Selasa, 29 Maret 2016

[CERPEN] Merindukanmu

MERINDUKANMU

Oleh :

DANKIN

       Pagi yang indah ini, kutelusuri setiap jalanan kota untuk menuju ke sekolah. Namaku Daniel. Aku adalah lelaki yang tak suka dengan keramaian dan cenderung tertutup pada orang lain. Tak memakan waktu lama, sampailah aku tepat di depan gerbang sekolahku. Hari ini adalah awal masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas. Dan sekarang, aku sudah menginjak kelas 9. Sungguh tak terasa, begitu cepat rasanya berada di sekolah ini meski sudah dua tahun belajar.

       Hari pertama sekolah tentu ada sebuah Masa Orientasi Sekolah bagi siswa baru. Berhubung aku adalah anggota OSIS, aku bisa terlibat langsung dengan siswa baru yang akan menjadi adik kelasku. Aku bertugas di salah satu kelas 7. Diawal pertemuan, aku senang karena para siswa tidak terlalu berisik, berbeda dengan kelas 7 yang lain.

       Selama tiga hari, aku dan teman-teman anggota OSIS mengajar di kelas 7. Selesai sudah tugas kami meski terasa sebentar. Mungkin karena nyaman bersosialisasi dengan adik kelas atau karena tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar. Setiap anggota pasti punya alasan yang berbeda-beda.

       Seiring berjalannya waktu, aku merasa ada yang aneh dengan siswa kelas 7. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadapku. Apa ada yang salah atau bagaimana, aku merasa ada yang aneh. Pada suatu waktu, ada salah satu siswa dari kelas 7 yang menyapaku melalui sosial media. Siswa itu bernama Cessa.

"Test," mulanya.

"Ya, ada apa?" balasku.

"Tidak apa-apa, hanya ingin mengecek," katanya.

"Begitu," jawabku.

Hanya itu saja sebuah pesan singkat di sosial media yang ia lontarkan. Setelah itu, ia mulai mematikan akunnya, begitu pula diriku.

       Semakin hari, ia sering sekali mengirimku sebuah pesan di sosial media, dan tentu saja aku selalu membalas pesan orang lain meski aku tidak mengenal orangnya secara pribadi.

"Kak Daniel?" sapanya.

"Ya, ada apa?" balasku.

"Kak, coba bicara."

"Maksudnya bagaimana?"

"Bicara apa saja terserah kakak, hehehe..."

"Memangnya kenapa?" tanyaku.

"Tidak apa-apa, hanya ingin mendengar kakak bicara padaku."

Entah sampai berapa lama kami saling mengirimkan pesan yang mungkin orang lain berpikir bahwa itu tidak penting. Memang kelihatannya tidak penting, namun ada sebuah makna dibalik pesan-pesan yang ia kirim. Aku melihat ada sebuah perasaan darinya terhadapku.

       Lambat laun, dia sangat akrab denganku meski hanya saling mengobrol di sosial media. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, mengapa tidak berbicara langsung saja. Entah ada perasaan malu atau mungkin karena aku termasuk orang yang pendiam dan tertutup. Secara pribadi, aku ingin berbicara langsung, tetapi yang selalu memulai pembicaraan di sosial media adalah dia. Jadi, aku hanya sekadar membalas pesannya tanpa ada alasan yang lain. Setiap waktu, bahkan hampir setiap hari, dia selalu mengajakku untuk saling mengirim pesan. Terlihat jelas bahwa dia tertarik padaku. Berhubung aku juga memiliki analisis yang cukup baik dalam menilai seseorang.

"Kak, sedang apa?" tanyanya.

"Sedang duduk santai," jawabku.

"Begitu."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa, hanya bertanya."

Percakapan terus berlanjut cukup lama seakan tak terasa bahwa waktu terus berjalan dengan sendirinya.

      Ketika akhir semester pertama selesai, para anggota OSIS masih memiliki serangkaian kegiatan sekaligus melatih para anggota OSIS baru dari kelas 7 dalam kepemimpinan dan salah satu anggota barunya adalah Cessa. Saat itu libur semester tiba, aku tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut karena harus berkunjung ke rumah saudara di luar kota.

"Kak, kenapa kemarin tidak hadir?" tanyanya melalui pesan.

"Liburan di luar kota. Jadi, tidak bisa ikut kegiatannya," jelasku.

"Kukira terjadi apa-apa," katanya.

"Hmmm..."

"Kak, aku boleh bicara sesuatu?"

"Tentu saja boleh, silakan," jawabku.

"Kak, sebenarnya aku ******** kakak."

"Apa maksudmu. Hmmm, aku tahu artinya. Tetapi kubiarkan saja kau yang menyelesaikan kode itu."

"Kakak tahu?" tanyanya penasaran.

"Ya. Apa harus kujawav?" jawabku.

"Terserah kakak."

"Bagaimana aku menjawab kalau kau belum menyelesaikan kata-katanya."

"Kakak bilang sudah tahu maknanya."

Begitu panjang percakapan kami hingga beberapa jam lamanya. Dia sudah mulai mengatakan apa yang dirasakannya, tetapi tidak akan menjawab. Dalam hatiku hanya menganggap dia seperti adik kandung. Dia cantik, mungil, menggemaskan tetapi bukan berarti aku menyukainya.

       Hari demi hari berjalan dengan sendirinya, dia selalu berusaha mengungkapkan perasaannya padaku namun aku tidak pernah menanggapinya dengan jelas. Bagaimana tidak, dia sendiri tidak berani mengungkapkannya secara langsung, jadi aku bisa menjelaskan padanya kalau aku hanya menganggapnya sebagai adik. Suatu ketika, dia memposting sebuah ungkapan yang mengatakan kalau dia sudah tidak memiliki perasaan lagi pada seseorang, dan aku tahu siapa yang ia maksud. Saat itu pula aku membuat sebuah postingan yang bermaksud mengucapkan padanya namun secara tersirat seperti sebuah sindirian. Dari situ terjadi pertikaian antara kami berdua. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia begitu marah padaku. Padahal yang memulai semuanya adalah dia. Aku sendiri hanya diam tak peduli apa yang ia ucapkan dalam postingannya yang mulai sedikit kasar padaku.

       Hingga waktu berjalan cukup lama, aku merasa ada yang hilang dalam hari-hariku. Tidak biasanya aku seperti ini. Aku mulai sadar, ternyata yang hilang selama ini adalah obrolanku dengan Cessa. Padahal dia bukanlah orang istimewa. Namun, hati berkata lain dari apa yang kupikirkan. Hidupku terasa dipenuhi pikiran yang begitu kosong seperti cangkang telur yang terbuang. Aku mulai merasa sangat merindukannya.

"Apa yang harus aku lakukan? Mengapa perasaan ini begitu resah. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Daniel?" gumamku.

       Esoknya, kuberanikan diri untuk menemuinya saat pulang sekolah. Aku langsung menarik tangannya dan mengajaknya ke tempat yang tidak banyak orang.

"Kenapa, kak?" ucapnya.

"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya. Kenapa kau sepertinya membenciku. Apa salahku?" kataku.

"Tidak perlu dipikirkan, kak. Aku sudah melupakan semuanya," sahutnya.

"Kau bilang sudah melupakanku. Aku sendiri yang sejak awal tidak pernah memikirkanmu kini mulai memikirkanmu. Yang jelas aku sangat merindukanmu," jelasku.

"Maksud kakak apa?" tanyanya.

"Aku sangat merindukanmu. Ini bukanlah perasaan cinta, tetapi seperti kerinduan seorang kakak terhadap adiknya yang sudah lama tidak bertemu," jelasku lagi.

"Begitukah?"

"Maaf, aku hanya menganggapmu sebagai adik. Itu lebih baik. Kita tidak perlu lagi saling membenci," terangku.

"Betul juga, kak. Maafkan aku jika selama ini aku salah. Walaupun aku hanya dianggap sebagai adik, setidaknya kita tidak saling bermusuhan," katanya.

Setelah kejadian itu, hubunganku dengan Cessa sangat dekat walaupun hanya sebatas hubungan antara kakak dengan adik yang sangat dekat.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com

Minggu, 27 Maret 2016

[CERPEN] Cincin Kenangan

CINCIN KENANGAN

Oleh :

DANKIN

       Bunga-bunga indah dan beberapa tumbuhan yang segar serta pemandangan kupu-kupu yang cantik menghiasi taman tersebut. Seorang wanita terlihat duduk di kursi taman itu seperti sedang menunggu seseorang. Benar saja, tak lama muncul seorang pria yang menghampiri dan duduk di sebelahnya.

"Ada perlu apa kau mengajakku kemari?" tanya Dean ketika baru sampai.

"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Tetapi sebelumnya aku minta maaf," jawab Yona.

"Kenapa harus minta maaf, memangnya kau bersalah padaku?".

"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku menderita kanker otak dan umurku tidak panjang," ucap Yona.

"Kau serius?" tanya Dean heran.

"Aku serius. Aku juga tidak ingin menyakiti perasaan Rivai, oleh karena itu aku tidak akan menceritakan ini padanya. Aku juga ingin mengakhiri hubunganku dengannya. Kau bisa bantu aku?" jelas Yona.

"Kau akan mengakhiri hubungan dengan Rivai? Yang benar saja. Kau jangan berpikir bodoh," ketus Dean.

"Dean, kau sahabatku. Aku mohon, bantu aku mengakhiri hubungan ini dan jangan katakan tentang penyakitku pada Rivai dan yang lainnya," pinta Yona.

"Kau sahabatku, tapi Rivai juga sahabatku sejak kecil," ucap Dean kemudian menghela napas.

"Baiklah, aku akan membantumu. Besok, kita bertemu dengan Rivai di tempat biasa untuk menyelesaikan hubungan kalian," lanjut Dean.

"Baik. Terima kasih, Dean," jawab Yona.

      Esok harinya, Yona dan Dean sudah menunggu di pinggir pantai untuk menunggu Rivai. Pantai tersebut memang sudah menjadi tempat favorit persahabatan mereka. Sekitar sepuluh menit, Rivai pun tiba.

"Hai, kalian sudah lama menunggu?" tanya Rivai dari belakang.

"Tidak juga," jawab Dean singkat.

"Ada perlu apa kau mengundangku dengan Yona kesini. Sepertinya serius sekali, sampai-sampai Anton dan Riza tidak diajak," tanya Rivai lagi.

"Ada yang ingin Yona katakan padamu. Kemarin, dia menemuiku untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu," jawab Dean.

"Begitukah, Yona?" tanya Rivai pada Yona.

"Ya. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Rivai," jawab Yona.

"Mengapa harus ada Dean?"

"Aku sempat berpikir, kalau masalah ini tidak bisa kuselesaikan sendiri denganmu. Jadi, aku meminta Dean untuk menjadi penengah masalah ini," jelas Yona.

"Masalah? Apa hubungan kita sedang bermasalah? Kurasa baik-baik saja," balas Rivai.

"Memang hubungan kita baik-baik saja, tetapi aku minta maaf kalau hubungan kita sebaiknya berakhir sampai disini," terang Yona.

"Apa yang kau katakan? Hubungan kita berakhir. Apa semua ini ada hubungannya dengan Dean. Kalian berdua menghianatiku!" ketus Rivai.

"Tidak, Rivai. Dean tidak ada hubungannya dengan masalah ini," sahut Yona.

"Sudahlah jangan mengelak. Aku tahu..."

"Cukup, Rivai. Kau salah paham. Aku dan Yona tidak ada hubungan apa-apa. Percayalah, kita sudah bersahabat sejak kecil," potong Dean.

"Diam kau. Aku tidak percaya lagi pada kalian," ketus Rivai kemudian pergi meninggalkan Yona dan Dean.

Yona mendadak menangis tersendu. Ia merasa bersalah dengan keputusannya tadi. Lalu memeluk Dean dengan erat.

"Sudahlah, Yona. Kau jangan menangis. Ini semua salah paham. Kita bisa menyelesaikannya baik-baik. Lebih baik aku mengantarmu pulang," ucap Dean kemudian mengantar Yona pulang.

       Pagi ini tak seperti biasanya, Rivai terlihat murung di kamar. Ia masih mengingat peristiwa kemarin. Ia merasa sudah dikhianati oleh dua orang sekaligus, kekasih dan sahabatnya sendiri. Rivai memegang ponselnya dan mulai menelepon seseorang.

"Ada apa kau meneleponku?" tanya Anton.

"Anton, sore ini temui aku di rumah. Kita akan bersenang-senang di pantai seperti biasa. Jangan lupa ajak Riza," jawab Rivai.

"Baik, aku akan ke sana dengan Riza," ucap Anton menyetujui.

       Sore harinya, Anton dan Riza sudah sampai di rumah Rivai yang sudah menunggu.

"Ayo, naik ke mobilku," perintah Rivai.

"Ya," jawab Anton dan Riza serentak.

Mobil melaju meninggalkan rumah Rivai untuk menuju pantai. Bagian atap mobil Rivai sengaja terbuka agar bisa merasakan angin sejuk sore hari. Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di pantai. Mereka duduk di pinggir pantai sambil membawa beberapa camilan sebagai pelengkap.

"Tidak biasanya kita hanya bertiga seperti ini. Kemana Dean dan Yona?" ucap Riza.

"Tidak usah kau pikirkan. Kita nikmati saja sore ini bertiga saja," jawab Rivai seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

"Apa kau ada masalah dengan mereka?" tanya Riza.

"Kau bermasalah dengan kekasihmu, Yona, atau dengan sahabat kecilmu, Dean?" lanjut Anton.

"Lupakan saja, aku hanya ingin bersama kalian saat ini. Memangnya kenapa?" ucap Rivai.

"Ya, terserah kau saja," sahut Anton.

Mereka pun membicarakan hal lain, sekadar bercanda atau bercerita untuk menghibur bersama sampai kurang lebih dua jam lamanya.

"Sudah terlalu sore, ayokita pulang," ucap Rivai.

"Betul juga, kita pulang saja," sahut Riza.

Akhirnya mereka memutuskan pulang setelah menikmati sore hari bersama di pantai.

       Sesaat setelah mobil ketiganya berjalan, mereka berpapasan dengan mobil Dean yang sedang menyetir bersama Yona disampingnya. Mobil Rivai menghadang mobil Dean. Rivai langsung keluar untuk menemui Dean.

"Keluar kau, Dean!!!" teriak Rivai memaksa Dean keluar.

"Apa yang kalian berdua lakukan. Ternyata benar dugaanku kalau kalian memiliki hubungan istimewa dibelakangku!!!" amuk Rivai.

"Ini semua tidak seperti apa yang kau pikirkan, Rivai!" ketus Dean.

Adu mulut terjadi pada mereka hingga perkelahian pun tak bisa dihindari. Anton dan Riza keluar dari mobil untuk memisahkan perkelahian itu.

"Sudahlah, jangan berkelahi disini," ucap Anton.

"Kalau kalian ada masalah, bisa diselesaikan secara baik-baik. Perkelahian bukan solusi yang benar. Kalian ini seperti binatang saja," lanjut Riza.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Yona.

"Kau tidak usah berpura-pura mempedulikanku. Pikirkan saja Dean!" ketus Rivai.

"Apanya yang pura-pura, aku sungguh khawatir dengan kalian berdua," teriak Yona.

"Sudah-sudah, jangan bertengkar!" sahut Dean.

"Rivai, lebih baik kita pulang saja. Masalah ini bisa kita selesaikan lain waktu," ucap Anton.

"Baiklah, ayo kita pergi!" perintah Rivai.

"Dean, Yona, kami pulang dulu. Lebih baik kita selesaikan masalah ini disaat yang tepat saja. Sampai jumpa," kata Riza.

Rivai, Anton dan Riza pergi meninggalkan Dean dan Yona di tempat.

"Kau tidak apa-apa, Dean?" ucap Yona mengkhawatirkan Dean.

"Tidak. Aku tidak apa-apa, tenang saja," jawab Dean.

"Ini semua salahku, kau jadi seperti ini," ucap Yona merasa bersalah.

"Bukan salahmu, Yona. Aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa olehnya. Karena sebenarnya aku menyukaimu lebih dari sahabat," jelas Dean.

"Apa kau bilang?" tanya Yona bingung.

"Ah...tidak. Kau tidak perlu memikirkan tadi. Ayo kita pulang saja," jawab Dean gugup kemudian masuk ke dalam mobil.

Tiba-tiba Yona terjatuh pingsan. Dean yang baru saja duduk, langsung keluar untuk mengangkat tubuh Yona. Ia sangat khawatir dengan kondisi Yona. Ia tahu kalau penyakit Yona kambuh. Akhirnya, ia membawa Yona ke rumah sakit.

       Tubuh Yona terbaring di tempat tidur rumah sakit. Yona mulai terbangun setelah dua hari tak sadarkan diri.

"Aku...ada...dimana?" ucap Yona terbata-bata.

"Tenang saja. Sekarang kau ada di rumah sakit. Sudah dua hari kau tidak sadar, akhirnya kau siuman," kata Dean disampingnya.

"Kalian juga disini," ucap Yona. 

"Tentu saja, Dean yang memberitahu kami dan sudah menjelaskan semuanya," jawab Anton.

"Kau tidak perlu cemas. Kami masih setia menjagamu disini," lanjut Riza.

"Dimana Rivai?" tanya Yona.

"Kalau masalah itu... Dia masih sulit untuk ditemui. Sulit sekali untuk menjelaskannya," jawab Dean.

"Kami juga sudah berusaha berbicara, tapi dia selalu memotong ucapan kami," sahut Riza.

"Mungkin ini sudah menjadi takdirku," ucap Yona.

"Dokter bilang, kau harus dioperasi besok. Aku dan lainnya sepakat dengan operasi itu. Orangtuamu juga setuju. Kau harus menjalaninya, Yona," kata Dean.

"Kalau itu lebih baik, aku setuju," jawab Yona setuju.

"Sekarang kau istirahat saja," perintah Dean.

       Hari yang ditunggu-tunggu tiba, hari dimana Yona akan menjalani operasi pengangkatan kanker otaknya. Tetapi, Yona ingin ada Rivai disampingnya. Anton yang sangat dekat dengan Rivai mencoba menghubunginya.

"Mau apa kau meneleponku?" teriak Rivai dari balik telepon.

"Rivai, aku mohon kau ke rumah sakit. Yona menginginkanmu ada disampingnya sebelum menjalani operasi," ucap Anton dengan cepat.

"Operasi? Apa maksudmu?" tanya Rivai bingung.

"Ceritanya sangat panjang, yang jelas dia sangat membutuhkanmu. Sekarang juga kau kemari!" perintah Anton kemudian menutup telepon sebelum Rivai menjawab.

Tiba-tiba, dokter menyarankan untuk segera dioperasi sekarang juga. Namun, Yona masih berusaha menolak.

"Yona, dengarkan aku. Lebih baik kau jalani dulu operasinya. Rivai akan segera kemari. Percayalah," ucap Dean menghibur.

"Tapi..."

"Percayalah padaku," potong Dean.

"Baiklah, tapi sebelumnya aku menitipkan ini," ucap Yona sambil memberikan sebuah cincin.

"Cicin?"

"Jika saja nyawaku tidak terselamatkan, tolong berikan cincin yang penuh kenangan ini pada Rivai. Katakan padanya, kalau aku sangat mencintainya. Bahkan sampai diujung nyawaku sekarang, aku akan tetap mencintainya," jelas Yona.

Akhirnya, Yona mau untuk segera menjalani operasi. Dean, Anton dan Riza hanya bisa berdoa yang terbaik agar Yona bisa sembuh dan selamat.

       Sudah dua jam operasi berlangsung, tetapi masih belum selesai. Rivai juga masih belum terlihat di rumah sakit.

"Apa Rivai akan datang?" tanya Dean.

"Aku yakin dia akan datang," jawab Anton.

"Mungkin saja dia sedang macet di jalan," lanjut Riza.

       Di jalan raya, mobil yang dikendarai Rivai terjebak macet. Padahal, ia sangat ingin untuk menemui Yona. Tapi kemacetan jalan raya sulit dihindari. Ia pun memutuskan untuk berlari dan meninggalkan mobilnya di pinggir jalan. Dari raut wajahnya, terlihat sekali kalau Rivai ingin menemui Yona untuk meminta maaf atas kesalahpahaman mereka.

"Aku akan segera menemuimu, Yona," ucap Rivai dalam hati sembari sedang berlari kencang.

       Setelah tiga puluh menit berlari, Rivai pun sampai di rumah sakit dan menuju tempat Yona dioperasi. Akhirnya, ia bertemu Dean, Anton dan Riza. Wajah mereka terlihat sedih.

"Bagaimana dengan keadaan Yona. Apa dia sudah selesai dioperasi?" tanya Rivai dengan napas yang sesak.

"Yona... sudah... meninggal," jawab Riza sedih.

"Apa kau bilang? Yona meninggal?" sahut Rivai.

Ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi sangat sedih, air mata mulai mengguyur wajahnya.

"Seandainya aku mendengarkan penjelasan kalian sejak dulu. Mungkin aku bisa melihat senyum Yona yang terakhir kalinya," ucap Rivai merasa menyesal.

"Sudahlah, Rivai. Mungkin ini sudah menjadi takdir yang harus kau hadapi," sahut Dean.

"Maafkan aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak."

"Lupakan saja masalah itu. Sebelum Yona dioperasi dan akhirnya meninggal, ia sempat menitipkan cincin padaku. Dia menyuruhku memberikannya padamu. Dia bilang, kalau dia sangat mencintaimu sampai akhir hayatnya. Baginya, cincin ini penuh dengan kenangan bersamamu yang sangat indah," jelas Dean sambil memberikan cincin tersebut.

"Cincin? Cincin ini, cincin yang kuberikan dua tahun yang lalu. Ternyata dia masih menyimpannya. Aku sempat berpikir kalau dia sudah melupakan cincin pemberianku. Aku sangat menyesal atas perbuatanku," ucap Rivai merasa menyesal.

Rivai pun duduk terdiam meratapi kesedihannya. Perasaannya begitu hancur. Ia sangat menyesal. Merasa bersalah. Air mata yang mengguyur wajahnya terus mengalir.

"Maafkan aku...,Yona."

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com