Selasa, 14 November 2017

[CERPEN] Hujan Deras

HUJAN DERAS

Oleh :

DANKIN

       Sore ini, hujannya sungguh deras. Suara air hujan yang terjatuh, membuat hati ini menjadi lebih tenang. Kupandangi hujan dari balik kaca jendela, terlihat sosok wanita dibawah pohon sedang berteduh. Cepat-cepat aku mengambil payung untuk menyusulnya.

"Kau sedang apa disini? Cepat ikut aku!" kataku sambil memberinya payung.

Wanita itu mengangguk dan menuruti kata-kataku. Di dalam rumahku, kupersilakan dia duduk di kursi sambil meminum air hangat.

"Minumlah dulu, akan kusiapkan air hangat untuk kau mandi," ucapku dengan senyuman.

"Ya," jawabnya singkat.

Aku pun mempersiapkan air hangat untuknya mandi.

"Sebaiknya kau mandi dulu. Tubuhmu terlihat kedinginan," kataku.

"Ya...terima...kasih," ia menjawab dengan terbata-bata.

Dia pun langsung menuju kamar mandi yang sudah kupersiapkan air hangat untuknya.

     Saat sedang duduk sambil menyeruput kopi, kulihat wanita itu telah selesai mandi dan berjalan dihadapanku. Aku seakan terhipnotis kala memandangi wajahnya yang cantik.

"Apa yang terjadi padaku?" tanyaku dalam hati.

Dia menengok ke arahku hingga membuatku kaget.

"Ada yang salah padaku?" tanyanya.

"Ah, tidak tidak," jawabku gugup.

"Siapa namamu?" tanyaku memulai pembicaraan.

"Namaku Viola. Lalu kau?"

"Panggil saja Lee. Akan kuantar kau pulang setelah hujan reda," kataku padanya yang dibalas anggukkan dan senyuman manis.

       Malam hari tiba, kulihat hujan di luar sudah reda. Aku sudah berjanji pada Viola untuk mengantarnya pulang, tetapi aku mengajaknya makan malam terlebih dahulu. Aku yang sedari kecil pandai memasak, untuk pertamakalinya memasak hidangan untuk seorang wanita. Perasaanku sangat gugup.

"Ayo kita makan malam dulu," ajakku.

"Kau yang memasak semua ini?" tanyanya dengan wajah yang terus memandangi hidangan di meja makan.

"Menurutmu?" balasku dengan senyum.

Kami pun makan malam berdua. Sejujurnya ini pertamakali aku makan hanya berdua dengan wanita. Hal yang mungkin langka dalam hidupku.

"Ini enak sekali. Aku tak menyangka ada pria yang pandai masak sepertimu," ucapnya kagum padaku.

"Sedari kecil memang inilah bakat yang aku miliki dan sudah menjadi hobi."

Selesai makan malam, aku pun bersiap untuk mengantarnya pulang dan tentunya dia sudah siap. Akhirnya, kuantarkan dia pulang dengan mengendarai mobilku.

       Sampailah kami di rumahnya. Sebelum aku meninggalkannya, kami saling bertukar kontak agar hubungan pertemanan kami tidak sampai disini saja.

"Terima kasih sudah mengantarkanku, apa kau mau mampir sebentar?"

"Ah, tidak usah. Ini sudah malam dan aku harus beristirahat," balasku.

"Kalau begitu hati-hati di jalan."

"Aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucapku sebelum akhirnya meninggalkan dia pergi.

      Tepat pukul sepuluh malam, aku baru sampai rumah. Kuakhiri hari ini dengan istirahat karena tubuh ini terasa sangat lelah. Kubaringkan tubuhku di kasur  dan berharap mendapat mimpi indah yang menghiasi tidurku. Perlahan, mataku mulai terlelap dan pada akhirnya tertidur.

       Pagi hari tiba, cahaya matahari begitu menyilaukan hingga menembus jendela rumah yang membuatku terbangun. Kulihat ponselku, ada sebuah pesan dan kubuka dan ternyata dari Viola.

"Pagi! Semoga harimu menyenangkan, semangat!!!" begitulah isi pesan tersebut.

Aku hanya bisa tersenyum membacanya. Kubalas pesan tersebut dengan kalimat yang sama. Tak lama dia membalas.

"Besok lusa, apakah kau ada waktu untuk menemaniku berlibur?" tanya Viola.

"Kebetulan sekali aku tidak ada kesibukan di hari itu. Tentu saja aku bisa menemanimu," balasku.

"Benarkah? Baguslah kalau begitu."

"Memangnya kenapa?" tanyaku bingung.

"Tidak apa-apa," dia membalas.

"Aneh sekali. Bodoh," balasku.

       Hari Minggu tiba, aku sudah siap untuk menemuinya. Sebelum itu aku menghubungi terlebih dahulu.

"Bagaimana? Apakah kau sudah siap?"

"Ya, tentu saja aku sudah siap, Lee," jawabnya sedikit bergurau.

"Aku akan menemuimu sekarang. Sampai jumpa."

Aku langsung mengendarai mobilku ke rumah Viola.

       Tepat lima belas menit perjalanan, mobilku telah sampai di depan rumahnya. Rupanya, Viola telah menungguku. Kubuka kaca mobil dan menyuruhnya segera naik. Viola yang mendengarku langsung masuk ke mobil, tepatnya duduk disampingku.

"Kau sudah lama menunggu?" tanyaku memulai.

"Hmmm...tidak juga," jawabnya.

Aku langsung menancapkan gas dan mobil pun melaju meninggalkan tempat tersebut. Hari ini kami sudah merencanakan untuk berlibur ke luar kota. Meskipun hubungan pertemanan kami baru berjalan kurang dari seminggu, tetapi kami sudah sangat dekat. Aku merasa nyaman jika dekat bersamanya.

       Cuaca hari ini begitu buruk, di tengah perjalanan, hujan yang deras mengguyur kota sehingga mengganggu perjalanan kami. Meski sebenarnya ini bukan hal buruk karena aku sangat menyukai hujan. Suara dan udara sejuknya itulah yang membuatku menyukainya. Kulihat ke arah Viola, terlihat dia memandangi jalanan yang terguyur hujan deras.

"Kenapa dengan hujannya?" tanyaku.

"Tidak apa-apa. Aku hanya menyukai saat-saat hujan seperti ini. Kesejukkannya mengingatkanku saat masih kecil," kata Viola.

"Saat masih kecil?" tanyaku lagi.

"Ya, saat aku kecil sangat suka bermain saat hujan turun. Sangat menyenangkan," jelasnya.

"Ternyata kau sama-sama menyukai hujan juga," kataku.

"Kau juga suka hujan?" tanyanya kaget.

"Ya, begitulah," jawabku singkat.

       Perjalanan sudah kami tempuh selama kurang lebih satu jam. Sepertinya, hujan deras ini akan menggagalkan rencana kami untuk berlibur. Kurasa liburan kali ini adalah menikmati pemandangan hujan deras bersama Viola. Aku tak memikirkan liburan kita ke luar kota, mungkin karena sebenarnya aku menyukai Viola. Hal itulah yang membuatku senang bisa terus berdua dengannya meski liburan kami terganggu.

"Apa kita harus pulang?" tawarku.

"Sepertinya liburan kita tidak berjalan dengan lancar," keluhnya.

"Kau tidak perlu sedih. Anggap saja liburan kita adalah melihat pemandangan hujan dari dalam mobil," kataku menghibur.

Viola hanya membalas dengan senyuman manis. Kurasa dia sudah tidak lagi kecewa dengan keadaan sekarang. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali pulang.

       Saat perjalanan pulang, hujan semakin deras dan mengganggu pemandangan dari kaca mobil. Tiba-tiba tanpa kusadari, mobil yang kukendarai menabrak sebuah pembatas jalan samping kiri hingga mobil kami terguling. Kecelakaan itu membuat kami harus dilarikan ke rumah sakit.

       Malam harinya aku terbangun dan melihat diriku sudah terbaring diatas tempat tidur pasien rumah sakit. Tepat di samping ada kedua orangtuaku yang datang menjenguk.

"Ayah, ibu, apa yang terjadi padaku?" aku bertanya dengan ketakutan.

"Tadi sore kau mengalami kecelakaan. Tapi beruntung, kau hanya mengalami luka ringan," jawab ibuku.

Aku pun teringat kalau saat itu sedang mengendarai mobil bersama Viola. Perasaanku sangat cemas kala mengingat Viola.

"Lalu bagaimana dengan keadaan Viola?"

"Teman wanitamu itu baru saja meninggal dunia. Orangtuanya sangat terkejut saat melihat keadaannya. Rencananya, Viola akan dimakamkan besok siang," jelas ibuku.

Aku langsung terkejut dan merasa bersalah. Seandainya tidak ada hujan deras saat itu, mungkin kami masih bisa bersama dan aku bisa secepatnya menyatakan perasaanku padanya. Tapi Tuhan berkata lain, mungkin ini takdirku yang harus ditinggal orang yang paling kucintai. Aku menangis meneteskan banyak air mata. Sangat terpukul hati ini mendengat penjelasan ibuku. Aku sangat menyesal. Akulah penyebab kematian Viola. Sku membenci diriku sendiri. Aku membenci hujan. Kini, aku tidak lagi menyukai hujan. Saat hujan turun, aku seolah menjadi orang yang sangat membenci dunia ini. Setiap hujan turun, aku tidak berani melihat bahkan mendengar suara rintiknya. Aku menjadi orang yang sangat depresi ketika hujan turun.

       Aku seperti mendengar orang yang memanggil namaku. Suara lirih itu seperti kukenal.

"Lee, ayo bangun. Hujannya sudah reda."

Tiba-tiba, aku terbangun dan terkejut melihat Viola dihadapanku. Posisi kami masih berada di dalam mobil.

"Apa yang terjadi padaku?" tanyaku bingung.

"Sedari tadi kau tertidur. Sekarang hujannya sudah reda. Ayo kita lanjutkan perjalanan," jelas Viola.

Akhirnya aku teringat, ternyata kecelakaan itu hanyalah mimpi buruk. Senyumku terus terlihat setelah tahu kalau ternyata aku masih bisa bersama Viola lagi. Mimpi buruk itu membuatku menjadi berhati-hati dalam bertindak sesuatu. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk menikmati perjalanan berdua. Dan pada akhirnya, aku masih menyukai hujan.

       Setelah lama kami lelah dalam perjalanan, kami pun sampai di tempat yang dituju. Kami masih harus naik kapal kecil untuk menuju salah satu pulau kecil yang sangat indah. Akhirnya kami menginjakkan kaki ke pulau tersebut. Pemandangan laut yang terlihat dari pulau tersebut sangat indah. Air laut begitu biru cerah dengan pemandangan ikan-ikan kecil dan ubur-ubur. Kami berdua sangat menikmati liburan ini.

       Malam hari tiba, makan malam telah disediakan oleh pihak pemilik tempat wisata tersebut. Obor api yang menyala sepanjang pantai begitu terang ditambah lagi lampu-lampu yang cantik semakin menambah kesan romantis di malam hari. Kami berdua makan bersama di satu meja makan. Alunan musik yang merdu sangat menghibur makan malam ini.

"Ada yang ingin aku katakan," kataku.

"Kau ingin berkata apa?" tanyanya.

"Sejauh pertemanan kita saat ini, aku merasa kita bisa menjadi lebih dari ini. Sejak pertama bertemu, aku langsung terpana padamu, kau wanita pertama yang bisa membuat hatiku terbuka untuk mencintai seseorang. Maukah kau menjadi kekasihku?" ungkapku sambil menyodorkan kancing ketiga bajuku yang baru saja aku lepas.

"Kancing baju?" dia sedikit bingung.

"Bagiku kancing ketiga dari bajuku ini merupakan perwakilan dari perasaan hatiku padamu. Aku memberikan semua perasaan ini padamu, kuharap kau mau menerima dan menjaga perasaanku ini," lanjutku.

"Aku sangat kagum padamu. Yang kau lakukan ini sangat mengesankan. Tidak seperti pria pada umumnya, sangat berbeda. Aku juga menyukaimu, Lee," jelasnya sambil menerima kancing yang kuberikan.

Aku pun memeluk tubuhnya kencang. Malam hari ini begitu indah. Orang yang aku cintai kini sudah menjadi kekasihku.

"Jagalah perasaanku juga, Lee," kata Viola saat kupeluk.

Sisa malam hari ini, kami habiskan dengan menikmati fasilitas yang telah disediakan di pulau ini.

       Hari berlalu, kami bersiap untuk pulang. Tidak sia-sia kami menikmati liburan di pulau ini. Momen ini menjadi momen yang tak akan pernah aku lupakan. Kami pun berjanji untuk tetap saling mencintai sampai maut menjemput kami apapun yang terjadi. Kapal tersebut kembali mengantar pengunjung pulau. Kami melambaikan tangan kepada para pekerja yang telah profesional melayani liburan kami. Kunyalakan mobil dan segera bersiap untuk pulang.

       Belum lama kami dalam perjalanan, tiba-tiba hujan deras mengguyur jalanan kota. Kulihat jalanan sepi, kuinjakkan gas lebih laju agar cepat sampai. Entah karena lelah atau kurang fokus, ternyata apa yang kulihat tadi tidak seperti apa yang kupikirkan. Mobil yang kukendarai menabrak mobil lain yang berada di depan dengan kencang hingga terguling. Kecelakaan itu tentu saja tidak bisa kuhindari.

        Tiba-tiba, aku berada dibawah guyuran hujan dan memandangi mobil yang mengalami kecelakaan. Kudekati mobil itu dan kulihat ada diriku yang lain terluka parah bersama Viola. 

"Kecelakaan itu. Mimpi itu. Jadi mimpi yang lalu itu benar-benar terjadi sekarang. Jadi yang sekarang itu nyata?" tanyaku pada diri sendiri.

Air mata tergelinang dari mataku kala melihat kondisi Viola yang sangat mengenaskan tepat di samping tubuhku. Aku sangat menyesal dengan kejadian ini, seharusnya setelah mimpi buruk itu, aku tidak perlu melanjutkan perjalanan berlibur. Tunggu dulu, sepertinya aku melihat Viola yang lain menangis.

        Aku mendekatinya untuk memeluk tubuh Viola. Meski sedih melihat diri kami yang sesungguhnya mengenaskan. Tetapi, kami berdua akhirnya berjalan bersama menyusuri jalanan yang masih terguyur hujan deras dengan senyuman bahagia. Tangan kami saling menggenggam satu sama lain. Hujan deras ini menjadi bukti bahwa cinta kami abadi sampai maut menjemput kami.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com