Rabu, 18 April 2018

[CERPEN] Menyentuh Langit

             MENYENTUH LANGIT

                         Oleh :

                      DANKIN

Masa depanmu tergantung pada impianmu sendiri. Jadi, apakah impianmu hanya setinggi tanah? Atau mungkin impianmu setinggi langit sampai kau bisa menyentuhnya? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kau terus mengejar impianmu dan mewujudkannya.

       Lampu belajar terus menyoroti buku yang sedang kupelajari. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Semakin larut, rasa kantukku semakin mengganggu waktu belajarku. Kurasa cukup sampai disini aku belajar untuk hari ini. Kututup buku dan kubaringkan kepala di meja belajar ini. Aku sudah sangat mengantuk sehingga kubiarkan tubuh ini untuk tidak tidur di kasur dan berharap bisa melihat masa depanku yang cerah dalam mimpiku malam ini.

       Namaku Felix. Hampir setiap malam selalu kuhabiskan waktu untuk belajar hingga larut malam. Minggu depan, ujian nasional akan berlangsung, sehingga membuatku menambah intensitas waktu untuk belajar. Beginilah caraku agar bisa masuk salah satu universitas terbaik dengan mengambil jurusan hukum. Meski aku siswa yang selalu masuk daftar peringkat 10 besar paralel, tetap saja aku harus lebih giat belajar untuk bisa meraih nilai tinggi demi mewujudkan impianku menjadi jaksa.

kriiing… 
       Alarmku berbunyi. Aku langsung terbangun karena kaget. Kulihat jam menunjukkan pukul lima pagi. Segera aku langsung mandi dan berdoa sebelum akhirnya sarapan. Beruntung, aku sudah merapikan isi tas untuk belajar hari ini. Tepat pukul enam, aku bergegas menuju sekolah, rumah keduaku setelah rumah milik orangtuaku ini.

“Aku berangkat dulu. Sampai jumpa,” teriakku sebelum meninggalkan rumah.

       Tak sampai lima belas menit, aku telah tiba di sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah memang tidak terlalu jauh yang membuatku tidak pernah terlambat masuk sekolah. Setelah memasuki gerbang, kulihat beberapa guru berdiri sambil menyalami siswa yang baru datang termasuk diriku. Selesai bersalaman, aku langsung bergegas menuju kelas tetapi salah seorang teman mengagetkanku dari belakang.

“Kau ini, mengagetkanku saja,” keluhku.

“Kau terlihat gugup sekali. Apa kau belum mengerjakan tugas?” tanyanya.

“Aku ini orang yang selalu mengerjakan tugas tepat waktu. Lagipula, cara berjalanku memang seperti ini,” jelasku.

“Ah, aku hanya bercanda, Felix,” katanya sambil tertawa.

Kami pun sampai di kelas lalu duduk sambil membicarakan berbagai hal. Namanya Jeno, teman sebangku yang selalu ceria setiap hari. Ia memiliki kesamaan denganku yaitu memiliki impian untuk menjadi jaksa. Kami sama-sama bertekad untuk masuk universitas yang sama dan selalu bersama menjadi sahabat terbaik dari yang terbaik di dunia ini.

       Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh siswa bergegas untuk pulang dengan penuh keceriaan. Mungkin hanya aku yang terlihat bosan. Sejujurnya aku ingin sekali menikmati waktu di luar sekolah untuk menghibur diri. Kupikir, waktu yang tersisa sebelum ujian tiba harus kumanfaatkan untuk belajar dengan maksimal. Seperti biasa, setibanya di rumah langsung belajar. Sesekali istirahat untuk menyegarkan pikiran ini.

“Aku percaya usaha kerasku tidak akan mengkhianati hasilnya nanti,” ucapku dalam hati.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Jeno menelepon.

“Ada apa kau meneleponku?” tanyaku membuka percakapan.

“Aku hanya ingin mengajakmu ke toko buku malam ini. Kau bisa?” katanya.

“Baiklah. Aku pasti bisa untuk masalah seperti itu,” jawabku santai.

“Sampai bertemu malam nanti,” ucapnya sebelum akhirnya menutup panggilan.

       Malam hari tiba, aku sudah berada di toko buku menunggu Jeno sambil membaca-baca buku tentang hukum. Entah mengapa aku bisa sangat tertarik mempelajari hukum. Mungkin karena aku geram melihat hukum di negeri ini tidak berjalan pada semestinya. Aku berjanji jika suatu saat nanti berhasil menjadi jaksa, akan menjalankan kewajibanku pada negara sesuai hukum yang berlaku tanpa adanya ketidakadilan terhadap masyarakat.

“Kau sudah sampai ternyata,” ucap Jeno yang membuatku kaget.

“Sudah dari tadi aku disini. Kau ini seperti hantu saja selalu mengagetkanku.”

“Itu karena memang kau yang sangat mudah kaget,” balasnya.

“Buku apa yang akan kau cari?” tanyaku.

“Tentu saja sama seperti yang sedang kau baca,” katanya.

Kami pun sama-sama membeli buku tentang hukum sekaligus buku tentang materi ujian. Setelah itu, kami menuju kedai untuk sekadar makan dan bersenda gurau menikmati malam yang sejuk. Meski tidak lama, setidaknya pikiranku yang jenuh menjadi segar kembali dan siap untuk bartarung melawan buku malam ini. 

       Tak lama, aku sampai di rumah. Kubaringkan tubuhku sejenak di kasur kesayanganku. Menatap langit-langit kamar yang membuatku terus berpikir, apakah aku bisa meraih impianku yang bagaikan menyentuh langit. Pikiran itu membuatku mulai mengantuk, tapi aku langsung bergegas bangun untuk belajar.

“Tidak bisa kubiarkan kantuk ini menghalangi belajarku,” tegasku.

Duduk di depan meja, membuka buku pelajaran. Aku sudah sangat siap melawan rasa kantukku dengan belajar giat. Perlahan, aku mulai tidak kuat dengan kantuk ini. Aku teringat dengan perkataan Jeno, jika aku harus tetap menjaga kesehatan dan jangan memaksakan untuk belajar sampai larut malam.

“Benar sekali, kesehatan itu paling utama,” kataku.

Akhirnya aku menyelesaikan belajar malam ini. Kubaringkan tubuhku kembali ke kasur dan tak lama mata ini terlelap. Tidur nyenyak dengan mimpi yang indah.

       Hari demi hari berjalan. Setiap hari, kegiatan belajar mengajar di sekolah hanya berfokus pada materi ujian nasional yang akan segera tiba. Tentu saja aku memanfaatkan waktu itu dengan serius. Sudah tidak ada lagi kata santai dalam kamus kehidupanku saat ini. Yang ada hanyalah belajar dengan giat agar bisa sukses di ujian nanti. Begitupula dengan Jeno yang setiap hari terlihat lebih giat dariku. Akhirnya anak itu bisa lebih serius dari biasanya.

“Semoga kita meraih hasil yang memuaskan,” kataku pada Jeno.

“Ya, itu pasti. Kali ini nilaiku akan berada diatasmu. Lihat saja nanti,” ucapnya dengan percaya diri.

“Semoga beruntung. Aku juga tidak akan bersantai-santai. Jadi, kupikir kau akan sulit untuk mengalahkanku,” jawabku tersenyum.

“Bagaimana kalau kita belajar bersama di rumahku besok?” katanya.

“Boleh juga. Sudah lama kita tidak belajar bersama,” jawabku.

“Kita terlalu sibuk belajar sendiri akhir-akhir ini sampai tidak pernah belajar bersama lagi,” katanya sambil merapikan bajunya.

“Dua hari lagi kita akan menghadapi ujian nasional. Ayo kita sama-sama serius belajar demi impian kita,” tegasku.

“Itu pasti,” balasnya dengan semangat.

Perbincangan kami tentang ujian nasional begitu serius. Kami ini memang selalu serius kalau urusan belajar. Masa muda bukanlah masa yang harus disia-siakan untuk bersenang-senang saja karena masa depan berawal dari masa muda yang harus mengejar dan meraih mimpi untuk masa depan. Begitulah prinsip hidup kami yang pasti selalu berbeda dari anak muda kebanyakan.

       Hari Minggu tiba, kami seharian belajar bersama di rumah Jeno. Hari terakhir belajar ini, kami sangat serius sampai-sampai orangtua Jeno merasa takjub dengan semangat kami berdua. Tentu saja orangtuanya takjub lantaran anak muda seperti kami biasanya lebih suka bersenang-senang di luar apalagi kami laki-laki. Kami tentu tidak mau disamakan dengan mereka-mereka yang seperti itu. Kami mempunyai impian. Impian itu harus kami raih dan wujudkan. Jangan hanya memiliki impian tetapi tidak ada usaha untuk bisa meraihnya.

       Sampai sore hari, kami pun selesai belajar bersama. Rasanya lelah sekali seharian menghabiskan waktu dengan belajar. Meski lelah, tapi ada hasilnya yaitu ilmu yang teringat di otak. Dengan ini, aku siap menghadapi ujian besok. Aku sudah sangat tidak sabar.

“Aku pulang dulu. Semoga ujian kita berhasil. Sampai jumpa,” ucapku kemudian pergi.

       Setibanya di rumah, setelah makan malam, aku melanjutkan untuk belajar. Waktu yang tersisa harus benar-benar untuk belajar. Ibuku bahkan sampai menyuruhku untuk tidur saat tahu aku masih belajar sampai larut malam. Aku pun menurutinya untuk tidur.

“Semoga aku dimudahkan dalam mengerjakan ujian besok,” begitulah harapanku.

       Hari berlalu, ujian nasional akan dilaksanakan hari ini. Orangtuaku memberiku semangat untuk ujian ini. Aku pun semakin percaya diri akan meraih hasil yang memuaskan. Dari hari pertama ujian sampai hari terakhir aku berhasil melewatinya dengan mudah. Mungkin inilah dampak dari belajarku yang giat sehingga dimudahkan dalam mengerjakan soal ujian. Kulihat Jeno juga sama sepertiku. Sepertinya dia akan mendadak jadi kuda hitam di daftar peringkat 10 besar paralel. 

“Akhirnya ujian telah usai. Bebanku terasa hilang seketika,” kata Jeno sambil mengangkat tangannya.

“Walau begitu kita harus terus optimis dan berdoa agar hasilnya nanti memuaskan,” lanjutku.

“Aku percaya kita akan mendapat hasil yang diharapkan,” jawabnya dengan senyum.

Usai ujian, kami menghabiskan waktu seharian untuk bersenang-senang di sebuah mall. Entah kapan terakhir kali kami senang seperti ini. Benar kata Jeno, beban setelah ujian usai terasa hilang semua. Sampai-sampai, kami sangat menikmati waktu ini dengan gembira.

       Sebulan berlalu, hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu karena hasil ujian nasional diumumkan. Setelah melihat hasilnya, ternyata nilaiku begitu memuaskan dan aku berada di peringkat ke 3 paralel. Sungguh bahagia hari ini. Doa dan harapanku selama penantian ini tidak sia-sia. Kulihat di mading tertera daftar urutan nilai ujian seluruh siswa. Benar saja apa yang pernah kuprediksikan, nama Jeno berada di urutan ke 8. Benar-benar kuda hitam yang nyata.

       Pasca kelulusan dan perpisahan kami dengan sekolah ini, kami akan masuk universitas untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Aku dan Jeno sepakat untuk mengikuti seleksi masuk universitas yang sama dan tentunya jurusan yang sama, hukum. Inilah perjalanan awal kami untuk meraih impian itu. Selanjutnya, kami harus bisa melewati rintangan ini dengan semangat yang mengembara.

Impian tidak seharusnya hanya menjadi impian semata. Kau harus berusaha untuk meraih dan mewujudkannya dengan usaha keras. Karena usaha keras itu tidak akan mengkhianati hasil. Percayalah, bahwa impian itu bisa diraih jika kita mau berusaha meraihnya.

               *****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Minggu, 08 April 2018

[CERPEN] Kambing

KAMBING

Oleh :

DANKIN

       Langkahku begitu cepat. Kulalui jalanan tanpa melihat sekitar. Tetapi, langkahku terhenti tiba-tiba saat melihat seorang kakek membawa kambing yang sepertinya membutuhkan bantuan. Anehnya, aku lebih fokus kepada kambingnya.
“Apa kakek butuh bantuan?” tanyaku.

“Sepertinya begitu. Aku sangat sulit membujuknya untuk makan. Sudah tiga hari kambing ini tidak mau makan,” jawabnya dengan lesu.

“Akan kucoba membujuknya,” kataku.

“Kambing yang lucu, apa kau mau susu? Ayo cepatlah minum susu ini,” ucapku pada kambing dengan gemas.

Ternyata tak sia-sia, kambing itu mau meminum susu yang kuberikan. Si kakek hanya diam menatap tingkah anehku. Kambing itu seolah bagaikan seorang kekasihku. Aku terus mengusap dan memeluk kambing itu sambil memberinya susu. Kakek itu pasti akan menganggapku tidak waras, tapi inilah diriku dengan segudang keanehan.

“Bagaimana jika kau saja yang merawat kambing ini selama seminggu? Kalian terlihat sangat akrab,” kata kakek itu tetapi aku masih diam berpikir.

“Aku akan membayarmu setelah seminggu kau rawat. Bagaimana?” lanjutnya.

“Tawaran yang menarik. Baiklah akan kurawat kambing ini,” balasku senang lalu kuberikan secarik kertas bertuliskan alamat tempat tinggalku.

“Kalau begitu, aku pamit pergi dulu,” ucap kakek lalu pergi meninggalkanku dengan kambing ini.

       Setelah berpikir sesaat, akhirnya kuputuskan untuk tidak bekerja hari ini dengan alasan sakit meski berbohong. Kubawa kambing ini pulang ke tempat kost. Beruntung, pemilik kost mengizinkanku untuk merawat kambing ini selama seminggu di halaman rumah. Kuikat kambing ini dibawah pohon yang rindang agar bisa berteduh.

“Kambing milik siapa itu? Apa kau mencurinya?” tanya teman kost tiba-tiba.

“Yang benar saja kau. Aku bukan pencuri. Ini kambing milik orang lain yang dititipkan padaku,” balasku sedikit kesal sambil memeluk kambing itu.

“Baguslah, kupikir kau berbuat aneh lagi,” ucapnya menyeringai.

“Daniel. Kau sendiri kenapa tidak pergi ke kampus? Bukankah hari ini ada mata kuliah?” kataku.

“Aku sedang malas hari ini. Sudah, aku mau tidur dulu,” jawabnya lalu pergi.

       Hari demi hari kambing ini kurawat dengan penuh kasih sayang, bahkan sudah seperti kekasihku. Sepertinya kambing ini sangat penurut kepadaku. Aku selalu memberinya makan rumput tiga kali sehari. Tak lupa minum susu segar bahkan selalu kuajak jalan-jalan. Tingkah anehku ini membuat orang-orang sekitar menjadi risih terhadapku, termasuk penghuni kost. Aku tidak peduli komentar mereka terhadapku, karena bagiku yang terpenting adalah merawat kambing ini dengan baik.

       Tak terasa seminggu telah berlalu. Si kakek akhirnya datang. Seharusnya hari ini aku senang karena akan mendapat banyak uang dari pekerjaanku merawat kambingnya. Namun, aku justru sangat sedih harus berpisah dengan kambing yang kusayangi.

“Bisa aku bawa kembali kambing itu?” kata kakek.

“Tentu saja bisa. Kambingnya ada di halaman rumah,” jawabku dengan wajah pucat.

“Nanti malam aku akan kembali sekaligus membayar upahmu,” ucapnya.

“Baiklah. Sampai jumpa nanti malam,” jawabku.

Si kakek melepas ikatan tali dan langsung pulang membawa kambing itu.

       Setelah kejadian tadi siang, hari ini aku merasa pudar. Tidak ada lagi kambing yang menemaniku. Bagiku, kambing itu sangat berharga seperti keluargaku sendiri bahkan seperti kekasih. Namun apadaya, aku bukanlah pemilik kambing itu.

“Apa yang kau pikirkan? Sedari tadi kau hanya tiduran di sofa memandangi langit-langit,” ucap Daniel yang membuatku kaget.

“Bukan urusanmu,” balasku singkat.

“Aku tahu, pasti kau sedang memikirkan kambing kesayanganmu itu. Kuharap kau tidak menjadi gila hanya karena seekor kambing” katanya namun aku hanya menghiraukan.

       Malam harinya, si kakek datang lagi untuk memberikanku uang sebagai upah karena telah merawat kambingnya. Dia juga membawa bungkusan makanan yang sepertinya terlihat lezat. Benar saja, ternyata ini adalah gulai kambing.

“Terima kasih atas semua ini,” ucapku dengan senyum.

“Kau tidak perlu berterimakasih,” balasnya.

“Bagaimana keadaan kambingnya? Apa masih baik-baik saja?” tanyaku gugup.

“Kau ini aneh sekali menanyai kambing seolah kekasihmu yang sedang pergi. Tentu saja kambing itu sudah menjadi gulai yang kau pegang itu,” katanya sambil sedikit tertawa.

“Jadi, gulai ini…”

Seketika aku menjatuhkan bungkusan gulai kambing itu lalu aku lari terbirit-birit sambil menangis memikirkan kambing itu. Aku tak tahu harus berlari sejauh mana sampai akhirnya sebuah mobil menabrak tubuhku hingga terpental dan tewas.

kriiing…

       Jam alarmku berbunyi dengan kencang hingga membuatku terbangun. Tubuhku sangat basah oleh keringat akibat mimpi buruk tadi.

“Ternyata hanya mimpi. Astaga, kupikir aku benar-benar menjadi orang aneh yang menyayangi seekor kambing,” ucapku dengan napas lega.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com