Minggu, 17 Januari 2016

[CERPEN] Penyesalan

PENYESALAN

Oleh :

DANKIN

       Cahaya lampu yang berkelap-kelip serta irama musik yang begitu upbeat membuat semua orang disini mulai menari-nari. Beberapa diantara mereka dalam keadaan mabuk setelah menenggak beberapa gelas minuman beralkohol.

       Dari balik pintu masuk, muncullah seseorang bernama Riko bersama ketiga temannya yang akan bersenang-senang di tempat ini. Beberapa teman Riko langsung memesan bir sebagai pembuka acara mereka.

"Ayolah Riko, minum yang banyak," ucap salah satu teman Riko bernama Novan.

"Sejujurnya ini adalah pertama kalinya aku ke tempat seperti ini. Jadi, aku masih canggung melakukannya," jelas Riko.

"Itulah mengapa kita harus membuat acara pertamamu menjadi menyenangkan," ucap Alan.

"Minumlah yang banyak. Kami yakin kau akan merasa senang," lanjut Aji.

"Baiklah, mari kita bersulang!!!" sahut Riko setuju.

Keempatnya mulai menenggak beberapa gelas bir hingga pikiran mereka menjadi tak karuan seperti orang gila.

       Puas dengan minuman, keempatnya melanjutkan kesenangan mereka dengan menari-nari di tengah kerumunan orang yang juga sedang menari-nari tak jelas. Suara musik yang semakin kencang membuat semuanya semakin gila ditambah lagi muncul beberapa penari wanita sensual yang menarik perhatian para pria.

       Lama menari-nari tak jelas, Riko mulai mendapatkan kesadarannya lagi, tetapi ia terus menari-nari seakan waktu yang ia miliki begitu tak penting. Padahal, bagi beberapa orang di dunia ini, waktu sangatlah penting dan tak akan bisa diulang.

       Sesosok wanita tiba-tiba muncul dari balik pintu masuk dan terlihat sedang mencari seseorang. Ia tak menghiraukan orang-orang yang mulai menggoda untuk bersenang-senang. Tak lama, dia menarik tangan seorang pria yang ternyata adalah Riko.

"Kenapa kau ada di sini?" tanya Riko setelah melepaskan tangannya.

"Aku baru saja ke rumahmu, tetapi ibumu bilang kau pergi bersama teman-temanmu," balas wanita tersebut yang tak lain adalah kekasih Riko bernama Lisa.

"Bukan urusanmu!!!" ketus Riko.

"Tentu saja ini menjadi urusanku. Kau bilang malam ini tidak bisa menemaniku karena sedang sakit, itulah kenapa aku mengunjungimu. Ternyata kau pergi ke tempat ini hanya untuk bersenang-senang. Kenapa sekarang kau menjadi tak perhatian lagi padaku? Kenapa? Atau mungkin, karena teman-temanmu yang mempengaruhimu?" jelas Lisa yang hanya dihiraukan Riko.

"Kenapa diam saja!" bentak Lisa.

"Aku hanya ingin bersenang-senang bersama teman-temanku. Karena itulah aku beralasan sedang sakit," jawab Riko.

"Jadi benar, ternyata karena teman-temanmu, kau menjadi begini," ketus Lisa.

"Lebih baik kau pulang. Disini bukan tempat yang baik untukmu," ucap Riko seakan mengusir Lisa.

"Tanpa menunggu perintahmu, aku akan pergi sekarang juga," jawab Lisa dengan angkuh.

"Baguslah kalau begitu," sahut Riko senang.

Lisa pun meninggalkan Riko yang tak senang dengan kehadirannya. Riko pun kembali bersenang-senang dengan teman-temannya hingga larut malam.

       Riko sampai di rumah sekitar pukul 2 pagi. Untungnya, tidak terjadi apa-apa saat menyetir mobilnya dalam kondisi yang agak mabuk. Saat mencoba membuka pintu, ternyata pintu sudah terkunci. Tetapi Riko memiliki kunci cadangan sehingga bisa masuk meski harus mengendap-endap agar tidak ada orang rumah yang tahu. Tibalah Riko di kamarnya dan tanpa menunggu lama, dia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur hingga tertidur pulas.

       Pagi hari yang cerah tiba, Riko masih belum bangun dari tidurnya. Mungkin karena lelah atau semacamnya yang membuatnya masih tertidur. Tidak biasanya Riko seperti ini. Dia selalu bangun pagi dan berolahraga sebelum pergi ke kampus sekitar pukul 8 pagi. Beberapa saat kemudian, seorang wanita yang tak lain adalah ibunya mengetuk pintu kamar sambil memanggilnya.

"Riko. Apa kau masih tidur?" ucap ibu Riko tetapi tak ada jawaban.

"Sepertinya Riko masih tidur, Lisa," ucapnya pada seseorang yaitu Lisa.

Rupanya, pagi ini Lisa datang untuk menemui Riko karena khawatir tentang kejadian semalam.

"Apa aku boleh masuk?" tanya Lisa memohon.

"Kalau memang kau ingin menemuinya, silakan saja masuk. Pintunya juga tidak dikunci," ibu Riko mengizinkan.

"Terima kasih, bu. Aku masuk dulu," ucap Lisa senang.

"Kalau begitu, ibu tinggal dulu," sahut ibu Riko.

Lisa masuk ke kamar Riko dengan hati-hati. Memang betul ternyata Riko masih tertidur pulas. Karena Riko kelihatan lelah, Lisa akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Dia tak tega membangunkannya.

"Kenapa cepat sekali. Apa Riko mengusirmu?' tanya ibu Riko ketika melihat Lisa yang tiba-tiba akan pulang.

"Riko bukan mengusirku. Hanya saja, aku tidak tega membangunkannya. Dia terlihat lelah sekali. Mungkin lain kali saja aku menemuinya," jawab Lisa jujur.

"Begitu," ucap ibu Riko.

"Baik, bu. Aku pulang dulu," ucap Lisa yang kemudian pergi meninggalkan rumah Riko dengan menyetir mobilnya.

       Sekitar pukul 9 pagi, Riko yang baru saja terbangun hendak keluar menuju kamar mandi. Ibu Riko yang melihatnya langsung menanyakan sesuatu.

"Kenapa hari ini kau tidak pergi kuliah?" tanyanya mengagetkan.

"Seperti yang ibu lihat, aku baru saja bangun. Lagipula aku masih merasa lelah," jawab Riko seadanya.

"Istirahat saja kalau memang seperti itu. Tadi ada Lisa datang pagi-pagi sekali," ucap ibu Riko.

"Lisa? Untuk apa dia datang kemari?' tanya Riko heran.

"Sebelum dia masuk ke kamarmu, dia sempat cerita tentang perhatianmu yang mulai berubah terhadapnya akhir-akhir ini. Dia juga bilang, semalam kau bersama teman-temanmu pergi ke klub malam untuk bersenang-senang. Ada apa dengan hubungan kalian? Apa ada masalah?" jelasnya.

"Ini bukan urusan ibu. Biar aku sendiri yang menyelesaikannya, bu," jawab Riko.

"Terserah kau saja, Riko. Yang jelas, Lisa itu wanita yang sangat sempurna untukmu. Dia cantik, baik, sopan, dan cerdas. Orangtuanya juga sangat terpandang. Jangan kau sia-siakan dia, Riko," lanjut ibu Riko yang hanya dibalas anggukkan Riko yang kemudian bergegas mandi.

       Sesaat setelah mandi dan menuju kamar, Riko melihat ada pesan di ponselnya. Tertera nama Lisa sebagai pengirimnya. Dalam pesan itu tertulis bahwa Lisa ingin bertemu dengannya di pantai sore ini. Riko hanya membalas kata "YA" pada balasan pesan tersebut. Hari ini, Riko menghabiskan waktunya untuk beristirahat karena lelah sebelum menemui Lisa sore ini.

      Sore hati tiba, Riko bergegas mandi untuk bersiap-siap menemui Lisa. Setelah semua selesai, Riko langsung mengendarai mobilnya dengan tenang. Selang beberapa menit, tibalah ia di sebuah pantai. Terlihat mobil Lisa yang sudah terparkir tak jauh dari pantai. Riko pun langsung memarkirkan mobilnya dan menuju pantai untuk mencari Lisa yang sedang menunggunya. Tak butuh waktu lama, Riko berhasil menemui Lisa yang sedang asyik duduk sendirian di pinggir pantai.

"Apa aku membuatmu menunggu lama?" tanya Riko tiba-tiba.

"Tidak juga," jawab Lisa.

"Kalau begitu ada perlu apa kau ingin menemuiku di tempat ini?" tanya Riko lagi.

"Aku hanya ingin membahas tentang hibungan kita!" sahut Lisa.

"Hubungan kita? Bukankah kita masih baik-baik saja," jawab Riko santai.

"Akhir-akhir ini perhatianmu berubah hanya untuk teman-temanmu dan tak mempedulikanku. Apa itu yang disebut baik-baik saja? Aku merasa tidak penting..."

"Cukup, Lisa!!!" potong Riko.

Mendengar ucapan Riko, Lisa tak kuasa menahan air mata dan terus memaki-maki Riko yang berusaha menenangkannya. Sesaat setelah selesai marah, kini Lisa hanya bisa menangis dalam pelukan Riko.

"Maafkan aku, Lisa. Aku sudah mengecewakanmu," ucap Riko .

       Lisa mendadak melepaskan pelukan Riko dan lari menuju mobilnya meski masih menangis. Lisa langsung menyetir mobilnya dengan cepat. Namun Riko tak tinggal diam, dia juga menyetir mobilnya dengan cepat agar bisa mengejar Lisa. Lisa menyetir mobilnya dengan sangat cepat sehingga membuat Riko harus menambah kecepatan mobilnya. Riko melihat mobil yang dikendarai Lisa mencoba menyerobot lampu merah dan dalam sekejap dari arah barat, sebuah mobil melaju cepat yang akhirnya bertabrakan dengan mobil Lisa. Mobil yang dikendarai Lisa posisinya kini terbalik dan kondisinya rusak parah. Riko yang telah menghentikan laju mobilnya langsung berlari menyelamatkan Lisa. Semua orang yang melihat, mencoba membantu Riko membawa tubuh Lisa ke dalam mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Tubuh Lisa terlihat dengan kondisi yang sangat parah.

"Maaf, Lisa. Aku tak bisa menjagamu dengan baik. Kuharap kau akan baik-baik saja," ucap Riko seraya menyetir mobilnya dengan cepat.

       Sampai di rumah sakit, ia membawa Lisa ke ruang darurat untuk diperiksa. Perasaan Riko begitu sedih sembari menunggu di ruang tunggu.

"Aku menyesal bahwa sampai saat ini, aku hanya menunjukkan bagian kecil dariku padamu. Tolong maafkan aku atas ketidakmampuanku menjagamu," ucapnya dalam hati sambil meneteskan air mata.

Tak lama, ia langsung menghubungi orangtua Lisa dan memberitahu lokasi rumah sakit tersebut. Kemudian Riko pergi meninggalkan rumah sakit untuk menghilangkan perasaan sedihnya dengan berjalan kaki entah sampai kapan ia menyusuri setiap jalan raya. Ia pun teringat dengan jalanan yang kini ia injak. Dulu, ia bersama Lisa pernah berjalan di tempat ini dan rasanya bagaikan di surga. Tetapi, sekarang ia hanya berjalan seorang diri tanpa keberadaan Lisa yang kini sedang terbaring lemah di rumah sakit, rasanya bagaikan di neraka.

"Aku menyesal telah membuatmu seperti ini. Janji yang pernah kita buat bersama sudah aku ingkari begitu saja. Sekali lagi maaf, aku tak bisa menjaga dan melindungimu. Sekarang yang bisa aku rasakan adalah kesedihan yang amat sakit," ucap Riki dalam hati.

Sekarang, Riki hanya bisa berdoa agar Lisa bisa sembuh seperti dulu lagi dan Riko bisa memperbaiki hubungannya kembali.

*****TAMAT*****

Facebook : Dankin
Twitter : @diamondandy13
Instagram : diamondandy13
LINE : diamondandy13
Email : dandymathematics@gmail.com