatah kata pun.

       Makan malam tiba, mereka makan seperti biasa namun tidak terjadi banyak pembicaraan seperti biasanya. Bona terus memperhatikan Yunhyeong yang terus melahap makanannya tanpa menoleh ke arahnya hingga makan malam selesai.

"Ada hal penting yang ingin aku katakan," ucap Yunhyeong tiba-tiba.

"Tentang apa?" Bona menoleh.

"Sebenarnya aku juga menyukaimu. Apa kau mau menjadi pendamping hidupku? Menikahlah denganku," ucap Yunhyeong sambil memegang kedua tangan Bona.

"Kau serius? Tentu saja aku mau menjadi pendampingmu," balas Bona sambil memeluk erat.

       Seminggu kemudian mereka telah selesai dalam prosesi pernikahan. Sekarang, acara pesta pernikahan sedang dimulai. Para tamu undangan terlihat menikmati acara tersebut. Terlihat pula Yunhyeong dan Bona yang tersenyum bahagia. Dengan kekuatan cinta dan kasih sayang, mereka akan menghadapi kehidupan rumah tangga yang pastinya akan selalu ada beberapa masalah kecil maupun besar hingga maut menjemput nyawa mereka. Mereka benar-benar terjebak dalam cinta.

 *****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Sabtu, 30 Juli 2016

[CERPEN] Masih Mencintaimu

MASIH MENCINTAIMU

Oleh :

DANKIN
Pinky Devi K.
Seftia Winda S.

       Angin embun pagi menyentuh rambut panjangnya. Wendy tertegun dan teringat kecelakaan perih yang sudah mengambil penglihatannya. Melumpuhkan sarafnya, dan kini, ia hanya bisa menangis melihat dirinya yang tidak bisa apa-apa.

"Apa kau sudah makan?" tanya lelaki yang selalu datang ke rumah Wendy dengan wajah sumringahnya, Kai.

"Kau tidak usah repot-repot membawakan makanan untukku," jawab Wendy sembari menengok ke berbagai arah mencari dimana keberadaan namja itu.

"Jangan seperti itu. Aku sangat peduli padamu," lirih Kai.

       Wendy kembali menangis terbayang kecelakaan satu tahun lalu saat dia bersama teman-temannya menghadiri pesta kelulusan. Sambil meminum wine, Wendy dan teman-temannya yang mengendarai mobil tidak menaati peraturan. Mobil mereka terpelanting jauh dan menabrak tiang listrik. Dua temannya meninggal, sisanya luka parah. Kembali air mata Wendy jatuh di depan kekasihnya yang sedang duduk dihadapannya.

"Carilah wanita yang lebih sempurna dariku," setetes air mata meluncur tanpa Wendy sadari setelah mengucapkan kalimat tersebut.

"Kupikir, aku tidak memiliki alasan untuk bisa meninggalkanmu. Jadi, aku akan tetap disampingmu apapun yang terjadi," kata Kai sambil mengusap air mata dari wajah Wendy.

"Apa kau gila? Aku ini buta!!! Sedang kau sempurna. Kau pantas mendapatkan wanita yang sempurna juga,"balas Wendy lalu menghempaskan tangan Kai dari wajahnya.

"Apa kau pikir kondisi fisik yang sempurna adalah sesuatu yang sangat penting dari seseorang? Itu tidak benar. Jika sejak awal aku mencintaimu hanya karena memandang fisikmu, mungkin sekarang aku sudah meninggalkanmu. Tetapi kenyataannya apa? Aku masih disini menemanimu. Aku benar-benar mencintaimu. Cinta itu memang buta, tak peduli apapun alasannya, aku akan tetap mencintaimu karena yang aku butuhkan adalah perasaan hatimu yang tulus dan bukan karena kondisi fisikmu," jelas Kai.

"Aku tahu kau mencintaiku, tetapi aku akan menjadi beban dalam hidupmu."

"Kau tidak akan menjadi beban dalam hidupku. Dengan kondisimu yang sekarang ini, aku pasti akan selalu berada disampingmu. Dan kau juga akan selalu disampingku. Aku tidak akan pernah menyesal, percayalah," jawab Kai lalu memeluk erat tubuh Wendy dan mengecup keningnya.

"Apa aku bisa percaya padamu?" ucap Wendy.

"Ya, kau bisa mempercayaiku. Kau adalah cinta pertamaku. Sejak dulu, aku tidak pernah tahu apa itu cinta. Saat bertemu denganmu, baru aku mulai merasakan apa itu cinta," jawab Kai tersenyum lebar.

"Kenapa kau sangat baik padaku? Apa karena aku buta? Atau kau kasihan dengan kondisiku?"

"Aku bukan bermaksud mengasihanimu, Wendy. Aku benar-benar tidak ingin meninggalkanmu. Sampai kapan pun, aku akan ada untukmu. Kau harus percaya padaku," jelas Kai lagi.

"Aku rasa kau gila," ketus Wendy, menggelengkan kepala.

"Aku memang sudah gila karenamu.  Aku tak mampu melepasmu. Aku tak bisa hidup tanpamu. Tolonglah percaya padaku," Kai berusaha membuat Wendy percaya.

"Ya, aku mempercayaimu," ucap Wendy, menyandarkan kepala di bahu Kai.

"Aku sampai lupa. Ayo kau makan makanannya. Aku tidak ingin melihatmu sakit, biar aku yang menyuapimu,".
Kai mengambil makanan dan mencoba menyuapi tetapi Wendy menolak.

"Aku tidak nafsu makan. Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Wendy.

"Kalau kau tidak mau makan tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Sampai kapan aku buta? Apa aku tidak bisa melihat lagi?" kata Wendy kemudian menegakkan duduknya.

"Hmmm...apa kau mau jalan-jalan denganku?" ucap Kai mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Apa aku akan buta selamanya?" Wendy tetap bersikeras menanyakan hal itu.
Kai menghela napas panjang, berpikir keras.

"Sejujurnya, aku tidak tahu pasti apa kau akan buta selamanya atau tidak. Tetapi aku yakin, suatu saat kau akan mendapatkan donor mata dari seseorang" jawab Kai mencoba meyakinkan.

"Sampai kapan!" ketus Wendy.

"Kau tidak usah terlalu banyak pikiran tentang kondisimu. Aku disini akan selalu menemanimu, akan selalu menjagamu."

Kai menyentuh bibir Wendy dan membentuk sebuah senyuman yang manis. Dalam hati, Wendy hanya memaksakan senyuman tersebut.

"Benarkah? Tapi aku juga ingin melihat wajah tampanmu saat ini."

"Kau bisa sentuh wajahku jika ingin tahu," jawab Kai dan membimbing tangan Wendy untuk menyentuh wajahnya.

"Kau berubah?" ucap Wendy tersenyum.

"Aku tidak pernah berubah. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" tanya Kai.

"Baiklah," jawab Wendy mencari tangan Kai.

"Ayo, aku akan menuntunmu masuk ke mobil."

"Kita akan kemana?" Wendy kembali bertanya sambil berjalan mengikuti arahan Kai.

"Kau pasti tahu, itu tempat saat aku menyatakan perasaan padamu. Tempat yang menjadi saksi awal perjalanan cinta kita" jawab Kai.

Mereka pun sampai di mobil dan masuk. Mobil pun perjalan meninggalkan tempat itu.

"Apa kita sudah sampai?"

"Kita masih dalam perjalanan, bersabarlah," jawab Kai saat menyetir, kemudian mengacak-acak rambut Wendy.

"Jangan mengacak rambutku," ucap Wendy menyibirkan bibir.

"Kamu semakin cantik kalau cemberut seperti itu," goda Kai.

       Lima belas menit perjalan ditempuh, mereka pun sampai. Sepanjang perjalanan tadi, Kai terus menggoda Wendy demi menghibur hatinya.

"Kita sudah sampai. Aku bantu jalan."

Kai membuka pintu mobil dan menuntun Wendy berjalan.

"Tapi aku tidak bisa melihat, bagaimana aku bisa menikmati tempat ini?" gerutu Wendy.

"Kita sudah berada di taman. Tempat ini sangat bermakna bagi kita. Walaupun kau tak bisa melihat, setidaknya kau bisa merasakannya. Kita duduk di bangku saja," ucap Kai kemudian menuntun Wendy duduk di bangku.

"Aku dapat merasakannya. Aku masih ingat saat kau mengatakan cinta padaku di tempat ini," ucap Wendy dengan senyuman manis.

"Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum. Aku senang kau tersenyum seperti itu," Kai tak bisa membohongi hatinya yang senang melihat kekasihnya tersenyum.

"Benarkah? Aku sendiri bahkan lupa kapan terakhir kali tersenyum." 

"Aku jadi berpikir sesuatu. Seandainya saat pesta kelulusanmu selesai dan kau tidak menolak ajakkan pulang bersamaku, mungkin kau masih bisa melihat. Dan aku bisa terus melihat senyum indahmu," kata-kata itu seakan membuat Kai menyesal karena gagal menjaga Wendy.


"Aku juga menyesalinya."
Kurang lebih dua jam mereka menghabiskan waktu di taman itu, akhirnya mereka pulang.

       Seminggu berlalu, Kai datang menjenguk Wendy di kamarnya seperti biasa. Sudah menjadi kebiasaan Kai yang selalu menemui Wendy hampir tiap hari.

"Apa kau sudah tidak sedih lagi? Kuharap kau bahagia dan melupakan semua hal burukmu," sapa Kai dengan senyum hangatnya.

"Ahhh...akhirnya kau datang. Aku sangat merindukanmu. Kenapa lama sekali tidak menjengukku?" gerutu Wendy.

"Maafkan aku. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Aku ada kabar baik untukmu," jawab Kai jujur.

"Kabar baik? Untukku? Apa itu?" Wendy bertanya-tanya.

"Aku mendapat kabar dari dari rumah sakit, bahwa ada pasien yang sudah meninggal dan keluarganya bersedia mendonorkan mata untukmu. Dan bagusnya lagi, matanya sangat cocok denganmu. Hari ini kau bisa menjalani operasi itu," ucap Kai terlihat sangat gembira.

"Benarkah? Apa itu artinya aku dapat melihat lagi?" Wendy meneteskan air mata.

"Dokter bilang, kau mempunyai kesempatan besar untuk bisa melihat kembali. Apa kau senang mendengarnya?" jelas Kai.

"Ya, aku senang tetapi juga takut," wajah Wendy menjadi muram.

"Kau takut kenapa?" tanya Kai penasaran.

"Takut jika operasi gagal," jawab Wendy seadanya.

"Aku yakin pasti berhasil. Ayo kita ke rumah sakit. Aku akan menggendongmu ke mobil agar cepat."

Kai menggendong Wendy di punggungnya ke dalam mobil.

"Kenapa aku jadi gelisah begini," ucap Wendy tiba-tiba.

"Tenanglah. Aku ada disisimu," jawab Kai lalu membawa mobil ke rumah sakit.

       Tak lama, mereka sampai di rumah sakit. Terlihat jelas ekspresi wajah keduanya berubah. Begitu berdebar perasaan keduanya.

"Kita sudah sampai. Akan kutuntun kau berjalan," Kai membantu Wendy berjalan.

"Bagaimana kalau kita tunda saja. Perasaanku tidak enak," elak Wendy.

"Kenapa harus ditunda? Lebih cepat itu lebih baik. Aku ingin kau bisa melihat kembali seperti dulu," cegah Kai dengan kata menghibur.

Keduanya memasuki rumah sakit. Mereka sudah berada di ruang operasi sesuai jadwal. Seorang dokter muncul dengan siapnya bersama beberapa asistennya. Detik-detik operasi akan dimulai.

"Sekarang waktunya kau akan dioperasi. Aku tidak bisa mendampingimu, tetapi aku akan selalu mendoakanmu. Dihatimu ada aku, semangat!!!" ucap Kai memberi semangat.

"Terima kasih. Aku mencintaimu," ucap Wendy menggenggam tangan Kai.

"Aku juga mencintaimu," balas Kai.

Dalam hati, Wendy terus merasa khawatir. Tiba-tiba ia menangis.

"Kenapa kau menangis. Kau jangan khawatir, operasinya akan berjalan baik. Dokter bilang 90% kemungkinan kau akan bisa melihat lagi," ucap Kai sembari mengusap air mata Wendy.

"Aku menangis karena aku bahagia. Sebentar lagi aku bisa melihat wajah tampanmu," Wendy tersenyum.

"Aku juga bahagia," Kai pun sama-sama meneteskan air mata.

       Operasi pun dimulai. Dokter beserta asistennya sudah siap di ruang operasi.

"Aku yakin, kau akan bisa melihat kembali," dalam hati Kai sangat berharap Wendy bisa melihat kembali.

Lima jam operasi berlangsung dramatis. Operasi berjalan sukses. Dengan senyum bahagia, dokter beserta asistennya bangga atas keberhasilan operasinya. Kai pun diizinkan masuk. Ia melihat kalau mata Wendy masih diperban.

"Apa kau baik-baik saja?" sapa Kai.

"Kai, apa itu kau?" Wendy memanggil dengan suara lirihnya.

"Ya, ini aku. Aku disini, disampingmu," ucap Kai kemudian langsung memeluk tubuh Wendy.

"Apa aku akan bisa melihat lagi?"

"Tentu saja. Itu pasti," jawab Kai singkat sembari berpelukan.

       Setiap harinya, Kai selalu menjenguk Wendy di rumah sakit. Hingga satu minggu lamanya, ia terus menjenguknya.

"Apa kau sudah tidur?" ucap Kai setelah membuka pintu.

"Kau sudah datang. Hari ini perbanku akan dibuka dokter," senyum bahagia terpancar dari wajah Wendy.

"Aku senang mendengarnya."

Tak lama, dokter datang menghampiri untuk memberitahukan kalau perban akan dilepas. Perban pun mulai dilepas perlahan.

"Semoga di detik-detik akhir ini aku bisa melihatmu," ucap Wendy dalam hati.

Perban sudah terlepas semua. Wendy mulai membuka mata pelan-pelan. Pada awalnya terlihat remang-remang. Namun akhirnya, ia bisa melihat dengan jelas.

"Bagaimana, apa kau sudah bisa melihat?" tanya Kai gugup.

"Kai, apa itu kau?" Wendy menyipitkan mata.

"Ini aku, Kai."

"Kau sangat tampan. Kau lebih tampan dari yang dulu," Wendy langsung memeluk tubuh Kai.

"Aku sangat senang kau bisa melihat lagi. Hari-hari kita akan kembali seperti dulu lagi. Kuharap kau tidak mengulangi kejadian tahun lalu," ucap Kai senang.

"Aku tidak akan mengulanginya lagi," Wendy pun juga senang.

"Kata dokter, kau boleh pulang hari ini. Ayo bersiap-siap."

"Tunggu. Aku ingin keluar sebentar."

Wendy keluar menemui dokter tanpa sepengetahuan Kai. Kai masih tetap menunggu. Wendy pun kembali. Raut wajahnya terlihat berubah. Seperti terjadi sesuatu.

"Ayo, kita pulang," ajak Wendy.

Mereka pun pulang. Kai berpikir kalau ada yang aneh dengan kekasihnya ini, tetapi ia hanya menghiraukan karena mungkin hanya perasaannya saja yang aneh.

       Tiga bulan telah berlalu, Kai datang menjemput Wendy ke tempat favorit mereka. Ya, di sebuah taman di atas bukit.

"Apa kau sudah siap?" sapa Kai.

"Aku sudah siap," jawab Wendy singkat.

"Setelah tiga bulan, tubuhku semakin melemah. Kuharap kau tidak menyadarinya, Kai," ungkap Wendy dalam hati.

Kai langsung menarik tangan Wendy menuju mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan tempat itu.

       Tidak butuh waktu lama, mereka sampai. Seperti biasa, aura kebahagian terpancar pada keduanya saat sampai di taman ini.

"Kita sudah sampai. Di tempat favorit kita sejak dulu."

Wendy menunduk sesaat, ia berharap tidak terjadi apa-apa.

"Jika suatu saat aku meninggalkanmu bagaimana?" tanya Wendy tiba-tiba.

"Ahhh...kau ini bicara apa. Jangan berpikir yang aneh-aneh."

Mereka duduk berdua. Wendy menyandarkan kepala ke bahu Kai.

"Sepertinya aku lelah, biarkan aku bersandar dulu," Wendy memejamkan mata menggenggam tangan Kai.

"Kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat?".
Tiba-tiba Wendy terjatuh pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah. Kai terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit

        Setibanya di rumah sakit, ia langsung menggendong tubuh Wendy ke ruang darurat. Dokter menyuruhnya untuk menunggu.

"Kuharap kau baik-baik saja. Sejak awal aku curiga padamu, sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku. Entahlah, hanya kau dan Tuhan yang tahu."

Tak lama, dokter menghampiri Kai yang sedang duduk menunggu.

"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkata lain," ucap dokter tersebut.

"Maksudmu? Apa Wendy sudah tidak ada? Apa yang terjadi?" bentak Kai.

"Dia sudah tiada," jawab singkat dokter.

Kai merasa sangat terkejut dan langsung lari ke ruang dimana Wendy terbaring. Dokter kembali menghampiri.

"Kau ingat tiga bulan yang lalu saat operasi mata berlangsung. Aku secara tidak sengaja memeriksa seluruh tubuhnya dan ternyata dia mengidap kanker darah yang sudah sangat akut. Saat kutanya, dia tidak mau membahasnya dan menyuruhku untuk merahasiakannya darimu," dokter itu menjelaskan.

"Pantas saja aku sering melihatmu pucat seperti orang sakit. Ternyata, kau menyembunyikan penyakit itu dariku," ucap Kai pada Wendy yang sudah tiada.

Dokter pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan Kai menangisi kepergian kekasihnya, Wendy.

"Walaupun kau sudah tiada, tetapi aku masih mencintaimu, Wendy."

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com