Sabtu, 26 Desember 2015

[CERPEN] Who's Next?

WHO'S NEXT?

Oleh :

DANKIN

       Gemerlap dunia malam seakan tak pernah lepas dari gambaran kota metropolitan. Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa juga berpartisipasi menghiasi gemerlap malam.

       Di sebuah gang sempit yang sepi, terlihat 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan remaja sekolah menengah yang sedang asyik berpesta ganja. Mereka adalah Lina, Eko, Dimas, Rio dan Maya. Mereka memang dikenal sebagai anak-anak yang nakal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Terlalu asyik berpesta ganja, seseorang bernama Ivan yang tak lain adalah adik kelas mereka, memotret kejadian tersebut diam-diam. Hingga akhirnya, Ivan ketahuan kalau sedang memotret mereka.

"Siapa kau!!!" teriak Eko.

Mendengar teriakkan tersebut, Ivan langsung kabur. Eko dan lainnya tidak mengejar karena mereka sudah tahu kalau orang yang baru saja kabur adalah adik kelas mereka.

"Biarkan saja dia lari, lagipula kita bisa menemuinya besok," ucap Lina.

"Awas saja kalau dia berani macam-macam," lanjut Rio.

"Bagaimana kalau dia memberitahu semuanya," ucap Maya.

"Kalau dia sampai membocorkan semua ini, kita harus memberinya pelajaran," ucap Eko.

"Kita tidak perlu cemas, di sekolah tidak ada yang berani dengan kita termasuk kepala sekolah," sahut Dimas santai.

Selesai pembicaraan, mereka melanjutkan aktivitas mereka yaitu pesta ganja hingga larut malam.

       Pagi harinya saat Lina, Eko, Dimas, Rio dan Maya sampai di sekolah, mereka terkejut ketika ada suara panggilan dari kepala sekolah yang menyebut nama mereka.

"Baru saja sampai, langsung ada panggilan. Sial sekali," ucap Eko kesal.

"Sudah kuduga, dia pasti memberitahu kepada kepala sekolah," lanjut Rio.

"Apa yang harus kita jawab nanti?" sahut Lina.

"Paling hanya ocehan. Kepala sekolah tidak akan mengeluarkan kita," jawab Dimas santai.

"Ayo kita ke ruang kepala sekolah!" perintah Eko.

Mereka pun menuju ruang kepala sekolah. Saat sedang berjalan, mereka berpapasan dengan Ivan yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Kelimanya menatap Ivan sinis. Ivan yang merasa sedang diperhatikan hanya bisa menundukkan kepala karena merasa ketakutan. Pintu dibuka, kelimanya menghadap kepala sekolah dan langsung mendapat sebuah kemarahan besar dari kepala sekolah atas kelakuan mereka yang semalam sedang berpesta ganja di sebuah gang. Saat mereka bertanya siapa yang memberitahu, kepala sekolah merahasiakannya. Namun, ia memiliki bukti berupa foto-foto. Kelimanya langsung tahu bahwa yang memberitahukan semua ini adalah Ivan. Beruntung mereka adalah anak dari pengusaha tersukses di kota ini dengan kerjasama bisnis yang besar, sehingga mereka tidak dikeluarkan dari sekolah. Itu semua karena orangtua mereka juga sebagai donatur di sekolah ini.

       Saat bel pulang sekolah, kelimanya sudah bersiap menunggu Ivan di bawah tangga. Ketika berjalan menuruni tangga, Ivan yang melihat ada lima orang di bawah tangga merasa ketakutan. Sekujur tubuhnya bergetar ketika lima orang itu menyeretnya ke gudang sekolah lalu mengikatnya di kursi.

"Kenapa kau memberitahukan semua pada kepala sekolah?" tanya Eko membentak namun Ivan hanya diam.

"Cepat jawab!!!" lanjut Dimas namun Ivan masih tetap diam.

"Sudahlah kita pukul saja dia," sahut Rio.

"Memang sepatutnya dia mendapat pelajaran dari kita," lanjut Maya.

Eko, Dimas dan Rio melepaskan ikatan tali pada kursi namun setelahnya mereka mulai memukul Ivan dengan sadisnya sampai-sampai tubuh Ivan berceceran darah. Kelimanya pergi meninggalkan Ivan yang sudah tak berdaya seakan tidak ada rasa bersalah.

       Sudah seminggu Ivan tidak terlihat di sekolah. Kabarnya, Ivan masuk rumah sakit setelah kejadian sebelumnya dengan luka yang sangat serius terutama pada bagian kepala. Dalam hatinya, ia sangat marah besar. Ingin sekali ia membalas semua perbuatan Eko, Lina, Dimas, Rio dan Maya. Setelah keluar dari rumah sakit, ia bertekad untuk membalas dendam dengan cara yang lebih kejam yaitu membunuh mereka satu per satu. Kali ini terlihat bahwa Ivan yang dikenal baik dan pendiam tiba-tiba berubah drastis seperti seorang psikopat.

       Pasca sembuh total, Ivan masih enggan berangkat sekolah sebelum rencananya selesai. Pertama yang ia lakukan pagi ini adalah ke rumah Maya secara diam-diam layaknya mata-mata. Tanpa ada yang melihat, Ivan berhasil memasuki rumah dan menuju kamar Maya. Ternyata Maya sedang bersiap menuju kamar mandi, Ivan pun mengikuti tanpa diketahui. Ketika Maya sedang berendam, Ivan langsung beraksi dengan mencelupkan kepala Maya dengan paksa ke dalam air hingga Maya tewas kehabisan napas dalam keadaan masih berendam. Ivan langsung pergi meninggalkannya.

       Berita di sekolah tentang kematian Maya yang medadak menjadi gempar. Lina, Eko, Dimas dan Rio tak menyangka kalau Maya tewas secara mengejutkan pagi ini. Mereka kembali dikejutkan ketika di meja tempat Rio duduk ada secarik kertas bertuliskan "Who's Next?".

"Apa maksud dari tulisan ini?" ucap Rio bingung.

"Sepertinya ada yang aneh," sahut Eko.

"Mungkin itu hanya kertas biasa yang tidak sengaja berada di mejamu," ucap Lina.

Mereka pun duduk berkumpul dengan raut wajah yang tidak biasa. Mungkin karena baru saja kehilangan salah satu anggota mereka.

       Seusai sekolah, mereka menuju ke pemakaman Maya yang tadi pagi baru saja selesai dimakamkan. Mereka merasa kehilangan bahkan bingung dengan penyebab kematiannya. Setelah itu, mereka pulang berpisah. Saat keempatnya berpisah, Ivan mengikuti Rio dari belakang sambil memegang kapak. Ternyata Ivan sejak awal mengikuti mereka. Baru ketika Rio berjalan di tempat yang sepi, dari arah belakang, Ivan berlari kencang dan menghempaskan kapak ke pundak Rio yang saat ini sedang menghadapnya karena sempat menoleh ketika mendengar suara langkah kaki. Dengan sadisnya Ivan terus mengarahkan kapak ke bagian tubuh yang lain hingga Rio tewas dengan banyak luka di sekujur tubuhnya. Ivan hanya membiarkannya.

       Saat di sekolah, berita tentang kematian Rio kembali menggemparkan warga sekolah seakan menambah daftar kematian siswa. Lina, Eko dan Dimas semakin merasa aneh. Belum 1 hari kepergian Maya, kini Rio menyusul bahkan kondisinya sangat mengenaskan.

"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kertas yang kemarin," ucap Eko.

"Apa maksudmu?" tanya Lina.

"Coba kalian ingat baik-baik, kemarin ada secarik kertas bertuliskan Who's Next? di meja Rio. Lalu Rio meninggal setelahnya. Kalimat itu pasti merujuk pada Rio untuk mati berikutnya," jelas Eko.

"Sangat masuk akal. Aku juga punya pemikiran seperti itu," sahut Dimas.

"Lebih baik kita ke kelas. Kalau ada kertas itu lagi berarti memang itu penyebabnya," ucap Lina.

Benar saja, ketika sampai di kelas, mereka menemukan kertas dengan tulisan yang sama di meja Dimas. Sontak perasaan Dimas menjadi ketakutan.

"Sudah kuduga, pasti ada seseorang yang meneror kita," ucap Eko.

"Memangnya siapa yang berani melakukannya?" tanya Lina.

"Aku tahu, pasti teror dari Ivan," kata Dimas tiba-tiba.

"Kalau memang dia, apa alasannya?" Lina kembali bertanya.

"Kalian masih ingat, sebelumnya kita pernah menganiaya Ivan hingga masuk rumah sakit. Kabarnya, Ivan sudah keluar dari rumah sakit tetapi sampai saat ini masih belum terlihat di sekolah," jelas Dimas.

"Benar juga, tetapi masalahnya kita tidak tahu keberadaannya," sahut Eko.

Mereka pun terus membicarakan tentang teror yang menimpa mereka hingga bel masuk tiba.

       Di tengah-tengah pelajaran, Eko dan Dimas meminta izin untuk ke kamar mandi. Dimas yang mengantar Eko hanya berdiri menunggu Eko keluar. Tetapi, Dimas melihat seperti ada seseorang misterius hingga dia mengejarnya sampai di tepi tangga sambil melihat ke bawah namun tidak ada orang yang turun. Secara tiba-tiba, ada seseorang yang mendorong Dimas hingga terguling sampai tangga paling bawah. Dimas tewas seketika karena benturan yang sangat keras di bagian kepala. Ternyata, orang yang mendorong Dimas adalah Ivan. Sejak awal dia memang menunggunya di sekolah untuk melakukan aksinya. Eko yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa bingung ketika melihat di luar sudah tidak ada Dimas sambil memanggil namanya. Ivan langsung kabur untuk bersembunyi, tetapi sebelumnya ia kembali menulis pada secarik kertas dengan tulisan "Who's Next?" di dekat tubuh Dimas agar Eko melihatnya. Eko yang sedang mencari Dimas terkejut ketika melihat Dimas yang tak sadarkan diri di bawah tangga tanpa ada hembusan napas. Anehnya lagi, Eko menemukan secarik kertas dengan tulisan yang sama dengan tadi pagi. Eko pun mencari bantuan, seketika kematian Dimas yang terjatuh dari tangga menjadi heboh seluruh warga sekolah. Kini yang tersisa hanya Lina dan Eko yang masih dibayang-bayangi teror yang mengancam nyawa mereka.

"Kau tahu, aku menemukan kertas dengan tulisan yang sama dengan tadi pagi di tubuh Dimas," ujar Eko.

"Kita harus berhati-hati. Terutama kau yang baru saja mendapat teror itu," kata Lina.

      Lina dan Eko terlihat hanya berdua di dalam kelas, padahal seluruh siswa bahkan guru sudah pulang. Mereka terus membicarakan tentang teror yang menghantui mereka. Akhirnya, keduanya memutuskan pulang. Ketika sudah di bawah tangga, Eko melupakan sesuatu kalau dia telah meninggalkan ponselnya di bawah mejanya. Dia pun menuju kelas, sementara Lina menunggu di bawah. Sampailah Eko di dalam kelas. Namun, ia terkejut ketika melihat Ivan yang berada dibelakangnya tiba-tiba menyerang dan menyeretnya ke kursi dengan ikatan tali yang kuat.

"Ternyata kau pelakunya," ucap Eko keras.

Ivan hanya diam sembari melanjutkan aksinya dengan menyiram sekitar kelas dengan bensin termasuk kursi yang ditempati Eko sekarang.

"Apa yang akan kau lakukan!!!" Eko membentak.
 
Ivan hanya menghiraukan kemudian dia membakar seisi kelas dan akan meninggalkannya. Ivan terkejut ketika melihat Lina yang sedang memperhatikannya dari pintu kelas dan kemudian lari. Ivan pun mengejar dan menangkapnya kemudian menyeretnya ke dalam kelas yang mulai terbakar. Ketika Ivan lengah, Lina mendorongnya hingga terjatuh dan berusaha kabur. Namun, api yang besar menghalanginya.

"Hahaha...percuma saja kau kabur. Kita semua akan mati bersama. Walaupun aku ikut mati, setidaknya pembalasanku selesai!!!" ucap Ivan dengan senangnya.

Api yang semakin membesar mulai membakar kelas bagian atas. Ivan, Lina dan Eko tewas terbakar dengan mengenaskan. Pada akhirnya, semuanya tewas. Mereka tidak bisa menjaga perilaku buruknya sehingga hal buruk menimpa mereka semua.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Selasa, 22 Desember 2015

[CERPEN] Untuk Ibu

UNTUK IBU

Oleh :

DANKIN

       Mentari pagi menampakkan senyuman penuh semangat membuat pagi ini terlihat menyenangkan. Aku terbangun dengan perasaan gembira menyambut pagi ini. Hari-hariku selalu dipenuhi oleh segudang aktivitas yang membuatku bosan. Sebelumnya perkenalkan, namaku Josua Malik, panggil saja Josu. Sekarang ini, aku tinggal sendirian di tempat kost dan masih menempuh pendidikan menengah atas.

       Seperti biasa, pagi ini, aku selalu menyiapkan keperluanku sendiri termasuk membuat makanan. Aku memang sangat mahir dalam memasak, sehingga aku tidak pernah bermasalah tentang makanan walaupun hanya ada beberapa bahan makanan, setidaknya aku bisa membuatnya menjadi makanan yang lezat. Setelah semuanya selesai, aku bergegas pergi ke sekolah.

       Aku terus berjalan menyusuri kota sambil menghirup segarnya udara pagi. Sampailah aku di rumah temanku, Riki. Aku selalu menghampiri Riki sebelum ke sekolah.

"Ternyata kau sudah menungguku. Maaf kalau lama," sapaku.

"Tidak masalah, Josu. Aku baru menunggu beberapa menit saja," ujarnya.

Kami pun langsung berjalan menuju sekolah sambil mengobrol. Membicarakan hal-hal lucu memang kebiasaan kami, tetapi kali ini Riki membicarakan hal lain.

"Dua hari lagi kita liburan panjang, apa kau akan liburan ke rumah orangtuamu?" tanya Riki tiba-tiba.

"Aku memang ingin kesana, tetapi setelah kegiatan sekolah selesai. Kau tahu sendiri kalau aku sangat aktif dalam kegiatan di sekolah," jawabku.

"Liburan panjang kau masih ada kegiatan sekolah?" tanyanya lagi.

"Begitulah, untuk 5 hari saat liburan masih ada kegiatan PRAMUKA dan OSIS," jelasku.

Pembicaraan tersebut cukup menghilangkan kebosanan saat di jalan. Tak terasa, kami sampai di sekolah dan bergegas menuju kelas kami. Dalam hati, aku terus memikirkan hal tadi.

"Sebenarnya aku sangat merindukan orangtuaku, terutama ibuku," gumamku.

      Beruntung sekali hari ini tidak ada kegiatan sekolah karena besok pembagian hasil raport sehingga aku bisa langsung pulang. Kurebahkan tubuhku di sebuah kasur berukuran sedang yang cukup nyaman sambil memikirkan ucapan Riki tadi pagi.

"Sebentar lagi liburan, tetapi aku masih banyak kegiatan di sekolah. Ingin sekali mengunjungi orangtuaku," pikirku.

Karena bosan, akhirnya aku memilih menonton televisi untuk menghilangkan kekosongan hatiku. Hampir setiap hari aku selalu melamun tanpa sebab. Mungkin karena aku sendirian atau perasaan rindu terhadap orangtuaku, entahlah aku sendiri tidak tahu. Tanpa sadar, aku tertidur nyenyak hingga sore hari.

      Hari ini adalah hari yang kutunggu, hasil nilai raport akan diumumkan. Sayangnya seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu mengambilnya sendiri. Setelah diumumkan, ternyata namaku berada di peringkat pertama. Ini adalah pertama kalinya aku mendapat peringkat pertama setelah terakhir kali mendapat saat masih menengah pertama. Aku merasa bangga terhadap diriku meski orangtuaku belum mengetahui hal ini.

       Aku pulang dengan sangat senang, namun setelahnya aku kembali teringat orangtuaku, terutama ibu. Liburan tiba, tetapi jadwal kegiatan sekolahku masih padat untuk 5 hari kedepan. Walaupun aku masih bisa bertemu karena masih ada 9 hari liburan, tetapi bagiku 9 hari itu sangat tidak memuaskan. Kemudian kucoba untuk menelepon ibuku.

"Apa kabar, bu?" tanyaku membuka pembicaraan.

"Baik. Liburan ini, apa kau akan kesini?" tanyanya.

"Aku memang ingin kesana, tetapi setelah 5 hari ke depan, karena aku masih sangat sibuk dengan kegiatan sekolahku. Jadi, aku akan ke sana setelah semuanya selesai," jelasku.

"Tidak apa-apa. Kalau memang itu kegiatan sekolah, silakan saja kau kerjakan, baru setelah selesai kau bisa kesini," ucapnya halus.

"Terima kasih, bu. Ibu selalu bisa mengerti keadaanku," jawabku senang.

"Sama-sama. Ibu tunggu kau disini," ucapnya sebagai kalimat penutup.

Hatiku merasa lega bisa mengucapkannya dengan jujur, namun berita tentang hasil nilai raportku masih aku rahasiakan.

       Tak terasa semua kegiatan sekolahku telah selesai. Hari ini aku sudah bersiap-siap untuk liburan ke rumah orangtuaku di luar kota. Banyak perlengkapan yang aku bawa meskipun hanya kurang dari 9 hari aku disana. Pagi menjelang siang, bus yang aku tumpangi mulai berjalan. Rasanya tidak sabar ingin bertemu orangtuaku. Tak lupa, aku membawa hadiah berupa kado ulang tahun untuk ibuku dan selembar kartu ucapan. Ibuku memang baru saja berulang tahun yang ke 40 tahun.

       Di tengah-tengah perjalanan, ternyata bus yang ditumpangi Josu mengalami kecelakaan parah setelah menabrak pembatas jalan yang mengakibatkan sopir dan banyak penumpang termasuk tewas, termasuk Josu. Berita kecelakaan ini langsung menjadi heboh di televisi. Saat itu juga, ibu Josu melihat beritanya yang ternyata itu adalah bus yang ditumpangi Josu. Seketika ibu Josu menangis. 

       Pada sore harinya, orangtua Josu telah sampai di rumah sakit dekat daerah terjadi kecelakaan tadi. Ibu Josu tak kuasa menahan isak tangis yang kini mulai membanjiri wajah ketika melihat mayat Josu. Sementara ayah Josu yang juga sedih berusaha menenangkan sang istri. Orangtua Josu kembali terkejut ketika diberitahu oleh salah seorang di rumah sakit kalau saat kecelakaan, Josu memegang sebuah kado dan selembar kertas. Kado tersebut berisi sebuah foto kenangan masa kecil Josu bersama sang ibu dan selembar kertas tersebut berisi ucapan selamat ulang tahun.

Untuk Ibu,

       Selamat ulang tahun yang ke 40 ibuku tersayang. Kado yang aku beri ini mungkin tidak seberapa, tetapi sangat bermakna bagiku yaitu foto kenangan kita saat aku masih kecil. Aku juga ingin memberitahu kalau aku berhasil mendapat peringkat pertama di kelas. Sekali lagi selamat ulang tahun Ibu.
                                                                                                                                      Josu

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Rabu, 16 Desember 2015

[CERPEN] Suara Hujan

SUARA HUJAN

Oleh :

DANKIN

       Derasnya hujan yang sedang membasahi kota seakan membuat perasaan menjadi tenang karena suara gemerincingnya. Semua orang berbondong-bondong mencari tempat untuk berteduh tak terkecuali seorang siswa bernama Jordy yang baru saja pulang sekolah. Jordy lari terbirit-birit mencari tempat untuk berteduh sampai akhirnya dia berteduh di depan sebuah minimarket. Siang ini, hujannya begitu deras. Mungkin karena musim hujan telah tiba akhir-akhir ini. Di depan minimarket tersebut, penuh orang-orang yang sedang berteduh dengan posisi yang saling berjejeran sembari menunggu hujan reda dengan kesibukkan masing-masing. Jordy terlihat kedinginan sambil terus memandang ke depan jalan melihat kendaraan yang lalu lalang melintas.

       Ketika tekanan hujan mulai menurun, terlihat sosok seorang gadis di seberang jalan yang sedang berteduh di depan sebuah toko buku walaupun wajah gadis itu masih terlihat samar tertutup hujan yang terus turun membasahi kota. Jordy terlihat sedang memikirkan sesuatu dan ternyata yang ia pikirkan adalah gadis yang berada di depan toko buku tersebut.

"Bukankah dia salah satu murid di sekolahku. Tetapi siapa?" batin Jordy mulai bertanya-tanya.

Pikiran itu terus muncul hingga Jordy teringat bahwa gadis tersebut adalah adik kelasnya namun dirinya tidak tahu namanya.

       Hujan yang awalnya deras kini mulai reda setelah kurang lebih 2 jam mengguyur kota. Saat itu pula, gadis di depan toko buku tersebut mulai menghilang entah kemana.

"Kemana dia? Kenapa aku tidak serius memperhatikannya?" batin Jordy kesal.

Jordy merasa menyesal tidak memperhatikan gadis. Ia tak tahu kemana gadis itu pergi. Ia pun memutuskan untuk pulang.

       Di pagi hari yang menyejukan seperti ini, pikiran Jordy terus dibayang-bayangi oleh keingintahuannya terhadap gadis yang ia lihat kemarin. Entah sebuah keberuntungan ataukah takdir, ketika sedang berjalan menuju sekolah Jordy melihat gadis tersebut sedang berjalan sendirian menuju sekolah. Dengan cepat, Jordy menghampiri gadis itu. Kini keduanya berjalan dengan posisi yang saling bersebelahan.

"Kau pasti yang kemarin berteduh di depan toko buku. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Jordy membuka pembicaraan.

Gadis itu hanya tersenyum malu mendengar ucapan tersebut. Tetapi Jordy terus menanyakannya lagi hingga gadis itu menjawab.

"Namaku Feby, kak," jawabnya singkat.

"Kau dari kelas mana?" Jordy kembali bertanya.

"Kelas 7A," jawab Feby singkat.

"Perkenalkan, aku Jordy dari kelas 9E. Salam kenal," sahut Jordy memperkenalkan diri.


Setelah itu, mereka terus berjalan bersama menuju sekolah tanpa ada lagi ucapan yang terlontar. Hingga berada di gerbang sekolah, keduanya hanya terdiam seakan tidak ada siapa-siapa. Mereka pun berpisah untuk menuju kelas masing-masing.

"Sampai jumpa lagi," ucap Jordy sambil melambaikan tangan yang dibalas oleh senyuman Feby yang manis.

       Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa mulai terlihat berhamburan keluar. Jordy terlihat berjalan dengan santainya padahal cuaca hari ini sangat mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan yang deras sama seperti kemarin. Benar saja, baru sebentar Jordy berjalan, hujan deras mulai mengguyur kota siang ini. Jordy langsung lari mencari tempat berteduh, dia pun berteduh di sebuah toko buku yang berada di seberang minimarket yang kemarin. Dia terkejut ketika melihat Feby yang juga sedang berteduh di toko buku tersebut.

"Ehhh...kita bertemu lagi," ucap Jordy tersenyum.

Hanya itu saja kata-kata yang terucap, selebihnya mereka berdua hanya duduk terdiam memandangi derasnya hujan. Antara perasaan gugup atau malu, keduanya tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun meski ada keinginan untuk berbicara. Gemerincing suara hujan seakan menjadi penghibur keduanya dari kesunyian. Setelah hujan reda, Feby langsung pergi meninggalkan Jordy sendirian yang sedang asyik membaca buku. Karena asyiknya, dia sampai tidak sadar kalau Feby yang awalnya berada disampingnya kini sudah tidak terlihat. Namun, Feby tidak sengaja meninggalkan sebuah buku catatan berwarna merah muda di tempat itu, Jordy pun mengambilnya dan mulai membuka halaman demi halaman. Alangkah terkejutnya dia ketika membaca buku catatan tersebut yang isinya adalah tentang dirinya. Dia baru tahu kalau sebenarnya Feby sudah lama menyukainya ketika baru masuk sekolah. Jordy hanya tersenyum memandangi buku tersebut. Dalam hatinya, dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Feby sejak melihatnya di tempat ini, bahkan suara hujan yang deras menjadi saksi atas perasaannya tersebut. Jordy pun pulang karena hujan telah reda dengan perasaan senang setelah mengetahui semua tentang Feby.

      Sampailah Jordy di rumah, dia langsung mengganti pakaiannya kemudian melanjutkan membaca buku catatan milik Feby. Dia hanya tersenyum, antara senang bercampur bahagia, dia merasa bahwa Feby ini sebenarnya anak yang lucu namun sangat pemalu. Dia ingin sekali mengungkapkan perasaan hatinya pada Feby agar dia tahu bahwa Jordy juga memiliki perasaan yang sama dengan Feby. Pikiran itu terus membayangi Jordy hingga malam hari bahkan sampai terbawa mimpi.

       Keesokan harinya, Jordy sangat bersemangat ketika akan pergi ke sekolah. Matahari yang menyinari dunia juga terlihat tersenyum pada Jordy di pagi hari ini seakan memberi sebuah semangat untuk bertemu Feby. Hari ini, dia tidak lupa membawa buku catatan milik Feby untuk dikembalikan padanya. Tak sabar baginya untuk bertemu Feby dan mengatakan tentang isi bukunya.

       Hari ini, ternyata Jordy masih diberi sebuah keberuntungan. Dia bertemu Feby di depan gerbang sekolah.

"Hai, Feby. Aku ingin mengembalikan buku milikmu yang tertinggal di depan toko buku kemarin," ucap Jordy tiba-tiba.

"Terima kasih, kak. Untung saja buku ini tidak hilang. Buku ini sangat berarti bagiku," sahut Feby.

"Maaf, kalau kemarin aku membaca isi buku tersebut. Sekali lagi maaf kalau aku lancang membacanya," ucap Jordy lagi.

"Jadi, kakak sudah mengetahui semuanya," tanya Feby terkejut.

"Kira-kira begitulah," jawab Jordy santai.

"Maaf, kak. Kalau aku menyukai kakak tetapi aku menyembunyikan perasaan ini. Aku malu mengatakan yang sejujurnya. Saat aku bertemu kakak dan tiba-tiba mengajakku bicara, aku tidak bisa banyak berkata karena aku sangat gugup saat bersebelahan dengan kakak," jelas Feby.

"Kalau boleh jujur aku juga sangat menyukaimu," ucap Jordy.

"Apa yang tadi kakak katakan?" Feby terkejut.

"Aku juga menyukaimu, aku mau kau menjadi kekasihku," ucap Jordy jelas.

Feby mengangguk dan tersipu malu saat mendengarnya. Tiba-tiba Jordy memeluk erat tubuh Feby, kini tubuh Feby berada di pelukan Jordy.

"Berarti mulai detik ini, kita resmi jadi pasangan kekasih," ucap Jordy yang disambut senyuman Feby.

Hari ini keduanya resmi menjadi pasangan kekasih, baik Jordy maupun Feby keduanya merasa bahagia. Setelah berpelukkan, keduanya berpisah menuju kelas masing-masing.

"Kutunggu pulang sekolah nanti," ucap Jordy.

"Ya," angguk Feby senang.

       Jordy dan Feby pulang bersama siang ini, cuacanya tetap sama seperti kemarin dengan awan gelap yang menjatuhkan rintikkan air hujan. Keduanya berlari bersama mencari tempat berteduh ketika hujan mulai turun. Yang menjadi aneh adalah mereka berteduh di depan toko buku yang sama dengan kemarin.

"Sepertinya takdir memang menyatukan kita," ucap Jordy.

"Maksudnya?" sahut Feby.

"Tempat ini sama seperti kemarin kita berteduh, mungkin tempat inilah saksi dari perasaan kita," jawab Jordy.

Feby tertegun mendengarnya, dia pun langsung bersender ke pundak Jordy sambil memeluknya, menikmati dinginnya hujan. Toko buku dan gemerincing suara hujan kini menjadi saksi bahwa keduanya telah menjadi sepasang kekasih setelah sebelumnya dipertemukan di tempat ini juga.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Jumat, 11 Desember 2015

[CERPEN] Hitori Kakurenbo

HITORI KAKURENBO

Oleh

DANKIN

       Bel sekolah berbunyi tanda waktu pulang tiba. Segerombolan siswa mulai berhamburan keluar dengan semangatnya. Cuaca di siang hari ini memang sangat cerah, tetapi juga panas, sehingga membuat siapapun ingin beristirahat dengan tenang. Dari depan pintu gerbang sekolah, terlihat dua orang sedang berjalan bersama yaitu Liana, seorang gadis cantik dengan wajah bulat yang menggemaskan, berkulit cerah serta rambutnya yang lebat terurai. Dia sedang berjalan dengan seorang teman laki-lakinya yang bernama Endou Takezu yang merupakan orang dari Jepang. Endou memiliki wajah seperti orang Jepang pada umumnya, dia sudah lama tinggal di Indonesia kurang lebih 10 tahun lamanya. Jadi, dia sudah sangat fasih dalam berbicara dengan Bahasa Indonesia.
       
       Saat sedang berjalan bersama, Endou mengajak Liana untuk bermain permainan aneh yang berhubungan dengan hantu. Liana yang sejak kecil menyukai hal-hal berbau horor merasa senang dengan ajakan Endou.

"Aku tahu permainan apa yang akan kita mainkan nanti," kata Endou.

"Memangnya permainan apa?" tanya Liana penasaran.

"Kita akan bermain Hitori Kakurenbo," jawab Endou.

"Aku memang pernah mendengar permainan itu, sepertinya menyenangkan," ucap Lina senang.

"Tentu saja menyenangkan, tetapi juga menegangkan, karena aku pernah bermain sekali saat masih berada di Jepang 10 tahun silam ketika umurku 9 tahun," ucap Endou.

"Begitukah?" jawab Liana singkat.

Sambil berjalan mereka terus membicarakan tentang Hitori Kakurenbo. Seperti yang sudah banyak orang ketahui, Hitori Kakurenbo adalah suatu permainan petak umpet dari Jepang. Bedanya, dalam permainan ini kita akan melibatkan arwah atau roh hantu yang berkeliaran melalui media boneka. Jika di Indonesia, permainan yang menyerupai adalah permainan Jelangkung.

      Ketika sampai di depan rumah, mereka langsung menuju ke rumah masing-masing yang memang sejak lama menjadi tetangga sebelah.

"Setelah berganti pakaian dan makan siang, aku akan datang untuk permainan itu," ucap Liana.

"Aku tunggu kedatanganmu," jawab Endou senang.

Selesai Liana berganti pakaian dan makan siang, dia langsung saja ke rumah Endou untuk melakukan permainan itu.

"Apakah sedang sepi?" tanya Liana penasaran.

"Memang momen ini yang aku tunggu. Menurut cerita, saat kita sedang bermain Hitori Kakurenbo, keadaan rumah harus sepi dan dikunci rapat-rapat," jelasnya.

"Apa yang terjadi kalau ada orang lain dalam rumah," tanya Liana semakin penasaran.

"Orang tersebut akan celaka, itu yang aku tahu," jawab Endou.

"Begitu," ucap Liana datar.

"Ayo kita mulai ke permainan," ucap Endou.

       Tibalah mereka di sebuah kamar mandi dengan beberapa alat untuk bermain Hitori Kakurenbo, seperti, boneka berbentuk manusia dengan perut yang berisi busa, beras, jarum jahit, benang merah, pisau dan gelas yang berisi air garam. Mereka langsung memulai, pertama mereka membelah perut boneka dengan pisau kemudian isi dari perut itu dikeluarkan dan diganti dengan beras yang sudah dipersiapkan.

"Kita masih membutuhkan satu lagi," ucap Endou.

"Apa itu?" tanya Liana.

"Setetes darah dari tangan kita masing-masing," jawab Endou.

Liana hanya mengangguk, kemudian keduanya menusuk jari mereka hingga mengeluarkan darah untuk diteteskan ke beras yang sudah terisi di perut boneka. Setelah itu perut boneka dijahit dengan benang berwarna merah.

"Apa warna benangnya harus merah?" tanya Liana.

"Tentu saja, karena warna merah melambangkan aliran darah pada boneka ini supaya seperti hidup," jelas Endou.

Boneka yang telah siap kemudian diletakkan di sebelah bak kecil berisi air yang sudah disiapkan Endou sebelumnya.

"Apa kau sudah siap Liana?" tanya Endou.

"Semoga saja siap," jawab Liana ragu.

"Kalau kau siap, sekarang kita harus memberikan nama pada boneka ini," kata Endou.

"Bagaimana kalau namanya Rika, seperti nama orang Jepang," Liana memberi saran.

"Baik, kita beri nama Rika," jawab Endou setuju.

"Sebelumnya aku jelaskan dulu peraturannya, pada permainan pertama ini kita seolah-olah akan berjaga terlebih dahulu sambil menghitung selama 10 detik kemudian kita temui Rika di tempat ini dan menusuk perutnya dengan pisau," jelas Endou.

Permainan pun dimulai, pertama Endou dan Liana berjaga terlebih dahulu untuk menemukan keberadaan boneka Rika.

"Endou dan Liana berjaga, Rika yang bersembunyi," ucap Endou hingga 3 kali.

Pertama Endou mematikan seluruh lampu terkecuali kamar mandi dan menyalakan televisi ke saluran statis, kemudian keduanya langsung bergegas ke suatu tempat seolah-olah mereka sedang berjaga dan menghitung selama 10 detik kemudian mereka langsung menuju ke kamar mandi untuk menemukan boneka Rika dan menusuk perutnya dengan pisau.

"Endou dan Liana menemukan Rika," ucap Endou 3 kali kemudian pisau itu diletakkan di sebelah boneka Rika.

"Berikutnya kita yang akan bersembunyi, tetapi apapun alasannya kita tidak boleh menengok ke belakang. Jika kita ingin mengakhiri permainan ini maka kita harus menenggak air garam ini ke mulut tanpa harus ditelan kemudian mencari boneka Rika untuk memuntahkannya, kau mengerti?" jelas Endou panjang.

"Aku mengerti," jawab Liana.

"Bagus," kata Endou.

Mereka bersiap-siap melanjutkan permainan dengan perasaan yang tegang.

"Endou dan Liana bersembunyi, Rika yang jaga" ucap Endou 3 kali

Kemudian mereka langsung lari ke suatu tempat yaitu sebuah lemari besar sambil membawa gelas berisi air garam. Keadaan rumah masih gelap dengan saluran televisi yang masih menyala.

"Sekarang kita tunggu apa yang akan terjadi," ucap Endou.

Sekitar 5 menit belum ada tanda-tanda keberadaan boneka Rika, akhirnya mereka mendengar suara langkah kecil. Dari dalam lemari, keduanya terus melihat keadaan di luar melalui pintu lemari yang sedikit terbuka.

"Sepertinya kita akan melihatnya," ucap Endou.

"Maksudmu melihat Rika mencari kita?" tanya Liana.

"Tentu saja," jawab Endou santai.

      Suasana semakin menegangkan ketika keduanya merasa kepanasan di dalam lemari karena menunggu lama.

"Aku ingin ke tempat lain saja," ucap Liana mencoba keluar.

"Jangan sekarang," kata Endou sambil menarik tangan Liana.

"Lihat itu," Liana kaget ketika melihat boneka Rika yang sedang berjalan sambil memegang pisau yang sebelumnya diletakkan disebelah boneka Rika saat di kamar mandi.

Seketika keduanya terdiam kaku dengan napas yang terengah-engah sambil berharap boneka itu tidak menemukan keduanya.

"Bagaimana ini, aku takut sekali. Bagaimana kalau dia menemukan kita?" ucap Liana ketakutan.

"Satu hal yang terpenting adalah kita harus tetap dalam keadaan tenang," jawab Endou menenangkan yang dibalas dengan anggukkan Liana.

Keadaan semakin menegangkan ketika suara saluran televisi mulai berubah-ubah dan langkah boneka Rika terus berjalan menyusuri setiap tempat di rumah itu untuk mencari seseorang yang tak lain adalah Endou dan Liana.

"Sebaiknya kita akhiri permainan ini," ucap Endou.

"Itu lebih baik," jawab Liana lega.

Keduanya langsung menenggak air garam itu tanpa menelan, kemudian berusaha mencari boneka Rika, mula-mula mereka ke tempat awal boneka Rika di kamar mandi ternyata tidak ada, kemudian mereka terus mencarinya dengan mulut yang masih berisi air garam. Keduanya melihat boneka Rika ternyata sedang di depan televisi namun tidak bergerak dan pisau itu berada disampingnya, air garam yang berada dimulut langsung dimuntahkan ke boneka Rika.

"Endou dan Liana menang," ucap Endou 3 kali.

Sambil menunggu boneka Rika kering keduanya mempersiapkan wadah besar sebagai tempat pembakaran boneka Rika. Tetapi, sebelumnya benang merah dan beras yang masih berada di boneka itu dibuang untuk menghilangkan arwah yang masih berada di dalam boneka Rika. Setelah boneka kering, langsung ditempatkan di sebuah wadah kemudian disiram dengan bensin dan dibakar hingga menjadi abu.

       Pengalaman ini adalah yang kedua kalinya bagi Endou, namun ini menjadi yang pertama kalinya bagi Liana. Keduanya senang bisa bermain sampai selesai tanpa ada yang terluka. Setelah melakukan permainan ini, keduanya sering melakukannya ketika salah satu rumah dari mereka sedang sepi. Hingga akhirnya, mereka menjadi sepasang kekasih dan dikenal oleh teman sekolah mereka dengan julukan "Pasangan Mistis".

 *****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com