Senin, 02 Januari 2017

[CERPEN] Terjebak Cinta

TERJEBAK CINTA

Oleh :

DANKIN
Dita Dwi L.
Seftia Winda S.

       Bencana tsunami melanda Korea Selatan tepatnya di Distrik Bupyeong. Saat itu, keadaan sangat genting. Sebuah keluarga tengah berlari menghindari ombak besar yang tiba-tiba menghantam kawasan tersebut saat pagi hari. Para tim penyelamat berhamburan keluar untuk menyelamatkan masyarakat sekitar yang tengah bertahan hidup dari hantaman ombak. Suara teriakkan orang-orang dan sirine bergema di tempat itu.

"Kakak, aku takut...," rengek Bona, adik dari seorang gadis yang tengah berjuang melawan maut.

       Tim penyelamat segera mendatangi keluarga itu menggunakan kendaraan besar anti tsunami dari Jepang. Mereka berhasil menarik tangan gadis malang itu. Namun naasnya, orang tua dan kakaknya terseret arus gelombang dahsyat dan tidak bisa diselamatkan lagi. Sementara tubuh gadis itu terbentur bangunan saat tubuhnya ditarik oleh tim penyelamat. Dia pun pingsan dengan tubuh bersimpah darah.

"Cepat, selamatkan dia!!!" teriak salah seorang petugas.

Entah apa yang dirasakan gadis itu saat ini, bayangan putih terus menghantuinya antara hidup dan mati.

"Kami menemukannya. Dia hampir terseret gelombang itu," ujar salah seorang petugas.

"Keadaannya sangat parah, aku tidak menjamin dia akan tetap hidup," jawab seorang dokter di rumah sakit tersebut.

"Aku yakin dia bisa diselamatkan. Aku percaya akan keajaiban," ucap seorang pria berpakaian rapi.

Dia adalah Song Yunhyeong, seorang pebisnis muda yang sukses dan tinggal di wilayah Distrik Gangnam.

       Hari ini, Yunhyeong menjadi relawan untuk menolong para korban bencana, tetapi perhatiannya kini tertuju pada seorang gadis yang malang itu.

"Siapa gadis ini?" tanya Yunhyeong.

"Gadis ini bernama Kim Bona. Dia berasal dari keluarga sederhana yg berumur sekitar 19 tahun dan tinggal di Distrik Bupyeong. Semua anggota keluarganya telah meninggal," jelas seorang polisi kepada Yunhyeong.

Mendengar semua itu, Yunhyeong tertunduk lemah dan terus memandangi wajah cantik gadis itu.

"Tuan Song, syukurlah kami tim medis berhasil menyelamatkan gadis ini. Tetapi dia akan koma dalam waktu yang cukup lama," kata Dokter Han Jisung sambil tersenyum.

"Terima kasih. Biar semua biaya aku yang menanggung," balas Yunhyeong.

"Baiklah, Tuan Song. Aku akan kembali lagi nanti," lanjut Dokter Han.

       Dua bulan kemudian, Yunhyeong datang ke rumah sakit untuk menjenguk Bona yang terbaring lemah. Tiba-tiba jari tangan Bona mulai bergerak dan kelopak matanya perlahan terbuka. Ia melihat di sekelilingnya dengan kebingungan.

"Aku ada dimana?" rintih Bona.

"Kau sedang dirawat di rumah sakit," jawab seorang dokter.

Tak lama, datang seorang pria tampan di ruangan itu. Dokter pun meninggalkan ruangan tersebut.

"Kau sudah sadar rupanya," ucap Yunhyeong.

"Kau siapa? Dimana orangtua dan kakakku?" tanya Bona pelan.

"Jika aku berkata yang sesungguhnya, apakah kau akan percaya ucapanku?" balas Yunhyeong.

"Sebenarnya ada apa? Baiklah aku akan mempercayaimu," lirih Bona.

"Mereka semua sudah meninggal dua bulan yang lalu dan saat itu kau masih koma. Tetapi kau tidak perlu khawatir, aku yang akan merawatmu," Yunhyeong berkata tanpa memandang mata Bona.

"Apa? Tidak mungkin. Aku ingin bertemu mereka," Bona bersiap turun dari tempat tidur itu.

"Tetaplah di tempat ini, kau baru sadar dan masih butuh banyak istirahat," Yunhyeong mencoba menahan Bona.

"Tapi aku merindukan mereka," Bona menangis pelan.

