SONG FOR YOU
Oleh :
DANKIN
Aku melangkah menapaki sepanjang jalan. Banyak kendaraan berlalu-lalang yang kulihat. Terik matahari seolah menghalangi pandanganku yang menjadi silau. Aku jadi kembali teringat masa-masa pertemananku dengan Joana dan Vito.
Dua minggu yang lalu,
Pemandangan kota sangat indah ketika dilihat dari atas bukit ini. Inilah kegiatan rutin kami apabila sedang libur masa kerja. Kali ini, kami ke atas bukit untuk menikmati pemandangan sambil membuat pesta kecil.
"Kalian tidak mau makan dulu?" teriak Joana yang sudah mempersiapkan makanan.
"Kami segera datang," teriakku.
"Barbeque-nya terlihat lezat," ucap Vito.
"Pasti lezat. Aku yang membuatnya," sahut Joana dengan percaya diri.
"Sudah-sudah, ayo kita makan," kataku.
Kami bertiga makan dengan lahapnya. Momen seperti ini benar-benar sangat istimewa, mengingat kami bertiga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kulihat ada noda makanan di bibir Joana. Tiba-tiba, Vito mengusap noda itu dengan tisu.
"Kau sangat belepotan," ucapnya.
Entah mengapa aku tidak suka melihat pemandangan itu. Aku yang sejak dulu menyukai Joana, tidak pernah berani mengungkapkannya.
Sampailah diriku di sebuah gedung acara pernikahan. Aku tidak tahu kenapa sepanjang perjalanan tadi terus memikirkan momen tersebut. Padahal, itu sudah berlalu dan mungkin aka sangat sulit terulang. Acara pernikahan itu terlihat sangat meriah. Kulihat sekeliling mencari untuk keberadaan Joana. Kurasa ia sedang mempersiapkan diri untuk acara pernikahannya. Sambil menunggu acara dimulai, aku berdiri memandangi taman dari balik jendela. Memikirkan banyak kejadian yang tak terlupakan.
Sepuluh hari yang lalu,
Joana sedang asyik membaca buku di sofa. Aku yang duduk di sebelahnya, terus memandangi wajah cantiknya. Sepertinya dia sangat serius membaca buku itu. Kucoba untuk lebih dekat.
"Kau terlihat sangat serius. Apa ceritanya menarik?" ucapku.
"Kalau kau membacanya, pasti tsulit untuk berhenti juga," balasnya.
"Aku tidak terlalu suka membaca buku seperti itu," sahutku.
Joana terus melanjutkan cerita yang ia baca itu. Tiba-tiba, Vito datang dari belakang sambil menutupi kedua mata Joana. Lalu ia duduk di tengah-tengah seolah memotong jarak dekat kami.
"Dasar kau ini," kata Joana pada Vito.
"Kau ini tidak terlihat bosan membaca buku itu. Sudah seperti orang asing saja," balas Vito.
"Mark, kenapa kau tidak memasak saja sekarang?" tanya Vito padaku.
"Sebentar lagi aku memasak. Kalian mau makan apa?" ucapku.
"Aku bingung," jawab Joana.
"Sesuka kau saja. Kau kan sangat ahli memasak," kata Vito.
"Baiklah," balasku.
Aku pergi ke dapur mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak. Akhir pekan ini, kami berkumpul di rumahku untuk sekadar bersantai. Semua bahan sudah siap. Waktunya untuk memasak makanan spesial.
Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku saat sedang menatap taman dari jendela. Aku langsung menoleh.
"Kau rupanya," kataku pada orang itu yang ternyata Vito.
"Bagaimana, apa kau siap untuk menyanyikan lagu di acara penikahan kami?" tanyanya.
"Tenang saja. Aku ini sangat berbakat. Kau pasti tidak kecewa dengan suaraku yang merdu ini," balasku dengan sedikit menyombongkan diri.
"Semoga berhasil. Aku akan mempersiapkan diri dulu. Sampai nanti," katanya lalu meninggalkanku.
"Kau juga. Semoga acaramu lancar sampai selesai," ucapku sedikit berteriak.
Sekarang waktunya mempersiapkan piano yang akan kumainkan nanti ketika bernyanyi. Sesekali aku membantu merapikan perlengkapan acara ini agar terlihat lebih indah. Selesai itu, aku menuju ke tempat Joana yang sudah selesai dirias.
"Kau terlihat cantik," kataku dari depan pintu ruangan.
"Mark, kapan kau datang?" tanyanya.
"Belum lama. Bagaimana denganmu, apa ada kendala untuk acara nanti?"
"Semuanya berjalan dengan baik. Aku sudah tidak sabar menantikan acara nanti," ucapnya bahagia.
"Sampai nanti. Aku akan bersiap untuk persembahan nanti," kataku kemudian keluar dari ruangan itu.
Meski dia bahagia, bukan berarti aku bahagia. Justru aku akan merasa sedih melihat orang yang paling kucintai, menikah dengan orang lain yang juga merupakan sahabatku, Vito. Seandainya saja aku lebih dahulu mengungkapkan perasaan ini padanya, mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi. Teringat kembali kejadian yang menyakitkan itu.
Satu minggu yang lalu,
Aku berjalan memasuki klub malam untuk mencari Joana. Tak lama, aku melihat ia sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Kudatangi dia, lalu kutarik tangannya perlahan ke ruang belakang.
"Apa ada sesuatu?" ucapnya kebingungan.
"Tunggu sebentar," jawabku.
Aku masih berusaha mencari sesuatu dari pakaianku. Ternyata ada di saku celana. Kucoba untuk merogohnya, tetapi sedikit sulit karena ukurannya yang sesuai badan. Datangnya Vito dengan tiba-tiba di hadapan kami.
"Kau ada disini rupanya," kata Vito pada Joana.
"Kebetulan sekali ada kau Mark. Kurasa kau akan menjadi saksinya," lanjutnya.
Ucapannya membuatku terdiam sesaat. Aku tidak tahu apa maksud ucapannya tadi. Vito meraih tangan kanan Joana lalu memasukan sebuah cincin di jari manisnya. Pemandangan itu membuatku kaget.
"Sudah lama kita menjadi sahabat. Sudah lama pula aku memendam rasa cinta ini padamu. Sekarang, baru bisa kuungkapkan perasaan ini padamu. Aku benar-benar sangat mencintaimu dengan tulus. Maukah kau menikah denganku?" ungkap Vito.
"Apa kau serius?" tanya Joana malu-malu.
"Tentu saja aku serius," balas Vito.
Joana mengangguk, lalu mereka berpelukan tepat dihadapanku. Perasaan apa ini, rasanya sungguh menyakitkan. Meski harus memperlihatkan wajah bahagia karena mereka akan menikah, hatiku tetap terasa sakit. Aku gagal mengungkapkannya. Vito sudah lebih dulu mengungkapkan perasaannya. Aku baru mengetahui kalau ia juga menyukai Joana.
Acara pernikahan segera dimulai. Aku mengusap air mata ini yang sedari tadi mengalir saat mengingat kejadian waktu itu. Kurogoh saku celana. Cincin ini masih berada ditanganku. Cincin yang seharusnya kuberikan pada Joana saat itu. Akhirnya, kujatuhkan cincin ini ke lantai dan membiarkannya.
"Mungkin dia memang bukan jodohku. Semoga ini memang rencana terbaik dari Tuhan," ucapku dalam hati.
Akhirnya, acara benar-benar dimulai. Resepsi pernikahan Joana dan Vito berjalan lancar. Keduanya terlihat sangat serasi. Para tamu undangan memberikan tepuk tangan meriah dan memberi ucapan selamat. Sekarang waktunya aku memberikan persembahan untuk menyanyikan sebuah lagu. Aku telah duduk di hadapan piano dan mulai memainkannya sambil bernyanyi.
"Baby jebal geuui soneul japjima
Cuz you should be my lady
Oraen sigan gidaryeo on nal dorabwajwo
Noraega ullimyeon ije neoneun
Geuwa pyeongsaengeul hamkkehajyo
Oneuri oji ankireul
Geureoke na maeil bam gidohaenneunde
Nega ibeun wedding dress
Nega ibeun wedding dress
Nega ibeun wedding dress"
(Baby, tolong jangan genggam tangannya
Karena kau seharusnya menjadi gadisku
Tolong lihat aku, aku sudah menunggu selama waktu ini
Sekali musiknya berhenti, kau akan bersamanya selamanya
Aku berdoa dan berdoa hari ini tidak akan pernah datang
Gaun pengantin yang hanya kamu pakai sekali
Gaun pengantin yang hanya kamu pakai sekali
Gaun pengantin yang hanya kamu pakai sekali)
Begitulah sekiranya lirik lagu yang kunyanyikan. Lagu milik Taeyang berjudul Wedding Dress. Aku sengaja menyanyikan lagu ini karena mewakili perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan sekarang.
Usai acara, aku yang sudah mengucapkan selamat kepada mereka, langsung memutuskan untuk pulang cepat. Sungguh bertambah menyakitkan setelah acara pernikahan mereka selesai. Tetapi, aku akan berusaha melupakan perasaan ini pada Joana dan berharap, semoga pernikahannya bisa bahagia selamanya.
*****TAMAT*****
Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com