Selasa, 14 November 2017

[CERPEN] Hujan Deras

HUJAN DERAS

Oleh :

DANKIN

       Sore ini, hujannya sungguh deras. Suara air hujan yang terjatuh, membuat hati ini menjadi lebih tenang. Kupandangi hujan dari balik kaca jendela, terlihat sosok wanita dibawah pohon sedang berteduh. Cepat-cepat aku mengambil payung untuk menyusulnya.

"Kau sedang apa disini? Cepat ikut aku!" kataku sambil memberinya payung.

Wanita itu mengangguk dan menuruti kata-kataku. Di dalam rumahku, kupersilakan dia duduk di kursi sambil meminum air hangat.

"Minumlah dulu, akan kusiapkan air hangat untuk kau mandi," ucapku dengan senyuman.

"Ya," jawabnya singkat.

Aku pun mempersiapkan air hangat untuknya mandi.

"Sebaiknya kau mandi dulu. Tubuhmu terlihat kedinginan," kataku.

"Ya...terima...kasih," ia menjawab dengan terbata-bata.

Dia pun langsung menuju kamar mandi yang sudah kupersiapkan air hangat untuknya.

     Saat sedang duduk sambil menyeruput kopi, kulihat wanita itu telah selesai mandi dan berjalan dihadapanku. Aku seakan terhipnotis kala memandangi wajahnya yang cantik.

"Apa yang terjadi padaku?" tanyaku dalam hati.

Dia menengok ke arahku hingga membuatku kaget.

"Ada yang salah padaku?" tanyanya.

"Ah, tidak tidak," jawabku gugup.

"Siapa namamu?" tanyaku memulai pembicaraan.

"Namaku Viola. Lalu kau?"

"Panggil saja Lee. Akan kuantar kau pulang setelah hujan reda," kataku padanya yang dibalas anggukkan dan senyuman manis.

       Malam hari tiba, kulihat hujan di luar sudah reda. Aku sudah berjanji pada Viola untuk mengantarnya pulang, tetapi aku mengajaknya makan malam terlebih dahulu. Aku yang sedari kecil pandai memasak, untuk pertamakalinya memasak hidangan untuk seorang wanita. Perasaanku sangat gugup.

"Ayo kita makan malam dulu," ajakku.

"Kau yang memasak semua ini?" tanyanya dengan wajah yang terus memandangi hidangan di meja makan.

"Menurutmu?" balasku dengan senyum.

Kami pun makan malam berdua. Sejujurnya ini pertamakali aku makan hanya berdua dengan wanita. Hal yang mungkin langka dalam hidupku.

"Ini enak sekali. Aku tak menyangka ada pria yang pandai masak sepertimu," ucapnya kagum padaku.

"Sedari kecil memang inilah bakat yang aku miliki dan sudah menjadi hobi."

Selesai makan malam, aku pun bersiap untuk mengantarnya pulang dan tentunya dia sudah siap. Akhirnya, kuantarkan dia pulang dengan mengendarai mobilku.

       Sampailah kami di rumahnya. Sebelum aku meninggalkannya, kami saling bertukar kontak agar hubungan pertemanan kami tidak sampai disini saja.

"Terima kasih sudah mengantarkanku, apa kau mau mampir sebentar?"

"Ah, tidak usah. Ini sudah malam dan aku harus beristirahat," balasku.

"Kalau begitu hati-hati di jalan."

"Aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucapku sebelum akhirnya meninggalkan dia pergi.

      Tepat pukul sepuluh malam, aku baru sampai rumah. Kuakhiri hari ini dengan istirahat karena tubuh ini terasa sangat lelah. Kubaringkan tubuhku di kasur  dan berharap mendapat mimpi indah yang menghiasi tidurku. Perlahan, mataku mulai terlelap dan pada akhirnya tertidur.

       Pagi hari tiba, cahaya matahari begitu menyilaukan hingga menembus jendela rumah yang membuatku terbangun. Kulihat ponselku, ada sebuah pesan dan kubuka dan ternyata dari Viola.

"Pagi! Semoga harimu menyenangkan, semangat!!!" begitulah isi pesan tersebut.

Aku hanya bisa tersenyum membacanya. Kubalas pesan tersebut dengan kalimat yang sama. Tak lama dia membalas.

"Besok lusa, apakah kau ada waktu untuk menemaniku berlibur?" tanya Viola.

"Kebetulan sekali aku tidak ada kesibukan di hari itu. Tentu saja aku bisa menemanimu," balasku.

"Benarkah? Baguslah kalau begitu."

"Memangnya kenapa?" tanyaku bingung.

"Tidak apa-apa," dia membalas.

"Aneh sekali. Bodoh," balasku.

       Hari Minggu tiba, aku sudah siap untuk menemuinya. Sebelum itu aku menghubungi terlebih dahulu.

"Bagaimana? Apakah kau sudah siap?"

"Ya, tentu saja aku sudah siap, Lee," jawabnya sedikit bergurau.

"Aku akan menemuimu sekarang. Sampai jumpa."

Aku langsung mengendarai mobilku ke rumah Viola.

       Tepat lima belas menit perjalanan, mobilku telah sampai di depan rumahnya. Rupanya, Viola telah menungguku. Kubuka kaca mobil dan menyuruhnya segera naik. Viola yang mendengarku langsung masuk ke mobil, tepatnya duduk disampingku.

"Kau sudah lama menunggu?" tanyaku memulai.

"Hmmm...tidak juga," jawabnya.

Aku langsung menancapkan gas dan mobil pun melaju meninggalkan tempat tersebut. Hari ini kami sudah merencanakan untuk berlibur ke luar kota. Meskipun hubungan pertemanan kami baru berjalan kurang dari seminggu, tetapi kami sudah sangat dekat. Aku merasa nyaman jika dekat bersamanya.

       Cuaca hari ini begitu buruk, di tengah perjalanan, hujan yang deras mengguyur kota sehingga mengganggu perjalanan kami. Meski sebenarnya ini bukan hal buruk karena aku sangat menyukai hujan. Suara dan udara sejuknya itulah yang membuatku menyukainya. Kulihat ke arah Viola, terlihat dia memandangi jalanan yang terguyur hujan deras.

"Kenapa dengan hujannya?" tanyaku.

"Tidak apa-apa. Aku hanya menyukai saat-saat hujan seperti ini. Kesejukkannya mengingatkanku saat masih kecil," kata Viola.

"Saat masih kecil?" tanyaku lagi.

"Ya, saat aku kecil sangat suka bermain saat hujan turun. Sangat menyenangkan," jelasnya.

"Ternyata kau sama-sama menyukai hujan juga," kataku.

"Kau juga suka hujan?" tanyanya kaget.

"Ya, begitulah," jawabku singkat.

       Perjalanan sudah kami tempuh selama kurang lebih satu jam. Sepertinya, hujan deras ini akan menggagalkan rencana kami untuk berlibur. Kurasa liburan kali ini adalah menikmati pemandangan hujan deras bersama Viola. Aku tak memikirkan liburan kita ke luar kota, mungkin karena sebenarnya aku menyukai Viola. Hal itulah yang membuatku senang bisa terus berdua dengannya meski liburan kami terganggu.

"Apa kita harus pulang?" tawarku.

"Sepertinya liburan kita tidak berjalan dengan lancar," keluhnya.

"Kau tidak perlu sedih. Anggap saja liburan kita adalah melihat pemandangan hujan dari dalam mobil," kataku menghibur.

Viola hanya membalas dengan senyuman manis. Kurasa dia sudah tidak lagi kecewa dengan keadaan sekarang. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali pulang.

       Saat perjalanan pulang, hujan semakin deras dan mengganggu pemandangan dari kaca mobil. Tiba-tiba tanpa kusadari, mobil yang kukendarai menabrak sebuah pembatas jalan samping kiri hingga mobil kami terguling. Kecelakaan itu membuat kami harus dilarikan ke rumah sakit.

       Malam harinya aku terbangun dan melihat diriku sudah terbaring diatas tempat tidur pasien rumah sakit. Tepat di samping ada kedua orangtuaku yang datang menjenguk.

"Ayah, ibu, apa yang terjadi padaku?" aku bertanya dengan ketakutan.

"Tadi sore kau mengalami kecelakaan. Tapi beruntung, kau hanya mengalami luka ringan," jawab ibuku.

Aku pun teringat kalau saat itu sedang mengendarai mobil bersama Viola. Perasaanku sangat cemas kala mengingat Viola.

"Lalu bagaimana dengan keadaan Viola?"

"Teman wanitamu itu baru saja meninggal dunia. Orangtuanya sangat terkejut saat melihat keadaannya. Rencananya, Viola akan dimakamkan besok siang," jelas ibuku.

Aku langsung terkejut dan merasa bersalah. Seandainya tidak ada hujan deras saat itu, mungkin kami masih bisa bersama dan aku bisa secepatnya menyatakan perasaanku padanya. Tapi Tuhan berkata lain, mungkin ini takdirku yang harus ditinggal orang yang paling kucintai. Aku menangis meneteskan banyak air mata. Sangat terpukul hati ini mendengat penjelasan ibuku. Aku sangat menyesal. Akulah penyebab kematian Viola. Sku membenci diriku sendiri. Aku membenci hujan. Kini, aku tidak lagi menyukai hujan. Saat hujan turun, aku seolah menjadi orang yang sangat membenci dunia ini. Setiap hujan turun, aku tidak berani melihat bahkan mendengar suara rintiknya. Aku menjadi orang yang sangat depresi ketika hujan turun.

       Aku seperti mendengar orang yang memanggil namaku. Suara lirih itu seperti kukenal.

"Lee, ayo bangun. Hujannya sudah reda."

Tiba-tiba, aku terbangun dan terkejut melihat Viola dihadapanku. Posisi kami masih berada di dalam mobil.

"Apa yang terjadi padaku?" tanyaku bingung.

"Sedari tadi kau tertidur. Sekarang hujannya sudah reda. Ayo kita lanjutkan perjalanan," jelas Viola.

Akhirnya aku teringat, ternyata kecelakaan itu hanyalah mimpi buruk. Senyumku terus terlihat setelah tahu kalau ternyata aku masih bisa bersama Viola lagi. Mimpi buruk itu membuatku menjadi berhati-hati dalam bertindak sesuatu. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk menikmati perjalanan berdua. Dan pada akhirnya, aku masih menyukai hujan.

       Setelah lama kami lelah dalam perjalanan, kami pun sampai di tempat yang dituju. Kami masih harus naik kapal kecil untuk menuju salah satu pulau kecil yang sangat indah. Akhirnya kami menginjakkan kaki ke pulau tersebut. Pemandangan laut yang terlihat dari pulau tersebut sangat indah. Air laut begitu biru cerah dengan pemandangan ikan-ikan kecil dan ubur-ubur. Kami berdua sangat menikmati liburan ini.

       Malam hari tiba, makan malam telah disediakan oleh pihak pemilik tempat wisata tersebut. Obor api yang menyala sepanjang pantai begitu terang ditambah lagi lampu-lampu yang cantik semakin menambah kesan romantis di malam hari. Kami berdua makan bersama di satu meja makan. Alunan musik yang merdu sangat menghibur makan malam ini.

"Ada yang ingin aku katakan," kataku.

"Kau ingin berkata apa?" tanyanya.

"Sejauh pertemanan kita saat ini, aku merasa kita bisa menjadi lebih dari ini. Sejak pertama bertemu, aku langsung terpana padamu, kau wanita pertama yang bisa membuat hatiku terbuka untuk mencintai seseorang. Maukah kau menjadi kekasihku?" ungkapku sambil menyodorkan kancing ketiga bajuku yang baru saja aku lepas.

"Kancing baju?" dia sedikit bingung.

"Bagiku kancing ketiga dari bajuku ini merupakan perwakilan dari perasaan hatiku padamu. Aku memberikan semua perasaan ini padamu, kuharap kau mau menerima dan menjaga perasaanku ini," lanjutku.

"Aku sangat kagum padamu. Yang kau lakukan ini sangat mengesankan. Tidak seperti pria pada umumnya, sangat berbeda. Aku juga menyukaimu, Lee," jelasnya sambil menerima kancing yang kuberikan.

Aku pun memeluk tubuhnya kencang. Malam hari ini begitu indah. Orang yang aku cintai kini sudah menjadi kekasihku.

"Jagalah perasaanku juga, Lee," kata Viola saat kupeluk.

Sisa malam hari ini, kami habiskan dengan menikmati fasilitas yang telah disediakan di pulau ini.

       Hari berlalu, kami bersiap untuk pulang. Tidak sia-sia kami menikmati liburan di pulau ini. Momen ini menjadi momen yang tak akan pernah aku lupakan. Kami pun berjanji untuk tetap saling mencintai sampai maut menjemput kami apapun yang terjadi. Kapal tersebut kembali mengantar pengunjung pulau. Kami melambaikan tangan kepada para pekerja yang telah profesional melayani liburan kami. Kunyalakan mobil dan segera bersiap untuk pulang.

       Belum lama kami dalam perjalanan, tiba-tiba hujan deras mengguyur jalanan kota. Kulihat jalanan sepi, kuinjakkan gas lebih laju agar cepat sampai. Entah karena lelah atau kurang fokus, ternyata apa yang kulihat tadi tidak seperti apa yang kupikirkan. Mobil yang kukendarai menabrak mobil lain yang berada di depan dengan kencang hingga terguling. Kecelakaan itu tentu saja tidak bisa kuhindari.

        Tiba-tiba, aku berada dibawah guyuran hujan dan memandangi mobil yang mengalami kecelakaan. Kudekati mobil itu dan kulihat ada diriku yang lain terluka parah bersama Viola. 

"Kecelakaan itu. Mimpi itu. Jadi mimpi yang lalu itu benar-benar terjadi sekarang. Jadi yang sekarang itu nyata?" tanyaku pada diri sendiri.

Air mata tergelinang dari mataku kala melihat kondisi Viola yang sangat mengenaskan tepat di samping tubuhku. Aku sangat menyesal dengan kejadian ini, seharusnya setelah mimpi buruk itu, aku tidak perlu melanjutkan perjalanan berlibur. Tunggu dulu, sepertinya aku melihat Viola yang lain menangis.

        Aku mendekatinya untuk memeluk tubuh Viola. Meski sedih melihat diri kami yang sesungguhnya mengenaskan. Tetapi, kami berdua akhirnya berjalan bersama menyusuri jalanan yang masih terguyur hujan deras dengan senyuman bahagia. Tangan kami saling menggenggam satu sama lain. Hujan deras ini menjadi bukti bahwa cinta kami abadi sampai maut menjemput kami.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Senin, 02 Januari 2017

[CERPEN] Terjebak Cinta

TERJEBAK CINTA

Oleh :

DANKIN
Dita Dwi L.
Seftia Winda S.

       Bencana tsunami melanda Korea Selatan tepatnya di Distrik Bupyeong. Saat itu, keadaan sangat genting. Sebuah keluarga tengah berlari menghindari ombak besar yang tiba-tiba menghantam kawasan tersebut saat pagi hari. Para tim penyelamat berhamburan keluar untuk menyelamatkan masyarakat sekitar yang tengah bertahan hidup dari hantaman ombak. Suara teriakkan orang-orang dan sirine bergema di tempat itu.

"Kakak, aku takut...," rengek Bona, adik dari seorang gadis yang tengah berjuang melawan maut.

       Tim penyelamat segera mendatangi keluarga itu menggunakan kendaraan besar anti tsunami dari Jepang. Mereka berhasil menarik tangan gadis malang itu. Namun naasnya, orang tua dan kakaknya terseret arus gelombang dahsyat dan tidak bisa diselamatkan lagi. Sementara tubuh gadis itu terbentur bangunan saat tubuhnya ditarik oleh tim penyelamat. Dia pun pingsan dengan tubuh bersimpah darah.

"Cepat, selamatkan dia!!!" teriak salah seorang petugas.

Entah apa yang dirasakan gadis itu saat ini, bayangan putih terus menghantuinya antara hidup dan mati.

"Kami menemukannya. Dia hampir terseret gelombang itu," ujar salah seorang petugas.

"Keadaannya sangat parah, aku tidak menjamin dia akan tetap hidup," jawab seorang dokter di rumah sakit tersebut.

"Aku yakin dia bisa diselamatkan. Aku percaya akan keajaiban," ucap seorang pria berpakaian rapi.

Dia adalah Song Yunhyeong, seorang pebisnis muda yang sukses dan tinggal di wilayah Distrik Gangnam.

       Hari ini, Yunhyeong menjadi relawan untuk menolong para korban bencana, tetapi perhatiannya kini tertuju pada seorang gadis yang malang itu.

"Siapa gadis ini?" tanya Yunhyeong.

"Gadis ini bernama Kim Bona. Dia berasal dari keluarga sederhana yg berumur sekitar 19 tahun dan tinggal di Distrik Bupyeong. Semua anggota keluarganya telah meninggal," jelas seorang polisi kepada Yunhyeong.

Mendengar semua itu, Yunhyeong tertunduk lemah dan terus memandangi wajah cantik gadis itu.

"Tuan Song, syukurlah kami tim medis berhasil menyelamatkan gadis ini. Tetapi dia akan koma dalam waktu yang cukup lama," kata Dokter Han Jisung sambil tersenyum.

"Terima kasih. Biar semua biaya aku yang menanggung," balas Yunhyeong.

"Baiklah, Tuan Song. Aku akan kembali lagi nanti," lanjut Dokter Han.

       Dua bulan kemudian, Yunhyeong datang ke rumah sakit untuk menjenguk Bona yang terbaring lemah. Tiba-tiba jari tangan Bona mulai bergerak dan kelopak matanya perlahan terbuka. Ia melihat di sekelilingnya dengan kebingungan.

"Aku ada dimana?" rintih Bona.

"Kau sedang dirawat di rumah sakit," jawab seorang dokter.

Tak lama, datang seorang pria tampan di ruangan itu. Dokter pun meninggalkan ruangan tersebut.

"Kau sudah sadar rupanya," ucap Yunhyeong.

"Kau siapa? Dimana orangtua dan kakakku?" tanya Bona pelan.

"Jika aku berkata yang sesungguhnya, apakah kau akan percaya ucapanku?" balas Yunhyeong.

"Sebenarnya ada apa? Baiklah aku akan mempercayaimu," lirih Bona.

"Mereka semua sudah meninggal dua bulan yang lalu dan saat itu kau masih koma. Tetapi kau tidak perlu khawatir, aku yang akan merawatmu," Yunhyeong berkata tanpa memandang mata Bona.

"Apa? Tidak mungkin. Aku ingin bertemu mereka," Bona bersiap turun dari tempat tidur itu.

"Tetaplah di tempat ini, kau baru sadar dan masih butuh banyak istirahat," Yunhyeong mencoba menahan Bona.

"Tapi aku merindukan mereka," Bona menangis pelan.

"Sudah kubilang mereka sudah meninggal. Kau keras kepala sekali," balas Yunhyeong hingga membuat Bona terdiam.

"Maaf...," lirih Bona sambil menundukkan kepala.

"Sekarang kau istirahat saja. Kau masih belum benar-benar sehat," lanjut Yunhyeong.

"Kau ini siapa?" tanya Bona.

"Namaku Song Yunhyeong. Maaf, aku harus keluar karena banyak urusan pekerjaan. Nanti aku kesini lagi, sampai jumpa," balas Yunhyeong kemudian ia pergi meninggalkan ruangan itu.

       Waktu menunjukkan pukul tiga sore, rupanya Bona masih terlelap dalam mimpi indahnya. Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka dan tampaklah seorang pria tampan yang tak lain adalah Yunhyeong.

"Kau masih tertidur rupanya. Jika kuperhatikan ternyata kau sangat cantik," gumamnya seraya memandangi wajah Bona.

Perlahan, Bona membuka matanya tanda mulai terbangun.

"Tuan Song?" ucap Bona sambil mengucek matanya.

"Kau sudah bangun," ucap Yunhyeong kaget.

"Kau kemana saj?" tanya Bona.

"Aku sibuk dengan pekerjaanku. Apa kau sudah makan?" balas Yunhyeong.

"Tentu saja belum, sedari tadi aku tertidur. Aku lapar sekali," jawab Bona.

"Kebetulan sekali aku membawa makanan untuk kita makan," ucap Yunhyeong yang mulai menyiapkan makanan.

"Terima kasih, Tuan Song. Kapan aku boleh pergi dari tempat ini. Aku merasa sangat bosan," kata Bona merengek.

"Panggil aku Yunhyeong. Aku tidak tahu pasti kapan kau boleh pulang. Dokter masih menyuruhmu tetap dirawat di sini hingga benar-benar sembuh," jelas Yunhyeong.

"Bisakah aku pergi keluar sebentar saja untuk mencari udara segar," pinta Bona dengan wajah manisnya yang dibalas anggukkan Yunhyeong.

Mereka berjalan ke taman dekat rumah sakit tersebut. Bona terlihat bahagia sekarang ini. Yunhyeong yang melihatnya pun dalam hatinya ikut bahagia.

"Kau bisa menghirup udara segar disini," ucap Yunhyeong.

Bona memejamkan matanya sambil menghirup udara segar dan menikmati tempat tersebut hingga hari mulai gelap.

"Hari sudah gelap, lebih baik kita kembali," ujar Yunhyeong.

"Ya," balas Bona singkat.

Mereka kembali ke ruang tempat Bona dirawat.

"Maaf, aku harus pulang. Aku tidak bisa menemanimu lama. Sebaiknya kau istirahat saja."

"Tidak apa-apa. Kau juga harus istirahat," balas Bona tersenyum.

       Satu minggu telah berlalu, Yunhyeong muncul tiba-tiba di hadapan Bona sambil tersenyum.

"Selamat pagi. Aku membawa kabar baik untukmu," kata Yunhyeong.

"Benarkah ada kabar baik untukku?" balas Bona tersenyum.

"Kata dokter, kau boleh pulang hari ini," lanjut Yunhyeong.

"Ah senangnya," balas Bona.

"Akan kutunggu di luar, kau bisa memperisiapkan diri" Yunhyeong keluar ruangan tersebut sembari menunggu Bona selesai.

"Aku sudah siap," seru Bona.

"Ayo, kita langsung ke mobil," sahut Yunhyeong.

       Sampai di rumah Yunhyeong yang sangat besar dan mewah, mereka keluar dari mobil dan memasuki rumah itu sambil berjalan perlahan.

"Bagus sekali rumahmu. Apa kau tinggal sendiri di rumah sebesar ini," tanya Bona takjub.

"Sejak kedua orangtuaku meninggal tiga tahun yang lalu bersama kakak perempuanku, aku hidup sendiri di rumah ini," jawab Yunhyeong pelan.

"Astaga kau sama sepertiku rupanya. Aku pasti akan merepotkanmu disini," ucap Bona menundukkan kepala.

"Kau tidak merepotkanku. Justru aku senang ada seseorang yang bisa menemaniku di rumah," lanjut Yunhyeong.

"Terima kasih, Tuan Song. Maksudku Yunhyeong," Bona membungkuk.

"Kau bisa tidur di kamar kakakku. Sebaiknya, kau bereskan dulu barang-barangmu. Aku mau keluar karena ada pertemuan dua jam lagi. Kau tetap disini menjaga rumah," jelas Yunhyeong.

Yunhyeong pergi meninggalkan Bona di rumah karena harus ada urusan yang sangat penting.

       Hari telah sore, Yunhyeong sudah sampai di rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya yang sangat sibuk.

"Selamat sore," teriak Yunhyeong saat memasuki rumah.

"Aku ada di dapur," Bona membalas dengan berteriak.

"Kau sedang apa?" tanya Yunhyeong saat di dapur.

"Aku sedang memasak untuk makan malam kita," balas Bona.

"Kau bisa masak ternyata. Akan kutunggu hidanganmu selesai," kata Yunhyeong.

"Baik."

Bona melanjutkan memasaknya yang sempat tertunda obrolan kecil. Makanan telah siap dihidangkan di meja makan dengan tatanan rapi yang menggugah selera makan.

"Yunhyeong, ayo kita makan. Makanannya sudah siap," teriak Bona dari meja makan.

"Ya, aku segera kesana," balas Yunhyeong berjalan ke meja makan.

"Silakan duduk dan makan yang banyak."

"Kau masak apa malam ini," tanya Yunhyeong seraya duduk.

"Aku memasak bulgogi dan bibimbap," jawab Bona.

Makan malam mereka pun selesai. Sekarang mereka sedang bersantai sambil menonton acara televisi.

"Aku ingin membahas tentang dirimu. Kau ini kan masih seorang mahasiswi di Universitas Kyunghee. Kau lanjutkan saja kuliahmu itu, biar aku yang akan membiayai semuanya," terang Yunhyeong.

"Benarkah? Terima kasih, Yunhyeong," ucap Bona sambil memeluk Yunhyeong.

      Tiga bulan berlalu, Yunhyeong baru saja selesai bekerja dan memarkirkan mobilnya di garasi. Ia segera memasuki rumah.

"Aku pulang. Apa kau sudah menyiapkan makan malam?" seru Yunhyeong.

Bona datang menghampiri dengan wajah yang murung. Yunhyeong yang melihatnya merasa bingung.

"Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" ucap Yunhyeong seraya mengacak rambut Bona.

"Jangan acak rambutku," balas Bona sedikit kesal.

"Kenapa tiba-tiba jadi sensitif seperti itu. Kau ada masalah apa?" Yunhyeong kebingungan.

"Apa kau sudah memiliki kekasih? Aku menemukan fotomu bersama wanita lain di laci. Dia itu siapa?" ucap Bona.

"Foto itu memang diriku bersama mantan kekasihku dulu. Aku sudah tidak berhubungan dengannya lagi. Atau jangan-jangan, kau menyukaiku?" jelas Yunhyeong.

Seketika wajah Bona memerah, terlihat sangat malu dirinya dihadapan Yunhyeong.

"Aku memang menyukaimu," jawab Bona pelan.

Yunhyeong hanya terdiam kemudian meninggalkannya ke kamar. Bona sedikit kesal, pernyataannya tidak dibalas sepatah kata pun.

       Makan malam tiba, mereka makan seperti biasa namun tidak terjadi banyak pembicaraan seperti biasanya. Bona terus memperhatikan Yunhyeong yang terus melahap makanannya tanpa menoleh ke arahnya hingga makan malam selesai.

"Ada hal penting yang ingin aku katakan," ucap Yunhyeong tiba-tiba.

"Tentang apa?" Bona menoleh.

"Sebenarnya aku juga menyukaimu. Apa kau mau menjadi pendamping hidupku? Menikahlah denganku," ucap Yunhyeong sambil memegang kedua tangan Bona.

"Kau serius? Tentu saja aku mau menjadi pendampingmu," balas Bona sambil memeluk erat.

       Seminggu kemudian mereka telah selesai dalam prosesi pernikahan. Sekarang, acara pesta pernikahan sedang dimulai. Para tamu undangan terlihat menikmati acara tersebut. Terlihat pula Yunhyeong dan Bona yang tersenyum bahagia. Dengan kekuatan cinta dan kasih sayang, mereka akan menghadapi kehidupan rumah tangga yang pastinya akan selalu ada beberapa masalah kecil maupun besar hingga maut menjemput nyawa mereka. Mereka benar-benar terjebak dalam cinta.

 *****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com