KAMBING
Oleh :
DANKIN
Langkahku begitu cepat. Kulalui jalanan tanpa melihat sekitar. Tetapi, langkahku terhenti tiba-tiba saat melihat seorang kakek membawa kambing yang sepertinya membutuhkan bantuan. Anehnya, aku lebih fokus kepada kambingnya.
“Apa kakek butuh bantuan?” tanyaku.
“Sepertinya begitu. Aku sangat sulit membujuknya untuk makan. Sudah tiga hari kambing ini tidak mau makan,” jawabnya dengan lesu.
“Akan kucoba membujuknya,” kataku.
“Kambing yang lucu, apa kau mau susu? Ayo cepatlah minum susu ini,” ucapku pada kambing dengan gemas.
Ternyata tak sia-sia, kambing itu mau meminum susu yang kuberikan. Si kakek hanya diam menatap tingkah anehku. Kambing itu seolah bagaikan seorang kekasihku. Aku terus mengusap dan memeluk kambing itu sambil memberinya susu. Kakek itu pasti akan menganggapku tidak waras, tapi inilah diriku dengan segudang keanehan.
“Bagaimana jika kau saja yang merawat kambing ini selama seminggu? Kalian terlihat sangat akrab,” kata kakek itu tetapi aku masih diam berpikir.
“Aku akan membayarmu setelah seminggu kau rawat. Bagaimana?” lanjutnya.
“Tawaran yang menarik. Baiklah akan kurawat kambing ini,” balasku senang lalu kuberikan secarik kertas bertuliskan alamat tempat tinggalku.
“Kalau begitu, aku pamit pergi dulu,” ucap kakek lalu pergi meninggalkanku dengan kambing ini.
Setelah berpikir sesaat, akhirnya kuputuskan untuk tidak bekerja hari ini dengan alasan sakit meski berbohong. Kubawa kambing ini pulang ke tempat kost. Beruntung, pemilik kost mengizinkanku untuk merawat kambing ini selama seminggu di halaman rumah. Kuikat kambing ini dibawah pohon yang rindang agar bisa berteduh.
“Kambing milik siapa itu? Apa kau mencurinya?” tanya teman kost tiba-tiba.
“Yang benar saja kau. Aku bukan pencuri. Ini kambing milik orang lain yang dititipkan padaku,” balasku sedikit kesal sambil memeluk kambing itu.
“Baguslah, kupikir kau berbuat aneh lagi,” ucapnya menyeringai.
“Daniel. Kau sendiri kenapa tidak pergi ke kampus? Bukankah hari ini ada mata kuliah?” kataku.
“Aku sedang malas hari ini. Sudah, aku mau tidur dulu,” jawabnya lalu pergi.
Hari demi hari kambing ini kurawat dengan penuh kasih sayang, bahkan sudah seperti kekasihku. Sepertinya kambing ini sangat penurut kepadaku. Aku selalu memberinya makan rumput tiga kali sehari. Tak lupa minum susu segar bahkan selalu kuajak jalan-jalan. Tingkah anehku ini membuat orang-orang sekitar menjadi risih terhadapku, termasuk penghuni kost. Aku tidak peduli komentar mereka terhadapku, karena bagiku yang terpenting adalah merawat kambing ini dengan baik.
Tak terasa seminggu telah berlalu. Si kakek akhirnya datang. Seharusnya hari ini aku senang karena akan mendapat banyak uang dari pekerjaanku merawat kambingnya. Namun, aku justru sangat sedih harus berpisah dengan kambing yang kusayangi.
“Bisa aku bawa kembali kambing itu?” kata kakek.
“Tentu saja bisa. Kambingnya ada di halaman rumah,” jawabku dengan wajah pucat.
“Nanti malam aku akan kembali sekaligus membayar upahmu,” ucapnya.
“Baiklah. Sampai jumpa nanti malam,” jawabku.
Si kakek melepas ikatan tali dan langsung pulang membawa kambing itu.
Setelah kejadian tadi siang, hari ini aku merasa pudar. Tidak ada lagi kambing yang menemaniku. Bagiku, kambing itu sangat berharga seperti keluargaku sendiri bahkan seperti kekasih. Namun apadaya, aku bukanlah pemilik kambing itu.
“Apa yang kau pikirkan? Sedari tadi kau hanya tiduran di sofa memandangi langit-langit,” ucap Daniel yang membuatku kaget.
“Bukan urusanmu,” balasku singkat.
“Aku tahu, pasti kau sedang memikirkan kambing kesayanganmu itu. Kuharap kau tidak menjadi gila hanya karena seekor kambing” katanya namun aku hanya menghiraukan.
Malam harinya, si kakek datang lagi untuk memberikanku uang sebagai upah karena telah merawat kambingnya. Dia juga membawa bungkusan makanan yang sepertinya terlihat lezat. Benar saja, ternyata ini adalah gulai kambing.
“Terima kasih atas semua ini,” ucapku dengan senyum.
“Kau tidak perlu berterimakasih,” balasnya.
“Bagaimana keadaan kambingnya? Apa masih baik-baik saja?” tanyaku gugup.
“Kau ini aneh sekali menanyai kambing seolah kekasihmu yang sedang pergi. Tentu saja kambing itu sudah menjadi gulai yang kau pegang itu,” katanya sambil sedikit tertawa.
“Jadi, gulai ini…”
Seketika aku menjatuhkan bungkusan gulai kambing itu lalu aku lari terbirit-birit sambil menangis memikirkan kambing itu. Aku tak tahu harus berlari sejauh mana sampai akhirnya sebuah mobil menabrak tubuhku hingga terpental dan tewas.
kriiing…
Jam alarmku berbunyi dengan kencang hingga membuatku terbangun. Tubuhku sangat basah oleh keringat akibat mimpi buruk tadi.
“Ternyata hanya mimpi. Astaga, kupikir aku benar-benar menjadi orang aneh yang menyayangi seekor kambing,” ucapku dengan napas lega.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar