Sabtu, 02 Juni 2018

[CERPEN] Jangan Katakan Selamat Tinggal

JANGAN KATAKAN SELAMAT TINGGAL

Oleh :

DANKIN

       Di malam yang sunyi, seorang pria berjalan santai melewati jalan yang sepi seorang diri. Dengan langkah gontainya, ia berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Namun, saat memasuki pekarangan rumahnya, ia melihat seorang wanita tergeletak di dekat pohon. Ia mencoba membangunkan tetapi tidak terbangun juga. Akhirnya, digendonglah wanita itu ke dalam rumahnya.

       Keesokan harinya, wanita itu terbangun dan kaget saat melihat dirinya sudah terbaring di atas kasur. Lebih terkejut lagi saat melihat seorang pria yang tidur menyandarkan kepalanya di samping kasur. Tak lama, pria itu pun perlahan terbangun.

"Ahhh...kau sudah terbangun," kata pria itu.

Wanita itu masih terdiam dalam kebingungan. Mengapa ia bisa berada di tempat ini. Begitulah mungkin yang terus terbayang dalam benaknya.

       Pria tersebut berdiri dan pergi meninggalkan wanita itu sendiri di kamar. Wanita itu membaringkan kembali tubuhnya ke kasur. Ia terus menatap langit-langit kamar sambil terus memikirkan siapa dia sebenarnya dan kenapa dia ada di tempat ini bersama seorang pria. Namanya sendiri bahkan tidak tahu. Tiba-tiba terdengar suara teriakkan dari luar kamar.

"Hei...ayo cepat keluar. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu!" teriak pria tadi.

Wanita itu bergegas keluar kamar untuk menemui sumber suara. Dia kaget melihat banyak makanan yang tersaji di atas meja makan.

"Kenapa? Ada yang salah?" tanya si pria.

"Siapa kau? Dan kenapa aku bisa bersamamu disini?" tanya wanita itu dengan wajah polos.

"Panggil saja Han. Semalam aku menemukanmu tergeletak di pekarangan rumahku. Jadi kubawa kau kemari," jelas pria itu yang bernama Han.

"Kau sendiri, siapa namamu? lanjutnya.

"Aku...aku...," wanita itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan tiba-tiba meneteskan air mata yang membuat Han mendekatinya.

"Kau kenapa? Apa kau terluka?" ucap Han khawatir sambil menghapuskan air matanya.

"Aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Aku tidak tahu namaku. Bahkan tidak tahu siapapun," jelas wanita itu.

"Jangan khawatir, kau bisa tinggal bersamaku," kata Han.

Mereka berdua pun sarapan lalu wanita itu terus menjelaskan bahwa sepertinya dirinya tidak ingat apa-apa atau amnesia. Han bersedia merawat dirinya sampai ia kembali ingat atau ada kerabat yang mengenalnya. Untuk sementara, wanita itu menggunakan nama Alice, nama pemberian Han.

       Siang hari, Han sedang sibuk dengan pekerjaannya yaitu sebagai pelukis. Kesehariannya tentu saja membuat lukisan yang indah untuk bisa dipamerkan di sebuah pameran dan menghasilkan uang dari penjualan lukisan tersebut. Sambil melukis, Han sesekali melirik diam-diam Alice yang duduk membaca buku di sofa. Saat Alice mengetahui sedang dilirik, Han langsung mebuang wajahnya dengan malu. Sepertinya Han memiliki ketertarikan pada Alice. Merasa lelah, Han mencoba mengambil minuman di kulkas tetapi tatapannya masih terus tertuju pada Alice. Alice yang kembali mebalas tatapannya membuat Han menabrakan dirinya ke kulkas. Alice hanya bisa tertawa sedangkan Han tersipu malu dengan tingkahnya.

       Han merasa terganggu dengan tidurnya malam ini. Ia terus memikirkan tentang Alice sampai-sampai lukisannya tadi siang masih belum selesai. Padahal baru mengenal, tetapi sudah membuatnya terus terpikirkan. Apakah ini perasaan pada pandangan pertama, pikirnya.

"Ahhh...kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya," geramnya.

Karena tidak bisa berhenti memikirkan Alice, Han tidak bisa tidur. Baru pada tengah malam, ia pun memejamkan mata dengan sendirinya. Han tertidur dengan nyenyak.

       Seperti biasa, Han selalu bangun pagi-pagi untuk berolahraga dan mandi setelahnya. Ia terkejut saat melihat banyak makanan di meja. Padahal masih pukul 6 pagi. Siapa yang memasak ini semua?

"Kau sudah bangun rupanya," ucap Alice.

"Kau yang memasak sepagi ini?" tanya Han dengan wajah polos.

"Meski tidak tahu siapa diriku. Aku sangat pandai memasak. Silahkan coba masakanku," kata Alice dengan nada imutnya.

Han terdiam menatap Alice yang menurutnya sangat cantik. Ia seperti terhipnotis dengan kata-kata Alice yang menyuruhnya makan. Han menyantap dengan lahapnya tanda ia menyukai makanan ini. Alice pun senang saat Han menyukai masakannya.

       Kebersamaan mereka terus berjalan beberapa hari. Benih-benih cinta sepertinya muncul juga pada Alice. Tidak lain karena Han yang terus memberikan perhatian yang lebih padanya. Han yang terlalu pemalu tidak pernah berani mengakui yang sebenarnya. Sepertinya ia tidak tahu kalau Alice juga menyukainya. Apadaya, Han tidak mau suatu hari saat Alice mengingat semuanya dan kembali pada keluarganya, ia menjadi sakit hati kehilangan wanita yang dicintainya.

      Tayangan televisi menampilkan berita hilangnya seorang wanita. Han terkejut saat melihat foto di televisi yang ternyata adalah Alice. Ia langsung mematikan tayangan televisi tersebut. Akhirnya ia tahu siapa Alice sebenarnya, tetapi ia seolah merasa sedih. Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk. Ternyata kekasih Alice yang menghubunginya.

"Aku Edwin, kekasih dari Fita, wanita yang sekarang tinggal bersamamu. Keluarganya sedang bersedih karena ia menghilang. Sebaiknya besok sore kau temui aku di sungai dekat rumahmu," ucap seseorang yang ternyata adalah kekasih Alice atau nama aslinya yaitu Fita.

Belum sempat menjawab panggilan itu, tiba-tiba panggilan terputus.  Hatinya berdegup kencang, ia menatap Alice yang terduduk. Bagaimana jika Alice pergi? Itulah yang terus Han pikirkan. Kekasih Alice tampak sudah mengetahui semuanya. Mau tidak mau, Han harus mengikuti perkataannya.

       Seharian ini, yang terus ia pikirkan hanyalah Alice. Berat baginya untuk mengembalikan Alice pada keluarganya. Jika ia membiarkan Alice disini sama saja ia seperti orang jahat.

"Kau kenapa? Sepertinya sedang frustasi," ucap Alice tiba-tiba.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan ide untuk lukisan selanjutnya," jawab Han berbohong.

"Jangan patah semangat. Teruslah gali idemu. Aku tidak akan mengganggu dulu. Semangat, Han!" ucap Alice memberi semangat.

       Esok hari, Han mengajak Alice untuk menemaninya melukis di pinggir sungai sambil membawa banyak makanan karena akan menghabiskan waktu seharian. Tentu saja ini hanyalah alasan Han agar bisa membuat Edwin membawa kembali Alice pada keluarganya meski Han akan merasakan sakit hati setelahnya.

       Seharian ini seperti piknik nagi mereka. Alice menikmati pemandangan sungai yang indah sementara Han sibuk dengan lukisannya meski pikirannya kacau. Sampai senja mulai menampakkan diri, keduanya terlihat seperti pasangan kekasih yang duduk berdua memandangi sunset dengan Alice yang menyandarkan kepala di pundak Han.

"Sepertinya aku mencintaimu. Bagaimana ini?" ucap Alice yang membuat Han kaget.

"Aku juga...mencintaimu," balas Han pelan.

Wajah mereka saling berdekatan dan akhirnya mereka berciuman mesra. Secara refleks, mereka saling membalas ciuman tersebut sampai beberapa detik. Han menghentikan ciuman itu. Mereka saling menatap dengan dengan nafas yang terengah.

       Tak lama, muncul sebuah mobil hitam dekat sungai. Alice terkejut saat melihat seorang pria yang mendekati mereka, Edwin. Edwin menjelaskan semua pada Alice lalu menariknya dengan paksa, Han hanya bisa terdiam menatap kejadian itu.

"Han, tolong aku!"

"Aku tidak mau dengannya!"

"Jangan tinggalkan aku!"

"Aku mencintaimu!"

"Kemarilah!"

Teriakkan Alice yang tak karuan tidak mendapat respons dari Han yang terus terdiam. Sampai akhirnya Alice masuk ke mobil dan melaju meninggalkannya.

"Maafkan aku, Alice. Hanya ini yang bisa kulakukan. Kau harus kembali ke kehidupanmu yang sebelumnya. Aku yakin ingatanmu akan kembali suatu hari nanti. Jangan katakan selamat tinggal meski kita sudah berpisah," ucap Han dalam hatinya.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : _onaelykim_
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar