Sabtu, 28 November 2015

[CERPEN] Cerita di Malam Minggu

CERITA DI MALAM MINGGU

Oleh

DANKIN

       Malam minggu mungkin adalah waktu yang paling tepat bagi para remaja yang sudah memiliki pasangan untuk berkencan. Malam minggu banyak disukai orang termasuk diriku yang sudah memiliki pasangan, tetapi banyak juga yang membenci malam minggu yaitu mereka-mereka yang statusnya masih belum punya pasangan. Kali ini ada sebuah cerita tentang diriku di malam minggu yang baru kali ini aku merasa sangat membosankan. Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri, namaku Januardi Febra Septian Oktavi, panggil saja aku Ardi. Orang tuaku memberi nama tersebut karena aku lahir di bulan Juli.

      Hari itu, saat malam minggu, untuk pertama kalinya aku bosan karena kekasihku sedang berada di luar kota bersama keluarganya. Sehingga, aku memutuskan untuk tetap berada di kamar sepanjang malam seperti sebuah patung sambil berharap akan adanya hujan yang turun dengan lebat agar semua orang yang menikmati malam minggu merasakan kesengsaraan yang aku alami. Tetapi kenyataannya hal itu tidak terjadi.

"Sial, ternyata malam ini tidak akan turun hujan," gumamku kesal ketika melihat langit malam yang penuh dengan pemandangan bintang yang menandakan tidak akan ada hujan yang turun.

       Waktu berjalan dengan lambat, hal ini membuatku semakin bosan di malam minggu ini. Ingin rasanya cepat berakhir malam minggu ini. Karena merasa bosan, aku lebih memilih untuk menulis sebuah cerita pendek yang merupakan hobi baruku sejak 2 bulan yang lalu. Tulisan demi tulisan memenuhi sebuah buku yang tadinya kosong kini penuh dengan rangkaian tulisan cerita pendek karyaku. 

       Keasyikan menulis, aku sampai lupa kalau malam ini masih dalam suasana malam minggu yang membosankan. 

"Sampai kapan malam ini berakhir?" ucapku cukup keras.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan kehadiran seekor kecoak yang sedang terbang di langit-langit kamarku. Refleks saja, aku terkejut karena kecoa terbang adalah binatang yang sangat menjijikkan meskipun aku tidak takut. Karena merasa terganggu, aku pun langsung mengambil sebuah semprotan anti serangga yang kemudian kusemprotkan dengan semangat sambil berharap kecoak itu mati. Dan benar saja, dalam hitungan detik kecoak mati sehingga aku menjadi puas hati.

"Akhirnya mati juga. Aku kira seseorang yang datang, tetapi malah kecoak yang datang," batinku kesal.

Kemudian kuambil mayat kecoak tersebut untuk aku bakar sebagai sebagai upacara penutupan kematian kecoak tersebut sambil mengucapkan sebuah doa yang aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang kuucapkan. Selesai dengan itu, aku kembali melanjutkan menulis cerita pendek.

       Sedang sibuknya menulis, tiba-tiba bibiku memanggil. Aku pun langsung mendatanginya.

"Ardi, tolong belikan mie ayam 5 porsi, karena malam ini kita tidak punya bahan makanan untuk dimasak," perintah bibi.

"Baiklah, bi. Mana uangnya?" jawabku datar.

Setelah menerima uang darinya, aku langsung pergi untuk membeli mie ayam di tempat langgananku. Suasana keramaian jalan di malam minggu semakin membuatku kesal. Meski begitu aku tetap mengayuh sepedaku hingga akhirnya aku tiba di suatu tempat yaitu penjual mie ayam.

"Pak, mie ayam 5 porsi," ucapku.

Bapak penjual mie ayam itu mengangguk. Aku langsung duduk di sebuah kursi sembari menunggu pesananku selesai. Kulihat disekelilingku banyak para pasangan yang sedang menikmati malam minggu ini bersama. Aku bagaikan setan yang tak berwibawa. Tak perlu menunggu lama, pesananku selesai. Kemudian aku membayarnya.

      Perjalanan pulang aku memilih untuk mempersingkat waktu dengan melewati sebuah gang yang sangat gelap. Namun, bukan keberuntungan yang aku dapat, justru sebuah kesialan kembali menimpaku. Seekor anjing muncul dari sebuah rumah yang pagarnya terbuka kemudian anjing itu mengejarku. Aku pun langsung mengayuh sepedaku dengan kencang hingga anjing itu sudah tidak terlihat lagi.

"Syukurlah anjing itu tidak bisa mengejarku," kataku dengan napas yang terengah-engah.

Baru selesai masalah yang aku hadapi, aku kembali dikejutkan dengan kedatangan seorang waria dihadapanku.

"Ehhh...ada cowok, mau kemana, mas? Sini temani aku," ucapnya mencoba menggodaku.

Berhubung aku merasa takut, tanpa pikir panjang langsung saja kutendang dia sampai terjatuh. Kesempatan ini langsung kumanfaatkan untuk kabur. Untuk kesekian kalinya aku berhasil melewati masalah di malam ini.

"Kenapa malam ini begitu menyebalkan," ucapku pelan sambil terus mengayuh sepeda.

       Setibanya di rumah, aku langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka dengan harapan kejadian tadi hanya sebuah bayangan. Selesai mencuci muka langsung saja aku melahap mie ayam tadi bersama keluarga dengan lahap. Merasa kenyang, jadi kuputuskan untuk menonton TV terlebih dahulu selagi perut masih mencoba mencerna makanan. Kulihat acara TV malam ini begitu membosankan, sangat cocok dengan malam minggu ini yang juga membosankan. Aku kembali ke kamar mandi untuk menggosok gigi, kemudian kembali ke kamar untuk melanjutkan cerita pendek.

       Di kamar, aku langsung kembali menulis cerita pendek dengan setenang mungkin. Tetapi, baru beberapa menit aku menulis, masalah kembali menimpaku. Kepalaku terkena kotoran dari seekor cicak di atas kamar yang membuat rambutku menjadi bau. Aku langsung lari ke kamar mandi untuk mencuci rambut ini dengan shampoo.

"Lagi-lagi masalah menimpaku. Semoga ini yang terakhir kalinya," ucapku sambil mencuci rambut.

Kembali aku ke kamar, kali ini aku tetap melanjutkan cerita pendek hingga selesai. Aku pun langsung tidur dengan sebuah harapan semoga kejadian di malam ini hanyalah sebuah mimpi.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Sabtu, 21 November 2015

[CERPEN] Maafkan Aku, Teman

  Maafkan Aku, Teman

Oleh

DANKIN

      Hamparan pasir pantai dengan pemandangan sunset yang indah membuat siapapun ingin merasakannya. Hari itu terlihat 4 orang remaja bernama Leo, Erick, Adam dan Nina yang sedang duduk bersama menikmati indahnya sunset dengan minuman bersoda serta tak lupa camilan sebagai pelengkapnya. Dari kejauhan seorang pria bernama Tuan Zigurat terus memandangi mereka dengan tatapan serius.

"Kalian cepat tangkap yang bernama Leo!!!" perintahnya kepada anak buahnya sambil menunjuk Leo.

"Baik, tuan. Akan kami kerjakan," jawab salah satu anak buahnya.

Anak buahnya yang berjumlah 10 orang langsung berlari mendatangi Leo dan lainya. Seketika Leo dan lainnya kaget melihat sekumpulan pria dengan menggunakan pakaian yang serba hitam ada di hadapan mereka.

"Apa-apaan ini. Kalian mau apa?" tanya Leo membuka pembicaraan.

Tanpa ada jawaban seluruh anak buah Tuan Zigurat langsung melakukan perlawan, Leo dan lainnya juga melawan sehingga perkelahian yang sengit terjadi. Perkelahian akhirnya dimenangkan Leo dan teman-temannya sehingga seluruh pria itu lari menuju Tuan Zigurat yang sedari tadi terus memperhatikan perkelahian mereka.

"Kalian semua payah, melawan anak sekolahan saja kalah. Padahal kalian lebih banyak," ucap Tuan Zigurat kesal.

"Maafkan kami, tuan. Kami tak menyangka bisa dikalahkan dengan mudah," jawab salah satu anak buahnya.

"Lupakan saja. Biar besok aku sendiri yang menemuinya. Lebih baik kita pulang!" perintah Tuan Zigurat.

Semuanya masuk ke dalam mobil dan mobil melaju pergi meninggalkan tempat itu. Leo dan lainnya tidak bisa melepas pandangan mereka, antara bingung dan kaget, mereka tidak tahu siapa orang-orang tadi.

"Siapa sebenarnya mereka?" ucap Leo bingung.

"Entahlah kawan, yang penting kita selamat," jawab Erick.

"Berhubung hari sudah gelap lebih baik kita pulang saja," ucap Adam.

"Baiklah, ayo kita pulang!" Leo menyetujui.

"Ayo!!!" jawab Nina semangat.

Mereka pun pergi untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Dalam perjalanan, Leo terus memikirkan kejadian tadi.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini?" gumamnya dalam hati.

      Jam menunjukkan pukul 2 siang, waktunya Leo dan teman-temannya berkumpul setelah pulang sekolah, tetapi kali ini Leo tidak bisa dengan alasan banyak tugas sekolah sehingga tidak berkumpul di pantai seperti biasa.

"Kalau memang begitu kau pulang saja. Kami tidak akan memaksamu," ucap Nina.

"Terima kasih semua, aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucap Leo sambil melambaikan tangan.

"Selamat mengerjakan tugas," teriak Adam.

Leo pun meninggalkan ketiganya. Saat di perjalanan, sebuah mobil mewah datang menghampirinya. Sesosok pria muncul dari balik kaca mobil, dia adalah Tuan Zigurat.

"Kudengar kau yang bernama Leo?" katanya.

"Benar sekali. Memangnya ada perlu apa?" tanya Leo datar.

"Masuklah ke mobil, karena ada hal penting yang harus kita bicarakan," Tuan Zigurat mempersilakan masuk.

Leo terdiam seribu bahasa karena bingung apa yang terjadi dengan hari ini.

"Bagaimana, apa kau mau masuk?" Tuan Zigurat kembali bertanya.

"Baik," sahut Leo mengangguk.

Leo langsung masuk ke mobil meski dengan perasaan yang sedikit gugup. Mobil pun melaju ke suatu tempat yang akan dituju Tuan Zigurat.

"Sebenarnya kejadian kemarin saat di pantai itu, aku yang memerintahkan anak buahku untuk mengangkapmu meski pada akhirnya aku sendiri yang turun tangan," jelas Tuan Zigurat.

"Begitukah?" jawab Leo gugup.

"Perkenalkan namaku Zigurat. Kau bisa memanggilku Tuan Zigurat," ucap Tuan Zigurat.

Leo mengangguk. Sekitar 10 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah gedung perusahaan milik Tuan Zigurat. Kemudian mereka masuk untuk membicarakan hal penting di ruangan pribadi Tuan Zigurat. Sampailah mereka di ruangan yang sangat mewah dengan dekorasi yang elegan.

"Kita langsung ke pokok pembicaraan. Sebenarnya aku ingin kau menjadi anak buahku, karena aku yakin kau itu bisa menyelesaikan tugas yang kuberikan," Tuan Zigurat membuka pembicaraan.

"Memangnya tugas seperti apa yang harus aku kerjakan," tanya Leo.

"Mudah saja, kau hanya perlu mengambil sebuah flashdisk dari seseorang bernama Tuan Ravi," jelas Tuan Zigurat.

"Flashdisk? Apa di dalamnya ada data penting?" tanya Leo lagi.

"Begitulah, karena sebenarnya perusahaanku melakukan kegiatan ekspor impor dengan cara yang ilegal dan Tuan Ravi memiliki bukti yang kuat dalam flashdisk itu. Dulu dia temanku, tetapi dia tidak mendukung apa yang aku lakukan sekarang ini. Bagimana, apa kau mau melakukannya?" jelas Tuan Zigurat.

"Aku bingung," jawab Leo.

"Kau tidak perlu bingung, kalau kau berhasil mendapatkan flashdisk itu, aku akan memberikan apa yang kau mau," rayu Tuan Zigurat.

Lama berpikir Leo pun mengangguk tanda setuju meskipun ini merupakan perbuatan yang tidak baik tetapi Leo tergiur apa yang dijanjikan Tuan Zigurat.

       Sudah 3 hari ini Leo selalu tidak bisa berkumpul dengan tiga temannya. Hal ini membuat mereka bingung, dan hari ini akan membuntutinya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Leo. Ketiganya kaget ketika melihat Leo bertemu dengan seorang pria yang sepertinya jahat kemudian mereka berbincang-bincang merencanakan sesuatu. Ketika pria itu pergi, ketiganya langsung menghampiri untuk menanyakan hal itu. Leo kaget atas kehadiran tiga temannya.

"Apa yang kau lakukan dengan pria tadi?" tanya Adam tegas.

"Siapa dia?" lanjut Erick.

"Sebenarnya sekarang aku bekerja padanya. Namanya Tuan Zigurat. Tugasku hanya mengambil flashdisk dari seseorang," jelas Leo.

"Apakah dia orang yang baik?" tanya Nina.

"Dia memang bukan orang baik, tetapi dia bisa memberikan apa yang kuinginkan jika aku berhasil," jawab Leo keras.

"Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu. Kenapa kau seperti ini," ucap Erick.

"Ini urusanku, kalian tidak perlu mencampurinya," ucap Leo kesal.

"Baik, kalau ini yang kau inginkan. Kami tidak akan menghalangimu, silakan kau boleh melakukannya," ucap Nina kecewa.

"Ayo teman-teman, lebih baik kita pulang, tinggalkan saja dia," ucap Adam.

Mereka pun pergi meninggalkan Leo sendirian. Leo hanya diam tak menanggapi apa yang diucapkan ketiga temannya. Setelah itu, Leo langsung pergi mencari Tuan Ravi untuk mengambil sebuah flashdisk. Di sisi lain Nina tiba-tiba tidak ingin berkumpul bersama karena sakit kepala, padahal sebenarnya Nina ingin menghalangi tindakan Leo. Erick dan Adam pun tidak keberatan ditinggal berdua saja.

       Nina tampak berhati-hati sekali dalam membuntuti Leo. Kini Leo telah sampai di sebuah gedung perusahaan elektronik tempat dimana Tuan Ravi bekerja seperti yang Tuan Zigurat katakan. Leo langsung duduk di bangku depan perusahaan sembari menunggu Tuan Ravi keluar, begitu pula dengan Nina yang bersembunyi di sebuah taman kecil samping perusahaan itu sambil memperhatikan gerak-gerik Leo. Lama menunggu, Tuan Ravi pun mucul dari balik pintu sambil membawa tas kecil di tangannya, sepertinya dia akan pulang karena sudah ada mobil yang menunggu di depan. Saat itulah Leo mulai beraksi, dia tahu kalau flashdisk itu ada di dalam tas kecil. Nina pun juga beraksi menghampiri Leo dengan berlari kencang. Dengan sengaja dia menabrakkan diri ke arah Leo yang sudah mendekati Tuan Ravi hingga keduanya terjatuh. Tuan Ravi yang melihat kejadian itu hanya diam kemudian masuk ke mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Leo menjadi kesal karena Nina menggagalkan semuanya.

"Apa yang kau lakukan, Nina! Kenapa kau menggagalkan rencanaku?" bentak Leo.

"Perbuatanmu itu salah. Itu sebabnya aku tidak akan membiarkannya terjadi," jelas Nina

"Sudah kubilang, jangan campuri urusanku," balas Leo.

Nina hanya bisa terdiam mendengar kata-kata itu dari mulut Leo.

"Kali ini aku maafkan, tapi lain kali aku tidak akan memaafkanmu," ucap Leo.

Leo pergi meninggalkan Nina yang hanya berdiam diri. Nina pun akhirnya juga pergi untuk pulang sambil berpikir bingung atas perilaku temannya itu yang sudah berubah. Saat sedang berjalan di gang yang sepi, seseorang muncul dihadapannya, Tuan Zigurat. Tuan Zigurat langsung menekan tubuhnya ke dinding dengan kencang hingga membuat tubuh Nina tertekan.

"Mau apa kau, Zigurat," ucap Nina terseda karena tubuhnya tertekan di dinding.

"Kau tahu kenapa aku menemuimu. Karena kau telah menggagalkan Leo. Tadi aku melihatnya sendiri. Gara-gara kau, rencanaku gagal," ucap Tuan Zigurat marah.

Belum sempat Nina menjawab, Tuan Zigurat memperlihatkan besi berukuran 40 cm dengan ujung yang runcing yang kemudian langsung menusukannya ke perut Nina. Nina tidak bisa melawan karena tenaganya kalah. Walaupun Nina mencoba melawan namun sayang, besi itu menembus tubuhnya sampai ke bagian belakang. Dia pun tewas mengenaskan dengan banyak darah yang berceceran dari tubuhnya hingga dari mulut Nina yang juga memuntahkan darah. Tuan Zigurat yang sudah merasa puas langsung pergi meninggalkan mayatnya begitu saja.

       Leo terbangun dari tidurnya yang sangat memuaskan karena ini adalah hari minggu, dia pun langsung ke kamar mandi untuk mandi. Seusai mandi tiba-tiba ada suara ketukkan pintu, Leo membukanya. Terlihat 2 orang temannya Erick dan Adam dengan napas yang terengah-engah.

"Leo, apa kau sudah tahu kabar tentang Nina?" tanya Adam.

"Memangnya kenapa dengan Nina?" tanya Leo.

"Kemarin Nina ditemukan tewas dengan besi yang menancap di tubuhnya," jelas Erick.

"Dia baru saja dikubur," tambah Adam.

Seketika tubuh Leo kaku ketika mendengarnya. Mereka bertiga langsung menuju ke makam Nina. Leo menangis ketika melihat makam Nina, dia sangat sedih melihatnya.

"Maafkan aku, teman. Ini semua gara-gara aku. Aku yakin pasti Tuan Zigurat yang melakukan ini," ucap Leo menangis.

"Erick, Adam, sekarang aku mohon pada kalian untuk menemui Tuan Ravi di alamat ini. Beritahu dia tentang keberadaan Tuan Zigurat, disitu juga tercantum alamat perusahaan Tuan Zigurat," ucap Leo memerintah sambil memberikan secarik kertas.

"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Erick.

"Aku akan menemui Tuan Zigurat sekarang juga," jawab Leo 

Leo langsung berlari meninggalkan Erick dan Adam untuk menemui Tuan Zigurat. Saat sampai di dalam ruangan pribadi Tuan Zigurat, ternyata dia sudah bersiap diri bersama 30 anak buahnya menunggu kedatangan Leo. Tuan Zigurat sudah mengetahui kalau Leo akan datang menemuinya setelah temannya tewas ditangannya. Tanpa ada kata-kata yang mucul dari mulutnya, Leo langsung memberontak melawan anak buahnya. Leo berhasil membuat 13 orang tak sadarkan diri, namun tenaganya mulai terkuras sehingga dia tidak mampu melawan sisanya yang masih 17 orang. Tiba-tiba Erick dan Adam muncul, pertarungan pun berhenti sejenak. Leo tersenyum dengan tubuh yang sudah lemas penuh luka darah, kemudian berjalan menghampiri kedua temannya, tapi sayang, Tuan Zigurat melepaskan peluru dari pistolnya ke arah belakang tubuh Leo hingga tewas. Melihat kejadian itu membuat Erick dan Adam marah dan memberontak kemudian anak buah Tuan Zigurat juga melawan. 

       Dalam pertarungan itu, keduanya bisa mengalahkan 17 anak buahnya hingga tak sadarkan diri bahkan ada beberapa yang tewas. Tuan Zigurat kaget tidak percaya, kemudian dia menodongkan pistolnya ke arah keduanya.

"Jangan mendekat atau kalian kutembak!" perintah Tuan Zigurat

Erick dan Adam mengikuti apa yang dikatakan Tuan Zigurat untuk diam di tempat.

"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Adam lirih.

"Kita ikuti saja perintahnya, sebentar lagi Tuan Ravi pasti datang bersama polisi," jawab Erick tenang.

Sebelumnya Erick dan Adam menemui Tuan Ravi untuk memberitahukan tentang Tuan Zigurat sesuai dengan perintah Leo. Mereka membuat rencana besar.

"Kalian tidak bisa apa-apa lagi sekarang, hahaha...," Tuan Zigurat merasa berkuasa.

Tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu, Tuan Ravi bersama sekawanan polisi yang langsung mengepung Tuan Zigurat. Tuan Zigurat mencoba kabur tetapi polisi menembakkan peluru ke arah kakinya, Tuan Zigurat pun terjatuh. Kini polisi berhasil menangkapnya untuk disidangkan dengan membawa bukti dari Tuan Ravi melalui flashdisk.

"Terima kasih atas kerjasama kalian berdua," ucap Tuan Ravi.

"Kami yang seharusnya berterima kasih kepada," jawab Erick.

       Keesokannya, mayat Leo dikubur di pemakaman yang sama dengan Nina, dia dikubur di samping makam Nina. Proses pemakaman penuh isak tangis dari keluarga Leo serta kedua sahabatnya, Erick dan Adam. Setelah semuanya selesai Erick dan Adam masih di tempat.

"Maafkan kami, Leo. Kami datang terlambat kemarin," ucap Adam sedih.

"Kami berjanji akan selalu mengingatmu dan juga Nina," tambah Erick.

"Leo, Nina, kalian adalah sahabat sejati kami," ucap Erick dan Adam bersama.

Keduanya pun meninggalkan tempat itu, tempat peristirahatan kedua sahabat mereka, Leo dan Nina.

******TAMAT******

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Selasa, 03 November 2015

[CERPEN] Aku Mencintaimu

AKU MENCINTAIMU

Oleh
 

DANKIN

       Pagi ini seperti biasa aku menjalankan aktivitas yaitu berangkat ke sekolah walaupun dengan perasaan yang tidak tenang karena selalu dihantui oleh Yudha cs yang selalu membullyku di kelas. Aku memang tidak berani melawan karena mereka berjumlah 5 orang. Aku juga sempat berpikir bahwa ini semua mirip seperti apa yang pernah aku lakukan semasa sekolah dasar ketika aku dan temanku selalu membully seseorang di kelas. Dibalik semua itu, aku merasa senang karena ada 2 orang sahabatku, Lidya dan Rifki yang selalu menghiburku di saat aku sedih. Mereka seperti saudara kandungku.

"Tenanglah, Dino, disini masih ada kami yang selalu siap membantumu kalau ada masalah," ucap Rifki menghiburku.

"Ya, benar. Kita ini sahabat, jadi sudah sepantasnya saling membantu ketika diantara kita mempunyai masalah," jelas Lidya.

"Terima kasih, kalian selalu ada saat aku sedang ada masalah," jawabku senang.

       Suatu hari Rifki memutuskan untuk pindah sekolah ke luar kota karena pekerjaan orangtuanya. Tetapi sebelum keberangkatan, aku dan Lidya sempat bertemu untuk salam perpisahan.

"Rifki, semoga disana kau senang dan tidak melupakan kami berdua," ucapku merasa sedih.

"Tentu saja aku tidak akan melupakan kalian berdua. Terima kasih sudah sempat kemari," jawab Rifki senang.

"Sama-sama. Kami pasti akan merindukanmu, Rifki," jawab Lidya.

Belum lama kami bicara, orangtua Rifki memanggilnya untuk segera naik ke mobil karena mereka segera jalan.

"Terima kasih semuanya. Sampai jumpa," ucap Rifki.

"Hati-hati di jalan," balas Lidya.

"Jangan lupa jaga kesehatan juga," sahutku.

Akhirnya Rifki beserta orangtuanya pergi meninggalkan kami berdua. Jadi sekarang hanya ada Lidya yang bisa menghiburku disini. Dia bagaikan peri kecil yang selalu menemaniku kemana pun aku pergi. Saat mobil Rifki sudah tidak terlihat, aku langsung memandangi wajah Lidya yang sedang tersenyum manis, dalam hati aku berkata "Oh Tuhan, dia sangat cantik", diapun menoleh padaku namun aku langsung membuang wajah karena kaget.

        Seperti hari-hari biasanya, aku jarang sekali berangkat ke sekolah karena aku merasa takut jika dibully lagi oleh Yudha cs. Tetapi seperti biasanya Lidya selalu menghampiriku sebelum berangkat ke sekolah untuk mengajakku berangkat ke sekolah.

"Hari ini apa kau tidak berangkat sekolah lagi?" tanyanya.

"Hmmm...bukannya aku tidak mau berangkat sekolah. Tapi kau tahu sendiri, apa yang akan dilakukan Yudha cs terhadapku," jawabku menjelaskan.

"Ya, sudah. Aku tidak akan memaksa. Sepulang sekolah nanti aku akan menemuimu. Sampai jumpa," ucapnya sambil tersenyum.

"Akan kutunggu nanti siang," jawabku datar.

Lidya langsung saja meninggalkanku ke sekolah dengan perasaan yang sedikit kecewa karena aku tidak mau berangkat sekolah.

"Maafkan aku, Lidya. Bukan maksudku untuk menolak ajakanmu untuk berangkat sekolah," ucapku dalam hati.

        Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, aku yakin Lidya sudah pulang dan sebentar lagi akan datang kemari. Benar saja, baru beberapa menit aku menunggu, tiba-tiba Lidya datang.

"Hai, Dino?" sapa dia.

"Hai juga, Lidya. Cepat sekali kamu datang, padahal aku baru beberapa menit menunggumu," jawabku senang.

"Aku hampir saja lupa. Tadi pagi ibu guru bilang padaku untuk menyuruhmu berangkat ke sekolah. Tadi aku juga menjelaskan alasan kau jarang ke sekolah," ucapnya panjang.

"Apa kau mengatakan tentang aku yang dibully?" tanyaku.

"Tentu saja aku mengatakan seperti itu dengan jujur supaya ibu guru tahu semuanya," jelasnya.

"Baiklah, besok pagi aku akan berangkat ke sekolah," ucapku bersemangat.

"Itu baru namanya Dino," ucap Lidya memujiku.

Kami pun terus berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa bosan.

        Besoknya, aku kembali berangkat ke sekolah bersama dengan Lidya. Semakin hari sepertinya aku mulai merasa ada sebuah perasaan aneh di dalam hatiku terhadap Lidya. 

"Apakah dia jodohku, oh tidak, kau jangan berpikir seperti itu Dino. Lidya itu hanya sahabatmu," ucapku dalam hati.

Kami tiba di sekolah pukul 06.30 dan langsung menuju ke kelas kami masing-masing karena memang kami berbeda kelas.

"Aku ke kelas dulu. Sampai bertemu istirahat nanti," ucapnya padaku.

Aku mengangguk dan segera menuju ke kelas, tetapi di dalam kelas Yudha cs sudah menungguku yang kemudian langsung menghampiriku.

"Akhirnya berangkat juga kau," ucap Yudha sambil menatapku tajam.

"Kalian mau apa?" tanyaku mulai ketakutan.

"Seperti biasa," nadanya mulai mencurigakan.

Langsung saja mereka merebut tasku dan saling melemparkan satu sama lain seolah aku ini anjing yang sedang menginginkan tulang. Saat aku berusaha meraih tasku, tiba-tiba Yudha menendang kakiku hingga terjatuh. Dalam hati, aku merasa sangat marah. Entah apa yang aku pikirkan tiba-tiba saja aku langsung mengangkat meja kemudian melemparkannya tepat ke tubuh Yudha yang akhirnya terjatuh sehingga aku bisa langsung menginjak-injak kepalanya, walau pada akhirnya teman-teman Yudha langsung melawanku dan siswa yang lain kemudian memisahkan kami semua. Yudha sangat kesakitan, kepalanya mengeluarkan darah akibat aku yang menginjaknya. Aku pun di panggil ke ruang konseling dan diberi surat panggilan orangtua besok pagi.

        Pagi hari tiba, hari ini sangat menegangkan bagiku. Aku datang bersama ibuku ke ruang konseling. Guru itu menjelaskan panjang lebar hingga pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkanku dari sekolah atas tindakanku yang membuat Yudha harus dirawat di rumah sakit. Selain dikeluarkan dari sekolah, juga harus bertanggung jawab membayar biaya rumah sakit. Dalam hati aku merasa bersalah terutama pada ibuku.

"Maafkan aku, bu," ucapku sambil menunduk merasa bersalah.

"Sudahlah, ibu tahu maksud kau sebenarnya untuk membela diri, tetapi yang terjadi demikian. Mungkin ini yang terbaik untukmu," jawabnya lembut.

Begitulah ibuku, dia memang orang yang sangat baik padaku.

        Siang hari setelah pulang sekolah, Lidya langsung menemuiku tanpa pulang ke rumah dan berganti pakaian terlebih dahulu. Saat itu aku sedang duduk sambil memandangi ponselku di teras rumah.

"Aku dengar kau dikeluarkan dari sekolah karena masalah kemarin?" tanyanya memulai pembicaraan.

"Begitulah. Mungkin ini yang terbaik untukku," jawabku.

"Sebenarnya aku sedikit kecewa denganmu. Aku tidak habis pikir kenapa kau berani melakukan tindakan seperti itu," terangnya.

"Maafkan aku, Lidya. Kita jadi tidak bisa bersama lagi di sekolah," aku merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, Dino. Itu mungkin sudah takdirmu," jawabnya santai.

"Terima kasih, kau selalu mengerti keadaanku,".

"Tentu saja, kita ini sahabat sejati," ucapnya.

"We are LDR (Lidya Dino Rifki)," kami berdua mengucapkannya bersama dengan semangat meski Rifki sudah tidak bersama kami.

"Aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucapnya berpamitan.

"Hati-hati. Sampai jumpa," jawabku

Hatiku kembali mengucap "Lidya, sebenarnya aku menyukaimu, tetapi aku tidak mau merusak persahabatan kita"

        Sudah seminggu semenjak aku dikeluarkan dari sekolah, aku hanya berdiam diri di rumah tanpa banyak kegiatan. Namun aku senang karena Lidya juga setiap hari menemuiku. Hingga suatu hari saat liburan sekolah, Lidya mengajakku pergi ke suatu tempat, aku pun langsung menjawab "ya". Sehingga keesokan harinya aku bersiap-siap menunggu di datang menjemputku mengendarai motornya. Lama aku menunggu tetapi dia tak kunjung datang sampai siang hari. Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi ponselnya tetapi tidak aktif. Merasa aneh, aku memutuskan untuk menemuinya. Sesampainya di sana ternyata rumahnya sepi tidak ada orang, jadi aku menunggu saja di depan rumah. Hingga 2 jam aku menunggu tetapi penghuni rumah belum ada yang pulang, kemudian aku lebih memilih pulang dan besok akan kembali lagi.

        Seperti yang sudah kuputuskan kemarin, hari ini aku kembali datang ke rumah Lidya pada pukul 10 pagi. Tibalah aku di depan rumahnya, aku langsung mengetuk pintu kemudian muncul seseorang dari balik pintu tersebut yang tidak lain adalah ibunya. Aku bingung kenapa dia mengenakan pakaian yang rapi seperti ingin pergi ke suatu tempat. Tentu saja dia mengenalku karena aku juga sering ke mari saat masih ada Rifki.

"Dino, ada keperluan apa?" tanyanya.

"Aku ingin bertemu Lidya. Apa dia ada?" jawabku.

Tiba-tiba raut wajah ibunya langsung murung. Aku semakin bingung.

"Bagaimana, bu, apa Lidya ada?" aku kembali bertanya.

"Lebih baik kita duduk dulu," ucapnya.

Aku langsung mengikuti ucapanya kemudian dia memulai pembicaraan.

"Begini, Dino. Sebenarnya kemarin itu Lidya mengalami kecelakaan saat mengendarai motor, sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit," ucapnya sedih.

"Lidya kecelakaan?" jawabku kaget.

"Pantas saja kemarin aku menunggumu lama. Ternyata kau kecelakaan saat menuju ke rumahku," gumamku dalam hati.

"Lalu bagaimana kondisi Lidya sekarang?' tanyaku penasaran.

"Dia sekarang masih koma. Kata dokter, dia mengalami kerusakan pada organ otaknya," jelasnya.

"Kalau begitu, bolehkah aku ikut menjenguknya?" tanyaku.

"Tentu saja boleh, kebetulan hari ini ibu mau menjenguknya sendirian karena ayah Lidya sedang sibuk bekerja," jawabnya.

Kami pun segera menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Lidya.

        Tidak butuh waktu lama, kami telah sampai di rumah sakit. Kami segera menuju ke ruang pasien tempat dimana Lidya terbaring lemah tak sadarkan diri. Kami terkejut ketika hendak memasuki ruang pasien, ada seorang dokter yang sedang memeriksa Lidya bersama seorang perawat yang mendampinginya, namun ekspresi wajahnya seperti seseorang yang mengalami kegagalan, seketika ibu Lidya masuk dan menghampirinya.

"Apa yang terjadi, dok?" tanya ibu Lidya khawatir.

"Maaf, bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi takdir berkata lain," jawab dokter sambil menggelengkan kepalanya.

"Maksudnya apa, dok?" ibu Lidya semakin ketakutan.

"Anak ibu, Lidya, tidak bisa kami selamatkan. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya," terangnya.

Seketika ibunya menangis saat mendengar ucapan Dokter tadi, aku juga ikut menangis mendengarnya. Ibunya langsung memeluk Lidya dengan wajah yang masih mengeluarkan air mata. Tak kusangka ternyata Lidya sudah meninggalkanku untuk selamanya sebelum aku mengatakan sesuatu yang sangat penting tentang perasaanku yang sangat mencintainya. Aku tak percaya dia pergi begitu cepat.

"I LOVE YOU...Lidya," gumamku dalam hati.
                 
*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com