"Sudah kubilang mereka sudah meninggal. Kau keras kepala sekali," balas Yunhyeong hingga membuat Bona terdiam.

"Maaf...," lirih Bona sambil menundukkan kepala.

"Sekarang kau istirahat saja. Kau masih belum benar-benar sehat," lanjut Yunhyeong.

"Kau ini siapa?" tanya Bona.

"Namaku Song Yunhyeong. Maaf, aku harus keluar karena banyak urusan pekerjaan. Nanti aku kesini lagi, sampai jumpa," balas Yunhyeong kemudian ia pergi meninggalkan ruangan itu.

       Waktu menunjukkan pukul tiga sore, rupanya Bona masih terlelap dalam mimpi indahnya. Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka dan tampaklah seorang pria tampan yang tak lain adalah Yunhyeong.

"Kau masih tertidur rupanya. Jika kuperhatikan ternyata kau sangat cantik," gumamnya seraya memandangi wajah Bona.

Perlahan, Bona membuka matanya tanda mulai terbangun.

"Tuan Song?" ucap Bona sambil mengucek matanya.

"Kau sudah bangun," ucap Yunhyeong kaget.

"Kau kemana saj?" tanya Bona.

"Aku sibuk dengan pekerjaanku. Apa kau sudah makan?" balas Yunhyeong.

"Tentu saja belum, sedari tadi aku tertidur. Aku lapar sekali," jawab Bona.

"Kebetulan sekali aku membawa makanan untuk kita makan," ucap Yunhyeong yang mulai menyiapkan makanan.

"Terima kasih, Tuan Song. Kapan aku boleh pergi dari tempat ini. Aku merasa sangat bosan," kata Bona merengek.

"Panggil aku Yunhyeong. Aku tidak tahu pasti kapan kau boleh pulang. Dokter masih menyuruhmu tetap dirawat di sini hingga benar-benar sembuh," jelas Yunhyeong.

"Bisakah aku pergi keluar sebentar saja untuk mencari udara segar," pinta Bona dengan wajah manisnya yang dibalas anggukkan Yunhyeong.

Mereka berjalan ke taman dekat rumah sakit tersebut. Bona terlihat bahagia sekarang ini. Yunhyeong yang melihatnya pun dalam hatinya ikut bahagia.

"Kau bisa menghirup udara segar disini," ucap Yunhyeong.

Bona memejamkan matanya sambil menghirup udara segar dan menikmati tempat tersebut hingga hari mulai gelap.

"Hari sudah gelap, lebih baik kita kembali," ujar Yunhyeong.

"Ya," balas Bona singkat.

Mereka kembali ke ruang tempat Bona dirawat.

"Maaf, aku harus pulang. Aku tidak bisa menemanimu lama. Sebaiknya kau istirahat saja."

"Tidak apa-apa. Kau juga harus istirahat," balas Bona tersenyum.

       Satu minggu telah berlalu, Yunhyeong muncul tiba-tiba di hadapan Bona sambil tersenyum.

"Selamat pagi. Aku membawa kabar baik untukmu," kata Yunhyeong.

"Benarkah ada kabar baik untukku?" balas Bona tersenyum.

"Kata dokter, kau boleh pulang hari ini," lanjut Yunhyeong.

"Ah senangnya," balas Bona.

"Akan kutunggu di luar, kau bisa memperisiapkan diri" Yunhyeong keluar ruangan tersebut sembari menunggu Bona selesai.

"Aku sudah siap," seru Bona.

"Ayo, kita langsung ke mobil," sahut Yunhyeong.

       Sampai di rumah Yunhyeong yang sangat besar dan mewah, mereka keluar dari mobil dan memasuki rumah itu sambil berjalan perlahan.

"Bagus sekali rumahmu. Apa kau tinggal sendiri di rumah sebesar ini," tanya Bona takjub.

"Sejak kedua orangtuaku meninggal tiga tahun yang lalu bersama kakak perempuanku, aku hidup sendiri di rumah ini," jawab Yunhyeong pelan.

"Astaga kau sama sepertiku rupanya. Aku pasti akan merepotkanmu disini," ucap Bona menundukkan kepala.

"Kau tidak merepotkanku. Justru aku senang ada seseorang yang bisa menemaniku di rumah," lanjut Yunhyeong.

"Terima kasih, Tuan Song. Maksudku Yunhyeong," Bona membungkuk.

