4+4=3+5
(LOVE, GIRL, BOY, AND TEARS)
Oleh :
DANKIN
(LOVE, GIRL, BOY, AND TEARS)
Oleh :
DANKIN
Aku
menangis menatap mereka berdua bahagia menikah. Hatiku bagaikan tertusuk
duri-duri yang sangat tajam. Entah apa yang merasuki tubuhku, aku
memberontak di acara pernikahan mereka. Meja dan kursi aku tendang dengan penuh
emosi kemarahan.
“Hentikan acara ini!!!” teriakku sembari memberontak.
Datanglah beberapa petugas keamanan yang berusaha menghentikan perbuatanku.
“Apa-apaan kalian ini. Jangan mengangguku!!!” bentakku pada petugas keamanan, tetapi usahaku sia-sia karena jumlah mereka lebih banyak sehingga bisa menghentikanku.
Sambil menangis dan mencoba memberontak, aku diseret keluar oleh petugas keamanan itu.
Pagi hari yang cerah, aku terbangun dengan banyak keringat di tubuhku. Kulihat tempat tidurku sangat berantakan.
“Ahhh, kenapa mimpi itu yang harus terjadi?” ucapku dalam hati sambil mengucek mata dan segera mengambil buku catatan harian untuk menuliskan kejadian yang sama persis dengan mimpiku tadi.
“28 Februari 2018 pukul 20.00, Aku Memberontak di Acara Pernikahan Dankin dengan Leona” begitulah kira-kira yang kutulis.
“Tidak lama lagi mereka menikah. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin itu semua terjadi,” kataku.
Namaku Bobby. Sejak kecil, apapun yang kumimpikan selalu menjadi kenyataan. Sebab itulah mengapa selalu kutulis dalam buku catatan harian untuk mengingatkanku agar bisa mengubah kejadian tersebut jika itu buruk. Salah satu mimpi burukku yang menjadi nyata adalah ketika ayahku harus meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Di situlah aku membenci diriku yang tidak bisa mengubah mimpi buruk itu.
Hari ini, aku menikmati cuti dengan bermalas-malasan di rumah. Akhirnya aku bisa terbebas dari pekerjaanku sebagai polisi yang selalu berpatroli di jalanan. Meski hanya tiga hari, setidaknya aku merasa cukup senang menikmatinya.
ting…tong…
Terdengar suara bel rumahku. Sepertinya ada seseorang yang datang. Langsung saja aku hampiri untuk membukakan pintu.
“Selamat pagi,” ucap seorang pria yang tak lain adalah Dankin.
“Apa kabar, Bobby?” Leona muncul dari belakang Dankin dan entah kenapa membuat hatiku marah melihat mereka berdua bersama.
“Selamat pagi juga. Aku baik-baik saja hari ini,” jawabku dengan senyum memaksa.
“Kudengar kau sedang cuti. Jadi, kami ingin mengunjungimu sekaligus memberitahumu kalau sepuluh hari lagi kami akan menikah,” terang Dankin.
“Kalian akan menikah?” ucapku terkejut.
“Ada apa denganmu? Apa ada masalah?” tanya Dankin .
“Ah, tidak. Aku hanya terkejut kalian akan menikah secepat ini. Kupikir tahun depan,” jelasku.
“Kami sudah sangat saling mencintai dan berkomitmen untuk menikah sesegera mungkin. Memang ini terlalu cepat, tapi aku percaya kami akan bahagia,” jelas Leona tiba-tiba.
Mendengar penjelasannya, aku merasa sakit hati terhadapnya. Namun, perasaan itu sangat sulit kuutarakan.
Aku memasak makanan spesial hari ini untuk kami bertiga makan sekaligus sebagai ucapan selamat pada mereka berdua yang sebentar lagi menikah. Meski sakit, aku harus bisa menerima kenyataan ini. Sambil meneteskan air mata, aku tetap memasak dengan serius.
“Aku harus mengubah mimpi itu!” tegasku dalam hati.
Selesai memasak, aku segera menghidangkan makanan ini untuk mereka berdua. Kulihat mereka sedang bermesraan di sofa. Seketika aku terdiam melihatnya namun hanya sesaat. Aku kembali berjalan menghampiri mereka.
“Ini dia masakan spesial yang kubuat untuk calon pasangan suami istri yang akan segera menikah,” ucapku dengan ceria.
"Steak cacahnya terlihat enak," kata Leona.
"Aku yakin pasti enak. Masakan buatanmu selalu yang terbaik, Bobby," puji Dankin yang membuatku sangat senang.
Kami bertiga pun menyantap steak cacah bersama sembari membicarakan tentang acara pernikahan mereka nanti.
Seorang wanita datang mengacaukan acara makan malam Dankin dan Leona di sebuah restoran. Terlihat wanita itu menyiramkan minuman ke arah Dankin yang membuat Leona marah dan terjadilah adu mulut. Wanita itu kemudian mengambil pisau makan dari meja dan berusaha menusukkan ke Leona, tetapi Dankin yang berusaha melindungi Leona tertusuk pisau tersebut.
“Siapa wanita itu?’ ucapku setelah terbangun dari mimpi tadi.
“21 Februari 2018 pukul 20.35, Seorang Wanita Melukai Dankin,” kutuliskan kembali mimpi tadi ke buku catatan harianku agar aku bisa menghentikan kejadian itu. Jangan sampai wanita itu melukai Dankin.
21 Februari 2018,
Aku yang sedang berpatroli teringat mimpiku sebelumnya. Langsung saja kubawa mobil menuju lokasi kejadian. Tepat pukul 20.30, aku sampai di tempat. Kulihat dari kejauhan, Dankin dan Leona sedang menikmati makan malam.
“Dimana wanita itu?” tanyaku dalam hati sambil melihat sekeliling.
Sesaat, akhirnya aku menemukan wanita itu yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua. Segera aku mendatangi wanita itu kemudian kutarik tangannya keluar untuk menghentikan perbuatannya nanti.
“Lepaskan!” teriaknya yang membuatku melepaskan genggamanku.
“Siapa kau, beraninya menarik tanganku!” bentaknya.
“Aku tahu apa yang akan kau lakukan pada mereka. Sebaiknya kau jangan mengacaukan makan malam mereka,” balasku.
“Memangnya kau siapa. Beraninya mengaturku?” bentaknya lagi.
“Lebih baik kau ikut denganku. Akan kujelaskan nanti,” jawabku sambil menarik tangannya ke mobil.
Aku membawanya ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu kami berdua. Tempat rahasiaku yang berada di belakang bukit dekat kantor polisi tempatku bekerja.
Tibalah kami tak lama setelah perjalanan tadi. Dia yang sedari tadi terus berbicara panjang lebar tiba-tiba terdiam saat memasuki tempat rahasiaku. Nampak matanya yang tak lepas dari pandangan foto-foto di dinding. Entah dia takjub melihat banyaknya foto atau warna dindingnya yang penuh warna seperti pelangi, atau mungkin keduanya. Namanya Sania. Kami berkenalan saat di perjalanan tadi. Aku bahkan sudah menjelaskan alasan mengapa aku menariknya untuk menghentikan perbuatan yang akan dia lakukan.
“Menakjubkan. Aku tak menyangka ternyata kau memiliki kelainan sepertiku,” ucapnya sambil terus memandangi dinding yang penuh dengan fotoku bersama orang yang kusayangi.
“Apa maksudmu? Memiliki kelainan yang sama?” tanyaku kebingungan.
Sania memperlihatkanku koleksi foto di ponselnya. Benar saja, hampir semuanya dipenuhi foto dirinya bersama orang yang ia sayangi. Dan tentunya banyak editan fotonya yang diberi latar belakang warna pelangi.
“Jadi kau menyukainya. Pantas saja kau berusaha mengacaukan makan malam mereka,” kataku.
“Ya, kau juga sama kan? Itu artinya, kita memiliki tujuan yang sama untuk memisahkan Dankin dan Leona. Benar begitu?” terangnya.
“Kupikir jika berhasil pun, keinginan kita tidak akan bisa terwujud untuk bersama orang yang kita sayangi. Dunia ini terlalu kejam untuk orang-orang seperti kita,” jelasku.
“Kau benar. Orang lain pasti akan menganggap kita seperti sampah dan akan dikucilkan dari masyarakat,” ucapnya sambil meneteskan air mata.
Perbincangan kami sangat panjang hingga sama-sama meneteskan air mata. Kami sama-sama saling mencurahkan isi hati yang memang isinya akan membuat kami dikucilkan masyarakat jika tersebar luas. Pada akhirnya, kami tertidur di tempat ini dan sejenak berusaha melupakan orang yang kami sayangi meski sangat sulit.
28 Februari 2018,
Di hari pernikahan Dankin dan Leona, aku menjadi salah satu polisi yang bertugas menjaga keamanan persis seperti dalam mimpiku sebelumnya sekaligus menjadi tamu undangan. Kali ini, aku akan berusaha untuk tidak memberontak seperti dalam mimpi. Sania juga hadir di acara ini dan sepertinya ia sangat sedih. Aku pun menghampirinya untuk mengobrol.
“Kau datang juga,” ucapku di sampingnya.
“Karena mereka temanku. Jadi, aku harus datang untuk mengucapkan selamat,” balasnya.
“Ah, kupikir kau sedang menangis di kamar karena pernikahan ini,” kataku menimpali.
“Sejujurnya, hatiku menangis sedari tadi. Tapi aku harus kuat menghadapi situasi seperti ini. Jika dia bahagia, maka aku juga bahagia. Bukankah kau juga begitu?” jelasnya yang kubalas dengan senyuman.
Acara pernikahan sudah berlangsung, kini tinggal menikmati acara dengan hiburan, makanan, foto bersama sang pengantin, serta hiburan lain. Aku berfoto bertiga bersama Dankin dan Leona, rasanya sangat sakit sekaligus bahagia. Kulihat Sania juga melakukan hal serupa denganku. Sania terlihat sedang menaiki tangga menuju atap gedung ini setelah berfoto tadi, tetapi aku menghiraukannya. Aku pun segera pergi meninggalkan tempat ini untuk menenangkan diriku.
Hujan terlihat mengguyur jalanan kota dengan derasnya. Aku mengendarai mobil sambil menangis seperti hujan yang deras ini. Pikiranku sangat kacau mengingat pernikahan itu. Kupikir hujan ini mengerti apa yang sedang kurasakan sekarang ini. Tiba-tiba, ponselku berdering karena ada sebuah pesan dari Sania. Aku sangat terkejut membaca isi pesannya.
“Aku tidak kuat dengan semua ini. Aku akan mengakhiri hidup ini dengan kesedihan. Kumohon sampaikan perasaanku pada Leona. Katakan jika aku sangat menyayanginya,” itulah isi pesan singkatnya sekaligus mengirim foto dirinya sedang di atap gedung untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap gedung.
Aku sangat mengerti dengan perasaannya karena perasaan itu sama dengan apa yang kurasakan sekarang. Konsentrasi menyetirku semakin buruk saat melihat fotoku bersama Dankin dan Leona tadi. Air mataku semakin banyak menetes melihat foto itu. Aku terus berharap jika pernikahan yang terjadi dalam foto adalah pernikahanku dengan orang yang kusayangi, Dankin. Karena terus memandangi foto itu, mobil yang kukendarai tergelincir akibat genangan air di jalan yang menyebabkan kecelakaan tak bisa dihindari. Kecelakaan itu mengakibatkan banyak korban jiwa termasuk diriku yang akhirnya tewas di tempat kejadian.
“Hentikan acara ini!!!” teriakku sembari memberontak.
Datanglah beberapa petugas keamanan yang berusaha menghentikan perbuatanku.
“Apa-apaan kalian ini. Jangan mengangguku!!!” bentakku pada petugas keamanan, tetapi usahaku sia-sia karena jumlah mereka lebih banyak sehingga bisa menghentikanku.
Sambil menangis dan mencoba memberontak, aku diseret keluar oleh petugas keamanan itu.
Pagi hari yang cerah, aku terbangun dengan banyak keringat di tubuhku. Kulihat tempat tidurku sangat berantakan.
“Ahhh, kenapa mimpi itu yang harus terjadi?” ucapku dalam hati sambil mengucek mata dan segera mengambil buku catatan harian untuk menuliskan kejadian yang sama persis dengan mimpiku tadi.
“28 Februari 2018 pukul 20.00, Aku Memberontak di Acara Pernikahan Dankin dengan Leona” begitulah kira-kira yang kutulis.
“Tidak lama lagi mereka menikah. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin itu semua terjadi,” kataku.
Namaku Bobby. Sejak kecil, apapun yang kumimpikan selalu menjadi kenyataan. Sebab itulah mengapa selalu kutulis dalam buku catatan harian untuk mengingatkanku agar bisa mengubah kejadian tersebut jika itu buruk. Salah satu mimpi burukku yang menjadi nyata adalah ketika ayahku harus meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Di situlah aku membenci diriku yang tidak bisa mengubah mimpi buruk itu.
Hari ini, aku menikmati cuti dengan bermalas-malasan di rumah. Akhirnya aku bisa terbebas dari pekerjaanku sebagai polisi yang selalu berpatroli di jalanan. Meski hanya tiga hari, setidaknya aku merasa cukup senang menikmatinya.
ting…tong…
Terdengar suara bel rumahku. Sepertinya ada seseorang yang datang. Langsung saja aku hampiri untuk membukakan pintu.
“Selamat pagi,” ucap seorang pria yang tak lain adalah Dankin.
“Apa kabar, Bobby?” Leona muncul dari belakang Dankin dan entah kenapa membuat hatiku marah melihat mereka berdua bersama.
“Selamat pagi juga. Aku baik-baik saja hari ini,” jawabku dengan senyum memaksa.
“Kudengar kau sedang cuti. Jadi, kami ingin mengunjungimu sekaligus memberitahumu kalau sepuluh hari lagi kami akan menikah,” terang Dankin.
“Kalian akan menikah?” ucapku terkejut.
“Ada apa denganmu? Apa ada masalah?” tanya Dankin .
“Ah, tidak. Aku hanya terkejut kalian akan menikah secepat ini. Kupikir tahun depan,” jelasku.
“Kami sudah sangat saling mencintai dan berkomitmen untuk menikah sesegera mungkin. Memang ini terlalu cepat, tapi aku percaya kami akan bahagia,” jelas Leona tiba-tiba.
Mendengar penjelasannya, aku merasa sakit hati terhadapnya. Namun, perasaan itu sangat sulit kuutarakan.
Aku memasak makanan spesial hari ini untuk kami bertiga makan sekaligus sebagai ucapan selamat pada mereka berdua yang sebentar lagi menikah. Meski sakit, aku harus bisa menerima kenyataan ini. Sambil meneteskan air mata, aku tetap memasak dengan serius.
“Aku harus mengubah mimpi itu!” tegasku dalam hati.
Selesai memasak, aku segera menghidangkan makanan ini untuk mereka berdua. Kulihat mereka sedang bermesraan di sofa. Seketika aku terdiam melihatnya namun hanya sesaat. Aku kembali berjalan menghampiri mereka.
“Ini dia masakan spesial yang kubuat untuk calon pasangan suami istri yang akan segera menikah,” ucapku dengan ceria.
"Steak cacahnya terlihat enak," kata Leona.
"Aku yakin pasti enak. Masakan buatanmu selalu yang terbaik, Bobby," puji Dankin yang membuatku sangat senang.
Kami bertiga pun menyantap steak cacah bersama sembari membicarakan tentang acara pernikahan mereka nanti.
Seorang wanita datang mengacaukan acara makan malam Dankin dan Leona di sebuah restoran. Terlihat wanita itu menyiramkan minuman ke arah Dankin yang membuat Leona marah dan terjadilah adu mulut. Wanita itu kemudian mengambil pisau makan dari meja dan berusaha menusukkan ke Leona, tetapi Dankin yang berusaha melindungi Leona tertusuk pisau tersebut.
“Siapa wanita itu?’ ucapku setelah terbangun dari mimpi tadi.
“21 Februari 2018 pukul 20.35, Seorang Wanita Melukai Dankin,” kutuliskan kembali mimpi tadi ke buku catatan harianku agar aku bisa menghentikan kejadian itu. Jangan sampai wanita itu melukai Dankin.
21 Februari 2018,
Aku yang sedang berpatroli teringat mimpiku sebelumnya. Langsung saja kubawa mobil menuju lokasi kejadian. Tepat pukul 20.30, aku sampai di tempat. Kulihat dari kejauhan, Dankin dan Leona sedang menikmati makan malam.
“Dimana wanita itu?” tanyaku dalam hati sambil melihat sekeliling.
Sesaat, akhirnya aku menemukan wanita itu yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua. Segera aku mendatangi wanita itu kemudian kutarik tangannya keluar untuk menghentikan perbuatannya nanti.
“Lepaskan!” teriaknya yang membuatku melepaskan genggamanku.
“Siapa kau, beraninya menarik tanganku!” bentaknya.
“Aku tahu apa yang akan kau lakukan pada mereka. Sebaiknya kau jangan mengacaukan makan malam mereka,” balasku.
“Memangnya kau siapa. Beraninya mengaturku?” bentaknya lagi.
“Lebih baik kau ikut denganku. Akan kujelaskan nanti,” jawabku sambil menarik tangannya ke mobil.
Aku membawanya ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu kami berdua. Tempat rahasiaku yang berada di belakang bukit dekat kantor polisi tempatku bekerja.
Tibalah kami tak lama setelah perjalanan tadi. Dia yang sedari tadi terus berbicara panjang lebar tiba-tiba terdiam saat memasuki tempat rahasiaku. Nampak matanya yang tak lepas dari pandangan foto-foto di dinding. Entah dia takjub melihat banyaknya foto atau warna dindingnya yang penuh warna seperti pelangi, atau mungkin keduanya. Namanya Sania. Kami berkenalan saat di perjalanan tadi. Aku bahkan sudah menjelaskan alasan mengapa aku menariknya untuk menghentikan perbuatan yang akan dia lakukan.
“Menakjubkan. Aku tak menyangka ternyata kau memiliki kelainan sepertiku,” ucapnya sambil terus memandangi dinding yang penuh dengan fotoku bersama orang yang kusayangi.
“Apa maksudmu? Memiliki kelainan yang sama?” tanyaku kebingungan.
Sania memperlihatkanku koleksi foto di ponselnya. Benar saja, hampir semuanya dipenuhi foto dirinya bersama orang yang ia sayangi. Dan tentunya banyak editan fotonya yang diberi latar belakang warna pelangi.
“Jadi kau menyukainya. Pantas saja kau berusaha mengacaukan makan malam mereka,” kataku.
“Ya, kau juga sama kan? Itu artinya, kita memiliki tujuan yang sama untuk memisahkan Dankin dan Leona. Benar begitu?” terangnya.
“Kupikir jika berhasil pun, keinginan kita tidak akan bisa terwujud untuk bersama orang yang kita sayangi. Dunia ini terlalu kejam untuk orang-orang seperti kita,” jelasku.
“Kau benar. Orang lain pasti akan menganggap kita seperti sampah dan akan dikucilkan dari masyarakat,” ucapnya sambil meneteskan air mata.
Perbincangan kami sangat panjang hingga sama-sama meneteskan air mata. Kami sama-sama saling mencurahkan isi hati yang memang isinya akan membuat kami dikucilkan masyarakat jika tersebar luas. Pada akhirnya, kami tertidur di tempat ini dan sejenak berusaha melupakan orang yang kami sayangi meski sangat sulit.
28 Februari 2018,
Di hari pernikahan Dankin dan Leona, aku menjadi salah satu polisi yang bertugas menjaga keamanan persis seperti dalam mimpiku sebelumnya sekaligus menjadi tamu undangan. Kali ini, aku akan berusaha untuk tidak memberontak seperti dalam mimpi. Sania juga hadir di acara ini dan sepertinya ia sangat sedih. Aku pun menghampirinya untuk mengobrol.
“Kau datang juga,” ucapku di sampingnya.
“Karena mereka temanku. Jadi, aku harus datang untuk mengucapkan selamat,” balasnya.
“Ah, kupikir kau sedang menangis di kamar karena pernikahan ini,” kataku menimpali.
“Sejujurnya, hatiku menangis sedari tadi. Tapi aku harus kuat menghadapi situasi seperti ini. Jika dia bahagia, maka aku juga bahagia. Bukankah kau juga begitu?” jelasnya yang kubalas dengan senyuman.
Acara pernikahan sudah berlangsung, kini tinggal menikmati acara dengan hiburan, makanan, foto bersama sang pengantin, serta hiburan lain. Aku berfoto bertiga bersama Dankin dan Leona, rasanya sangat sakit sekaligus bahagia. Kulihat Sania juga melakukan hal serupa denganku. Sania terlihat sedang menaiki tangga menuju atap gedung ini setelah berfoto tadi, tetapi aku menghiraukannya. Aku pun segera pergi meninggalkan tempat ini untuk menenangkan diriku.
Hujan terlihat mengguyur jalanan kota dengan derasnya. Aku mengendarai mobil sambil menangis seperti hujan yang deras ini. Pikiranku sangat kacau mengingat pernikahan itu. Kupikir hujan ini mengerti apa yang sedang kurasakan sekarang ini. Tiba-tiba, ponselku berdering karena ada sebuah pesan dari Sania. Aku sangat terkejut membaca isi pesannya.
“Aku tidak kuat dengan semua ini. Aku akan mengakhiri hidup ini dengan kesedihan. Kumohon sampaikan perasaanku pada Leona. Katakan jika aku sangat menyayanginya,” itulah isi pesan singkatnya sekaligus mengirim foto dirinya sedang di atap gedung untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap gedung.
Aku sangat mengerti dengan perasaannya karena perasaan itu sama dengan apa yang kurasakan sekarang. Konsentrasi menyetirku semakin buruk saat melihat fotoku bersama Dankin dan Leona tadi. Air mataku semakin banyak menetes melihat foto itu. Aku terus berharap jika pernikahan yang terjadi dalam foto adalah pernikahanku dengan orang yang kusayangi, Dankin. Karena terus memandangi foto itu, mobil yang kukendarai tergelincir akibat genangan air di jalan yang menyebabkan kecelakaan tak bisa dihindari. Kecelakaan itu mengakibatkan banyak korban jiwa termasuk diriku yang akhirnya tewas di tempat kejadian.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar