DANKIN
Semua blog yang dihasilkan oleh Dan Kisan
Selasa, 03 November 2020
Perkembangan Fisik dan Kognitif Peserta Didik
Sabtu, 02 Juni 2018
[CERPEN] Jangan Katakan Selamat Tinggal
JANGAN KATAKAN SELAMAT TINGGAL
Oleh :
DANKIN
Di malam yang sunyi, seorang pria berjalan santai melewati jalan yang sepi seorang diri. Dengan langkah gontainya, ia berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Namun, saat memasuki pekarangan rumahnya, ia melihat seorang wanita tergeletak di dekat pohon. Ia mencoba membangunkan tetapi tidak terbangun juga. Akhirnya, digendonglah wanita itu ke dalam rumahnya.
Keesokan harinya, wanita itu terbangun dan kaget saat melihat dirinya sudah terbaring di atas kasur. Lebih terkejut lagi saat melihat seorang pria yang tidur menyandarkan kepalanya di samping kasur. Tak lama, pria itu pun perlahan terbangun.
"Ahhh...kau sudah terbangun," kata pria itu.
Wanita itu masih terdiam dalam kebingungan. Mengapa ia bisa berada di tempat ini. Begitulah mungkin yang terus terbayang dalam benaknya.
Pria tersebut berdiri dan pergi meninggalkan wanita itu sendiri di kamar. Wanita itu membaringkan kembali tubuhnya ke kasur. Ia terus menatap langit-langit kamar sambil terus memikirkan siapa dia sebenarnya dan kenapa dia ada di tempat ini bersama seorang pria. Namanya sendiri bahkan tidak tahu. Tiba-tiba terdengar suara teriakkan dari luar kamar.
"Hei...ayo cepat keluar. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu!" teriak pria tadi.
Wanita itu bergegas keluar kamar untuk menemui sumber suara. Dia kaget melihat banyak makanan yang tersaji di atas meja makan.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya si pria.
"Siapa kau? Dan kenapa aku bisa bersamamu disini?" tanya wanita itu dengan wajah polos.
"Panggil saja Han. Semalam aku menemukanmu tergeletak di pekarangan rumahku. Jadi kubawa kau kemari," jelas pria itu yang bernama Han.
"Kau sendiri, siapa namamu? lanjutnya.
"Aku...aku...," wanita itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan tiba-tiba meneteskan air mata yang membuat Han mendekatinya.
"Kau kenapa? Apa kau terluka?" ucap Han khawatir sambil menghapuskan air matanya.
"Aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Aku tidak tahu namaku. Bahkan tidak tahu siapapun," jelas wanita itu.
"Jangan khawatir, kau bisa tinggal bersamaku," kata Han.
Mereka berdua pun sarapan lalu wanita itu terus menjelaskan bahwa sepertinya dirinya tidak ingat apa-apa atau amnesia. Han bersedia merawat dirinya sampai ia kembali ingat atau ada kerabat yang mengenalnya. Untuk sementara, wanita itu menggunakan nama Alice, nama pemberian Han.
Siang hari, Han sedang sibuk dengan pekerjaannya yaitu sebagai pelukis. Kesehariannya tentu saja membuat lukisan yang indah untuk bisa dipamerkan di sebuah pameran dan menghasilkan uang dari penjualan lukisan tersebut. Sambil melukis, Han sesekali melirik diam-diam Alice yang duduk membaca buku di sofa. Saat Alice mengetahui sedang dilirik, Han langsung mebuang wajahnya dengan malu. Sepertinya Han memiliki ketertarikan pada Alice. Merasa lelah, Han mencoba mengambil minuman di kulkas tetapi tatapannya masih terus tertuju pada Alice. Alice yang kembali mebalas tatapannya membuat Han menabrakan dirinya ke kulkas. Alice hanya bisa tertawa sedangkan Han tersipu malu dengan tingkahnya.
Han merasa terganggu dengan tidurnya malam ini. Ia terus memikirkan tentang Alice sampai-sampai lukisannya tadi siang masih belum selesai. Padahal baru mengenal, tetapi sudah membuatnya terus terpikirkan. Apakah ini perasaan pada pandangan pertama, pikirnya.
"Ahhh...kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya," geramnya.
Karena tidak bisa berhenti memikirkan Alice, Han tidak bisa tidur. Baru pada tengah malam, ia pun memejamkan mata dengan sendirinya. Han tertidur dengan nyenyak.
Seperti biasa, Han selalu bangun pagi-pagi untuk berolahraga dan mandi setelahnya. Ia terkejut saat melihat banyak makanan di meja. Padahal masih pukul 6 pagi. Siapa yang memasak ini semua?
"Kau sudah bangun rupanya," ucap Alice.
"Kau yang memasak sepagi ini?" tanya Han dengan wajah polos.
"Meski tidak tahu siapa diriku. Aku sangat pandai memasak. Silahkan coba masakanku," kata Alice dengan nada imutnya.
Han terdiam menatap Alice yang menurutnya sangat cantik. Ia seperti terhipnotis dengan kata-kata Alice yang menyuruhnya makan. Han menyantap dengan lahapnya tanda ia menyukai makanan ini. Alice pun senang saat Han menyukai masakannya.
Kebersamaan mereka terus berjalan beberapa hari. Benih-benih cinta sepertinya muncul juga pada Alice. Tidak lain karena Han yang terus memberikan perhatian yang lebih padanya. Han yang terlalu pemalu tidak pernah berani mengakui yang sebenarnya. Sepertinya ia tidak tahu kalau Alice juga menyukainya. Apadaya, Han tidak mau suatu hari saat Alice mengingat semuanya dan kembali pada keluarganya, ia menjadi sakit hati kehilangan wanita yang dicintainya.
Tayangan televisi menampilkan berita hilangnya seorang wanita. Han terkejut saat melihat foto di televisi yang ternyata adalah Alice. Ia langsung mematikan tayangan televisi tersebut. Akhirnya ia tahu siapa Alice sebenarnya, tetapi ia seolah merasa sedih. Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk. Ternyata kekasih Alice yang menghubunginya.
"Aku Edwin, kekasih dari Fita, wanita yang sekarang tinggal bersamamu. Keluarganya sedang bersedih karena ia menghilang. Sebaiknya besok sore kau temui aku di sungai dekat rumahmu," ucap seseorang yang ternyata adalah kekasih Alice atau nama aslinya yaitu Fita.
Belum sempat menjawab panggilan itu, tiba-tiba panggilan terputus. Hatinya berdegup kencang, ia menatap Alice yang terduduk. Bagaimana jika Alice pergi? Itulah yang terus Han pikirkan. Kekasih Alice tampak sudah mengetahui semuanya. Mau tidak mau, Han harus mengikuti perkataannya.
Seharian ini, yang terus ia pikirkan hanyalah Alice. Berat baginya untuk mengembalikan Alice pada keluarganya. Jika ia membiarkan Alice disini sama saja ia seperti orang jahat.
"Kau kenapa? Sepertinya sedang frustasi," ucap Alice tiba-tiba.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan ide untuk lukisan selanjutnya," jawab Han berbohong.
"Jangan patah semangat. Teruslah gali idemu. Aku tidak akan mengganggu dulu. Semangat, Han!" ucap Alice memberi semangat.
Esok hari, Han mengajak Alice untuk menemaninya melukis di pinggir sungai sambil membawa banyak makanan karena akan menghabiskan waktu seharian. Tentu saja ini hanyalah alasan Han agar bisa membuat Edwin membawa kembali Alice pada keluarganya meski Han akan merasakan sakit hati setelahnya.
Seharian ini seperti piknik nagi mereka. Alice menikmati pemandangan sungai yang indah sementara Han sibuk dengan lukisannya meski pikirannya kacau. Sampai senja mulai menampakkan diri, keduanya terlihat seperti pasangan kekasih yang duduk berdua memandangi sunset dengan Alice yang menyandarkan kepala di pundak Han.
"Sepertinya aku mencintaimu. Bagaimana ini?" ucap Alice yang membuat Han kaget.
"Aku juga...mencintaimu," balas Han pelan.
Wajah mereka saling berdekatan dan akhirnya mereka berciuman mesra. Secara refleks, mereka saling membalas ciuman tersebut sampai beberapa detik. Han menghentikan ciuman itu. Mereka saling menatap dengan dengan nafas yang terengah.
Tak lama, muncul sebuah mobil hitam dekat sungai. Alice terkejut saat melihat seorang pria yang mendekati mereka, Edwin. Edwin menjelaskan semua pada Alice lalu menariknya dengan paksa, Han hanya bisa terdiam menatap kejadian itu.
"Han, tolong aku!"
"Aku tidak mau dengannya!"
"Jangan tinggalkan aku!"
"Aku mencintaimu!"
"Kemarilah!"
Teriakkan Alice yang tak karuan tidak mendapat respons dari Han yang terus terdiam. Sampai akhirnya Alice masuk ke mobil dan melaju meninggalkannya.
"Maafkan aku, Alice. Hanya ini yang bisa kulakukan. Kau harus kembali ke kehidupanmu yang sebelumnya. Aku yakin ingatanmu akan kembali suatu hari nanti. Jangan katakan selamat tinggal meski kita sudah berpisah," ucap Han dalam hatinya.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : _onaelykim_
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Senin, 07 Mei 2018
[CERPEN] Song for You
SONG FOR YOU
Oleh :
DANKIN
Aku melangkah menapaki sepanjang jalan. Banyak kendaraan berlalu-lalang yang kulihat. Terik matahari seolah menghalangi pandanganku yang menjadi silau. Aku jadi kembali teringat masa-masa pertemananku dengan Joana dan Vito.
Dua minggu yang lalu,
Pemandangan kota sangat indah ketika dilihat dari atas bukit ini. Inilah kegiatan rutin kami apabila sedang libur masa kerja. Kali ini, kami ke atas bukit untuk menikmati pemandangan sambil membuat pesta kecil.
"Kalian tidak mau makan dulu?" teriak Joana yang sudah mempersiapkan makanan.
"Kami segera datang," teriakku.
"Barbeque-nya terlihat lezat," ucap Vito.
"Pasti lezat. Aku yang membuatnya," sahut Joana dengan percaya diri.
"Sudah-sudah, ayo kita makan," kataku.
Kami bertiga makan dengan lahapnya. Momen seperti ini benar-benar sangat istimewa, mengingat kami bertiga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kulihat ada noda makanan di bibir Joana. Tiba-tiba, Vito mengusap noda itu dengan tisu.
"Kau sangat belepotan," ucapnya.
Entah mengapa aku tidak suka melihat pemandangan itu. Aku yang sejak dulu menyukai Joana, tidak pernah berani mengungkapkannya.
Sampailah diriku di sebuah gedung acara pernikahan. Aku tidak tahu kenapa sepanjang perjalanan tadi terus memikirkan momen tersebut. Padahal, itu sudah berlalu dan mungkin aka sangat sulit terulang. Acara pernikahan itu terlihat sangat meriah. Kulihat sekeliling mencari untuk keberadaan Joana. Kurasa ia sedang mempersiapkan diri untuk acara pernikahannya. Sambil menunggu acara dimulai, aku berdiri memandangi taman dari balik jendela. Memikirkan banyak kejadian yang tak terlupakan.
Sepuluh hari yang lalu,
Joana sedang asyik membaca buku di sofa. Aku yang duduk di sebelahnya, terus memandangi wajah cantiknya. Sepertinya dia sangat serius membaca buku itu. Kucoba untuk lebih dekat.
"Kau terlihat sangat serius. Apa ceritanya menarik?" ucapku.
"Kalau kau membacanya, pasti tsulit untuk berhenti juga," balasnya.
"Aku tidak terlalu suka membaca buku seperti itu," sahutku.
Joana terus melanjutkan cerita yang ia baca itu. Tiba-tiba, Vito datang dari belakang sambil menutupi kedua mata Joana. Lalu ia duduk di tengah-tengah seolah memotong jarak dekat kami.
"Dasar kau ini," kata Joana pada Vito.
"Kau ini tidak terlihat bosan membaca buku itu. Sudah seperti orang asing saja," balas Vito.
"Mark, kenapa kau tidak memasak saja sekarang?" tanya Vito padaku.
"Sebentar lagi aku memasak. Kalian mau makan apa?" ucapku.
"Aku bingung," jawab Joana.
"Sesuka kau saja. Kau kan sangat ahli memasak," kata Vito.
"Baiklah," balasku.
Aku pergi ke dapur mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak. Akhir pekan ini, kami berkumpul di rumahku untuk sekadar bersantai. Semua bahan sudah siap. Waktunya untuk memasak makanan spesial.
Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku saat sedang menatap taman dari jendela. Aku langsung menoleh.
"Kau rupanya," kataku pada orang itu yang ternyata Vito.
"Bagaimana, apa kau siap untuk menyanyikan lagu di acara penikahan kami?" tanyanya.
"Tenang saja. Aku ini sangat berbakat. Kau pasti tidak kecewa dengan suaraku yang merdu ini," balasku dengan sedikit menyombongkan diri.
"Semoga berhasil. Aku akan mempersiapkan diri dulu. Sampai nanti," katanya lalu meninggalkanku.
"Kau juga. Semoga acaramu lancar sampai selesai," ucapku sedikit berteriak.
Sekarang waktunya mempersiapkan piano yang akan kumainkan nanti ketika bernyanyi. Sesekali aku membantu merapikan perlengkapan acara ini agar terlihat lebih indah. Selesai itu, aku menuju ke tempat Joana yang sudah selesai dirias.
"Kau terlihat cantik," kataku dari depan pintu ruangan.
"Mark, kapan kau datang?" tanyanya.
"Belum lama. Bagaimana denganmu, apa ada kendala untuk acara nanti?"
"Semuanya berjalan dengan baik. Aku sudah tidak sabar menantikan acara nanti," ucapnya bahagia.
"Sampai nanti. Aku akan bersiap untuk persembahan nanti," kataku kemudian keluar dari ruangan itu.
Meski dia bahagia, bukan berarti aku bahagia. Justru aku akan merasa sedih melihat orang yang paling kucintai, menikah dengan orang lain yang juga merupakan sahabatku, Vito. Seandainya saja aku lebih dahulu mengungkapkan perasaan ini padanya, mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi. Teringat kembali kejadian yang menyakitkan itu.
Satu minggu yang lalu,
Aku berjalan memasuki klub malam untuk mencari Joana. Tak lama, aku melihat ia sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Kudatangi dia, lalu kutarik tangannya perlahan ke ruang belakang.
"Apa ada sesuatu?" ucapnya kebingungan.
"Tunggu sebentar," jawabku.
Aku masih berusaha mencari sesuatu dari pakaianku. Ternyata ada di saku celana. Kucoba untuk merogohnya, tetapi sedikit sulit karena ukurannya yang sesuai badan. Datangnya Vito dengan tiba-tiba di hadapan kami.
"Kau ada disini rupanya," kata Vito pada Joana.
"Kebetulan sekali ada kau Mark. Kurasa kau akan menjadi saksinya," lanjutnya.
Ucapannya membuatku terdiam sesaat. Aku tidak tahu apa maksud ucapannya tadi. Vito meraih tangan kanan Joana lalu memasukan sebuah cincin di jari manisnya. Pemandangan itu membuatku kaget.
"Sudah lama kita menjadi sahabat. Sudah lama pula aku memendam rasa cinta ini padamu. Sekarang, baru bisa kuungkapkan perasaan ini padamu. Aku benar-benar sangat mencintaimu dengan tulus. Maukah kau menikah denganku?" ungkap Vito.
"Apa kau serius?" tanya Joana malu-malu.
"Tentu saja aku serius," balas Vito.
Joana mengangguk, lalu mereka berpelukan tepat dihadapanku. Perasaan apa ini, rasanya sungguh menyakitkan. Meski harus memperlihatkan wajah bahagia karena mereka akan menikah, hatiku tetap terasa sakit. Aku gagal mengungkapkannya. Vito sudah lebih dulu mengungkapkan perasaannya. Aku baru mengetahui kalau ia juga menyukai Joana.
Acara pernikahan segera dimulai. Aku mengusap air mata ini yang sedari tadi mengalir saat mengingat kejadian waktu itu. Kurogoh saku celana. Cincin ini masih berada ditanganku. Cincin yang seharusnya kuberikan pada Joana saat itu. Akhirnya, kujatuhkan cincin ini ke lantai dan membiarkannya.
"Mungkin dia memang bukan jodohku. Semoga ini memang rencana terbaik dari Tuhan," ucapku dalam hati.
Akhirnya, acara benar-benar dimulai. Resepsi pernikahan Joana dan Vito berjalan lancar. Keduanya terlihat sangat serasi. Para tamu undangan memberikan tepuk tangan meriah dan memberi ucapan selamat. Sekarang waktunya aku memberikan persembahan untuk menyanyikan sebuah lagu. Aku telah duduk di hadapan piano dan mulai memainkannya sambil bernyanyi.
"Baby jebal geuui soneul japjima
Cuz you should be my lady
Oraen sigan gidaryeo on nal dorabwajwo
Noraega ullimyeon ije neoneun
Geuwa pyeongsaengeul hamkkehajyo
Oneuri oji ankireul
Geureoke na maeil bam gidohaenneunde
Nega ibeun wedding dress
Nega ibeun wedding dress
Nega ibeun wedding dress"
(Baby, tolong jangan genggam tangannya
Karena kau seharusnya menjadi gadisku
Tolong lihat aku, aku sudah menunggu selama waktu ini
Sekali musiknya berhenti, kau akan bersamanya selamanya
Aku berdoa dan berdoa hari ini tidak akan pernah datang
Gaun pengantin yang hanya kamu pakai sekali
Gaun pengantin yang hanya kamu pakai sekali
Gaun pengantin yang hanya kamu pakai sekali)
Begitulah sekiranya lirik lagu yang kunyanyikan. Lagu milik Taeyang berjudul Wedding Dress. Aku sengaja menyanyikan lagu ini karena mewakili perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan sekarang.
Usai acara, aku yang sudah mengucapkan selamat kepada mereka, langsung memutuskan untuk pulang cepat. Sungguh bertambah menyakitkan setelah acara pernikahan mereka selesai. Tetapi, aku akan berusaha melupakan perasaan ini pada Joana dan berharap, semoga pernikahannya bisa bahagia selamanya.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Rabu, 18 April 2018
[CERPEN] Menyentuh Langit
MENYENTUH LANGIT
Oleh :
DANKIN
Masa depanmu tergantung pada impianmu sendiri. Jadi, apakah impianmu hanya setinggi tanah? Atau mungkin impianmu setinggi langit sampai kau bisa menyentuhnya? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kau terus mengejar impianmu dan mewujudkannya.
Lampu belajar terus menyoroti buku yang sedang kupelajari. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Semakin larut, rasa kantukku semakin mengganggu waktu belajarku. Kurasa cukup sampai disini aku belajar untuk hari ini. Kututup buku dan kubaringkan kepala di meja belajar ini. Aku sudah sangat mengantuk sehingga kubiarkan tubuh ini untuk tidak tidur di kasur dan berharap bisa melihat masa depanku yang cerah dalam mimpiku malam ini.
Namaku Felix. Hampir setiap malam selalu kuhabiskan waktu untuk belajar hingga larut malam. Minggu depan, ujian nasional akan berlangsung, sehingga membuatku menambah intensitas waktu untuk belajar. Beginilah caraku agar bisa masuk salah satu universitas terbaik dengan mengambil jurusan hukum. Meski aku siswa yang selalu masuk daftar peringkat 10 besar paralel, tetap saja aku harus lebih giat belajar untuk bisa meraih nilai tinggi demi mewujudkan impianku menjadi jaksa.
kriiing…
Alarmku berbunyi. Aku langsung terbangun karena kaget. Kulihat jam menunjukkan pukul lima pagi. Segera aku langsung mandi dan berdoa sebelum akhirnya sarapan. Beruntung, aku sudah merapikan isi tas untuk belajar hari ini. Tepat pukul enam, aku bergegas menuju sekolah, rumah keduaku setelah rumah milik orangtuaku ini.
“Aku berangkat dulu. Sampai jumpa,” teriakku sebelum meninggalkan rumah.
Tak sampai lima belas menit, aku telah tiba di sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah memang tidak terlalu jauh yang membuatku tidak pernah terlambat masuk sekolah. Setelah memasuki gerbang, kulihat beberapa guru berdiri sambil menyalami siswa yang baru datang termasuk diriku. Selesai bersalaman, aku langsung bergegas menuju kelas tetapi salah seorang teman mengagetkanku dari belakang.
“Kau ini, mengagetkanku saja,” keluhku.
“Kau terlihat gugup sekali. Apa kau belum mengerjakan tugas?” tanyanya.
“Aku ini orang yang selalu mengerjakan tugas tepat waktu. Lagipula, cara berjalanku memang seperti ini,” jelasku.
“Ah, aku hanya bercanda, Felix,” katanya sambil tertawa.
Kami pun sampai di kelas lalu duduk sambil membicarakan berbagai hal. Namanya Jeno, teman sebangku yang selalu ceria setiap hari. Ia memiliki kesamaan denganku yaitu memiliki impian untuk menjadi jaksa. Kami sama-sama bertekad untuk masuk universitas yang sama dan selalu bersama menjadi sahabat terbaik dari yang terbaik di dunia ini.
Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh siswa bergegas untuk pulang dengan penuh keceriaan. Mungkin hanya aku yang terlihat bosan. Sejujurnya aku ingin sekali menikmati waktu di luar sekolah untuk menghibur diri. Kupikir, waktu yang tersisa sebelum ujian tiba harus kumanfaatkan untuk belajar dengan maksimal. Seperti biasa, setibanya di rumah langsung belajar. Sesekali istirahat untuk menyegarkan pikiran ini.
“Aku percaya usaha kerasku tidak akan mengkhianati hasilnya nanti,” ucapku dalam hati.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Jeno menelepon.
“Ada apa kau meneleponku?” tanyaku membuka percakapan.
“Aku hanya ingin mengajakmu ke toko buku malam ini. Kau bisa?” katanya.
“Baiklah. Aku pasti bisa untuk masalah seperti itu,” jawabku santai.
“Sampai bertemu malam nanti,” ucapnya sebelum akhirnya menutup panggilan.
Malam hari tiba, aku sudah berada di toko buku menunggu Jeno sambil membaca-baca buku tentang hukum. Entah mengapa aku bisa sangat tertarik mempelajari hukum. Mungkin karena aku geram melihat hukum di negeri ini tidak berjalan pada semestinya. Aku berjanji jika suatu saat nanti berhasil menjadi jaksa, akan menjalankan kewajibanku pada negara sesuai hukum yang berlaku tanpa adanya ketidakadilan terhadap masyarakat.
“Kau sudah sampai ternyata,” ucap Jeno yang membuatku kaget.
“Sudah dari tadi aku disini. Kau ini seperti hantu saja selalu mengagetkanku.”
“Itu karena memang kau yang sangat mudah kaget,” balasnya.
“Buku apa yang akan kau cari?” tanyaku.
“Tentu saja sama seperti yang sedang kau baca,” katanya.
Kami pun sama-sama membeli buku tentang hukum sekaligus buku tentang materi ujian. Setelah itu, kami menuju kedai untuk sekadar makan dan bersenda gurau menikmati malam yang sejuk. Meski tidak lama, setidaknya pikiranku yang jenuh menjadi segar kembali dan siap untuk bartarung melawan buku malam ini.
Tak lama, aku sampai di rumah. Kubaringkan tubuhku sejenak di kasur kesayanganku. Menatap langit-langit kamar yang membuatku terus berpikir, apakah aku bisa meraih impianku yang bagaikan menyentuh langit. Pikiran itu membuatku mulai mengantuk, tapi aku langsung bergegas bangun untuk belajar.
“Tidak bisa kubiarkan kantuk ini menghalangi belajarku,” tegasku.
Duduk di depan meja, membuka buku pelajaran. Aku sudah sangat siap melawan rasa kantukku dengan belajar giat. Perlahan, aku mulai tidak kuat dengan kantuk ini. Aku teringat dengan perkataan Jeno, jika aku harus tetap menjaga kesehatan dan jangan memaksakan untuk belajar sampai larut malam.
“Benar sekali, kesehatan itu paling utama,” kataku.
Akhirnya aku menyelesaikan belajar malam ini. Kubaringkan tubuhku kembali ke kasur dan tak lama mata ini terlelap. Tidur nyenyak dengan mimpi yang indah.
Hari demi hari berjalan. Setiap hari, kegiatan belajar mengajar di sekolah hanya berfokus pada materi ujian nasional yang akan segera tiba. Tentu saja aku memanfaatkan waktu itu dengan serius. Sudah tidak ada lagi kata santai dalam kamus kehidupanku saat ini. Yang ada hanyalah belajar dengan giat agar bisa sukses di ujian nanti. Begitupula dengan Jeno yang setiap hari terlihat lebih giat dariku. Akhirnya anak itu bisa lebih serius dari biasanya.
“Semoga kita meraih hasil yang memuaskan,” kataku pada Jeno.
“Ya, itu pasti. Kali ini nilaiku akan berada diatasmu. Lihat saja nanti,” ucapnya dengan percaya diri.
“Semoga beruntung. Aku juga tidak akan bersantai-santai. Jadi, kupikir kau akan sulit untuk mengalahkanku,” jawabku tersenyum.
“Bagaimana kalau kita belajar bersama di rumahku besok?” katanya.
“Boleh juga. Sudah lama kita tidak belajar bersama,” jawabku.
“Kita terlalu sibuk belajar sendiri akhir-akhir ini sampai tidak pernah belajar bersama lagi,” katanya sambil merapikan bajunya.
“Dua hari lagi kita akan menghadapi ujian nasional. Ayo kita sama-sama serius belajar demi impian kita,” tegasku.
“Itu pasti,” balasnya dengan semangat.
Perbincangan kami tentang ujian nasional begitu serius. Kami ini memang selalu serius kalau urusan belajar. Masa muda bukanlah masa yang harus disia-siakan untuk bersenang-senang saja karena masa depan berawal dari masa muda yang harus mengejar dan meraih mimpi untuk masa depan. Begitulah prinsip hidup kami yang pasti selalu berbeda dari anak muda kebanyakan.
Hari Minggu tiba, kami seharian belajar bersama di rumah Jeno. Hari terakhir belajar ini, kami sangat serius sampai-sampai orangtua Jeno merasa takjub dengan semangat kami berdua. Tentu saja orangtuanya takjub lantaran anak muda seperti kami biasanya lebih suka bersenang-senang di luar apalagi kami laki-laki. Kami tentu tidak mau disamakan dengan mereka-mereka yang seperti itu. Kami mempunyai impian. Impian itu harus kami raih dan wujudkan. Jangan hanya memiliki impian tetapi tidak ada usaha untuk bisa meraihnya.
Sampai sore hari, kami pun selesai belajar bersama. Rasanya lelah sekali seharian menghabiskan waktu dengan belajar. Meski lelah, tapi ada hasilnya yaitu ilmu yang teringat di otak. Dengan ini, aku siap menghadapi ujian besok. Aku sudah sangat tidak sabar.
“Aku pulang dulu. Semoga ujian kita berhasil. Sampai jumpa,” ucapku kemudian pergi.
Setibanya di rumah, setelah makan malam, aku melanjutkan untuk belajar. Waktu yang tersisa harus benar-benar untuk belajar. Ibuku bahkan sampai menyuruhku untuk tidur saat tahu aku masih belajar sampai larut malam. Aku pun menurutinya untuk tidur.
“Semoga aku dimudahkan dalam mengerjakan ujian besok,” begitulah harapanku.
Hari berlalu, ujian nasional akan dilaksanakan hari ini. Orangtuaku memberiku semangat untuk ujian ini. Aku pun semakin percaya diri akan meraih hasil yang memuaskan. Dari hari pertama ujian sampai hari terakhir aku berhasil melewatinya dengan mudah. Mungkin inilah dampak dari belajarku yang giat sehingga dimudahkan dalam mengerjakan soal ujian. Kulihat Jeno juga sama sepertiku. Sepertinya dia akan mendadak jadi kuda hitam di daftar peringkat 10 besar paralel.
“Akhirnya ujian telah usai. Bebanku terasa hilang seketika,” kata Jeno sambil mengangkat tangannya.
“Walau begitu kita harus terus optimis dan berdoa agar hasilnya nanti memuaskan,” lanjutku.
“Aku percaya kita akan mendapat hasil yang diharapkan,” jawabnya dengan senyum.
Usai ujian, kami menghabiskan waktu seharian untuk bersenang-senang di sebuah mall. Entah kapan terakhir kali kami senang seperti ini. Benar kata Jeno, beban setelah ujian usai terasa hilang semua. Sampai-sampai, kami sangat menikmati waktu ini dengan gembira.
Sebulan berlalu, hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu karena hasil ujian nasional diumumkan. Setelah melihat hasilnya, ternyata nilaiku begitu memuaskan dan aku berada di peringkat ke 3 paralel. Sungguh bahagia hari ini. Doa dan harapanku selama penantian ini tidak sia-sia. Kulihat di mading tertera daftar urutan nilai ujian seluruh siswa. Benar saja apa yang pernah kuprediksikan, nama Jeno berada di urutan ke 8. Benar-benar kuda hitam yang nyata.
Pasca kelulusan dan perpisahan kami dengan sekolah ini, kami akan masuk universitas untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Aku dan Jeno sepakat untuk mengikuti seleksi masuk universitas yang sama dan tentunya jurusan yang sama, hukum. Inilah perjalanan awal kami untuk meraih impian itu. Selanjutnya, kami harus bisa melewati rintangan ini dengan semangat yang mengembara.
Impian tidak seharusnya hanya menjadi impian semata. Kau harus berusaha untuk meraih dan mewujudkannya dengan usaha keras. Karena usaha keras itu tidak akan mengkhianati hasil. Percayalah, bahwa impian itu bisa diraih jika kita mau berusaha meraihnya.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Minggu, 08 April 2018
[CERPEN] Kambing
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Senin, 05 Maret 2018
[CERPEN] 4+4=3+5 (Love, Girl, Boy and Tears)
(LOVE, GIRL, BOY, AND TEARS)
Oleh :
DANKIN
“Hentikan acara ini!!!” teriakku sembari memberontak.
Datanglah beberapa petugas keamanan yang berusaha menghentikan perbuatanku.
“Apa-apaan kalian ini. Jangan mengangguku!!!” bentakku pada petugas keamanan, tetapi usahaku sia-sia karena jumlah mereka lebih banyak sehingga bisa menghentikanku.
Sambil menangis dan mencoba memberontak, aku diseret keluar oleh petugas keamanan itu.
Pagi hari yang cerah, aku terbangun dengan banyak keringat di tubuhku. Kulihat tempat tidurku sangat berantakan.
“Ahhh, kenapa mimpi itu yang harus terjadi?” ucapku dalam hati sambil mengucek mata dan segera mengambil buku catatan harian untuk menuliskan kejadian yang sama persis dengan mimpiku tadi.
“28 Februari 2018 pukul 20.00, Aku Memberontak di Acara Pernikahan Dankin dengan Leona” begitulah kira-kira yang kutulis.
“Tidak lama lagi mereka menikah. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin itu semua terjadi,” kataku.
Namaku Bobby. Sejak kecil, apapun yang kumimpikan selalu menjadi kenyataan. Sebab itulah mengapa selalu kutulis dalam buku catatan harian untuk mengingatkanku agar bisa mengubah kejadian tersebut jika itu buruk. Salah satu mimpi burukku yang menjadi nyata adalah ketika ayahku harus meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Di situlah aku membenci diriku yang tidak bisa mengubah mimpi buruk itu.
Hari ini, aku menikmati cuti dengan bermalas-malasan di rumah. Akhirnya aku bisa terbebas dari pekerjaanku sebagai polisi yang selalu berpatroli di jalanan. Meski hanya tiga hari, setidaknya aku merasa cukup senang menikmatinya.
ting…tong…
Terdengar suara bel rumahku. Sepertinya ada seseorang yang datang. Langsung saja aku hampiri untuk membukakan pintu.
“Selamat pagi,” ucap seorang pria yang tak lain adalah Dankin.
“Apa kabar, Bobby?” Leona muncul dari belakang Dankin dan entah kenapa membuat hatiku marah melihat mereka berdua bersama.
“Selamat pagi juga. Aku baik-baik saja hari ini,” jawabku dengan senyum memaksa.
“Kudengar kau sedang cuti. Jadi, kami ingin mengunjungimu sekaligus memberitahumu kalau sepuluh hari lagi kami akan menikah,” terang Dankin.
“Kalian akan menikah?” ucapku terkejut.
“Ada apa denganmu? Apa ada masalah?” tanya Dankin .
“Ah, tidak. Aku hanya terkejut kalian akan menikah secepat ini. Kupikir tahun depan,” jelasku.
“Kami sudah sangat saling mencintai dan berkomitmen untuk menikah sesegera mungkin. Memang ini terlalu cepat, tapi aku percaya kami akan bahagia,” jelas Leona tiba-tiba.
Mendengar penjelasannya, aku merasa sakit hati terhadapnya. Namun, perasaan itu sangat sulit kuutarakan.
Aku memasak makanan spesial hari ini untuk kami bertiga makan sekaligus sebagai ucapan selamat pada mereka berdua yang sebentar lagi menikah. Meski sakit, aku harus bisa menerima kenyataan ini. Sambil meneteskan air mata, aku tetap memasak dengan serius.
“Aku harus mengubah mimpi itu!” tegasku dalam hati.
Selesai memasak, aku segera menghidangkan makanan ini untuk mereka berdua. Kulihat mereka sedang bermesraan di sofa. Seketika aku terdiam melihatnya namun hanya sesaat. Aku kembali berjalan menghampiri mereka.
“Ini dia masakan spesial yang kubuat untuk calon pasangan suami istri yang akan segera menikah,” ucapku dengan ceria.
"Steak cacahnya terlihat enak," kata Leona.
"Aku yakin pasti enak. Masakan buatanmu selalu yang terbaik, Bobby," puji Dankin yang membuatku sangat senang.
Kami bertiga pun menyantap steak cacah bersama sembari membicarakan tentang acara pernikahan mereka nanti.
Seorang wanita datang mengacaukan acara makan malam Dankin dan Leona di sebuah restoran. Terlihat wanita itu menyiramkan minuman ke arah Dankin yang membuat Leona marah dan terjadilah adu mulut. Wanita itu kemudian mengambil pisau makan dari meja dan berusaha menusukkan ke Leona, tetapi Dankin yang berusaha melindungi Leona tertusuk pisau tersebut.
“Siapa wanita itu?’ ucapku setelah terbangun dari mimpi tadi.
“21 Februari 2018 pukul 20.35, Seorang Wanita Melukai Dankin,” kutuliskan kembali mimpi tadi ke buku catatan harianku agar aku bisa menghentikan kejadian itu. Jangan sampai wanita itu melukai Dankin.
21 Februari 2018,
Aku yang sedang berpatroli teringat mimpiku sebelumnya. Langsung saja kubawa mobil menuju lokasi kejadian. Tepat pukul 20.30, aku sampai di tempat. Kulihat dari kejauhan, Dankin dan Leona sedang menikmati makan malam.
“Dimana wanita itu?” tanyaku dalam hati sambil melihat sekeliling.
Sesaat, akhirnya aku menemukan wanita itu yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua. Segera aku mendatangi wanita itu kemudian kutarik tangannya keluar untuk menghentikan perbuatannya nanti.
“Lepaskan!” teriaknya yang membuatku melepaskan genggamanku.
“Siapa kau, beraninya menarik tanganku!” bentaknya.
“Aku tahu apa yang akan kau lakukan pada mereka. Sebaiknya kau jangan mengacaukan makan malam mereka,” balasku.
“Memangnya kau siapa. Beraninya mengaturku?” bentaknya lagi.
“Lebih baik kau ikut denganku. Akan kujelaskan nanti,” jawabku sambil menarik tangannya ke mobil.
Aku membawanya ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu kami berdua. Tempat rahasiaku yang berada di belakang bukit dekat kantor polisi tempatku bekerja.
Tibalah kami tak lama setelah perjalanan tadi. Dia yang sedari tadi terus berbicara panjang lebar tiba-tiba terdiam saat memasuki tempat rahasiaku. Nampak matanya yang tak lepas dari pandangan foto-foto di dinding. Entah dia takjub melihat banyaknya foto atau warna dindingnya yang penuh warna seperti pelangi, atau mungkin keduanya. Namanya Sania. Kami berkenalan saat di perjalanan tadi. Aku bahkan sudah menjelaskan alasan mengapa aku menariknya untuk menghentikan perbuatan yang akan dia lakukan.
“Menakjubkan. Aku tak menyangka ternyata kau memiliki kelainan sepertiku,” ucapnya sambil terus memandangi dinding yang penuh dengan fotoku bersama orang yang kusayangi.
“Apa maksudmu? Memiliki kelainan yang sama?” tanyaku kebingungan.
Sania memperlihatkanku koleksi foto di ponselnya. Benar saja, hampir semuanya dipenuhi foto dirinya bersama orang yang ia sayangi. Dan tentunya banyak editan fotonya yang diberi latar belakang warna pelangi.
“Jadi kau menyukainya. Pantas saja kau berusaha mengacaukan makan malam mereka,” kataku.
“Ya, kau juga sama kan? Itu artinya, kita memiliki tujuan yang sama untuk memisahkan Dankin dan Leona. Benar begitu?” terangnya.
“Kupikir jika berhasil pun, keinginan kita tidak akan bisa terwujud untuk bersama orang yang kita sayangi. Dunia ini terlalu kejam untuk orang-orang seperti kita,” jelasku.
“Kau benar. Orang lain pasti akan menganggap kita seperti sampah dan akan dikucilkan dari masyarakat,” ucapnya sambil meneteskan air mata.
Perbincangan kami sangat panjang hingga sama-sama meneteskan air mata. Kami sama-sama saling mencurahkan isi hati yang memang isinya akan membuat kami dikucilkan masyarakat jika tersebar luas. Pada akhirnya, kami tertidur di tempat ini dan sejenak berusaha melupakan orang yang kami sayangi meski sangat sulit.
28 Februari 2018,
Di hari pernikahan Dankin dan Leona, aku menjadi salah satu polisi yang bertugas menjaga keamanan persis seperti dalam mimpiku sebelumnya sekaligus menjadi tamu undangan. Kali ini, aku akan berusaha untuk tidak memberontak seperti dalam mimpi. Sania juga hadir di acara ini dan sepertinya ia sangat sedih. Aku pun menghampirinya untuk mengobrol.
“Kau datang juga,” ucapku di sampingnya.
“Karena mereka temanku. Jadi, aku harus datang untuk mengucapkan selamat,” balasnya.
“Ah, kupikir kau sedang menangis di kamar karena pernikahan ini,” kataku menimpali.
“Sejujurnya, hatiku menangis sedari tadi. Tapi aku harus kuat menghadapi situasi seperti ini. Jika dia bahagia, maka aku juga bahagia. Bukankah kau juga begitu?” jelasnya yang kubalas dengan senyuman.
Acara pernikahan sudah berlangsung, kini tinggal menikmati acara dengan hiburan, makanan, foto bersama sang pengantin, serta hiburan lain. Aku berfoto bertiga bersama Dankin dan Leona, rasanya sangat sakit sekaligus bahagia. Kulihat Sania juga melakukan hal serupa denganku. Sania terlihat sedang menaiki tangga menuju atap gedung ini setelah berfoto tadi, tetapi aku menghiraukannya. Aku pun segera pergi meninggalkan tempat ini untuk menenangkan diriku.
Hujan terlihat mengguyur jalanan kota dengan derasnya. Aku mengendarai mobil sambil menangis seperti hujan yang deras ini. Pikiranku sangat kacau mengingat pernikahan itu. Kupikir hujan ini mengerti apa yang sedang kurasakan sekarang ini. Tiba-tiba, ponselku berdering karena ada sebuah pesan dari Sania. Aku sangat terkejut membaca isi pesannya.
“Aku tidak kuat dengan semua ini. Aku akan mengakhiri hidup ini dengan kesedihan. Kumohon sampaikan perasaanku pada Leona. Katakan jika aku sangat menyayanginya,” itulah isi pesan singkatnya sekaligus mengirim foto dirinya sedang di atap gedung untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap gedung.
Aku sangat mengerti dengan perasaannya karena perasaan itu sama dengan apa yang kurasakan sekarang. Konsentrasi menyetirku semakin buruk saat melihat fotoku bersama Dankin dan Leona tadi. Air mataku semakin banyak menetes melihat foto itu. Aku terus berharap jika pernikahan yang terjadi dalam foto adalah pernikahanku dengan orang yang kusayangi, Dankin. Karena terus memandangi foto itu, mobil yang kukendarai tergelincir akibat genangan air di jalan yang menyebabkan kecelakaan tak bisa dihindari. Kecelakaan itu mengakibatkan banyak korban jiwa termasuk diriku yang akhirnya tewas di tempat kejadian.
Facebook : Dankin
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Selasa, 14 November 2017
[CERPEN] Hujan Deras
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Senin, 02 Januari 2017
[CERPEN] Terjebak Cinta
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Sabtu, 30 Juli 2016
[CERPEN] Masih Mencintaimu
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com