"Kau bisa tidur di kamar kakakku. Sebaiknya, kau bereskan dulu barang-barangmu. Aku mau keluar karena ada pertemuan dua jam lagi. Kau tetap disini menjaga rumah," jelas Yunhyeong.

Yunhyeong pergi meninggalkan Bona di rumah karena harus ada urusan yang sangat penting.

       Hari telah sore, Yunhyeong sudah sampai di rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya yang sangat sibuk.

"Selamat sore," teriak Yunhyeong saat memasuki rumah.

"Aku ada di dapur," Bona membalas dengan berteriak.

"Kau sedang apa?" tanya Yunhyeong saat di dapur.

"Aku sedang memasak untuk makan malam kita," balas Bona.

"Kau bisa masak ternyata. Akan kutunggu hidanganmu selesai," kata Yunhyeong.

"Baik."

Bona melanjutkan memasaknya yang sempat tertunda obrolan kecil. Makanan telah siap dihidangkan di meja makan dengan tatanan rapi yang menggugah selera makan.

"Yunhyeong, ayo kita makan. Makanannya sudah siap," teriak Bona dari meja makan.

"Ya, aku segera kesana," balas Yunhyeong berjalan ke meja makan.

"Silakan duduk dan makan yang banyak."

"Kau masak apa malam ini," tanya Yunhyeong seraya duduk.

"Aku memasak bulgogi dan bibimbap," jawab Bona.

Makan malam mereka pun selesai. Sekarang mereka sedang bersantai sambil menonton acara televisi.

"Aku ingin membahas tentang dirimu. Kau ini kan masih seorang mahasiswi di Universitas Kyunghee. Kau lanjutkan saja kuliahmu itu, biar aku yang akan membiayai semuanya," terang Yunhyeong.

"Benarkah? Terima kasih, Yunhyeong," ucap Bona sambil memeluk Yunhyeong.

      Tiga bulan berlalu, Yunhyeong baru saja selesai bekerja dan memarkirkan mobilnya di garasi. Ia segera memasuki rumah.

"Aku pulang. Apa kau sudah menyiapkan makan malam?" seru Yunhyeong.

Bona datang menghampiri dengan wajah yang murung. Yunhyeong yang melihatnya merasa bingung.

"Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" ucap Yunhyeong seraya mengacak rambut Bona.

"Jangan acak rambutku," balas Bona sedikit kesal.

"Kenapa tiba-tiba jadi sensitif seperti itu. Kau ada masalah apa?" Yunhyeong kebingungan.

"Apa kau sudah memiliki kekasih? Aku menemukan fotomu bersama wanita lain di laci. Dia itu siapa?" ucap Bona.

"Foto itu memang diriku bersama mantan kekasihku dulu. Aku sudah tidak berhubungan dengannya lagi. Atau jangan-jangan, kau menyukaiku?" jelas Yunhyeong.

Seketika wajah Bona memerah, terlihat sangat malu dirinya dihadapan Yunhyeong.

"Aku memang menyukaimu," jawab Bona pelan.

Yunhyeong hanya terdiam kemudian meninggalkannya ke kamar. Bona sedikit kesal, pernyataannya tidak dibalas sepatah kata pun.

       Makan malam tiba, mereka makan seperti biasa namun tidak terjadi banyak pembicaraan seperti biasanya. Bona terus memperhatikan Yunhyeong yang terus melahap makanannya tanpa menoleh ke arahnya hingga makan malam selesai.

"Ada hal penting yang ingin aku katakan," ucap Yunhyeong tiba-tiba.

"Tentang apa?" Bona menoleh.

"Sebenarnya aku juga menyukaimu. Apa kau mau menjadi pendamping hidupku? Menikahlah denganku," ucap Yunhyeong sambil memegang kedua tangan Bona.

"Kau serius? Tentu saja aku mau menjadi pendampingmu," balas Bona sambil memeluk erat.

       Seminggu kemudian mereka telah selesai dalam prosesi pernikahan. Sekarang, acara pesta pernikahan sedang dimulai. Para tamu undangan terlihat menikmati acara tersebut. Terlihat pula Yunhyeong dan Bona yang tersenyum bahagia. Dengan kekuatan cinta dan kasih sayang, mereka akan menghadapi kehidupan rumah tangga yang pastinya akan selalu ada beberapa masalah kecil maupun besar hingga maut menjemput nyawa mereka. Mereka benar-benar terjebak dalam cinta.

 *****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

1 komentar: